Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Meeting in Silence


__ADS_3

“Kudengar jika yang mereka sebut sebagai bos besar itu merupakan orang luar Italia,” ujar Adriano lagi.


“Entahlah. Sudah kukatakan jika aku tidak tertarik untuk menguliknya. Namun, seandainya kau masih merasa penasaran, maka aku bisa memperkenalkanmu kepada Stefano. Itu juga jika kau mau berkenalan dengan seseorang yang jabatannya berada jauh di bawah dirimu,” sahut Coco lagi masih dengan sikapnya yang terlihat begitu tenang.


“Tak masalah bagiku selama itu bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat,” balas Adriano. Dia bermaksud untuk melanjutkan kata-katanya, tetapi segera diurungkan ketika ponsel yang berada di dalam saku kemeja terasa bergetar. Adriano memeriksanya terlebih dahulu. Adalah sebuah pesan masuk dari Mia. Wanita itu menanyakan keberadaanya. Namun, Adriano tak membalas pesan tersebut. Pria bermata biru itu mengela napas pelan, kemudian beranjak dari duduknya. “Kita lanjutkan saja nanti. Aku sudah dipanggil sang ratu,” ujarnya sambil berlalu.


Sayup-sayup terdengar suara tawa dari Coco yang bernada ejekan. “Sekarang kau tahu siapa makhluk terkuat di bumi ini, Amico?” seru pria bermata cokelat tersebut.


Namun, seperti biasa. Adriano tak berniat untuk menanggapinya. Dia lebih memilih melanjutkan langkah menuju kamar. Ketika dirinya membuka pintu, pria itu mendapati Mia yang tengah sibuk menata bantal.


Melihat kehadiran Adriano di sana, Mia segera menghentikan aktivitasnya. “Apa kau baik-baik saja?” tanya wanita dengan kimono satin tersebut, seraya berjalan ke hadapan Adriano yang masih terpaku. Ditangkupnya paras tampan sang suami dengan lembut. Sambil berjinjit, Mia mencium mesra pria yang terlihat cukup kacau saat itu.


Adriano seperti kehilangan semangatnya. Akan tetapi, sebisa mungkin hal itu tidak dia tunjukkan secara terang-terangan di hadapan Mia. Dia masih membalas ciuman sang istri dengan tak kalah mesra untuk beberapa saat. “Apakah Miabella sudah tidur?” tanyanya kemudian.


“Ya. Dia merengek terus sejak siang. Karena itu aku menyuruhnya untuk tidur lebih awal,” sahut Mia. Wanita itu kemudian menuntun Adriano untuk duduk di ujung ranjang, sementara dirinya berdiri di hadapan sang suami. Dielusnya rambut belakang pria tersebut dengan penuh kasih. “Aku melihatmu bicara berdua dengan tuan Moriarty,” ucap Mia. Dia seakan tahu apa yang menjadi keresahan suaminya.


Adriano tak segera menjawab. Dia merangkul pinggang ramping Mia, kemudian membenamkan wajah pada perut wanita itu. Memeluk Mia adalah sebuah obat untuk segala kegundahan yang sedang dirasakannya.


“Kau tidak ingin bercerita padaku, Sayang?” pancing Mia lagi dengan lembut. Tak lupa dia mengecup pucuk kepala sang suami beberapa kali.


“Bicaralah, maka kau akan merasa jauh lebih tenang. Beban yang kau pikul pun bisa menjadi sedikit ringan,” ucap Mia lagi.


Adriano mengangkat wajahnya dan menatap sang istri lekat. “Mia,” de•sahnya tertahan.


Sementara Mia tersenyum dan berpindah posisi ke samping Adriano. Dia lalu duduk seraya melingkarkan tangan di pinggang sang suami. Sedangkan pria bermata biru itu balas merengkuh pundak Mia erat.


“Katakanlah, aku mendengarkanmu,” ucap Mia sambil mengecup lembut pundak Adriano.


“Aku ....” pikirannya saat itu begitu tak karuan, sampai-sampai dia merasa bingung dengan apa yang harus diceritakan kepad Mia. “Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” ajak Adriano pada akhirnya.


“Ke mana?” tanya Mia penuh semangat. Dia setengah mendongak memandang wajah tampan sang suami dengan kepala yang bersandar di bahu.


“Padre mengajak untuk menemui ibuku,” jawab Adriano. Senyumnya terlihat samar. Ada kegetiran di dalam sana.

__ADS_1


“Tentu!” sahut Mia cepat. “Aku sangat ingin bertemu dengan ibumu. Dia pasti wanita yang cantik. Kubayangkan jika dirinya bermata biru, sama sepertimu,” celoteh wanita itu tanpa jeda.


Gemas, Adriano segera membungkam mulut Mia menggunakan bibir. Tanpa melepas ciumannya, dia merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang. Malam itu mereka lewati penuh kehangatan, hingga tak terasa pagi pun menjelang.


Suara tawa manja Mia terdengar dari dalam kamar mandi. Masih mengenakan bathrobes putih, dia duduk di atas meja wastafel. Sementara di hadapannya Adriano berdiri dengan tegap berbalut handuk yang melingkar di pinggang. Saat itu, Mia tengah sibuk merapikan janggut sang suami hingga selesai. "Terima kasih, Mia. Ingatkan aku untuk memberimu hadiah," ucap Adriano setengah berbisik. Dikecupnya kening serta pipi Mia dengan penuh perasaan.


"Kau adalah hadiah teristimewa untukku, Adriano," balas Mia masih dengan sikap manja, seraya melingkarkan kakinya di pinggul sang suami. Pria itu segera membalas sikap nakal Mia dengan sebuah ciuman mesra.


Sementara hiruk pikuk aktivitas di Casa de Luca mulai terasa, terlebih saat menjelang sarapan bersama di ruang makan. Bagian luas yang terletak di sebelah belakang bangunan tersebut. Emiliano dan Gianna pun terlihat sudah siap di tempat duduknya.


Suasana makan bersama itu terasa hangat dan menyenangkan dengan kehadiran Coco yang humoris. Ditambah tingkah lucu Miabella, membuat gemas siapa pun yang melihat. Damiano yang sudah tampak jauh lebih sehat, tak henti-hentinya tertawa atas sikap cucunya.


“Tuan Baresi, aku meminta izinmu untuk mengajak Adriano keluar,” ujar Emiliano di sela-sela obrolan hangat.


“Silakan, Tuan. Anda tidak perlu meminta izinku. Apakah Mia akan ikut?” arah pandangan Damiano berpindah pada Mia yang duduk di seberangnya.


“Mia harus ikut,” sahut Adriano sebelum Emiliano sempat menjawab.


“Kau dengar itu, Bella? Hari ini ibu dan ayah akan mengajakmu keluar berjalan-jalan,” Damiano menoleh kepada Miabella yang duduk di sampingnya. Balita cantik itu tengah asyik mempermainkan sendok kecil di piring.


“Kenapa?” lagi-lagi Damiano tertawa menanggapi tingkah Miabella.


“Karena kakek sudah berjanji akan mengajakku memancing di kolam belakang,” jawab Miabella. Tangannya tampak sibuk memasukkan kacang polong ke dalam mulut.


“Jadi kau tak mau ikut dengan orang tuamu?” tanya Damiano memastikan.


Miabella kembali menggeleng kencang. “Aku akan memancing bersama kakek!” tegasnya.


Damiano tertawa pelan memperhatikan sikap teguh pendirian Miabella yang sama persis dengan Matteo. “Bene (baiklah), kita akan pergi memancing ke kolam belakang setelah sarapan,” putusnya, lalu kembali berbincang dengan Emiliano dan juga Gianna yang tampak tertarik membicarakan tentang seluk beluk perkebunan anggur.


Ketika kegiatan sarapan selesai, Miabella langsung menarik tangan sang kakek agar membawanya ke bagian belakang area Casa de Luca. Sedangkan Coco menuju perkebunan untuk memulai pekerjaan. Tinggal Adriano dan Mia yang masih asyik mengobrol mesra. Emiliano pun segera mendekati Adriano dan berbisik padanya. “Bisakah kita pergi sekarang? Selagi cuaca sedang cerah,” ajaknya.


Adriano tak segera menjawab. Dia langsung menoleh kepada Mia. “Bagaimana, Sayang? Apa kau sudah siap?” tanyanya lembut.

__ADS_1


Mia mengangguk seraya tersenyum. “Apa kita perlu membeli oleh-oleh untuk ibumu, Adriano?” tanyanya.


“Domenica menyukai mawar putih. Kau bisa membelikannya beberapa tangkai,” sela Emiliano.


Mia sedikit tertegun mendengar perkataan Emiliano. “Aku juga sangat menyukai mawar putih, Tuan,” sahutnya sembari tersenyum lebar.


Lain halnya dengan raut Emiliano yang berubah sendu. “Kalian pasti akan cocok,” gumamnya lirih.


Gianna yang duduk tak jauh dari mereka, menjadi tidak nyaman karena topik pembicaraan saat itu adalah Domenica, wanita kedua sang ayah. “Sebaiknya aku kembali ke kamar,” pamit gadis itu, lalu segera berbalik meninggalkan ruang makan.


“Bisa kita pergi sekarang?” ajak Emiliano lagi.


“Baiklah,” jawab Adriano. Dalam hati, dia merasa bahwa Emiliano sedikit memaksa. Entah apa yang hendak pria itu tunjukkan. “Di mana aku bisa bertemu dengannya?” Adriano menyejajari langkah Emiliano yang berjalan cepat ke halaman depan, sementara tangannya terus menggenggam dan mere•mas jemari Mia. Wanita itu dapat merasakan kegugupan suaminya.


“Siapkan dulu mobilmu. Nanti akan kutunjukkan sambil jalan,” tutur Emiliano yang segera dituruti oleh Adriano tanpa banyak bertanya lagi. Beberapa saat Mia dan Emiliano berdiri menunggu, sampai Adriano datang dan menghentikan mobilnya tepat di depan mereka.


Kendaraan mewah milik Adriano melaju meninggalkan Casa de Luca menuju ke kota Milan. Setelah membeli seikat mawar putih, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Bayangan Adriano untuk bertemu dengan sang ibu setelah sekian tahun lamanya, harus pupus tatkala Emiliano membawa mereka ke sebuah pemakaman di pinggiran kota Milan. “Di sana, Nak,” telunjuk Emiliano mengarah pada bangunan makam yang tampak paling indah di antara deretan makam yang lain.


Lutut Adriano terasa lemas. Kakinya seakan tak kuat menyangga tubuh. Mia yang selalu awas dan tanggap, segera melingkarkan tangan di pinggang sang suami dan membantunya berjalan mendekat, sedangkan tangan lainnya memegang seikat bunga. “Jadi … ibu … ibuku .…” pria rupawan itu terbata, lalu duduk bersimpuh di samping nisan yang terbuat dari marmer.


“Aku juga baru mengetahuinya beberapa tahun yang lalu, ketika berusaha untuk mencari jejak Domenica. Aku bertemu dengan ibu kandungnya. Dia juga membawaku ke tempat ini. Saat itu, tak ada yang bisa kulakukan selain menangis dan menyesali semua. Apalagi, makamnya terlihat sangat kotor dan tak terawat. Aku berinisiatif untuk memperbaiki kondisi makam dan mempercantik peristirahatan terakhir ibumu. Setidaknya, hanya itu yang bisa kulakukan untuk mengurangi rasa bersalah,” Emiliano tergugu dan menunduk dalam-dalam. Tangannya mencengkeram erat tepian batu nisan.


Lain halnya dengan Adriano. Wajah tampan itu memerah dengan tangan terkepal. Jika tak mengingat bahwa yang ada di samping adalah pria tua sekaligus ayahnya, maka Adriano pasti sudah menghajar dia habis-habisan. “Kau ….” desisnya.


Melihat gelagat tak baik dari sang suami, Mia segera memeluk tubuh tegap Adriano. “Sudahlah, Sayang. Lepaskanlah,” bisiknya lirih. Dia dapat merasakan betapa perih dan hancurnya perasaan Adriano saat itu.


“Aku ingin ibuku, Mia. Aku ingin bertemu dengannya,” balas Adriano sambil menyembunyikan wajahnya di antara leher dan bahu Mia.


“Kau sudah bertemu dengannya. Lihatlah, aku yakin dia sekarang sedang mengawasi kita. Tersenyum dan jangan perlihatkan kesedihanmu,” bisik Mia lagi. Dia tetap mendekap Adriano sampai pria tersebut merasa jauh lebih tenang. Setelah itu, perlahan Mia mengurai pelukannya, kemudian meletakkan bunga-bunga mawar cantik tadi di atas makam.


🍒🍒🍒


Hai semua. Ada satu lagi rekomendasi novel keren untuk dibaca.

__ADS_1



__ADS_2