Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Un Rimprovero


__ADS_3

Emiliano keluar dari ruang perawatan Juan Pablo dengan perasaan tak menentu. Airnya matanya mengalir deras. Dia tak peduli meskipun ada beberapa orang yang berlalu-lalang di depannya sambil menoleh kepada pria itu.


"Ilario," gumam Emiliano lirih. Dia menyandarkan punggungnya pada dinding untuk beberapa saat sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar Adriano. Emiliano mengetuk pintu kamar perawatan putranya dengan pelan sambil menyeka air mata. Tak berapa lama, dia membukanya sambil memamerkan senyuman hangat.


Tampak suasana yang jauh berbeda dibandingkan di kamar Juan Pablo yang sepi dan terkesan muram. Di kamar Adriano, ada beberapa orang yang berkumpul. Di antaranya adalah Coco dan Francesca, Mia yang menggendong Miabella serta Daniella.


"Paman," sambut Mia ramah. Dia memindahkan putri semata wayangnya kepada Francesca, lalu merentangkan tangan untuk memeluk sang ayah mertua.


"Bagaimana keadaanmu? Kudengar dari Ricci bahwa kau sedang sakit. Maaf, aku belum sempat menjengukmu," sesal Mia.


"Tidak apa-apa, Anakku. Aku sangat mengerti akan keadaanmu." Emiliano membalas pelukan Mia dengan jauh lebih hangat. "Bagaimana keadaan Adriano?" Sorot mata tuanya berpindah pada sang anak yang terbaring lemah di atas ranjang.


Sesaat setelah melepaskan pelukan Mia, Emiliano menghampiri Adriano. Dia menatap putranya lekat-lekat sambil berusaha sekuat tenaga agar air matanya tak jatuh. "Apa kau baik-baik saja, Adriano? Bagaimana kata dokter? Keadaanmu ini sama sekali tak berbahaya, bukan?" Dia bertanya tanpa henti dan penuh kekhawatiran.


"Aku tidak tahu. Akan tetapi, sepertinya aku akan baik-baik saja. Mia lah yang selama ini banyak berkomunikasi dengan para dokter," jawab Adriano. Dia cukup tersentuh dengan sikap Emiliano yang ternyata masih mengkhawatirkannya.


"Dokter mengatakan bahwa kondisi fisik Adrino sangatlah bagus, Paman. Dia akan pulih dalam waktu yang tidak terlalu lama," sahut Mia yang berdiri di sisi lain ranjang, sehingga berhadapn dengan Emiliano.


"Syukurlah. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan seorang anak lagi," ucap Emiliano sambil menunduk, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pria tua tersebut mulai menangis tersedu-sedu.


Hal itu tentu saja membuat semua orang yang berada di sana menjadi keheranan. "Apa kau baik-baik saja, Tuan Emiliano?" tanya Coco.


"Ya, ya, aku ...." Emiliano memaksakan tersenyum, sementara air matanya semakin mengalir deras.


"Duduklah dulu, Tuan Emiliano." Mia meraih sebuah kursi dan meletakkannya di dekat sang ayah mertua.


"Grazie, Mia." Emiliano mengangguk pelan, kemudian segera duduk. Untuk sejenak, suasana menjadi hening. Tak ada siapa pun yang besuara, karena yang terdengar hanyalah isakan pilu dari pria tua dengan rambut yang telah memutih seluruhnya.


Adriano sendiri sudah dapat menebak jika sang ayah telah menerima kabar kematian Ilario. Oleh karena itu, dia dapat memahami sikap aneh dari ayah kandungnya tersebut. "Padre ... apa kau sudah mendengar tentang Ilario?" tanya Adriano kemudian.


Bukannya menjawab, Emiliano malah menangis sesenggukan. "Aku kehilangan lagi, Adriano. Aku kehilangan lagi," racaunya.


"Ada apa ini, Adriano?" Coco mulai mencium sesuatu yang tidak beres.

__ADS_1


"Ilario, putraku sekaligus kakak tiri Adriano, tewas dibunuh oleh para mafia anak buah Juan Pablo. Pria yang kini telah sah menjadi suami Gianna. Aku sungguh-sungguh tak percaya," jawab Emiliano. Intonasinya terdengar penuh emosi.


"Astaga." Francesca menutup mulutnya tak percaya. "Kami turut berduka cita, Paman," ucapnya dengan raut sedih. Begitu pula Mia yang turut dapat merasakan kepedihan Emiliano.


"Mungkin apa yang akan kusampaikan ini dapat meringankan sedikit kesedihanmu, Tuan. Kami sudah berhasil menumpas seluruh anak buah Juan Pablo tanpa sisa," sahut Coco dengan nada tenang dan datar.


"Benarkah itu?" Emiliano yang awalnya menunduk, segera mendongak dan terbelalak menatap Coco.


"Ya, Padre. Juan Pablo sudah tidak memiliki kekuasaan apapun di Italia," timpal Adriano masih dengan suara yang lemah.


"Lalu, selain itu ... adakah hal lain yang bisa kau lakukan, Adriano? Memisahkan Gianna dengan pria keji itu misalnya?" Pertanyaan Emiliano, sontak membuat semua orang terdiam.


"Um, sebaiknya kita mengisi perut dulu. Kudengar kantin rumah sakit menyediakan menu-menu yang lezat dan sehat," sela Daniella yang merasa kurang nyaman dan tak ingin mengganggu perbincangan serius itu.


"Ya, itu ide yang bagus," sahut Francesca dan juga Mia secara bersamaan.


"Aku juga sudah lapar, Zia Dani," celetuk Miabella yang sejak tadi terdiam.


"Baiklah, Cantik. Aku akan menraktirmu." Daniella mengulurkan tangan dan meraih balita cantik itu dari gendongan Francesca. Mereka kemudian berjalan keluar, lalu meninggalkan ruang perawatan Adriano.


"Kau juga, Ricci! Ikut denganku! Kita akan makan bersama-sama." Meskipun keberatan, Coco memilih untuk pasrah saat sang istri menarik tubuh tegapnya keluar dari sana.


Kini, di sana hanya ada Adriano berdua dengan Emiliano. Keheningan kembali menyelimuti ayah dan anak itu untuk beberapa saat. "Jadi, Adriano. Apakah kau bisa menuruti permintaan pria tua ini?" tanyanya kemudian.


""Kurasa aku tidak punya hak untuk melakukan hal itu, Padre. Gianna sedang hamil. Tidakkah kau merasa kasihan padanya?" jawab Adriano yang mencoba bersikap bijak.


"Lebih kasihan lagi jika dia hidup bersama dengan pria kejam itu. Aku sama sekali tak mengerti, apa yang anak itu pikirkan. Bagaimana jika Claudia tahu akan hal ini," geram Emiliano sembari mengepalkan tangan dan memukul dahinya pelan.


"Kenapa kau selalu peduli dengan apa yang Claudia pikirkan? Apa kau tak peduli sedikit pun pada kebahagiaan Gianna?" protes Adriano. "Dia sungguh-sungguh mencintai Juan Pablo."


"Juan Pablo membunuh kakaknya!" sahut Emiliano dengan nada meninggi.


"Juan Pablo tak tahu-menahu akan hal itu. Lagi pula, Ilario yang lebih dulu membuat masalah. Walaupun aku sama sekali tak membenarkan apa yang mereka lakukan padanya," sanggah Adriano.

__ADS_1


"Itu sama saja!" sentak Emiliano yang mulai hilang kendali.


"Padre," ucap Adriano seraya tertawa pelan. Sedikit terkejut dan setengah tak percaya yang Adriano rasakan. "Aku sama sekali tak mengerti," gumamnya pelan.


"Kau akan mengerti saat kau mempunyai anak nanti," sahut Emiliano. Suaranya tak senyaring sebelumnya.


"Sekarang pun aku sudah mempunyai anak. Namun, bukan itu masalahnya. Saat kau kehilanganku dulu, posisimu juga sudah memiliki anak. Akan tetapi, apa yang kau lakukan? Tidak ada," ucap Adriano dengan nada yang teramat getir.


"Itu adalah hal yang berbeda, Nak. Kau tentu paham akan hal itu," elak Emiliano.


"Apa bedanya karena aku masih hidup? Satu-satunya hal yang membuatku tetap bertahan hidup saat itu hanyalah keajaiban. Bayangkan saja, Padre. Claudia melarangku makan, lalu dia menendang perut dan mengusirku. Aku berjalan tak tentu arah dalam keadaan perut kosong dan hampir pingsan. Aku bisa saja mati tertabrak kendaraan," papar Adriano.


"Lalu, apa yang kau lakukan saat itu sebagai seorang ayah? Menahanku agar jangan pergi? Membelaku? Tidak, Padre. Kau tidak melakukan apapun. Kau hanya peduli tentang pendapat Claudia. Selebihnya, tidak penting bagimu, bahkan di saat pelik seperti sekarang, kau masih memikirkan apa kata Claudia daripada kondisi Gianna," lanjut Adriano yang seketika membuat Emiliano terdiam.


"Aku tidak akan menanyakan apakah kau mencintaiku atau tidak. Aku sudah bisa melihatnya sendiri dari sikapmu. Aku tak yakin jika kau sesedih ini jika aku yang mati," ucap Adriano sinis.


"Kau tahu itu tidak benar, Nak. Aku juga sangat menyayangimu!" sanggah Emiliano.


"Terimalah kenyataan, Padre. Ilario tak akan pernah kembali meskipun kau memisahkan Gianna dari suaminya. Aku yakin, dengan cara seperti itu kau juga akan kehilangan Gianna, putrimu satu-satunya. Ingatlah saat kau diculik, hanya aku dan Gianna yang peduli. Gadis itu bahkan memberanikan diri datang sendirian ke Casa de Luca dan memohon padaku untuk membantunya mencarimu. Sedangkan anak-anakmu yang lain ... kita semua tahu siapa yang menyebabkan kau diculik. Apalagi istri yang selalu kau pedulikan itu," tutur Adriano panjang lebar.


Tangis Emiliano kembali pecah. Tak satu pun kata yang terlontar dari mulut Adriano yang tak menghujam dadanya. Kenyataan yang pahit, itulah yang baru saja disampaikan oleh putranya itu.


"Kau tak bisa menutupi rasa bersalahmu pada Claudia dengan cara membiarkan dia berbuat semaunya serta menuruti segala keinginannya. Tidak, Padre. Itu semua tidak mengubah kesalahanmu di masa lalu. Apa yang kau lakukan bersama ibuku yang akhirnya membuat diriku terlahir ke dunia, kematian Ilario, rasa cinta Gianna terhadap Juan Pablo adalah hal-hal yang tak bisa kau ubah meskipun dirimu berusaha mati-matian," lanjut Adriano.


"Lalu, apa yang harus kulakukan? Sejahat-jahatnya Ilario, dia tetaplah putraku. Aku menyayanginya," isak Emiliano.


"Aku jelas sangat memahami hal itu. Namun dalam hidup ini berlaku hukum sebab akibat. Tak ada perbuatan yang tak mendapatkan balasan. Saranku, satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah menerima kenyataan, Padre. Sesakit apapun, terimalah semuanya dengan lapang dada. Aku yakin, pada akhirnya takdir akan selalu menuntun kita ke jalan yang baik dan benar, meskipun berat. Bersabarlah, Padre. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu sendiri," tutur Adriano lagi.


Lembut kalimatnya menyentuh sisi hati Emiliano yang terdalam. Pria tua itu menangis lagi. Kali ini sambil memeluk tubuh Adriano yang masih terbaring lemah.


🍒 🍒 🍒


Jangan lupa mampir ke novel yang ceuceu rekomendasikan ini ya😉

__ADS_1



__ADS_2