Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Daylight in Monaco


__ADS_3

Setelah berpamitan dari mansion milik Adriano. Keesokan harinya Pierre menuju tempat lain yang ingin dia datangi sebelum kembali ke Perancis. Adalah sebuah apartemen mewah milik Bianca Alegra, wanita yang telah menemaninya menghabiskan petang kala itu.


"Kapan kau datang?" tanya Bianca yang menyambut kehadiran Pierre di apartemennya dengan sikap biasa saja. Dia lalu mempersilakan pria bermata hijau tadi untuk masuk.


"Aku tidak akan lama. Aku kemari hanya untuk memberitahukan bahwa D'aurville telah menggelontorkan sejumlah dana ke perusahaanmu. Kurasa kau juga sudah memeriksanya." Pierre memilih untuk tetap berdiri. Tatapannya lekat tertuju kepada Bianca yang saat itu hanya mengenakan tanktop putih beserta sebuah hot pants berbahan jeans.


"Iya. Orang kepercayaanku sudah memberikan laporan," jawab Bianca seraya menyibakkan rambut panjangnya. Dia terlihat salah tingkah karena Pierre terus memandang ke arahnya.


"Kau sudah mendapatkan laporan tentang hal itu, tapi tak mengatakan apapun padaku? Tak ada basa-basi sama sekali? Ah, ya. Itu hanya sebuah dana kompensasi." Pierre tersenyum simpul. "Baiklah. Aku permisi dulu." Dia membalikkan badan dan melangkah ke dekat pintu.


"Tunggu, Pierre!" cegah Bianca, membuat pria berambut pirang tadi seketika tertegun. Dia setengah menghadap kepada wanita cantik bertubuh sintal yang kini telah berdiri tepat di dekatnya. "Asal kau tahu satu hal, aku tidak menjual diri untuk mendapatkan kucuran dana yang perusahaanmu berikan untuk perusahaanku," tegas Bianca.


"Lalu?" Pierre mengernyitkan keningnya.


"Apa yang terjadi petang itu ... itu ... itu sama sekali tak ada hubungannya dengan dana atau apapun juga," tegas Bianca lagi.


Pierre mengubah posisi menjadi sepenuhnya mengahadap kepada wanita cantik bermata abu-abu tadi. Dia kembali menyunggingkan sebuah senyuman kecil. "Jika bukan demi perusahaanmu, lalu kenapa kau bersedia bercinta denganku?" tanya Pierre yang membuat Bianca terlihat malas untuk menjawabnya.


Akan tetapi, Bianca adalah wanita yang cerdas. Dia selalu dapat menguasai dirinya. Hanya di hadapan Mia lah, emosi wanita cantik berkulit eksotis itu tak pernah dapat dia kontrol dengan baik. "Aku melakukan apapun yang kuinginkan," jawabnya enteng. Ucapan yang Bianca pikir dapat tetap menjaga imagenya dengan baik.

__ADS_1


Namun, kenyataannya Pierre justru tertawa saat mendengar hal itu. "Jadi, sejak kapan kau memiliki keinginan untuk bercinta denganku?" pancingnya dengan sikap yang terlihat sangat tenang. Pierre selalu saja satu langkah berada di depan wanita cantik tersebut.


"Sialan! Kau memang menyebalkan, Pierre!" maki Bianca kesal. Dia melipat kedua tangannya di dada sambil membalikkan badan, sehingga jadi membelakangi pria dengan postur tegap itu.


Lagi-lagi, Pierre tertawa pelan. Dia lalu mendekatkan wajahnya pada pundak Bianca yang tengah merasa jengkel. "Aku menyebalkan bagimu, tapi kenyataannya kau bahkan orgas•me berkali-kali saat bercinta denganku. Astaga, kenapa aku jadi selalu berpikir nakal saat di dekatmu?" Pierre kembali tertawa dengan nada setengah mengejek.


Sementara itu, Bianca tampak enggan untuk menanggapinya. Dia masih membelakangi Pierre dengan kedua tangan yang juga terlipat di bawah dada yang membusung indah.


"Aku tak ingin membuang waktu. Aku sudah berpamitan kepada tuan Adriano D'Angelo. Mulai hari ini aku bukan lagi Pierre Corbyn ajudannya, melainkan Pierre Martin D'aurville," terang pria dengan sweatshirt merah marun itu tanpa diminta.


Namun, apa yang dia katakan baru saja ternyata begitu menarik bagi seorang Bianca Alegra. Wanita itu kembali membalikkan badan dan menghadap kepada Pierre. Dia menatap pria yang memiliki aura berbeda tersebut dengan sorot mata tidak percaya. "Benarkah? Aku tidak yakin kau bisa melepaskan diri dari seorang Adriano D'Angelo," ucapnya merasa sangsi, mengingat kesetiaan serta pengabdian yang luar biasa dari Pierre untuk sang ketua Tigre Nero tersebut.


"Ada banyak alasan yang bisa membuatmu datang kemari," balas Bianca mengarahkan pandangannya ke segala arah. Untuk pertama kalinya, dia merasa risih dan salah tingkah saat harus berhadapan dengan seorang pria. Bianca pun lebih banyak memilih menghindari tatapan sang pewaris kerajaan bisnis D'aurville.


"Ya, banyak sekali. Aku meninggalkan berjuta cerita di sini," ujar Pierre tenang.


"Aku sudah menduganya. Apa kau juga berpamitan pada semua wanita yang pernah kau tiduri di Monte Carlo?" sindir Bianca kembali mencoba menunjukkan sikap ketusnya di hadapan pria itu.


"Sejujurnya aku ingin sekali melakukan hal itu. Namun, sayangnya hanya kau wanita yang telah tidur denganku dan masih kuingat," sahut Pierre dengan kalem. Dia masih bersikap santai dalam menghadapi Bianca.

__ADS_1


"Ah tentu saja. Terlalu banyak wanita yang kau ...."


"Apa itu masalah bagimu?" sela Pierre dengan segera.


"Tidak," jawab Bianca dengan segera. "Pergilah," suruhnya. Dia kembali membalikkan badan. Bianca tak menoleh lagi kepada Pierre yang terdengar sudah membuka pintu. Wanita cantik tersebut memejamkan mata. Sulit sekali bagi Bianca untuk sedikit merunduk dan menurunkan segala kesombongan.


Namun, tiba-tiba ada sebuah dorongan dalam dirinya yang terasa begitu kuat. Bianca pun tak kuasa untuk melawannya. Dia segera membalikkan badan dan menatap pintu apartemen yang telah tertutup rapat.


Terlambat. Pria itu telah pergi. Ya, Pierre telah meninggalkan Monaco dan kembali ke negaranya. Tanpa pikir panjang lagi, Bianca segera memutar pegangan pintu kemudian membukanya. Wanita itu bergegas keluar dan melihat ke arah lift. Tak ada siapa pun di sana.


"Apa kau mencariku?" Suara Pierre terdengar dari arah belakang Bianca, membuat wanita dengan tanktop putih tadi seketika tertegun. Namun, dia tak ingin lagi bersikap tak peduli. Bianca pun segera menoleh.


Tampaklah Pierre yang tengah berdiri sambil menyandarkan sebelah lengannya pada dinding bangunan. Sementara satu tangan lain dia masukkan ke dalam saku celana. Dia tampak menyunggingkan sebuah senyuman yang teramat memikat.


Sementara Bianca hanya terpaku menatapnya. Wanita itu kembali menjadi salah tingkah, terlebih ketika Pierre berjalan mendekat ke arahnya. Dia lalu berdiri tepat di hadapan Bianca. Tanpa rasa sungkan sama sekali, mantan ajudan setia Adriano itu menyentuh pipi Bianca dan membelainya dengan lembut. "Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanyanya setengah berbisik.


"Kau pikir bagaimana?" Bianca balik bertanya. Kali ini dia membalas tatapan lembut Pierre.


"Aku sudah mengetahuinya dengan baik," jawab Pierre. Suaranya terdengar begitu dalam dan berat. Pierre kemudian mencium Bianca, lalu mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya kembali masuk.

__ADS_1


__ADS_2