Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
First Beat


__ADS_3

“Hentikan, Adriano!” cegah Mia pelan. “Tolong jangan berlebihan. Aku tidak ingin kau melampaui batasanmu,” Mia memalingkan wajahnya. Dia lalu naik dan duduk sambil meluruskan kedua kaki jenjangnya di atas kursi santai yang tersedia di sana.


Adriano berdiri sejenak dan memandangi Mia yang terus saja memasang pembatas tinggi di antara mereka, padahal dia tahu dan dapat merasakan jika Mia mulai memperhatikannya. Namun, Adriano pun tak ingin memaksakan kehendaknya atas diri Mia, karena memang masih ada perjanjian yang belum dapat dia penuhi. Pria itu lebih memilih untuk menghampiri Miabella yang tengah asyik bermain pasir. Dia mengajak gadis kecil kesayangannya berenang sambil bermain ombak.


Mia memperhatikan mereka berdua dari pinggiran. Adriano memperlakukan Miabella seperti putri kandungnya sendiri. Sementara seseorang yang sejak tadi mengawasi mereka dengan diam-diam, rupanya juga mengambil beberapa foto Mia dengan bikini putihnya menggunakan kamera ponsel. Adriano terlalu fokus dengan pertemuannya bersama Marcus Bolt, sehingga dia mengabaikan sesuatu yang kecil seperti itu. Dia tak menyadari bahwa ada yang mengawasi segala gerak-geriknya selama berada di Amerika.


Ketika matahari mulai meninggi, mereka baru kembali ke rumah pantai. Rencananya, hari itu Adriano akan mengajak mereka bertolak dari Los Angeles dan mengunjungi beberapa kota lainnya di Amerika. Hingga satu minggu lamanya, mereka menghabiskan waktu liburan dengan berkeliling sebelum kembali ke Florida.


Lelah, tapi raut bahagia terlihat jelas dari wajah Mia dan juga Miabella. Bagi Olivia pun ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa. Mia segera memberikan sesuatu yang dia bawa untuk Pierre, sang ajudan setia Adriano. Pierre yang belum sempat bertegur sapa secara langsung dengan Mia, saat itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Tak lupa, pria itu mencubit gemas pipi Miabella yang segera bersembunyi di balik tubuh sang ibu. “Terima kasih, Nyonya. Kau sangat perhatian. Bagaimana Amerika menurut Anda?” senyuman pria asal Perancis yang fasih berbahasa Italia itu terkembang sempurna. Meskipun pada awalnya Pierre merasa ragu akan pernikahan Adriano dengan Mia, tetapi pada akhirnya dia memilih untuk mengikuti apapun yang menjadi keputusan sang majikan. Sikap loyal Pierre terhadap Adriano memang tiada duanya.


“Ini pertama kalinya aku berkunjung ke Amerika. Rasanya sangat luar biasa. Oh, iya. Adriano yang memberitahuku bahwa kau menyukai wine dari Napa Valley,” jawab Mia dengan senyum ramahnya.


“Ya, itu benar. Tuan D’Angelo memang selalu membawakanku wine ini jika dia berkunjung ke Amerika, karena terkadang aku tidak menemaninya untuk pergi. Sekali lagi terima kasih,” Pierre memegang erat minuman yang Mia serahkan padanya. “Omong-omong, di mana Daddy Zio-mu, Sayang?” Pierre mengalihkan perhatiannya pada Miabella yang masih bersembunyi di balik tubuh ramping sang ibu.


“Sepertinya dia sedang di ruangan tuan Genaro. Aku lihat tadi dia langsung ke sana,” terang Mia.


“Baiklah. Aku akan menyusulnya. Siapa tahu dia membutuhkan bantuanku. Permisi,” pria berambut pirang itu pun berlalu dari hadapan Mia. Dia segera menuju ke ruangan yang Mia maksud. Pierre sempat tertegun, sebelum akhirnya memutuskan untuk terus masuk. Di dalam ruangan bernuansa gelap tersebut, tampak Adriano baru selesai menghubungi seseorang. “Tuan,” sapa Pierre berdiri tak jauh dari sang majikan. “Bagaimana acara bulan madunya? Omong-omong terima kasih juga untuk wine ini,” pria itu tersenyum nakal kepada Adriano seraya menunjukan botol minuman yang masih dipegangnya. “Oh, iya. Anda belum bercerita apapun tentang pertemuan dengan Marcus Bolt.”


Adriano tersenyum simpul seraya menyandarkan sebagian tubuhnya pada tepian meja. Pria itu mengusap-usap dagu sejenak menggunakan tangan kanan, sebelum memberitahukan kepada sang ajudan tentang segala informasi yang dia dapatkan dari Marcus Bolt. “Aku sudah meminta Marco dan sahabat dekat mendiang Matteo untuk datang ke Monaco setelah nanti kita kembali. Kita akan membahas ini bersama mereka. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa memecahkan teka-teki ini seorang diri. Semuanya terlalu rumit. Aku membutuhkan beberapa masukan,” ujar Adriano.


“Sudah kuduga jika kasus ini tak sesederhana yang kita pikirkan. Entah apa yang telah Matteo de Luca lakukan sehingga dia harus mendapat perlakuan seperti itu. Apa menurut Anda ini semua ada hubungannya dengan bisnis jual-beli senjata?”


“Sepertinya begitu. Namun, entahlah. Semuanya masih samar. Lagi pula, kau tahu jika aku tidak berkecimpung dalam bidang senjata," jawab Adriano datar.

__ADS_1


“Lalu, bagaimana dengan rencana kerja sama Anda bersama Don Vargas? Anda belum mengenalnya dengan baik,” Pierre tampak ragu dengan keputusan terburu-buru dari Adriano yang menerima tawaran dari Vargas begitu saja.


“Arsen dan Redomir mengenalnya,” balas Adriano.


“Kita tahu siapa Sergei Redomir. Pria itu agak gila,” Pierre menggeleng pelan.


“Aku harus masuk ke dalam lingkaran seseorang untuk dapat mengenal orang itu, meskipun ada risiko bahwa aku akan terjebak dan mungkin kesulitan atau bahkan tidak bisa keluar. Akan tetapi, tak ada satu hal pun di dunia ini yang tanpa risiko. Kita harus siap dengan segala kemungkinan terburuk sekalipun,” jelas Adriano yang kemudian mengempaskan napas pelan.


“Aku hanya takut jika Anda terlalu fokus pada kasus kematian Matteo de Luca, sehingga mengabaikan segala urusan pribadi Anda,” ucap Pierre khawatir.


“Kau tenang saja, Pierre. Aku tahu sampai di mana batasanku,” jawab Adriano dengan tatapan menerawang. “Setidaknya aku sudah berusaha, dan aku tak ingin menyerah begitu saja sebelum mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginanku. Kita akan membahas hal itu nanti setelah di Monaco,” ucapnya lagi.


“Kapan kita akan kembali ke Eropa?” tanya Pierre lagi.


“Besok. Kia akan kembali besok. Karena itu bersiap-siaplah. Aku rasa kau sudah puas menghabiskan waktu di Florida, atau kau masih ingin di sini?”


“Kalau begitu, bersiaplah. Kita akan terbang besok pagi-pagi,” Adriano kembali menegaskan seraya berlalu dari ruangan Genaro. Dia terus melangkah ke lantai dua, menuju ke kamar Mia dan Miabella.


“Daddy Zio!” Miabella segera menghambur ke dalam pelukan Adriano sesaat setelah pria itu membuka pintu kamarnya.


Sekilas, mata biru Adriano sempat melirik ke arah Mia yang tengah berkemas. Tampak wajah cantik wanita itu yang jauh lebih ceria dari biasanya.


Adriano menyunggingkn sebuah senyuman. Dia lalu mendekati Mia. “Apa kau senang dengan liburan kita seminggu ini, Mia?” tanyanya menatap lekat Mia.

__ADS_1


“Ya, terima kasih banyak, Adriano. Aku dan Miabella sangat menikmati liburan kali ini,” jawab Mia dengan senyuman yang terus tersungging di bibirnya yang indah. Bibir yang kembali menjadi perhatian pria bermata biru itu. Namun, Adriano harus segera menyingkirkan angan-angan indahnya. Kejadian beberapa waktu yang lalu saat di Malibu, dia anggap sebagai sebuah hadiah tak terduga bagi dirinya.


“Baguslah, kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Rasanya luar biasa sekali saat melihat wajah bahagia kalian berdua,” ujar Adriano sembari menatap Mia lekat-lekat. “Tetaplah tersenyum, Mia. Kau jauh lebih cantik jika seperti itu. Kau adalah pemilik senyuman terindah."


Pujian sederhana yang mampu menggetarkan hati Mia, membuat wanita itu tertegun untuk beberapa saat, lalu memalingkan muka. Mia teringat jika Matteo pun kerap mengatakan hal yang sama, seperti yang Adriano ucapkan baru saja. Namun, entah mengapa dia merasa aneh.


“Tidak,” gumamnya pada diri sendiri. Terakhir kali dia merasakan debaran seperti itu, adalah ketika Matteo de Luca mencuri ciuman pertama darinya.


“Eh, Ibu salah memasukkan bajuku. Itu bukan koperku, Bu,” protes Miabella.


Mia tersentak dan segera menyadari kesalahannya. Dia tidak memasukkan baju-baju Miabella ke dalam tas koper bergambar unicorn kesayangan gadis kecil itu, tetapi malah memasukkannya ke dalam koper hitam milik Adriano. “Astaga!” Mia segera mengeluarkan kembali baju-baju Miabella.


“Apa yang kau pikirkan, Mia?” Adriano terkekeh pelan. Dia kembali menghampiri Mia dan berjongkok di hadapannya sambil membantu memindahkan baju-baju Miabella dari dalam kopernya ke koper putri kecilnya.


“Aku bisa sendiri, Adriano! Tolong, jangan mendekat!” sentak Mia tiba-tiba dengan wajah memerah. Mia lalu terdiam. Wanita cantik itu terbelalak seketika. Sorot penyesalan jelas terlihat, memancar dari mata indahnya. “Ma-maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk ....”


“Sudahlah, tidak apa-apa. Aku tahu kau lelah,” potong Adriano dengan nada pelan. Pria rupawan itu kembali berdiri, kemudian mengusap lembut pipi gembul Miabella sebelum berlalu ke luar kamar.


Adriano menutup pintunya perlahan, lalu bersandar sejenak di sana. Ribuan penolakan sudah dia dapatkan dari Mia. Entah kenapa hal itu tak bisa membuatnya membenci ataupun menjauhi wanita itu. Hatinya seolah terikat erat pada sang istri yang mungkin tak akan pernah menyambut cintanya.


“Tuan,” sapaan seseorang membuat Adriano tergagap. Kepalanya yang setengah menengadah, kembali dia tegakkan dan memandang lurus pada Olivia yang sudah berdiri di depannya seraya tersenyum lebar.


“Ehm, mungkin apa yang akan aku katakan ini sudah terlambat, tapi tak ada salahnya saya meminta izin kepada Anda,” ujar Olivia yang membuat Adriano mengernyitkan kening.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” tanyanya tak mengerti.


Olivia kemudian merogoh saku celananya. Dia lalu mengeluarkan ponsel seraya menunjukan layarnya pada Adriano. “Aku meminta izin untuk mengambil beberapa gambar Anda diam-diam dan menyimpannya di galeri ponselku."


__ADS_2