Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Unrest


__ADS_3

Adriano terpaku dengan tatapan tajam mengarah langsung kepada Juan Pablo, yang baru mengakhiri pembicaraannya bersama Gianna lewat sambungan telepon. Bimbang rasa hati sang ketua Tigre Nero dalam menentukan sikap. Jika dia menghabisi Juan Pablo saat itu juga, maka dirinya tak berbeda dengan pria tersebut yang telah merenggut surga kebahagiaan dari seorang wanita.


"Katakan di mana kau sembunyikan Mia?" tanya Adriano dengan intonasi yang penuh penekanan.


"Dia ada di ruangan dekat lorong," jawab Juan Pablo sambil mengembalikan ponsel milik Coco. Benda persegi itu meluncur di atas lantai, kemudian berhenti tepat di dekat kaki pria berambut ikal tadi.


"Bunuh dia, Adriano!" Suara Coco terdengar nyaring dalam ruangan luas dan megah tadi. "Jika kau tak berani menghabisi bajingan ini sekarang juga, maka biarkan aku yang melakukannya!" Amarah dalam diri Coco tak dapat ditahan. Setelah sekian lama mereka melakukan pencarian, pada akhirnya pembunuh Matteo dapat ditemukan. Pria yang baru melepas masa lajangnya tersebut sudah bersiap dengan pistol di tangan. Senjata api itu dia arahkan tepat ke kepala Juan Pablo yang menatap kepadanya dengan sinis.


"Cuih!" Juan Pablo kembali meludah yang bercampur darah kental. Napasnya sudah terengah-engah. Dia juga kehilangan banyak darah yang membuat kesadarannya hampir menghilang.


"Tidak, Coco! Tidak!" cegah Damiano. "Hentikan semua ini. Hentikan, Nak. Cukup sudah dendam di antara kalian. Akhiri sampai di sini saja," pinta Damiano. Dia kembali mendekat kepada Juan Pablo. "Aku lelah melihat semua yang telah terjadi. Diriku sudah terlalu renta untuk terus menyaksikan kematian yang mengerikan. Kalian sudah mendapat kebahagiaan masing-masing. Jalanilah itu dengan baik," saran pria tua tersebut, sehingga membuat ketiga pria muda yang tadinya dikuasai amarah dan begitu berhasrat untuk menghabisi Juan Pablo hanya terdiam. Mereka tak berani membantahnya sama sekali.


"Marco, cepat temukan Mia dan hubungi layanan darurat," suruh Damiano. Sementara dirinya tetap menjaga agar jangan sampai Coco ataupun Adriano menjadi hilang kendali.


Marco pun melakukan apa yang Damiano perintahkan padanya. Dia melangkah ke bagian lain dari ruangan megah itu untuk menemukan keberadaan Mia. Tak lupa dirinya juga menghubungi layanan darurat.


Sedangkan Coco berlalu keluar dari sana dan melampiaskan amarahnya. Pria bermata cokelat itu duduk terpekur di pelataran gereja dengan air mata yang tak mampu untuk dia bendung. "Maafkan aku, Theo. Maafkan aku," sesalnya dengan kepala tertunduk.


Sementara Adriano masih berdiri dengan potongan kayu di dalam genggamannya. "Jadi, Gianna tengah hamil sekarang?" tanya pria itu dingin.


"Kami sudah menikah beberapa hari yang lalu, sebelum aku berangkat ke Inggris," jawab Juan Pablo dengan nada bicara yang sama dinginnya.

__ADS_1


"Apa ayahku tahu tentang hal ini?" tanya Adriano lagi.


"Tidak ada siapa pun yang mengetahuinya," jawab Juan Pablo. Dia sudah kesulitan untuk berbicara. Keadaan pria asal Meksiko tersebut telah begitu lemah.


Kondisi yang tak jauh berbeda dari Adriano. Sang ketua Tigre Nero pun kehilangan banyak darah akibat luka yang dia derita. Pada akhirnya, pria itu tak mampu lagi untuk berdiri tegak. Adriano pun ambruk di atas lantai, bersamaan dengan Mia yang baru dibawa keluar oleh Marco. Potongan kayu pun masih tertancap di bahu kirinya.


"Adriano!" panggil Mia sambil berseru. Dia mempercepat langkah, dan segera menghambur ke dekat tubuh sang suami. Tangisnya pun pecah. "Adriano. Sudah kukatakan berulang kali agar kau berhenti dari semua ini. Aku sudah memaafkan tuan Herrera. Aku yakin Matteo pun pasti demikian," isak Mia. Dia memindahkan kepala sang suami yang tadinya berada di lantai, menjadi ke atas pangkuan. Tak seharusnya Mia mengalami tekanan seperti itu, dalam kondisi yang tengah berbadan dua.


Sedangkan Juan Pablo yang terus menjaga dirinya agar tetap dalam keadaan sadar, sesekali mulai memejamkan mata. Saat itu, dalam bayangan pria tampan tersebut yang tampak hanyalah paras cantik Gianna dengan senyuman manisnya. Juan Pablo pun mengatur napas yang tadinya tersengal-sengal supaya menjadi lebih teratur.


Tak ada suara lagi di dalam ruangan itu, selain isakan Mia yang sesekali terdengar. Semuanya membisu, hingga sayup-sayup bunyi sirine ambulans semakin mendekat. Tangisan Mia tiba-tiba berubah menjadi lebih kencang. Kembali hadir dalam ingatan wanita cantik tersebut peristiwa beberapa tahun silam di tempat yang sama, ketika Matteo tertidur di atas pangkuannya.


"Adriano, bangunlah. Buka matamu!" Mia menepuk-nepuk pipi sang suami dengan raut cemas dan begitu was-was. "Adriano, tolong buka matamu," pinta Mia lagi seiring masuknya beberapa petugas medis ke sana.


"Tunggu sebentar," cegah Mia pelan dengan suara bergetar. "Jangan bawa dia sebelum aku memastikan bahwa suamiku masih bernyawa," ucapnya kemudian. Mia lalu menangkup paras tampan pria dengan kedua matanya yang sudah terpejam itu.


"Adriano, apa kau mendengarku? Apa kau bisa merasakan sentuhan tangan istrimu ini, Sayang?" tanya Mia setengah berbisik.


Beberapa saat dia menunggu, hingga akhirnya Adriano membuka mata.


"Mia, Sayangku," ucap Adriano lemah. Pria itu tersenyum kecil, saat para petugas medis tadi akhirnya bisa memindahkan dia ke atas brankar. Ketika mereka mulai menggotong tubuh Adriano, pria rupawan bermata biru itu sempat menoleh ke samping. Sekilas dirinya melihat sosok dengan mantel panjang berwarna hitam. Pria itu berdiri di dekat dinding, cukup jauh dari tempatnya berada. Pria tampan tadi melepas newsboy cap yang dia pakai, sehingga memperlihatkan rambut hitam yang tersisir rapi ke belakang. Dia mengangguk hormat dengan diiringi sebuah senyuman kalem, sambil meletakkan topi berwarna abu-abu tadi di dadanya. Pria tadi seolah mengucapkan terima kasih kepada Adriano.

__ADS_1


"Matteo." Adriano menyebutkan nama itu dengan begitu lirih. Namun, beberapa saat kemudian, pandangannya pun menjadi gelap seketika. Adriano kehilangan kesadaran, membuat Mia kembali panik.


“Katakan bahwa suamiku masih hidup!” Mia menarik tangan salah satu petugas medis dan mengguncangkannya pelan.


"Tolong tenanglah, Nyonya. Denyut nadi suami Anda masih normal. Kami akan melakukan tindakan secepatnya,” bujuk petugas medis tadi untuk menenangkan Mia. Dia lalu melepaskan cengkeraman tangan ibunda Miabella tersebut. Tanpa menunggu lama, dia segera menutup pintu belakang ambulans sesaat setelah Adriano yang tak berdaya di dalam brankar telah masuk ke dalamnya. Dua mobil ambulans itu lalu bergerak beriringan keluar dari pelataran katedral kecil di pusat kota Milan. Beruntung hal tersebut tak sempat menarik perhatian banyak orang.


Sementara Mia yang seakan kehilangan pikiran jernihnya mulai berlari mengikuti laju ambulans yang jelas-jelas tak mungkin terkejar. “Hei, Mia! Apa yang kau lakukan! Ingatlah akan bayi di dalam kandunganmu!” Coco yang sedari tadi hanya terpekur pada undakan anak tangga teras katedral, segera berdiri dan menyusul kakak iparnya itu.


“Berhentilah! Biar kuantar kau ke rumah sakit! Jangan kemana-mana!” ujar Coco yang bergegas mengambil kendaraannya. Dia mengajak Mia masuk ke dalam mobil.


Dengan cekatan, Coco memutar kemudi dan melaju cepat menyusul ambulans yang sudah berada di depan. Sesampainya di rumah sakit, Mia segera turun dari kendaraan tanpa menunggu Coco memarkirkan mobil dengan baik. “Astaga! Pelan-pelan Mia!” tegurnya.


Mia yang sudah berada beberapa langkah di depan mobil Coco, sama sekali tak menghiraukan teguran itu. Dia terus mengikuti petugas medis yang baru saja menurunkan brankar Adriano. Langkahnya terhenti ketika petugas medis menutup pintu ruangan gawat darurat yang berukuran amat besar. Mereka menempatkan Adriano dan Juan Pablo di ruangan yang sama.


Ingatan Mia kembali berputar ke beberapa tahun yang lalu, saat Matteo terluka bersimbah darah di pulau Elba dan mereka terpaksa membawanya ke rumah sakit. Keadaan yang persis sama seperti sekarang. Masih teringat jelas di dalam benak Mia, kala itu Adriano menemaninya di luar ruang perawatan Matteo sambil memberikan sepotong roti. “Makanlah. Kau pasti belum sempat sarapan, ‘kan?” ujar Adriano ketika itu.


Tak terasa, air mata Mia kembali meleleh. Dirinya sungguh tak sanggup membayangkan hidup tanpa Adriano, pria yang begitu gigih memperjuangkan dan mencintainya setengah mati. “Adriano,” desis Mia lirih. Matanya tiba-tiba berkunang-kunang. Lantai yang dia pijak serasa berputar, hingga membuat Mia kehilangan keseimbangan.


Tubuh wanita cantik itu seakan kehilangan kekuatan dan hampir terjatuh ke lantai, andai saja Coco tidak sigap berlari dan merengkuh dan menahannya. “Mia!” Suara seruan Coco adalah hal terakhir yang dia dengar, sebelum semuanya berubah menjadi gelap seketika.


🍒 🍒 🍒

__ADS_1


Hai, semua. Ini ceuceu bawakan lagi satu rekomendasi novel keren.



__ADS_2