
Jules kembali menggeleng pada Adriano. Namun, kali ini Adriano tak mau tinggal diam. Dia berjalan perlahan ke arah pintu depan dan membukanya sedikit. Terlihat seorang pria berjanggut rapi dengan rambut kehitaman, berkacamata, serta bertopi hitam. Pria itu tersenyum kepadanya.
Sementara Adriano hanya diam tak menanggapi. Dirinya malah mengamati pria itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria asing tersebut memakai pakaian dan atribut yang serba hitam. “Apa maumu?” tanya Adriano dingin dan datar.
“Berunding, Tuan D’Angelo. Bisa kita bicara di dalam?” tanya pria asing itu. Dari logatnya, Adriano dapat memastikan bahwa pria tersebut berasal dari Amerika.
“Apa kau teman Marcus Bolt?” Adriano melayangkan tatapan tajam pada pria tinggi besar tadi. Tinggi pria itu bahkan sedikit melampaui Adriano yang jangkung.
“Bisa dibilang begitu. Marcus adalah aset kami yang sangat berharga. Kami sungguh tak ingin mencari masalah dengan siapa pun,” ujar pria itu. “Oh, ya, namaku Lionel, by the way,” ucapnya seraya mengulurkan tangan.
Bukannya balas menjabat, Adriano malah menarik tangan pria itu dan memelintir ke belakang hingga menempel di punggung. Dia lalu meraih senjatanya, kemudian ditodongkan ke pelipis pria bernama Lionel tersebut. “Kalian semua mundurlah atau kuledakkan kepala pria ini!” gertak Adriano nyaring. Orang-orang berpakaian serba hitam itu tampak saling berpandangan dari kejauhan. Namun, mereka tak melakukan apapun, seakan tengah menunggu perintah dari seseorang.
“Jules!” masih di ambang pintu, Adriano berteriak memanggil anak buah kepercayaannya.
“Ya, Bos?” Jules segera menghampiri Adriano.
“Katakan pada Ricci untuk menelepon detektif dan kepolisian metro Birmingham,” titahnya. Jules mengangguk dan berlari ke lantai atas tempat Coco berada.
“Kau tak boleh menelepon polisi, Tuan D’Angelo. Percayalah,” Lionel mengangkat tangan karena Adriano telah mengokang senjata laras panjang hanya dengan satu tangan dan bersiap menarik pelatuk.
“Suruh teman-temanmu mundur!" perintah Adriano. “Aku tak akan meminta hingga dua kali.” Merasa tak punya pilihan, Lionel hanya dapat menarik napas panjang lalu melambaikan tangan sebagai isyarat agar teman-temannya menjauh.
“Sepuluh menit lagi, polisi akan tiba di tempat ini. Tentu kau tak ingin anak buahmu tertangkap, bukan?” Adriano menyeringai sinis, lalu menatap ke depan. Dia berjalan mundur dan menutup pintunya dengan kaki seraya menyeret Lionel, kemudian mendudukkannya di satu kursi yang tak jauh dari Marcus Bolt.
Wajah pria itu mendadak pias ketika melihat temannya terikat dalam kondisi tak sadarkan diri. “Siapa yang membuat dia jadi begini?” geramnya pelan.
“Aku,” jawab Adriano. “Apakah ada masalah?” seringainya.
Lionel tertegun dan menatap tajam kepada Adriano. Setelah itu, dia mengawasi sekeliling. Empat ekor anjing American Pitbull mati mengenaskan di tengah-tengah ruangan. Mereka tergeletak begitu saja dengan lubang di beberapa bagian. Lionel juga memperhatikan satu per satu anak buah Adriano yang telah siap dengan senjata mereka. Adriano sendiri membawa dua pistol semi otomatis di pinggang, serta satu senapan laras panjang yang kini terarah ke kepalanya. “Jelaskan padaku tentang semua ini!” desak Adriano dengan nada dingin dan datar.
“Dengar, Tuan D’Angelo. Aku sama halnya dengan Anda, tidak ingin semua kekacauan ini terjadi. Aku hanya mengawal temanku yang sekarang kau sandera,” elak Lionel.
“Ku sandera? Apa kau tidak melihat dia menyerang kediamanku?” intonasi Adriano mulai meninggi.
“Marcus mengatakan padaku bahwa dia hanya ingin mengunjungi teman lamanya,” dalih Lionel.
“Mengunjungi teman lama dengan membawa dan mengerahkan anjing-anjing buas untuk menyerangku?” Adriano tertawa sinis sembari menggelengkan kepala. “Cepat katakan apa maumu dan apa maksud di balik semua yang terjadi! Ada hubungan apa kalian berdua dengan Thomas Bolton!” sentaknya.
__ADS_1
Lionel kembali menampakkan raut terkejut. Sesaat kemudian, dia berhasil menguasai diri dan tersenyum. “Baiklah. Kukira tak ada gunanya lagi untuk bersandiwara,” Lionel menunduk beberapa saat, lalu mendongak sambil terkekeh pelan.
“Kami bertugas menjaga Marcus Bolt supaya tetap hidup, karena seperti yang telah kukatakan tadi, Marcus adalah aset. Dia orang paling cerdas dalam organisasi. Kehilangan dia sama dengan kehilangan kekuatan,” jelasnya.
“Organisasi apa?” desis Adriano.
Lionel menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Adriano. Dia lalu menoleh kepada Marcus. Kepala pria berambut plontos itu mulai bergerak-gerak, menandakan bahwa dirinya mulai siuman. “Hei, Marcus! Bangunlah! Selesaikan kesalahpahaman ini!” seru Lionel.
Marcus tidak menanggapi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan seraya memicingkan mata. Seketika dia terbelalak, saat moncong senjata Adriano terarah padan. Sadar dia terikat, Marcus menggerak-gerakkan tubuh dengan kuat sambil menghentak-hentakkan kursi yang dia duduki. “Hei, tenanglah!” bentak Jules. “Apa kau ingin kupukul lagi?” ancamnya.
Seketika Marcus berhenti dan menoleh ke samping kanan. ”Lionel! Dia juga berhasil menangkapmu?” serunya tak percaya.
“Hentikan!” suara Adriano menggelegar, membuat suasana di ruang tamu itu mendadak menjadi hening. “Jelaskan dengan sebenarnya apa maksud kalian?” moncong senapan Adriano berada tepat di tengah dahi Marcus. Sementara Lionel hanya terdiam melihat itu semua.
“Adriano D’Angelo, atau haruskah kau kupanggil sebagai Piccola Tigre (macan kecil)?” Marcus menyeringai. Sejenak, Adriano tertegun. Itu adalah panggilan yang biasa disematkan oleh sang ibu kepadanya. Tak ada yang tahu panggilan itu selain dia dan Domenica.
“Dari mana kau tahu itu?” selidik Adriano.
“Oh, aku tahu tentang seluk beluk mangsaku,” Marcus tertawa lebar, hingga kepalanya menengadah ke langit-langit ruangan.
“Kau orang gila rupanya. Kita lihat sekarang, siapa yang berubah menjadi mangsa? Karena macan kecil ini sudah berubah menjadi harimau hitam,” Adriano menarik pelatuk dan melesatkan sebutir peluru pada kaki kanan Marcus.
“Akhiri saja semuanya, Marcus! Kau telah membahayakan kita semua!” sela Lionel yang mulai panik.
Marcus meringis menahan nyeri, lalu memandang Adriano penuh amarah. “Kau membunuh orang yang salah, Adriano! Kau menghabisi Andreja dan juga Thomas! Padahal bukan mereka yang seharusnya menjadi sasaran dendammu!” bentaknya.
“Katakan apa maksudmu!” Adriano kembali bersiap menarik pelatuknya. Namun, kali ini dia arahkan pada pangkal paha Marcus.
“Tuan D”Angelo, tenanglah. Biar aku yang menjelaskan,” Lionel yang sejak awal tak terikat, segera berdiri dan mendekati Adriano.
“Tetap di tempatmu, Tuan!” Adriano mengalihkan ujung moncong senapan ke kepala Lionel. Mau tak mau, pria itu duduk kembali pada tempatnya. “Kami hanya organisasi yang mencari makan dari klien,” Lionel memulai penuturannya.
“Jangan bertele-tele!” sahut Adriano.
“Begini, Marcus adalah salah seorang anggota kami. Dia yang memegang kendali di bagian IT. Dia juga yang mencari klien untuk kami,” terang Lionel.
“Klien apa yang kau maksud?” tanya Adriano dengan nada datar.
__ADS_1
Lionel menarik napas panjang, lalu tersenyum pelan. “Kami adalah organisasi pembunuh bayaran dan memiliki banyak klien, terutama dari kalangan pejabat pemerintah di seluruh dunia hingga orang-orang kaya dan bahkan mafia. Mereka sering menyewa jasa kami untuk memusnahkan saingan, atau siapa pun yang tak mereka sukai. Namun, satu kode etik bagi seluruh pembunuh bayaran di seluruh dunia, yaitu kami dilarang membeberkan siapa klien kami meskipun nyawa taruhannya.”
“Lalu?”
“Lalu, siang itu Anda mendatangi Marcus. Entah bagaimana, Anda menemukan laman internet milik rekanku ini. Dia memang penggila senjata. Dia tahu banyak tentang seluk beluk senjata api dan menuliskannya di laman pribadi. Anda lalu menunjukkan gambar empat butir peluru yang kebetulan Marcus kenali dengan pasti salah satu pelurunya,” jelas Lionel. Dia kemudian berhenti dan melirik kepada Marcus yang tampak pasrah. Namun, sorot matanya terlihat aneh memandang Lionel.
“Marcus salah bicara. Seharusnya, dia tidak memberikan link itu pada Anda. Itu sama saja dengan membuka rahasia organisasi kami,” Lionel menatap tajam kepada Marcus.
“Bukan itu maksudku! Aku memberikan link yang menuntun Adriano pada Andreja, supaya Andreja membunuhnya! Namun, yang terjadi malah justru sebaliknya!” sanggah Marcus.
“Kenapa kau ingin aku mati?” tanya Adriano tak mengerti.
“Kau bodoh atau bagaimana, hah! Pembunuh bayaran tak boleh terungkap! Kami harus melindungi sesama rekan dan klien! Jika ada seseorang yang menyelidiki kasus di mana tersangkanya adalah seorang pembunuh bayaran, maka si penyelidik itu harus dihentikan agar organisasi tetap aman. Itulah kenapa kasus Matteo de Luca tak pernah terungkap, karena melibatkan organisasi pembunuh bayaran,” terang Marcus.
“Apakah kalian adalah Elang Rimba yang pernah disebutkan oleh Marcus Bolt?” tanya Adriano lagi.
Muka Lionel mendadak pucat pasi mendengar nama itu. “Jangan katakan itu, Tuan D’Angelo. Elang Rimba bukanlah organisasi. Dia adalah seseorang yang hingga kini tak pernah terungkap jati dirinya. Kutegaskan, dia bukan bagian dari kami!”
“Marcus mengatakan .…”
“Aku hanya menjawab pertanyaanmu waktu itu!” seru Marcus yang memotong perkataan Adriano begitu saja. “Saat itu kau bertanya, peluru yang ada dalam gambar itu milik siapa. Aku menjawab hanya mengenali dua di antaranya. Aku tahu cepat atau lambat, kau akan menemukan siapa pemilik peluru tersebut. Oleh karena itu, aku berusaha membungkammu dengan cara mengarahkan kepada Andreja. Namun, malah Andreja yang justru terbunuh olehmu!”
“Dua dari peluru itu adalah milik pembunuh bayaran yang bernaung di bawah organisasi kami, Tuan D’Angelo. Mereka adalah Andreja Borislav dan Thomas Bolton. Mereka yang turut andil membunuh Matteo de Luca, atas perintah klien,” timpal Lionel.
“Siapa klienmu?” cecar Adriano.
“Seperti yang telah dijelaskan tadi. Adalah kode etik dan kewajiban mutlak untuk tidak mengungkap siapa klien yang telah menyewa kami. Silakan Anda tembak kepalaku. Namun, aku akan tetap bungkam,” Lionel menatap Adriano kalem. Dia seakan yakin dengan apa yang dikatakannya.
Merasa menemui jalan buntu, Adriano berpindah pada Marcus. “Kalau kau tak mau bicara, maka biar Marcus yang mengungkapkan,” ujarnya tenang.
“Memang, kusarankan Anda membunuh Marcus. Dia sudah terlalu banyak meninggalkan jejak dan kekacauan, padahal sudah ada kami yang mendampingi. Bayangkan jika dia bertindak sendiri,” sindiran yang Lionel tujukan kepada Marcus itu membuat Adriano berpikir ulang.
“Kenapa kau harus mendampingi Marcus?” Adriano mengernyitkan keningnya.
“Dia mengatakan ingin membuat perhitungan denganmu yang telah menghabisi dua anggota kami, yang salah satunya merupakan kakak kandung dari Marcus sendiri,” Lionel tersenyum ketika melihat Adriano tampak terkejut. “Ya, Tuan D’Angelo. Thomas Bolton adalah kakak kandung Marcus Bolt, alias Mark Bolton.”
“Oh, jadi begitu rupanya,” Adriano tersenyum sinis.
__ADS_1
“Akan tetapi, alih-alih Marcus membereskan semuanya. Dia malah membuat kejadian ini menjadi makin rumit. Masalah melebar ke mana-mana. Kerahasiaan organisasi kami berada dalam bahaya dan semua berawal dari link yang diberikan olehnya,” Lionel menggelengkan kepalanya seraya berdecak pelan.