Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Like A Ghost


__ADS_3

Setelah melewatkan beberapa hari di Italia, akhirnya mereka kembali ke Monaco. Semenjak menikah dengan Mia, Adriano merasa benar-benar memiliki rumah tempat di mana dirinya melepas lelah dan menghabiskan waktu dengan penuh kehangatan.


Risiko tinggi yang dia hadapi demi mengungkap dalang di balik pembunuhan Matteo, tak terasa begitu berat baginya ketika dapat melihat dan merasakan sikap hangat Mia dan keceriaan Miabella. Semua menjadi sepadan bagi seorang Adriano, yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam kesendirian.


“Apa kau yakin akan mengajakku dan Miabella ke Inggris?” Mia kembali bertanya dan meyakinkan bahwa apa yang Adriano katakan bukanlah gurauan semata.


“Ya, tentu saja,” jawab Adriano. “Rasanya aku tidak bisa mempercayakan keamananmu dan Miabella pada siapa pun. Aku tidak akan mengambil risiko,” lanjutnya. Adriano melepas kemeja yang dia kenakan dan hanya menyisakan celana panjang saja.


“Apa kau ingin mandi sekarang? Akan kusiapkan air untukmu,” tawar Mia membuat Adriano menoleh dan tersenyum. Senyuman yang kemudian berubah menjadi sebuah tawa pelan. Sedangkan Mia terlihat keheranan. “Ada yang lucu?” tanyanya seraya mengernyitkan kening.


“Tidak ada,” jawab Adriano dengan segera. “Aku baru tahu jika menikah dan memiliki keluarga itu ternyata rasanya sangat menakjubkan,” ujarnya. “Aku sering berkeliling dunia dan pergi ke manapun yang kukehendaki. Namun, saat ini aku ingin selalu berada di rumah dan berkumpul bersama kalian. Itu terasa jauh lebih indah.”


“Selama kau tidak bosan melihatku dan Miabella setiap hari,” balas Mia pelan.


“Memangnya kau tahu apa yang bisa membuatku bosan dari kalian berdua?” Adriano menatap Mia dengan nakal.


“Entahlah, mungkin seseorang yang membuatmu terbuai dengan keindahan suaranya,” jawab Mia dengan nada menyindir. Dia mendelik kepada Adriano untuk sesaat, lalu beranjak ke kamar mandi yang segera diikuti oleh pria itu. Mia bermaksud untuk menyalakan kran air panas. Namun, dia mengurungkan niatnya karena mendengar suara berat Adriano di sana.


“Apa kau ingin kita mandi berlama-lama, sehingga harus menggunakan air hangat?” bisik Adriano yang tiba-tiba sudah berada tepat di belakang Mia.


“Cuma kau yang akan mandi,” jawab Mia tanpa menoleh. Dia tahu jika pria itu menginginkan sesuatu darinya.


“Bagaimana jika tak kuizinkan kau keluar dari sini?” Adriano menggoda Mia dengan kata-kata dan suaranya yang membuat wanita itu mulai gelisah.


“Aku akan melawanmu,” sahut Mia seraya membalikkan badan. Mereka kini berhadapan dan saling pandang. “Kau terlihat sangat menakutkan ketika sedang dikuasai emosi tinggi. Apa kau juga akan bersikap seperti itu jika aku melakukan kesalahan dan membuatmu marah?”


Adriano menatap Mia untuk sejenak. Sesaat kemudian, tersungging sebuah senyuman aneh di paras tampannya. “Kau takut padaku, Mia?” suara Adriano terdengar begitu dalam. “Jika kau merasa cemas dan takut akan kemarahanku yang seperti itu, maka usahakan agar kau tidak membuat pria ini marah,” Adriano semakin mendekat. “Akan tetapi, rasanya aku tidak akan pernah bisa marah padamu ....” bersamaan dengan itu, Adriano menyalakan shower yang berada tepat di atas mereka berdua.


Mia memekik pelan karena terkejut. Namun, hal itu tak berlanjut karena Adriano segera membungkamnya dengan sebuah ciuman. Di bawah guyuran shower yang mengalir deras dan masih dalam keadaan berpakaian lengkap, keduanya asyik saling menautkan bibir dan menikmati adegan itu untuk beberapa saat.


......................

__ADS_1


Seusai makan malam, Coco bermaksud untuk mencari angin di dekat halaman mansion sambil merokok. Namun, saat itu dia berpapasan dengan Arsen. Mereka tak saling mengenal, tapi tak ada salahnya untuk menyapa satu sama lain. “Kita belum berkenalan secara langsung,” ucap Arsen dengan gaya bicaranya yang kaku.


“Kau menguasai bahasa Italia, dan aku tak mengerti bahasa Yunani,” sahut Coco. Dia menawarkan sebatang rokok pada pria berparas rupawan itu.


“Kekasihmu tidak ikut kemari?” Arsen mengambil sebatang dan mulai menyulutnya.


“Tidak. Dia sangat sibuk dengan kegiatan modellingnya,” sahut Coco seraya mengepulkan asap tipis dari dalam mulut yang mulai dipenuhi janggut tak beraturan.


Hal sama pula yang dilakukan Arsen. Tatap matanya menerawang pada halaman luas berlapis rumput hijau. “Jadi, kau adalah sahabat dekat Matteo de Luca?” tanyanya yang kemudian mengalihkan pandangan kepada Coco.


“Lebih dari itu. Kami sudah seperti saudara,” jawab Coco setelah mengisap rokoknya.


“Luar biasa,” gumam Arsen kembali dengan tatapan menerawangnya.


“Apanya yang luar biasa?” tanya Coco tak mengerti.


“Pengaruh seorang Matteo de Luca, sampai-sampai sahabatku rela bertindak sejauh ini demi mengungkap kasus kematiannya. Seandainya dia masih hidup, aku pasti akan merasa begitu terhormat untuk berkenalan langsung dengannya,” Arsen mengepulkan asap rokok dari mulutnya.


Sementara Coco tertawa pelan mendengar ucapan pria asal Yunani itu. “Adriano melakukan hal itu demi Mia. Dia sudah meliriknya dari semenjak Mia masih berstatus sebagai istri Matteo,” ucap Coco setengah berbisik, membuat Arsen seketika menoleh padanya dengan raut tidak percaya. Namun, Coco memberi isyarat yang meyakinkan pria mata keranjang tersebut.


“Apa kau akan ikut ke Inggris bersama kami?” tanya Coco.


“Tidak. Aku sudah terlalu lama di sini dan harus kembali ke Yunani, meskipun sebenarnya aku sangat menyukai Monaco. Tempat ini benar-benar seperti surga,” Arsen mematikan sisa rokoknya di atas paving block dengan kaki hingga padam. “Apa kau juga seorang pengusaha dan bergabung dalam proyek kasino bersama Don Vargas?” tanya Arsen.


“Siapa?” Coco mengernyitkan keningnya. “Tidak. Aku tidak mengenalnya dan juga bukan pengusaha. Aku hanya seorang montir,” jawab Coco lugas.


“Kau tidak terlihat seperti seorang montir. Menurutku, kau lebih mirip mata-mata,” Arsen menghadapkan seluruh badannya pada pria berambut ikal tersebut sambil meringis kecil.


“Anggap saja itu pekerjaan sampinganku,” ujar Coco sambil memainkan rokok yang masih ada di sela-sela jemarinya.


“Oh, ya?” Arsen merasa semakin tertarik dengan pria di hadapannya itu. “Apa saja pencapaianmu?”

__ADS_1


“Akulah yang membuat Matteo dapat menembus dan memporakporandakan istana Silvio Moriarty dengan mudah,” jelas Coco.


“Silvio? Saudara angkat Adriano? Kau tidak sedang bercanda, kan?” Arsen membelalakkan mata tak percaya.


Coco menanggapinya dengan senyuman jumawa, “Menurut kabar, aku dan Matteo lah orang yang pertama kali bisa menembus benteng pertahanan Silvio sekaligus membantainya.”


“Apakah Adriano tahu akan hal ini?” tanya Arsen lirih, seakan takut jika Adriano dapat mendengar percakapan mereka.


“Tanyakan saja pada sahabatmu itu,” jawab Coco enteng, lalu mengisap rokoknya dalam-dalam.


Arsen terdiam sesaat. Sesekali dia melirik pada Coco. Sorot matanya menunjukkan bahwa dia masih ingin mencecar pria berambut ikal itu dengan sejuta pertanyaan.


“Kau tahu?” Arsen mendekatkan dirinya pada Coco. “Adriano tidak setenang kelihatan. Dia sangat sadis pada musuh-musuhnya,” raut wajah pria Yunani itu terlihat sangat serius.


“Apalagi jika ada orang-orang yang sengaja mengusik dirinya atau orang-orang terdekatnya,” imbuh Arsen.


“Buktinya, aku masih hidup sampai sekarang,” sahut Coco santai.


“Ini benar-benar menjadi misteri terbesar abad ini,” Arsen menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Semua karena Mia. Adriano tak bisa membunuh atau menyakiti orang-orang yang Mia sayangi, sebab dia tak ingin Mia sedih dan menderita karenanya,” tutur Coco pelan, untuk kemudian dia terdiam. Saat itu dia tersadar pada kenyataan bahwa sepertinya dia harus berterima kasih pada Mia.


“Luar biasa,” ucap Arsen lagi. “Jika saja kau dan Matteo tidak mengenal Mia, mungkin kalian akan mati sekarang.”


“Aku tidak bisa membayangkan seandainya Don Vargas yang melakukan hal itu, mungkin dia tak akan selamat, walaupun pria tua itu memiliki kekuasaan yang sedikit lebih besar dari Adriano,” tutur Arsen.


“Menurutmu, seperti apakah Don Vargas itu? Apa dia orang yang licik dan berbahaya?” kini giliran Coco yang bertanya.


“Aku tidak tahu. Pria itu terlihat sangat misterius. Tidak banyak yang bisa diketahui dari latar belakangnya. Setahuku dia adalah orang yang menguasai wilayah Amerika dengan suplai senjatanya, narkoba, dan juga perjudian. Sekarang dia berniat untuk merambah Eropa,” jelas Arsen panjang lebar.


“Akan tetapi, mata jeliku melihat bahwa Juan Pablo lah yang berjasa atas semua pencapaiannya,” lanjutnya.

__ADS_1


“Siapa itu?” Coco menautkan alisnya.


“Tangan kanan Don Vargas. Dia jauh lebih misterius daripada majikannya. Makin aku mencari tahu tentang Juan Pablo Herrera, semakin aku tak mendapatkan apa-apa. Pria itu seperti hantu,” jelas Arsen pelan.


__ADS_2