Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Seminterrato


__ADS_3

Sesuai dengan undangan, Sergei datang ke mansion milik Adriano pada pukul sembilan tepat. Sesuatu yang dirasa janggal, karena bertamu pada jam seperti itu. Akan tetapi, Sergei tak memiliki kecurigaan apapun. "Di mana majikanmu, Pierre?" tanya pria asal Rusia itu sambil terus mengikuti Pierre, menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah mansion yang berada satu jalur dengan aula bawah tanah dan ruang kerja Adriano. Namun, saat itu Pierre tidak membawa Sergei ke ruang yang hanya dapat diakses oleh dirinya dan Mia. Lajang empat puluh tahun tersebut, terus membawa Sergei jauh lebih ke dalam. "Kita akan ke mana?" tanya Sergei lagi yang mulai merasa curiga.


Pierre menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu dari besi yang sedikit terbuka. Dia menoleh dan tersenyum kepada Sergei yang terlihat tidak nyaman. "Silakan masuk. Tuan D'Angelo menunggumu di dalam," ucap Pierre yang sekaligus merupakan sebuah jawaban bagi pria asal Rusia tersebut. Pierre lalu menggeser pintu besi itu hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Setelah memastikan bahwa tamu undangan sang majikan telah berada di dalam, ajudan setia Adriano tersebut segera menggeser kembali pintunya hingga tertutup rapat.


Sergei yang sudah berada di dalam sana, seketika merasa terkejut. Dia melihat ke sekeliling ruangan yang tampak kosong. Di sana tak ada apapun sama sekali. Penerangannya juga hanya mengandalkan dari lubang ventilasi, yang berada di sepanjang dinding bagian atas ruangan tersebut. Sergei tidak pernah mengetahui bahwa di dalam mansion mewah milik Adriano, terdapat sebuah ruang bawah tanah yang terlihat amat menakutkan. Tak berselang lama, sayup-sayup terdengar derap hak sepatu di atas lantai. Suara langkah yang cukup tenang, tetapi makin lama semakin mendekat ke arahnya. "Adriano! Kau kah itu?" seru Sergei dengan tidak terlalu nyaring. Akan tetapi, suaranya terdengar memantul.


Dari balik keremangan, tampaklah seraut wajah tampan dengan mata birunya yang tertuju lurus kepada pria asal Rusia itu. Adriano berdiri di sana sambil bertelanjang dada. Dia berdiri dengan gagah di hadapan Sergei yang masih merasa heran atas maksud dari ketua Tigre Nero tersebut. "Adriano, ada apa ini?" tanya Sergei memperhatikan dengan lekat pria tersebut.


Tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibir Adriano. Dengan tenang, dia berjalan mendekat ke hadapan Sergei. Tampaklah dengan jelas tubuh pria yang masih dibalut perban itu. Pemandangan tersebut membuat Sergei menautkan alisnya. "Kau kenapa? Siapa yang telah membuatmu menjadi seperti ini?" tanyanya lagi.


"Kau bertanya siapa?" Adriano kembali tersenyum sinis. "Aku sedang tidak ingin berbasa-basi denganmu, karena aku harus segera kembali ke kamar. Mia akan cemas jika sampai jam dua belas aku tidak berada di sampingnya," ujar Adriano dengan tatapan dan seringai aneh yang dia tujukan kepada Sergei.


"Oh, jadi janda Matteo de Luca itu sekarang sudah bertekuk lutut pada pesonamu rupanya. Syukurlah. Kematian Matteo ternyata tidak sepenuhnya membawa dampak buruk," celetuk pria asal Rusia tadi seenaknya.


"Begitukah menurutmu?" tanya Adriano dengan intonasinya yang semakin terdengar aneh.


"Jika Matteo tidak mati, maka wanita itu tidak akan pernah jatuh ke dalam pelukanmu. Dia hanya akan terus membuat seorang Adriano D'Angelo merasa penasaran dan kau pun tentu saja tidak bisa menyen ...." Sergei tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena sebuah tamparan keras Adriano telah lebih dulu membungkam mulutnya.


Sergei terhuyung dan hampir saja tersungkur, karena tamparan yang begitu kerasnya dari Adriano. Pria asal Rusia tersebut kembali menegakkan tubuh sambil mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Apa-apaan kau?" geramnya menahan amarah.


"Jadi kau merasa bahagia atas kematian Matteo de Luca?" belum lagi Sergei mengembalikan keseimbangan dirinya, sebuah tendangan yang tak kalah keras mendarat di dada. Kali ini, pria bermata hijau itu benar-benar terjerembab ke belakang. Tubuhnya berada dalam posisi telentang dengan napas tersengal-sengal. Baru saja dia akan bangkit, seketika Sergei kembali rebah di lantai, karena hak sepatu Adriano saat itu berkuasa di atas dadanya.


Bengis dan tak ada ampun terpancar jelas dalam paras rupawan yang kini terlihat sangat menakutkan. Adriano terus menekan sepatunya di dada Sergei yang berusaha untuk menyingkirkan kaki sang ketua Tigre Nero tersebut. Sergei yang tidak menguasai bela diri dan akan lemah tanpa memegang senjata, langsung takluk dalam dua hentakan saja. "Kau kenapa, Adriano? Ada masalah apa denganku?" tanyanya sambil meringis menahan sakit. Dia juga kesulitan bernapas karena Adriano terus menekan dadanya dengan kuat.

__ADS_1


"Katakan padaku seberapa dekat dirimu dengan Mark Bolton alias Marcus Bolt?" desak Adriano dengan nada bicaranya yang penuh penekanan.


"Aku tidak mengenal pria yang kau sebutkan barusan!" bantah Sergei dengan tegas.


"Jangan berbohong!" bentak Adriano semakin keras menekan dada Sergei hingga pria itu kelabakan dan benar-benar kehilangan napas. Tak ingin Sergei mati terlalu mudah, Adriano menyingkirkan kakinya dari dada pria itu. Sergei pun dapat kembali bernapas, meski terengah-engah dan tak beraturan. Terdengar pula suara batuknya beberapa kali. Namun, belum sempat pria asal Rusia itu menenangkan diri, Adriano langsung mencekal kerah baju bagian belakangnya. Dia menyeret tubuh pria yang masih dalam posisi terduduk.


"Adriano! Apa yang kau lakukan? Sudah kukatakan bahwa aku tidak mengenalnya!" bantah Sergei dengan suara nyaring. Kali ini dia berharap Mia dapat mendengar dan menghentikan kegilaan pria bermata biru itu.


Adriano tak menggubris bantahan Sergei sama sekali. Dia terus saja menyeret tubuh pria itu, meskipun sebenarnya dia juga merasakan sakit pada luka yang belum sepenuhnya pulih. Adriano baru melepaskan cengkeramannya pada kerah baju pria asal Rusia tadi, setelah mereka berada di depan sebuah pintu besi lainnya. Dia lalu menekan sebuah tombol. Tak lama, pintu besi itu bergeser ke atas, sehingga tampaklah sebuah kerangkeng besi di bagian dalamnya. Dari dalam kerangkeng tersebut, terdengar suara geraman yang seketika membuat bulu kuduk Sergei meremang. "Apa itu?" tanyanya was-was.


Adriano tidak menjawab. Dia tersenyum sinis kepada Sergei. Sesaat kemudian, pria bermata biru itu mengalihkan pandangan pada kerangkeng besi di hadapannya. "Camaro!" seru Adriano lantang, hingga suaranya menggema di dalam ruangan tersebut. Tak berselang lama, hanya dengan satu kali panggilan sesuatu muncul dari balik keremangan. Seekor black panther dengan matanya yang kuning berkilau di dalam gelap. Hewan buas itu kembali memperdengarkan suaranya yang membuat nyali siapa pun seketika akan menciut.


"Adriano, jangan gila!" Sergei mencoba untuk berontak dari cengkeraman kuat pria itu. "Tidak, Adriano!" Sergei berusaha untuk menjauhkan dirinya dari dekat jeruji besi yang menjadi pembatas antara mereka berdua dengan hewan buas tadi.


"Tidak kuduga, ternyata kau adalah seorang psikopat!" umpat Sergei di sela-sela rasa takutnya.


"Jangan asal bicara!" Adriano menanggapi umpatan pria asal Rusia itu dengan penekanan yang sangat dalam. "Aku bisa menjadi orang yang baik, jika berhadapan dengan sebuah kebaikan. Namun, aku bisa lebih kejam dari iblis pencabut nyawa, ketika harus berhadapan dengan sebuah kekejian, seperti yang kalian lakukan terhadap Matteo de Luca!"


Sergei tertawa dengan nada mengejek, saat mendengar kata-kata yang dilontarkan Adriano terhadapnya. "Oh, rupanya kau ingin menjadi pahlawan kesiangan. Kasihan sekali kau, Adriano. Kau dibutakan oleh cinta terhadap janda Matteo, sehinga mau saja melakukan semua ini," cibir Sergei puas, yang segera berbalas sesuatu yang sangat mengerikan. Adriano mencengkeram erat rambut belakang pria berkulit putih itu dan mendorongnya hingga semakin mendekat pada kerangkeng. Camaro menggeram dan mencoba untuk meraih wajah Sergei. "Tidak!" teriak pria asal Rusia itu. Namun, tak ada yang peduli sama sekali dengan teriakannya.


"Berteriaklah sekuatmu, karena kujamin tak akan ada siapa pun yang bisa mendengarnya! Aku bisa mengulur waktu kematianmu, tapi itu juga jika kau bisa bekerja sama denganku. Jadi, sebaiknya katakan sekarang juga ada hubungan apa antara kau dengan Marcus Bolt!" desak Adriano.


"Sudah kukatakan bahwa aku tidak mengenalnya!" bantah Sergei sambil terus menahan wajahnya agar tak semakin mendekat pada kerangkeng.

__ADS_1


"Jangan berbelit-belit atau akan kupermudah kematianmu, sama seperti yang kulakukan pada saudaramu Alex!" ancam Adriano. Perlahan, jeruji besi itu terangkat sedikit dari lantai. Tampak Camaro yang mengeluarkan salah satu kakinya, dan mencoba menggapai Serge yang masih dalam keadaan terduduk.


"Baiklah, baiklah," pada akhirnya Sergei menyerah. "Aku memang mengenalnya. Aku tahu jika Marcus adalah penggila senjata," tutur Sergei.


"Aku sudah tahu itu. Beritahu aku tentang sesuatu yang lain!" desak Adriano.


"Dia ... dia yang memperkenalkanku kepada Nenad Ljudevit," ungkap Sergei.


"Siapa dia?" desak Adriano lagi.


"Nenad adalah seorang bandar besar dalam perdagangan senjata ilegal. Dia juga memiliki situs gelap yang khusus digunakan untuk mengelola bisnisnya dari seluruh dunia," jelas Sergei.


"Lalu?"


"Lalu, aku mulai berkmomunikasi dengannya. Aku menjual sebagian senjata hasil rakitan Matteo pada pria itu. Jangan tanya alasan kenapa."


"Sayangnya aku ingin tahu," balas Adriano penuh penekanan.


Sergei tertawa sinis. Dia sempat memaksakan diri untuk menoleh kepada Adriano yang masih memasang raut mengerikan. "Pertama, aku melakukannya karena marah. Kupikir jika Matteo lah yang telah menghabisi Alex. Kedua, bukankah itu yang kau inginkan?" seringai Sergei membuat Adriano menautkan alisnya.


"Apa maksudmu, Bodoh?" sentak Adriano.


Sergei kembali tertawa lebar. "Kau yang bodoh, Adriano," balas Sergei. "Untuk apa kau mempertaruhkan nyawa demi seseorang yang sejak awal ingin kau hancurkan. Seharusnya, saat ini kau sedang minum anggur sambil menikmati kemenanganmu atas Matteo de Luca. Apalagi, kini kau juga bisa menikmati tubuh istrinya," seringai Sergei lagi, membuat Adriano kian emosi.

__ADS_1


__ADS_2