
"Tidak, Adriano!" sontak Mia berdiri dan menjauh dari pria yang juga langsung beranjak dari duduknya.
"Tenanglah, Mia. Kalaupun itu sampai terjadi, kau tidak perlu khawatir. Aku memiliki tim pengacara yang hebat dan terpercaya," Adriano meraih tangan Mia dan menggenggamnya dengan erat, lalu dia cium dalam-dalam.
"Bagaimana kau bisa menyuruhku agar tenang? Kau pergi semalaman saja hatiku benar-benar tak karuan, apalagi jika ... tidak, Adriano! Aku tidak akan pernah merelakannya!" tegas Mia.
"Itu hanya perkiraanku, Sayang. Aku yakin jika Juan Pablo dan Don Vargas pasti tidak akan tinggal diam, karena hubungannya dengan Sergei terbilang dekat."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Mia masih terlihat khawatir.
"Tidak ada," jawab Adriano dengan entengnya. "Aku hanya akan melihat seperti apa kelanjutannya. Setelah itu, barulah aku bisa mengambil keputusan yang tepat. Untuk saat ini, tetaplah terlihat tenang. Jangan terlalu mencemaskanku, karena Adriano pasti akan selalu ada di dekatmu," dalam dan juga penuh arti. Adriano merekatkan keningnya dengan kening Mia. Dia juga mere•mas rambut panjang sang istri dengan lembut. Ketika dirinya hendak mencium wanita itu, tiba-tiba terdengar suara Coco yang ternyata sudah berdiri di pintu masuk.
"Oh, astaga kalian berdua. Tak lama lagi Miabella pasti akan mempunyai adik," celetuknya sambil melipat kedua tangan di dada.
Adriano segera menoleh. Sedangkan Mia bergerak mundur. "Aku permisi dulu," ucapnya seraya berlalu dari sana.
Sementara Coco berjalan mendekat dan memilih untuk duduk. Dia memperhatikan Adriano dengan saksama. Sang ketua Tigre Nero pun ikut duduk di kursi yang berada tak jauh darinya. "Damiano mengatakan bahwa ada pria yang mirip dengan Matteo datang kemari. Semoga aku tidak salah tebak," ujarnya mengawali perbincangan.
"Ya. Juan Pablo sengaja datang kemari untuk menemuiku," sahut Adriano datar.
"Istimewa sekali dirimu, sampai-sampai dia rela datang jauh-jauh kemari. Memangnya, ada hal sepenting apa?" tanya Coco penasaran. Dia mengeluarkan kotak rokok dan mengambil sebatang, kemudian segera dia sulut. Pria berambut ikal itu juga sempat menawari Adriano, tetapi ditolak olehnya.
"Dia mencari Sergei Redomir," jawab Adriano pelan.
"Kenapa dia harus bertanya padamu?" Coco terlihat heran.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin karena dia tahu jika aku dan Sergei sering berkomunikasi," jelas Adriano seraya meraup wajah dan menyibakkan rambutnya ke belakang. "Semuanya terasa begitu kacau," keluh pria bermata biru itu pelan.
Melihat bahasa tubuh Adriano yang dirasa tak biasa, Coco menjadi semakin penasaran. "Apa yang terjadi?" tanyanya tanpa banyak basa-basi lagi.
"Aku sudah menghabisi Sergei Redomir," jawab Adriano membuat Coco segera membetulkan posisi duduknya. "Ya, aku menghabisinya beberapa saat setelah mengetahui bahwa dia ternyata mengenal Marcus Bolt alias Mark Bolton," tutur Adriano lagi.
"Jadi, penemuan Ranieri dan rekan-rekannya di Inggris memang benar?"
"Ya," sahut Adriano yakin. "Marcus adalah perantara antara Sergei dengan Nenad Ljudevit, seorang bandar perdagangan senjata di pasar gelap. Sergei menjual senjata hasil rakitan Matteo padanya dan menyulut kemarahan seseorang yang merupakan penguasa di wilayah Amerika dan sekitarnya. Kau tahu, Ricci. Aku membawa Sergei kepada Matteo dengan satu alasan sebagai sarana balas dendam, dan Sergei yang telah menyebabkan orang-orang itu memburu Matteo karena Nenad menjual senjata-senjata itu atas nama sahabatmu," terang Adriano dengan raut penuh penyesalan.
Coco tidak segera menjawab. Dia menatap pria di hadapannya dengan lekat. Sesekali, pria bermata cokelat tersebut mengembuskan asap rokok dari dalam mulutnya. "Apa Mia tahu tentang hal itu?" tanyanya.
"Ya. Aku sudah menceritakan semua padanya. Aku merasa berasalah dan ...."
"Secara tak langsung aku juga menjadi penyebab kematian Matteo," jawab Adriano.
Mendengar jawaban dari sang ketua Tigre Nero, Coco justru tertawa renyah. Dia kembali mengisap rokoknya dalam-dalam. "Sejak kapan kau menjadi begitu bodoh, Adriano? Kau terpengaruh dengan hal sekecil itu? Ternyata nyalimu lemah juga," ledek Coco pada akhirnya. Akan tetapi, Adriano tidak menanggapi ejekan dari kekasih Francesca tersebut.
"Aku ataupun Damiano dan semua yang menjadi bagian dari Klan de Luca, telah merelakan kepergian Matteo. Kita tahu seberapa tangguhnya dia, tapi mungkin sudah takdirnya harus tewas di tangan mereka, seseorang yang tak terlihat. Kurasa, daripada kau sibuk menyesali diri, sebaiknya kita teruskan untuk mengeluarkan orang-orang itu dari persembunyian mereka," Coco terlihat sangat serius dengan ucapannya. Sedangkan Adriano tampak berpikir. Sepertinya dia menemukan sebuah cara.
"Apa kau belum menemukan petunjuk lain?" tanya Coco seraya mematikan rokoknya di dalam asbak.
"Tadinya belum. Namun, aku rasa sekarang sudah," raut cemas Adriano berangsur sirna dan berganti sebuah senyuman.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Coco lagi.
__ADS_1
"Mencari informasi tentang Nenad Ljudevit. Dia pasti memiliki banyak kenalan dari pihak-pihak yang berkecimpung dalam bisnis senjata," jelas Adriano.
"Luar biasa. Aku yakin kau akan bisa menemukannya, Adriano," sahut Coco dengan senyuman terkembang.
......................
Seusai makan malam, Mia segera menidurkan Miabella. Gadis kecil itu tampak kelelahan setelah menemani Damiano berjalan-jalan di sekitar perkebunan. Rupanya, pria tua itu sakit karena rindu kepada sang cucu. Buktinya, setelah dijenguk oleh Miabella, Damiano bisa turun dari tempat tidur bahkan hingga berjalan-jalan keluar rumah.
Sementara itu, Adriano tampak malas-malasan di atas tempat tidur. Dengan posisi tertelungkup memeluk bantal, dia sibuk memainkan ponsel. Adriano mulai mencari nama Nenad Ljudevit di internet. Namun, konsentrasinya seketika buyar ketika dia merasakan ada seseorang yang merangkak naik dan memeluknya dari belakang. Pria bermata biru itu menoleh ke samping, kemudian tersenyum. "Tubuhmu semakin berat, Mia," ucapnya menyambut kecupan manja dari sang istri di pipi sebelah kanan.
"Kau sedang apa?" tanya Mia yang saat itu berada di atas punggung Adriano. Dia menciumi pundak dan tengkuk kepala sang suami dengan lembut, membuat Adriano sedikit bereaksi.
"Aku sedang mencari seseorang. Seorang pria bernama Nenad Ljudevit," jawab Adriano kembali pada layar ponsel yang masih menyala. Namun, lagi-lagi dia tak bisa berkonsentrasi ketika Mia menciumi leher dan telinganya. "Kenapa kau mudah sekali membuatku bergairah, Mia?" Adriano meletakkan ponselnya kemudian segera berbalik, membuat tubuh Mia terempas di atas kasur. "Apa Miabella sudah tidur?" tanya Adriano yang kini berada di atas tubuh wanita dengan kimono merah itu.
"Dia sudah tertidur lelap," jawab Mia seraya tersenyum menggoda.
"Oh, syukurlah," desis Adriano. Dia memposisikan kedua tangan sang istri di atas kepala, kemudian menahannya dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya bergerak turun dan menelusup masuk ke dalam segitiga lace yang Mia kenakan. Seketika, senyuman menggoda Mia berubah menjadi sebuah ringisan kecil. "Kau harus bertanggung jawab karena telah menggangguku, Sayang," ucap Adriano dengan setengah berbisik. Dilu•matnya bibir polos Mia dengan penuh gairah.
Sementara itu, Mia tak kuasa untuk melawan. Wanita cantik bermata cokelat tersebut hanya mampu menggesek-gesekan ujung kakinya di atas kasur demi menahan perasaan yang sulit untuk dia lukiskan. Tatap mata Mia pun tampak sayu, beradu dengan sorot memesona dan menggoda yang dilayangkan Adriano padanya. Begitu juga dengan helaan napas yang saling berbaur dan mulai mengisi kamar tersebut. "Haruskah kita bercinta di rumah ini, Mia?" bisik Adriano seraya membenamkan wajahnya di leher Mia.
🍒🍒🍒
Hai, reader. Ceuceu bawa satu novel keren lagi. Silakan baca.
__ADS_1