Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Cooperation Offer


__ADS_3

Adriano berjalan menuju ruang kerjanya dengan wajah berseri. Mencium Mia, seakan memberikan energi baru yang begitu besar dalam menjalani setiap aktivitas. Adriano selalu bersemangat, meski sekeras apapun hari yang akan dia lalui.


Seperti halnya saat itu. Wajah tampan sang pemilik mansion tersebut, tampak semakin bersinar ketika menyapa Pierre. Ajudan setianya itu sudah berdiri tegak di depan ruangan yang masih tertutup rapat. “Kenapa kau tidak langsung masuk saja?” tanya Adriano heran.


“Aku sengaja menunggu Anda, karena akan jauh lebih sopan jika Anda yang masuk terlebih dahulu, Tuan,” Pierre tersenyum hangat. Dia yang telah menunggu Adriano sejak beberapa saat yang lalu, kemudian membuka kunci otomatis dengan sidik jarinya.


“Jam berapa Benigno akan tiba di sini?” tanya Adriano lagi setelah mereka memasuki ruang kerja. Pierre duduk di sofa, sedangkan Adriano segera mengambil tempat di kursi kebesarannya. Sesaat kemudian, pria bermata biru itu meraih kotak cerutu yang selalu tersedia di atas meja kerja. Diambilnya sebatang, lalu dia potong ujung cerutu tersebut menggunakan alat pemotong khusus yang terdapat di sisi kotak. Setelah itu, Adriano mengeluarkan korek api otomatis dari saku kaus polo berlengan pendek yang dia kenakan. Ya, hari itu sang ketua Tigre Nero tidak mengenakan kemeja berlengan panjang yang selalu menjadi ciri khasnya. Hal tersebut dimaksudkan agar mempermudah dirinya dan juga Mia dalam mengganti dan membersihkan luka jahitan yang melintang dari pergelangan hingga ke siku.


Adriano kemudian membakar ujung cerutu seraya mengisapnya sampai keluar kepulan asap. Tak lupa, dia menyodorkan kotak cerutu tadi kepada Pierre.


“Aku sedang tidak ingin menghisap cerutu, Tuan,” tolak Pierre halus. “Tenggorokanku bermasalah sejak kemarin,” ujarnya sambil merogoh ponsel dari saku celana. Pria itu kemudian mengernyitkan kening sambil mengetikkan sesuatu pada layar smartphonenya.


“Baiklah,” Adriano tersenyum kalem menanggapi penolakan sang ajudan. Dia kembali menghisap cerutu berkualitas tinggi.


“Benigno sudah tiba di gerbang mansion. Apakah langsung suruh saja kemari?” Pierre meletakkan ponsel miliknya, lalu kembali melayangkan perhatian penuh kepada sang majikan.


“Itu jauh lebih bagus,” ucap Adriano sambil membuang abu cerutu di asbak yang terbuat dari kristal.


Tak berselang lama, tamu yang ditunggu pun akhirnya telah tiba. Benigno, anak buah kepercayaan Adriano di Italia. Dia adalah pria yang memiliki tato di seluruh tubuh, kecuali pada bagian wajah. Dia berdiri di depan pintu yang telah terbuka. Di samping Benigno, berdiri seorang pria yang tampak berusia sama dengan Adriano.


“Apa kabar, Benigno?” Adriano berdiri dan mengulurkan tangan pada orang kepercayaannya yang tengah berjalan mendekat.


“Aku baik-baik saja, Tuan. Terima kasih,” Benigno membalas jabat tangan sang majikan dengan hangat. “Oh, ya, apa Anda masih mengingatnya?” pria berkepala plontos itu lalu mengarahkan tangan kanan kepada pria berpenampilan necis di sebelahnya, yang sedari tadi sudah menunggu giliran untuk bersalaman dengan Adriano. Sementara Pierre lebih memilih untuk menyimak saja pertemuan bisnis itu, dari sofa tempat dia berada.


Adriano mengamati pria tersebut cukup lama. Dia terpaksa membongkar memorinya dan mengingat-ingat siapakah sosok di hadapannya itu. “Apakah kau ... Patrizio? Patrizio Bianchi?” terka Adriano sembari berjalan memutari meja dan mendekat kepada tamunya.


“Betul sekali, Amico! Apa kabarmu? Rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu,” pria itu tersenyum lebar, kemudian memeluk Adriano tanpa ada rasa sungkan sedikit pun.


“Astaga! Apa kabarmu? Terakhir kali kudengar kau sudah bertahun-tahun tinggal di Amerika. Apakah itu benar?” Adriano tampak begitu antusias memandang pria di hadapannya tersebut.

__ADS_1


“Ya, begitulah. Akan tetapi, sudah tiga bulan ini aku kembali ke Italia. Aku berencana menetap di Roma untuk selamanya,” tutur pria bernama Patrizio itu. "Tinggal di kampung halaman sendiri akan terasa jauh lebih menyenangkan," ucap pria itu lagi.


“Dia datang ke klub seminggu lalu dan langsung mencari Anda, Tuan. Dia ingin menawarkan kerja sama,” lanjut Benigno seraya menoleh kepada Patrizio, kemudian beralih pada Adriano.


“Oh, ya tentu. Aku selalu membuka pintu kerja sama dengan siapa pun, selama itu bisa saling menguntungkan kedua belah pihak. Namun, sebelumnya coba jelaskan terlebih dahulu bentuk kerja sama seperti apa yang kau inginkan?” Adriano beralih pada Patrizio dengan wajah yang terlihat hangat dan ramah.


“Aku berniat untuk ....” Patrizio tiba-tiba terdiam, ketika melihat perban putih yang melilit tangan Adriano. “Hei, apa yang terjadi padamu?” tanyanya.


“Ah, tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil, akibat kecelakaan yang tak disengaja,” jawab Adriano dengan santainya. “Lanjutkan, Amico," dia kembali mengarahkan perbincangan pada tujuan utama pertemuan tersebut.


“Jadi, aku sudah berkunjung ke klub malammu yang mewah dan fantastis di Roma. Aku juga melihat-lihat ballroom di lantai teratas. Sungguh luar biasa, karena tempatnya amat luas dengan interior yang benar-benar sangat bagus. Hal itu membuatku sangat tertarik dan ingin menyewanya untuk dua tahun ke depan,” ujar Patrizio penuh percaya diri.


“Kau ingin menyewa? Untuk apa?” Adriano mengernyitkan keningnya.


“Kau tahu bukan bahwa aku adalah produser terkenal di dunia hiburan negara kita. Banyak acara-acara televisi yang kupegang, dan semuanya sukses besar di bawah rumah produksiku,” jelas Patrizio dengan bangga.


Patrizio tak segera menjawab. Dia tersenyum lebar dan melirik kepada Benigno. “Kemarin aku sudah mengutarakan niatku pada Benigno. Dia mengatakan bahwa akan lebih baik jika aku langsung mengatakannya padamu,” ujar pria tersebut.


“Katakanlah,” Adriano mulai tak sabar.


“Dengar, Adriano. Aku hendak menyewa ballroom milikmu untuk kupergunakan dalam ajang pencarian bakat yang akan disiarkan secara langsung di salah satu stasiun televisi. Aku akan menyewanya dengan harga yang lebih tinggi,” terang Patrizio.


“Oh, ya?” Adriano kelihatannya mulai tertarik saat mendengarkan penawaran dari kawan lamanya itu.


“Iya! Aku tidak akan keberatan dengan harga sewanya, karena tempat itu memang sangat bagus dan sesuai untuk acara yang akan disiarkan secara nasional,” ujar Patrizio meyakinkan.


“Secara nasional?” ulang Adriano.


"Ya, secara nasional. Ajang pencarian bakat ini rencananya adalah untuk mencari bibit-bibit penyanyi terbaik dari seluruh pelosok negeri. Aku juga hendak menggaet Carina sebagai salah satu juri. Kau masih ingat dengan Carina, bukan? Teman sekolah kita dulu?” tanya Patrizio.

__ADS_1


“Tentu saja aku masih mengingatnya,” balas Adriano, "kami bahkan pernah bertemu beberapa waktu yang lalu, saat aku berkunjung ke Italia," terang pria itu dengan raut wajah yang sedikit tidak nyaman.


“Oh, begitukah? Jadi, apakah itu artinya kau akan menyetujui penawaranku?” tanya Patrizio memastikan.


“Selama aku tidak perlu bertemu secara langsung dengan Carina, maka aku akan menerimanya,” jawab Adriano tegas dan mantap sembari menyeringai lebar.


Patrizio sedikit heran dengan syarat yang diajukan oleh Adriano. “Memangnya kenapa jika kau bertemu secara langsung dengan Carina? Apakah terjadi sesuatu di antara kalian?” tukasnya.


“Tidak ada. Tak ada apa-apa di antara kami. Alasannya hanya karena istriku tidak suka jika aku dekat-dekat dengan wanita manapun,” jelas Adriano, yang segera disambut oleh tawa pelan Pierre dan juga Benigno.


“Istri? Jadi, kau sudah menikah rupanya,” Patrizio amat terkejut mendengar penjelasan Adriano. Akan tetapi, secepat mungkin dia berhasil menguasai diri. “Maaf, aku tak tahu jika kau telah menikah. Namun, itu alasan yang sangat masuk akal dan aku bisa memahaminya,” Patrizio turut terkekeh geli. “Bagiku, alasan seperti itu tak masalah selama kau setuju dengan tawaran ini. Lagi pula, kau tentunya tidak akan mendaftar sebagai peserta, bukan?" candanya kembali diiringi tawa. Begitu juga dengan Adriano yang menganggap gurauan dari teman lamanya itu sebagai hiburan semata.


“Oh, aku sangat setuju. Siapkan saja proposalnya dan akan segera kupelajari lebih lanjut. Tentu saja dengan saran dari Benigno juga,” Adriano menoleh kepada tangan kanan kebanggaannya seraya menepuk pelan punggung pria itu.


Setelah didapat kata sepakat, obrolan bisnis tersebut berlanjut ke percakapan yang jauh lebih ringan dan santai, hingga tak terasa malam telah tiba.


Mia saat itu baru datang dan langsung memasuki mansion dari arah taman belakang bersama Arsen, Olivia dan juga Miabella. Olivia memilih untuk menjaga jarak dari Arsen, dengan menggandeng dan mengikuti Miabella yang berjalan cukup jauh di depan. Sedangkan Mia berjalan sejajar dengan pria yang baru saja mengakhiri masa lajangnya.


“Jadi, bagaimana rencana ke Inggris besok? Apakah semuanya sudah siap?” Mia berusaha memecahkan kebisuan yang membuat suasana terasa canggung di antara mereka berdua.


“Ya, sudah siap seratus persen. Ah, kuralat. Sembilan puluh persen siap jika aku mengajak Olivia,” jawab Arsen.


“Kau akan mengajak Olivia juga?” Mia menghentikan langkahnya tepat saat mereka tiba di ruang makan. “Ya ampun, aku lupa bahwa kalian sekarang sudah menjadi pasangan suami istri yang sah," wanita cantik itu tertawa sambil menutupi mulut dengan telapak tangan. Namun, tawa Mia kemudian berhenti ketika menyaksikan kesibukan yang tak biasa di ruang makan.


“Ada apa ini? Apakah kalian sedang menyiapkan jamuan besar?” Mia menghentikan salah seorang pelayan yang akan menuju dapur.


“Iya, Nyonya. Kepala pelayan mengatakan bahwa Tuan D'Angelo memerintahkan kami agar membuat hidangan spesial, untuk menjamu para koleganya,” terang pelayan itu dengan sopan.


“Oh, iya. Aku lupa jika Adriano menerima tamu penting hari ini,” Mia menoleh kepada Arsen yang tengah memperhatikan Olivia. Dia terdiam dengan pipi merona, tatkala melihat istri barunya yang sedang bercengkerama bersama Miabella. “Dia memang sangat cantik. Entah sisi mana dari Olivia yang membuatku teringat akan diriku sendiri,” Mia tersenyum samar, lalu kembali mengarahkan tatapannya kepada Arsen. “Tenang saja, karena aku yang akan menyampaikan kepada Adriano bahwa kau ingin mengajak Olivia ke Inggris," ucap Mia lagi seraya berlalu dari dekat Arsen, kemudian menghampiri Miabella. "Ayo, Sayang. Kau harus berganti pakaian dulu," ajaknya. Mia menuntun Miabella pergi ke kamar gadis kecil itu, meninggalkan Olivia dalam tatapan lekat Arsen.

__ADS_1


__ADS_2