
Mia segera menyadari kesalahan yang telah dia lakukan. Dirinya berniat untuk menyusul Adriano. Sebelum keluar kamar, Mia terlebih dahulu mengenakan kimono. Barulah dia memutuskan untuk mencari Adriano. Dengan terburu-buru dibukanya pintu kamar. Setengah kebingungan, Mia menyapu ke sekeliling lorong dengan pandangannya. Akan tetapi, sang suami tak terlihat di sana. “Adriano,” gumamnya lirih. Wanita itu terdiam sejenak sambil menggigit kuku jari telunjuknya.
Perlahan, semua tabir yang menyelimuti hatinya terbuka sedikit demi sedikit. Tak dapat dipungkiri bahwa Mia sudah jatuh cinta kepada Adriano. Perasaan tersebut muncul dengan begitu cepat, walaupun hal itu tidak juga dapat sepenuhnya menghapus kenangan tentang Matteo.
Mia akhirnya memutuskan untuk mencari Adriano di ruang kerja, karena hanya tempat itulah yang paling pertama ada di pikirannya. Ruang kerja yang berada di lantai paling bawah mansion, adalah spot favorit bagi Adriano. Wanita itu berjalan pelan, sembari mendekap tubuhnya sendiri. Rasa sunyi dan dingin yang tiba-tiba hadir, membuatnya aneh dan sedih pada saat bersamaan.
“Katakan, Theo. Apa yang harus kulakukan?” Mia mulai terisak. “Apa yang harus kulakukan?” ucapnya lagi. Wanita cantik itu terus mengulang-ulang pertanyaan tersebut hingga dirinya tiba di depan pintu masuk ruang kerja sang suami.
“Adriano? Apa kau ada di dalam?” seru Mia pelan. Cukup lama dia menunggu, tetapi tak terdengar jawaban apapun dari dalam sana.
Mia tak ingin berputus asa, dia menempelkan ibu jarinya pada plakat kunci otomatis yang menempel di dinding dan terletak di sebelah daun pintu. Berkali-kali dia mencoba, tetapi aksesnya tertolak.
“Adriano, dengarkan aku. Kumohon,” bisiknya lirih. Mia tetap bicara, meskipun dia tak yakin jika Adriano dapat mendengar perkataannya. “Maafkan aku, Adriano. Tolonglah. Tolong bantu aku melepas bayangan Matteo. Bantu aku untuk terlepas dari rasa sakit ini,” pinta Mia dengan nada yang memelas. Air mata pun berjatuhan di pipi yang selalu Adriano elus dengan punggung tangannya.
Beberapa saat kemudian, Mia tertawa lirih ketika dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya hanyalah sia-sia. Dia menganggap Adriano tak akan bisa mendengar semua yang diucapkannya. Akan tetapi, dia tak ingin beranjak. Cukup lama, Mia berdiri di depan pintu, sampai akhirnya dia menyerah dan membalikkan badan. Mia pikir, meninggalkan Adriano dalam kesendirian supaya lebih tenang adalah pilihan terbaik. Wanita itu pun memilih untuk menuju ke kamar Miabella dan menenangkan diri di sana.
Di dalam ruang kerja, Adriano dapat mendengar dengan jelas setiap kata yang terucap dari bibir Mia. Di atas pintu masuk, dia sudah memasang kamera pengawas beserta mikrofon yang bekerja untuk menangkap suara sekecil apapun dari luar.
Adriano saat itu tengah menenggak satu gelas pertama whisky mahalnya. Tangannya memainkan gelas kristal kecil dan memutar-mutarnya di atas meja. Sorot matanya kosong, menerawang menembus botol whisky Macallan, lalu tersenyum samar. “Aku juga merasakan sakit itu, Mia,” ucapnya pelan sambil menempelkan gelas kristal yang masih berisi separuh itu di keningnya. Beberapa menit kemudian, Adriano kembali menenggak isi gelas itu sampai habis.
Tak puas dengan hanya minum satu gelas, dia lalu meraih botol di depannya dan mulai meminum langsung dari sana hingga tak tersisa. Setelah itu, Adriano terdiam sejenak. Dia kemudian berdiri dan melangkah gontai menuju ruang rahasia seraya mencengkeram erat botol whisky yang telah kosong.
__ADS_1
Adriano menyalakan saklar di ruang rahasia, yang ternyata adalah sebuah galeri yang dipenuhi oleh lukisan Mia dalam berbagai pose. Dalam keadaan sempoyongan, dia mendekat pada sebuah lukisan yang tertutup kain dan teronggok begitu saja di atas lantai. Dengan satu tarikan kuat, Adriano membuka kain penutup itu dan melemparkannya asal-asalan.
Tampaklah lukisan seorang gadis kecil berseragam sekolah yang begitu manis. Wajahnya terlihat ceria dengan senyuman lebar mengembang. Adriano berjongkok di depan lukisan itu dan mengusap gambar wajah manis itu perlahan. “Aku sudah menemukanmu, Mia. Aku sudah menunggu sejak lama sampai saat itu tiba. Saat di mana kita bertemu kembali dalam situasi yang berbeda,” racaunya. “Aku berjuang sendiri, dari seseorang yang awalnya tak memiliki apa-apa hingga mempunyai segalanya untuk dirimu. Semuanya kupersembahkan hanya untukmu!” nada bicara Adriano meninggi. Botol yang sedari tadi digenggam erat, kini dia lemparkan sekencang-kencangnya hingga mengenai dinding. Kacanya pecah berhamburan, bahkan serpihannya ada yang terpantul dan mengenai pipi Adriano.
Setitik darah menetes dari sobekan kulitnya.
Adriano mengusap darahnya, lalu berbalik meninggalkan galeri itu. Kini dia berjalan menuju rak kayu raksasa yang menempel di sisi lain di dinding ruang kerjanya. Dia mengambil lagi satu botol minuman keras. Adriano bermaksud untuk menghabiskan minuman memabukkan itu sampai dirinya merasa puas dan terlupa akan kejadian tadi.
Sementara itu, Mia masih berada di dalam kamar Miabella. Dia sama sekali tak dapat memejamkan mata, meskipun sudah dipaksakan hingga berkali-kali. Perasaan sedih dan bersalah begitu menggerogoti hatinya. Hampir saja dia menyerahkan diri dengan sukarela kepada Adriano. Entah dia harus merasa lega atau berdosa ketika gagal melakukannya. Mia tak mengerti lagi akan apa yang dia rasakan dari semenjak dirinya kehilangan Matteo. Semuanya terasa begitu hambar. Selama ini, Mia merasa hilang dan tak tahu arah tujuan.
Pada keheningan itu, Mia teringat akan ucapan Francesca dan Daniella.
“Kau sudah kehilangan Theo, Mia. Jangan sampai kau kehilangan Adriano juga.”
Dua kalimat itu terus terngiang di telinganya.
Di dalam lamunan tersebut, tanpa sadar Mia bergumam dan terus meracau, “Theo, apa aku harus mengikutimu dan pergi dari dunia ini agar aku tak lagi merasakan sakit dan tersiksa? Adriano, apakah kau akan meninggalkanku juga? Apakah kalian mencintaiku? Apakah cinta itu?”
Mia terus bergumam hingga dia berada dalam keadaan antara sadar dan tidak.
Matteo kembali hadir di hadapannya. Wajah pria itu tampak amat sedih dan menderita. “Theo?” panggil Mia. Tangannya terulur hendak merengkuh bayang-bayang mendiang suaminya itu. Akan tetapi, sosok Matteo menggeleng dan mundur perlahan.
__ADS_1
“Izinkan aku beristirahat dalam damai, Cara Mia. Aku tak bisa tenang jika terus melihatmu menderita, karena terlalu berat untuk melepaskanku. Cinta adalah melepaskan, Sayangku. Ketika kau merasa siap untuk mencintai, maka kau juga harus bersiap untuk kehilangan. Teruslah melangkah ke depan, berbahagialah, karena sudah tak ada apa-apa lagi di masa lalu. Jangan diam dan hanya terpaku sambil menoleh ke belakang. Simpan masa lalumu di tempat terindah dalam hatimu. Jadikan bekalmu untuk terus menghadapi hidup yang berat ini, demi Miabella, buah cinta kita. Aku akan selalu hidup dalam setiap denyut nadi dan darah yang mengalir di tubuh putri kita, Cara Mia. Ingatlah hal itu!” tutur Matteo sebelum menghilang bagaikan kabut putih yang memudar di pagi hari. Mia tersentak. Dia lalu terduduk tiba-tiba. Entah mimpi atau bukan, yang jelas hal itu terasa begitu nyata baginya.
Bersamaan dengan terbangunnya Mia, saat itu pula Adriano baru membuka pintu ruang kerjanya. Pria itu berjalan sempoyongan menuju kamar. Keseimbangannya benar-benar menghilang setelah dia menghabiskan tiga botol whisky. Namun, sekuat tenaga Adriano berjalan merambat, menempelkan telapak tangannya di dinding lorong. Sedikit lagi, maka dia akan tiba di kamar yang dirinya tempati bersama Mia.
Akan tetapi, langkahnya harus berhenti tatkala sesosok gadis cantik tiba-tiba berdiri di hadapannya. Adriano mengernyitkan kening seraya memicingkan mata. Kesadarannya mulai memudar. “Mia?” sebutnya dengan diiringi tawa pelan. “Kau masih berusaha mencariku?” racaunya tak karuan.
“Bukan, Tuan. Ini aku Olivia. A-aku hendak mengambil minum ke dapur,” Olivia terbata sambil mengangkat satu tangannya yang memegang botol plastik kosong.
“Ah, Olivia. Bukankah kau ada di Italia?” racau Adriano seraya terkekeh. Dirinya sudah benar-benar limbung dan hampir terjatuh. Namun, beruntung karena Olivia dengan segera menangkap dan menahan tubuh tegap Adriano, meski dengan susah payah.
“Anda ingin ke mana, Tuan? Biar kuantar,” ujar gadis itu sambil berusaha menegakan tubuh Adriano. Dia lalu memapah pria jangkung yang kini melingkarkan tangannya pada pundak Olivia.
“Bawa saja aku ke kamar. Mia sudah menungguku di sana. Ah, iya ... Mia. Apa menurutmu dia sedang menungguku saat ini?” lagi-lagi Adriano meracau. Olivia tak menjawab. Gadis itu teringat akan percakapan antara Mia dan saudari-saudarinya yang tak sengaja dia dengar.
“Apa ini kamarku?” tanya Adriano.
“Sedikit lagi, Tuan,” jawab Olivia yang telah berhasil membawanya ke depan pintu kamar. Susah payah, gadis itu membukanya, kemudian menuntun Adriano masuk lalu kembali menutup pintu itu.
Sedangkan Mia saat itu sudah benar-benar terjaga. Dia berdiri dan merapikan selimut Miabella yang sedikit tersibak oleh ulahnya. Wanita itu tersenyum lembut melihat wajah putrinya. Dia lalu beranjak keluar dari sana.
Langkah Mia terasa ringan kali ini. Setidaknya, mimpi itu telah menyadarkannya. Mia tak lagi bimbang. Dia sudah memantapkan diri untuk melabuhkan hatinya.
__ADS_1
Wajah Mia berseri saat membuka pintu kamar yang selama ini dia tempati bersama Adriano. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Senyum yang menghiasi wajahnya harus pudar, tatkala dia melihat suaminya terkulai lemah di atas ranjang bersama Olivia yang tengah tengkurap di atas tubuh Adriano.