
Coco membopong tubuh Monique yang sudah tak berdaya ke luar rumah. Awalnya, wanita berambut merah tadi melingkarkan tangan di leher Coco dengan kepala yang bersandar pada pundak. Namun, lama-kelamaan tangan Monique seakan tak bertenaga lagi, terlepas, kemudian jatuh begitu saja dengan kepala yang juga ikut terkulai lemah. "Miljana?" gumam Coco merasakan sesuatu yang tak beres, dengan wanita yang tengah digendongnya. "Kita harus segera ke rumah sakit, Amico," ujar Coco cemas. Dia mendudukkan Monique di jok belakang. Sedangkan Valerie mengambil alih kemudi
"Apa dia masih hidup?" tanya Marco yang merasa tak yakin saat melihat kondisi Monique.
"Coba kau periksa," suruh Adriano.
Dengan segera, Coco memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan Monique. Namun, sayangnya dia sudah tak menemukan tanda-tanda kehidupan lagi dalam diri sang mantan asisten setia Nenad tersebut. "Sial!" gerutu Coco penuh kecewa. Perasaannya bercampur aduk saat itu.
Adriano dan Marco seperti sudah paham dengan maksud dari sikap Coco. Awalnya mereka hanya saling pandang. Tak lama kemudian, sang ketua Klan de Luca kembali bertanya, "Apa yang akan kita lakukan dengan mayatnya?"
"Kita tidak tahu akan menguburkannya di mana. Lebih tidak mungkin jika membawanya keluar dari Kroasia," pikir Adriano.
Sementara Coco masih terdiam menatap tubuh Monique yang sudah tak bernyawa. Sesaat kemudian, perhatiannya beralih kepada Valerie yang tengah menyetir. "Val, bisakah kau belikan aku seikat bunga chamomile?" tanyanya.
"Oh, tentu," jawab Valerie. "Sekarang juga?" tanyanya kemudian.
"Ya. Belilah satu atau dua ikat," suruh Coco lagi.
"Baiklah," jawab adik angkat Adriano itu lagi. Dia lalu mengarahkan mobil yang dikendarainya pada sebuah toko bunga.
Sementara Valerie sibuk membeli bunga chamomile sesuai yang Coco minta, ketiga pria tadi menunggu di dalam mobil. "Kita langsung pulang saja ke Italia," ujar Coco datar.
"Jangan gila. Jangan katakan bahwa kau akan membawa mayat wanita ini ke sana," protes Marco. Sesekali dia meringis saat merasakan kakinya yang sakit karena terjatuh tadi.
"Tentu saja tidak," sahut Coco. "Monique tadi mengatakan sesuatu padaku. Andai dia mati, maka dia menyuruhku untuk membuang mayatnya ke laut bersama bunga chamomile," terang pria bermata cokelat tersebut. Dia lalu mendengus pelan. Bagaimanapun juga, tentu saja Coco tak berharap insiden seperti itu akan terjadi dalam misinya kali ini. "Nenad sudah berhasil dilenyapkan. Namun, sejujurnya aku tak pernah berpikir bahwa Monique akan melakukan pengorbanan yang sangat besar untukku," ucap pria yang tak lama lagi akan melepas masa lajangnya itu dengan penuh sesal.
"Itu pilihannya. Kau tak meminta akan hal demikian," sahut Adriano menanggapi. Percakapan mereka bertiga terhenti, ketika Valerie sudah kembali dengan seikat besar bunga chamomile. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
"Bawa kami ke laut terdekat," pinta Adriano.
"Untuk apa?" tanya Valerie yang sudah kembali mengemudi. Tadinya dia akan langsung menuju ke bandara.
"Untuk membuang jasad Monique," jawab Coco.
"Astaga! Kalian gila!" sergah Valerie mengerem mobil yang sedang dikendarainya dengan tiba-tiba. "Bagaimana mungkin kalian akan melakukan hal sekeji itu?" protes Valerie. Dia lalu terdiam sejenak. "Ah, ya. Bagi kalian sudah terbiasa membuang jasad orang ke dalam lautan," ujar gadis bertato itu dengan setengah mengumpat. Nada bicaranya juga penuh dengan sindiran.
"Apa maksudmu?" Coco hendak melakuan protes. Dia seakan tak terima saat mendengar ucapan ketus adik angkat Adriano tersebut.
"Sudahlah, Val," tegur Adriano. Dia tahu jika sang adik tengah mengungkit peristiwa beberapa tahun silam yang telah menimpa dirinya. "Jangan ungkit hal itu lagi," ucapnya kemudian.
"Sudah lama aku ingin melampiaskan kekesalanku pada kalian Klan de Luca!" dengus Valerie dengan wajah yang terlihat sangat marah.
"Adriano saja sudah melupakan hal itu, kenapa kau harus marah-marah?" Marco ikut bersuara.
"Hey, jaga bicaramu!" tunjuk Coco. Dia begitu gemas dengan wanita itu, meskipun orang yang dipanggil bodoh oleh Valerie adalah Marco.
"Tenangla, Coco," redam Marco seraya menepuk lengan calon adik iparnya.
"Bagaimana aku bisa tenang! Pikiranku kacau atas kematian Monique, dan sekarang gambar berjalan ini malah bicara ke sana kemari!" dengus Coco.
"Kau pikir aku takut padamu? Jangan karena aku seorang wanita lantas kau bisa merasa jauh lebih hebat dariku. Aku bisa meremukkan kepalamu dengan mata tertutup," balas Valerie tak kalah pedas.
"Kau!" tunjuk Coco semakin tersulut emosi.
"Aku akan sangat berterima kasih jika kalian bisa bersikap lebih tenang. Namun, jika hal itu tidak bisa kalian lakukan, maka silakan keluar dan selesaikan berdua," tegur Adriano. Dia lalu menoleh kepada Coco. "Jangan harap kau bisa melanjutkan rencana pernikahan awal bulan depan, jika dirimu nekat berhadapan dengan adikku," ujar pria bermata biru itu mengingatkan. "Lalu kau, Valerie. Kuharap jangan ungkit lagi sesuatu yang sengaja aku lupakan. Aku tahu bahwa kau sakit hati atas apa yang terjadi padaku saat itu, tapi bagaimanapun juga hal tersebut bukan sesuatu yang ingin kuingat-ingat." Adriano berkata dengan jauh lebih tenang dari nada bicara kedua orang yang tiba-tiba berseteru tadi.
__ADS_1
Valerie mendengus kesal. Gadis itu menghadap ke depan, pada kemudi di hadapannya. Dia menginjak lagi pedal gas hingga mobil minivans yang dikendarainya kembali melaju. Tujuan mereka kali ini adalah daerah pantai.
Tak berselang lama, gadis dengan tato di hampir seluruh bagian tubuhnya itu keluar dari dalam mobil. Saat itu waktu sudah menjelang senja. Valerie kemudian berjalan sebentar hingga dirinya tiba di sebuah pondok kecil. Dari dalam bangunan sederhana itu keluar seorang pria berperawakan kekar. Valerie tampak bercakap-cakap dengan pria tadi. Sementara ketiga rekannya menunggu di dalam kendaraan sambil memperhatikan.
Tak berselang lama, Valerie pun kembali ke tempat di mana dia memarkirkan mobil. Sambil tetap berdiri di luar, gadis itu melongo lewat jendela kaca dari pintu sopir. "Temanku bersedia menyewakan speed boat. Siapa pun di antara kalian nanti harus membayar biaya sewanya, karena aku tidak punya uang," terang Valerie dengan gaya bicara yang begitu enteng.
"Tidak apa-apa. Aku yang akan membayarnya," sahut Adriano seraya membuka pintu. Pria itu lalu keluar dan mengamati keadaan sekitar. Setelah beberapa saat, dia lalu mengetuk kaca jendela pintu belakang. Tak lama, wajah Coco muncul di sana. "Sebaiknya kita tunggu gelap untuk bergerak," ucapnya seraya melihat arloji di pergelangan kiri. Saat itu sudah hampir pukul enam sore.
"Iya. Aku rasa itu akan jauh lebih baik," sahut Marco setuju, begitu juga dengan Coco. Mereka menunggu dengan sabar, hingga suasana benar-benar gelap. Setelah itu, speed boat yang sudah disiapkan sebelumnya oleh kenalan Valerie pun bisa segera digunakan. Dengan gerakan cepat, Coco membopong jasad Monique menuju speed boat. Sedangkan Adriano yang menemaninya. Sementara Marco dan Valerie menunggu di darat.
Setelah tiba di titik yang telah ditentukan, pria yang merupakan rekan dari Valerie tadi menghentikan laju speed boat yang dikendarainya. Coco lalu merapikan rambut serta pakaian yang dikenakan oleh Monique. Perasaannya tak karuan saat mengikatkan seikat bunga chamomile dengan sebuah pemberat pada tubuh wanita itu. "Astaga. Seharusnya kau mendapat penghormatan yang jauh lebih baik dari ini," ucap Coco pelan dan penuh sesal.
"Sudahlah. Ini adalah permintaannya. Lagi pula, aku rasa dia melakukan itu semua pasti setelah mempertimbangkan segala risiko yang akan didapatkannya." Adriano menepuk pelan pundak Coco, mencoba menenangkan pria itu agar tetap berpikir jernih. "Kita tidak memiliki banyak waktu," ucap Adriano lagi mengingatkan.
"Baiklah. Tolong bantu aku," pinta Coco. Dia dan Adriano kemudian memegangi jasad Monique. Kedua pria itu lalu melemparkannya ke dalam lautan. Tubuh kaku Monique pun seketika tenggelam ditelan samudera.
Adriano tertegun sejenak. Terbersit dalam bayangannya hal sama yang pernah dia alami dulu. Dia yakin, pasti apa yang terjadi padanya tak jauh berbeda dengan saat ini. Rasanya memang tak manusiawi. Akan tetapi, dalam dunia yang dia geluti, sisi kemanusiaan memang kerap kali diabaikan demi keamanan pribadi atau kelompok. Siapa yang kuat, dia yang akan bertahan.
Seusai menenggelamkan tubuh Monique, mereka segera kembali ke daratan. Adriano memberikan sejumlah uang kepada Valerie. "Katakan pada temanmu untuk tutup mulut. Ini sebagai imbalan untuknya," ucap pria bermata biru tersebut. Sementara Valerie hanya mengangguk. Dia lalu menghampiri rekannya tadi kemudian memberikan uang serta menyampaikan pesan dari Adriano.
Setelah semua urusan selesai, Valerie kembali mengemudikan kendaraan itu menuju bandara.
"Kami akan segera kembali ke Italia. Setelah dari sini, kau singkirkan saja mobil itu untuk menghilangkan jejak. Aku yakin kau pasti tahu apa yang harus dilakukan," pesan Adriano kepada sang adik.
"Tenang saja, Moy brat. Aku tidak bodoh seperti temanmu yang lain," sahut Valerie dengan nada sindiran.
"Hey, kau!" tunjuk Coco yang merasa jika ucapan ketus Valerie tadi ditujukan untuknya. Namun, sebelum Coco semakin terpancing, dengan segera Marco segera meredamnya. Dia mengajak calon suami Francesca tersebut untuk segera menuju pesawat jet pribadi milik Adriano.
__ADS_1
"Sudahlah, Val. Terima kasih atas segala bantuanmu selama kami di sini. Jangan lupa mampir ke Monaco," pamit Adriano.