Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
A New life


__ADS_3

Lemas tubuh Gianna merosot ke lantai saat menerima telepon dari Emiliano. Sebuah berita yang teramat menyakitkan baginya. "Madre ...." Kepala Gianna tertunduk sambil duduk bersimpuh. Sementara kedua tangannya dia jadikan sebagai tumpuan untuk menahan agar perut tak tergencet. Air mata pun mengalir deras.


Suasana hening pun begitu terasa di ruang perawatan Adriano. Berita kematian Claudia yang bunuh diri dengan menyayat lehernya, telah membuat Adriano dan Mia begitu terkejut. Sementara Juan Pablo sedang dalam perjalanan dalam rangka pemindahan dirinya menuju ke rumah sakit kota Roma. Pria itu tak mengetahui sama sekali atas apa yang terjadi pada sang ibu mertua. Juan Pablo berangkat ke sana dengan ditemani oleh Damiano. Pria tua itu yang membantu mengurus segala sesuatunya di sana, termasuk menghubungi Gianna.


......................


Keesokan harinya. Dengan diantar oleh Benigno, Gianna datang ke rumah sakit. Tangisnya pecah saat mendapati pria yang sangat dia cintai dalam kondisi tak berdaya, meskipun saat itu keadaan Juan Pablo sudah jauh lebih baik.


"Maafkan aku, Nak. Aku juga tidak bisa menemani suamimu saat di Milan, karena diriku harus menjaga Miabella. Kau tahu sendiri bahwa anak itu sulit untuk dekat dengan orang lain," jelas Damiano saat melihat Gianna tengah menangis sambil memeluk Juan Pablo yang masih terbaring.


"Tidak apa-apa, Paman. Aku sangat berterima kasih karena kau bersedia menemani Juan Pablo hingga kemari," sahut Gianna seraya melepaskan pelukannya dari sang suami. Wanita yang kini tengah hamil muda itu menyeka air mata yang membasahi pipinya. "Apakah kau akan menginap di sini, Paman? Benigno bisa mengantarmu ke villa. Beristirahatlah di sana."


"Tidak usah, Nak. Sepertinya aku akan langsung kembali. Lagi pula, Nico sudah ada di sini. Aku bisa tidur selama perjalanan nanti," tolak Damiano dengan halus.


"Benigno, ajaklah paman Damiano untuk makan dulu," ujar Gianna kepada pria tinggi besar yang sejak tadi memperhatikan Juan Pablo dengan saksama. Tak bisa dibayangkan bahwa dirinya dapat melihat sosok Elang Rimba yang selama ini hanya menjadi cerita.


"Baik, tapi aku ingin bicara sebentar dengan suamimu," sahut Benigno seraya berjalan mendekat ke ranjang, membuat Juan Pablo menoleh dan menatapnya dengan lekat.


"Jadi kau yang bernama Benigno? Terima kasih," ucap Juan Pablo datar sebelum anak buah kepercayaan Adriano tersebut sempat mengutarakan apa yang akan dia sampaikan.


"Tidak masalah," sahut Benigno mengangguk sopan. "Aku dan Gianna berteman. Lagi pula, dia merupakan adik dari bosku." Benigno mendehem pelan. "Namun, aku minta maaf karena tidak bisa menemukan Jacob. Pria itu sangat cerdik dan juga masih cekatan meskipun kondisinya sudah pincang," jelas Benigno penuh sesal.


"Tidak apa-apa. Aku tahu benar seperti apa keahlian Jacob. Jadi, aku tak akan menyalahkan siapa pun jika memang dia berhasil melarikan diri," ujar Juan Pablo masih dengan intonasi yang sama.


"Dia masuk ke kamarmu, Juan," ucap Gianna ikut menimpali.


"Ke kamarku?" Juan Pablo memicingkan kedua matanya.

__ADS_1


"Ya. Sepertinya Jacob memang tengah mencari sesuatu, karena aku menemukan ruangan tersebut dalam kondisi yang sangat berantakan." Benigno membenarkan ucapan Gianna.


"Kurang ajar!" geram Juan Pablo. Dia mengepalkan tangannya. Juan Pablo tahu apa yang Jacob cari. Namun, dia sudah menyimpan benda itu di tempat yang sangat aman. "Jangan khawatir. Dia tak akan berani menyakitimu, Bice. Aku tak akan pernah membiarkannya," ucap pria asal Meksiko tersebut seraya melirik sang istri yang duduk di sebelahnya.


Gianna tersenyum lembut saat menanggapi ucapan Juan Pablo. Dia tahu hal itu. Gianna melihat sendiri seberapa tangguhnya pria yang dia nikahi beberapa waktu yang lalu tersebut.


"Aku ingin agar kalian bisa menjalani hidup dengan damai. Tak ada lagi konflik atau pertumpahan darah apapun yang membuat kita harus kehilangan," ucap Damiano penuh sesal.


"Semua pasti akan berakhir, Damiano," sahut Juan Pablo datar. "Sebaiknya kau makanlah dulu," sarannya.


"Anakku ...." Damiano beranjak dari tempatnya. Dia semakin mendekat kepada Juan Pablo, kemudian mengecup kening pria itu. "Beristirahatlah. Kau akan lebih tenang sekarang, karena Gianna ada di sini," ucap pria tua tadi sambil tersenyum lembut. Setelah itu, dia mengajak Benigno untuk keluar dari ruang perawatan tersebut.


Sepeninggal kedua pria tadi, kini Juan Pablo dan Gianna hanya berdua di sana. Mereka pun tak merasa sungkan lagi untuk menunjukkan rasa rindunya yang teramat besar. Sebuah ciuman hangat dan mesra segera Gianna berikan untuk sang suami.


"Aku sangat merindukanmu," bisik Juan Pablo.


"Aku benar-benar mencemaskanmu, Juan," balas Gianna seraya menyentuh lembut pipi pria tampan tersebut. Namun, tak lama air matanya kembali menetes, membuat Juan Pablo menautkan alisnya yang tebal.


"Kemarin aku mendapat telepon dari ayah. Dia ... dia mengabarkan bahwa ibuku ... ibuku tewas bunuh diri," tutur Gianna yang berujung dengan sebuah isakan. "Aku tidak bisa ke sana, Juan. Aku tidak menghadiri upacara pemakaman ibuku. Ada apa ini? Kenapa?" Isakan pelan wanita bermata biru itu, kini berubah menjadi sebuah tangis pilu penuh keharuan.


Sementara Juan Pablo terdiam dan berpikir. Dia mencoba meraih tangan Gianna untuk menggenggamnya. "Maafkan aku, Bice," ucap pria tampan bermata cokelat madu tersebut penuh sesal. "Tak seharusnya aku masuk ke dalam hidupmu."


"Tidak, Juan. Kumohon jangan berkata seperti itu. Aku tak ingin kau menyesali kebersamaan kita," protes Gianna sambil berurai air mata.


"Lihatlah semua kekacauan yang telah kutimbulkan padamu," ucap Juan Pablo.


"Tidak, Juan. Aku tidak harus menyesali kehadiranmu dalam hidupku. Bukan hal tersebut yang menjadi ganjalan dalam hatiku saat ini," bantah Gianna. Dia mencoba untuk menenangkan diri. Disekanya air mata yang terus membasahi pipi mulus dengan kuat, sebagai pertanda bahwa wanita muda itu tak akan menyerah.

__ADS_1


"Apa yang kau inginkan dariku, Bice?" tanya Juan Pablo. Dia seakan telah mengetahui ke mana arah pembicaraan sang istri.


Gianna kemudian menegakkan tubuh. Kembali digenggamnya tangan pria yang telah menghabisi ratusan bahkan mungkin ribuan nyawa. Namun, Gianna tak peduli akan hal itu. Baginya, masa lalu Juan Pablo tak akan menjadi penghalang untuk menuju masa depan yang ingin segera dia gapai. Gianna lalu mencium jemari tangan sang suami.


"Kau sangat mencintaiku, Bice?" tanya Juan Pablo memandang lekat sang istri.


"Tak perlu kujawab lagi," sahut Gianna. "Namun, kau wajib untuk memberikan keputusanmu padaku."


"Baiklah, katakan." Juan Pablo menyunggingkan sebuah senyuman.


"Mari kita tinggalkan Italia dan memulai hidup baru. Kau, aku, dan calon anak kita," ucap Gianna penuh harap.


"Monaco?" Juan Pablo memicingkan mata.


"Tidak," bantah Gianna dengan segera.


"Lalu?" tanya Juan Pablo.


"Aku ingin agar kau melepaskan diri dari dunia hitam. Hiduplah dengan normal bersamaku. Mari kita membina keluarga yang seutuhnya dalam ketenangan. Seperti harapan paman Damiano. Lepaskan semuanya, Juan," pinta Gianna lagi seakan memohon dengan sangat kepada pria yang merupakan ayah dari janin dalam kandungannya.


Juan Pablo tak segera menjawab. Tatapannya pun belum teralihkan dari paras cantik sang istri. Namun, tak lama kemudian pria itu lalu tersenyum simpul. "Itukah yang kau inginkan, Bice?"


"Ya. Aku ingin kau selalu berada di dekatku, tanpa ada rasa takut dan cemas lagi," jawab Gianna dengan yakin.


"Kau ingin Amerika?" tanya Juan Pablo.


🍒 🍒 🍒

__ADS_1


Hai, satu lagi ceuceu persembahkan rekomendasi novel keren untuk semua.



__ADS_2