
Alarm digital berbunyi nyaring saat layarnya menunjukkan angka enam. Tangan kiri Adriano terjulur untuk mematikan tombol alarm yang telah mengusik tidur lelapnya, sementara tangan kanan pria itu masih melingkar di tubuh polos sang istri.
Mia tampak begitu nyenyak. Dia terlelap dengan kepala bersandar di dada Adriano, yang saat itu asyik memperhatikan wajah cantik dan terlihat begitu nyaman dalam pelukannya. Semenjak malam pertama dia menikahi Mia, baru kali ini pria itu menyaksikan sang istri tidur dengan begitu damai. Sebelumnya, Mia selalu gelisah dan tak jarang mengigau.
“Farò tutto per la tua felicità (Akan kulakukan apapun asalkan kau bahagia),” bisiknya sembari mengecup puncak kepala Mia.
Adriano rasanya tak ingin turun dari peraduan. Dia berharap bisa terus mendekap Mia dalam keadaan seperti itu. Namun, ketukan kencang di pintu mengharuskan dia untuk bangun, dan mengenakan kembali celananya. Sejenak, dia melirik Mia yang tetap pada posisinya. Adriano lalu menutupkan selimut hingga ke dagu wanita cantik itu, sebelum akhirnya membuka pintu kamar.
Tampaklah Miabella dengan muka bantal sambil memeluk boneka kesayangannya. Rambut gadis kecil itu terlihat kusut, tapi tetap menggemaskan. “Aku bermimpi buruk, Daddy Zio,” bibir mungil itu melengkung dan mulai menangis.
“Ah, Principessa. Tidak apa-apa, itu hanya mimpi. Kemarilah,” Adriano segera menggendong dan membawanya ke atas ranjang. “Tunggulah di sini sebentar, ya. Aku akan mencuci muka dulu,” ucapnya kemudian masuk ke kamar mandi.
Sambil sesekali menguap, Miabella memainkan bonekanya. Beberapa saat kemudian, gadis kecil itu menoleh kepada Mia, lalu beringsut mendekat. Miabella memainkan rambut panjang sang ibu dengan cara memilin-milinnya menggunakan jari telunjuk. “Ibu, bangun. Ayo bermain,” ajaknya dengan setengah berbisik.
Namun, Mia masih saja terpejam, sehingga Miabella memutuskan untuk membuka selimut yang menutupi tubuh sang ibu.
Beruntung, saat itu Adriano telah selesai membersihkan diri. Dia langsung mencegah tangan usil Miabella. Adriano tak ingin putri kecilnya melihat Mia dalam keadaan tanpa busana.
“Ayo, Bella. Kita menghirup udara segar di luar,” tanpa aba-aba, Adriano segera mengangkat tubuh mungil Miabella tinggi-tinggi hingga gadis kecil itu berseru kegirangan. Dengan gerakan luwes, Adriano mendudukkan Miabella di atas pundak dan berjalan ke luar kamar.
Pancaran sinar mentari terasa hangat pada pagi itu, sehangat hati Adriano yang kini telah memiliki semangat baru untuk menjalani hidup. Segala hal seperti sudah berada dalam genggamannya kini, sama seperti ketika dia menggenggam besi penyangga yang melintang di antara dua tiang tinggi. Pria itu mengangkat tubuhnya naik turun, serta memamerkan otot-otot lengan dan perut yang terlihat begitu kokoh.
Di atas bangku yang berada tak jauh darinya, duduk Miabella dengan sepasang mata abu-abu berbinar indah. Senyum gadis kecil itu terkembang, ketika melihat sang ayah melakukan aksi yang menurutnya sangat luar biasa. Namun, senyum lebar Miabella seketika pudar, tatkala seorang wanita dengan penampilan yang anggun dan berkelas, datang menghampiri mereka. Raut wajah wanita itu tampak keheranan melihat sosok gadis kecil di dekat Adriano.
“Bianca, ada apa pagi-pagi begini sudah kemari?” sambutan yang terdengar tidak menyenangkan dari Adriano.
__ADS_1
Akan tetapi, bukannya menjawab pertanyaan pria bermata biru itu, Bianca justru malah memperhatikan sosok Miabella yang menatapnya dengan raut tidak suka. “Anak siapa lagi yang kau pungut, Adriano?” tanya wanita cantik berambut hitam itu dengan entengnya.
Adriano seketika menurunkan tubuhnya. Dia menoleh kepada Miabella, lalu berpindah pada Bianca. “Dia putriku. Namanya Miabella Conchetta,” jawab Adriano dengan senyum kalem yang terkembang di wajah tampan berhiaskan bulir-bulir keringat di kening.
Bianca menanggapi jawaban Adriano dengan tawa mengejek. Dia berjalan mendekat hingga berdiri tepat di hadapan pria berpostur tegap itu. Sedikit mendongak, wanita berkebangsaan Perancis-Argentina tersebut menyunggingkan senyuman nakal kepada Adriano. “Kau tahu berapa lama prosesnya hingga anakmu bisa tumbuh sebesar itu? Jangan bercanda, Sayang,” kesan tak percaya terdengar jelas dari kata-kata yang Bianca ucapkan padanya. “Aku hanya pergi ke Buenos Aires selama beberapa hari. Entah apa yang telah terjadi di Monaco,” ujarnya lagi. Tatap matanya yang sinis, kini beralih kepada Miabella yang segera memeluk paha Adriano.
“Gadis kecil ini memang putriku,” tegas Adriano lagi dengan senyuman yang tetap terlihat begitu kalem. Tangannya membelai lembut rambut cokelat Miabella. “Ketahuilah, bahwa aku sudah menikah beberapa waktu yang lalu dengan seorang wanita dari Italia ....” belum sempat Adriano melanjutkan kata-katanya, tampaklah Mia yang tengah berjalan ke arah mereka. Sorot mata Adriano pun tiba-tiba berubah saat wanita cantik pujaan hatinya itu telah berada di antara dirinya dan Bianca. “Bianca, kau masih ingat dengan Mia? Kalian pernah bertemu dulu saat acara peresmian resort di Yunani. Inilah istriku,” tatap mata teduh penuh cinta Adriano tertuju kepada Mia.
Lain halnya dengan sorot mata Bianca yang terlihat begitu tidak percaya atas penuturan Adriano. Diamatinya Mia dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan sorot matanya yang sinis tanpa berkata apa-apa. Sikap yang membuat Mia merasa sedikit tidak nyaman.
“Mia, perkenalkan dia adalah Bianca Alegra. Nona Alegra merupakan teman sekaligus rekan bisnisku. Akan tetapi, dia tidak terlalu fasih bahasa Italia,” Adriano memperkenalkan wanita cantik dengan penampilan berkelas itu kepada Mia.
Seketika, senyuman lembut terkembang di wajah cantik ibunda dari Miabella tersebut. “Hai, Nona Alegra. Senang berkenalan denganmu,” sapa Mia ramah.
Sementara Bianca dengan segera dapat menguasai dirinya. Wanita muda itu balas tersenyum, meskipun tampak begitu dipaksakan. “Hai, Mia. Selamat atas pernikahan kalian,” ucapnya dengan sorot mata yang tidak terlihat tulus. “Bolehkah aku bicara sebentar dengan suamimu, Mia?”
Miabella menggeleng dengan segera. Dia menolak ajakan sang ibu. “Tidak mau. Aku ingin di sini dengan daddy zio,” ucap anak itu. Miabella justru semakin erat memeluk paha Adriano.
“Ayolah. Nanti akan kukepang dua rambutmu dengan pita yang kita beli di Amerika. Bukankah kau ingin tatanan rambutmu terlihat seperti Sacagawea?” bujuk Mia lagi masih dengan senyumannya.
“Turuti ibumu, Sayang,” Adriano menimpali. Kembali dibelainya rambut panjang gadis kecil itu, hingga Miabella pun pada akhirnya menurut. Dia melepaskan pelukannya dari paha Adriano dan menghampiri sang ibu yang segera membawanya masuk.
Sepeninggal Mia dan juga Miabella, Adriano memilih untuk duduk di atas bangku taman. Bianca segera mengikutinya. Seperti biasa, dia duduk sambil menyilangkan kaki jenjang berbalut sepatu bermerk terkenal dengan warna hitam. Tatapan Bianca lurus tertuju pada Mia yang makin menjauh dan kini sudah masuk ke dalam mansion. “Sulit dipercaya. Bagaimana bisa kau menikahi seorang janda yang sudah memiliki anak? Apa yang ada dalam pikiranmu, Adriano?” wanita itu menggeleng tak mengerti dengan keputusan Adriano yang telah menikahi Mia.
“Apanya yang salah?” Adriano masih terlihat tenang. “Aku rasa kau datang kemari sepagi ini bukan untuk membahas masalah pribadiku,” lanjutnya. Adriano memang tipikal orang yang benar-benar menjaga privasi. Bagi pria itu, masalah keluarga, cinta, dan perasaan adalah sesuatu yang tak harus digembar-gemborkan secara berlebihan. “Apa ada sesuatu yang penting?” tanya Adriano karena Bianca saat itu hanya terdiam.
__ADS_1
“Ya, tapi mungkin tidak terlalu penting,” sahut Bianca agak datar. “Aku dengar kau akan melakukan kerja sama dengan Don Vargas. Apa itu benar?” tanyanya kemudian seraya melirik pria tampan di sebelahnya. Sementara Adriano saat itu baru selesai mengenakan kembali kaos putih polosnya.
“Apa kau mengenalnya juga?” bukannya menjawab pertanyaan Bianca, Adriano justru malah balik bertanya.
Bianca tertawa renyah seraya menyibakan rambut yang menutupi keningnya. “Siapa yang tidak mengenal seorang Matias Vargas de la Cruz. Dia adalah penguasa Amerika. Wilayah Amerika Latin sudah berada dalam genggamannya. Dulu, dia adalah rekan bisnis mendiang ayahku. Kami pernah bertemu beberapa kali dalam proyek kerja sama. Dia pria yang sangat unik,” terang wanita dengan postur hampir mirip dengan Daniella itu.
“Aku baru mengenalnya beberapa waktu yang lalu. Itu juga karena Redomir yang mendesakku untuk ikut dalam jamuan yang Vargas adakan. Namun, dia langsung menawariku untuk bergabung dengannya dalam proyek pembangunan kasino bertaraf internasional,” tutur Adriano.
“Di mana?” tanya Bianca lagi. Wanita bermata abu-abu itu kembali melayangkan tatapannya kepada Adriano yang terlihat tampan, meskipun berkeringat.
“Inggris,” jawab pria bermata biru itu menerawang. “Aku sudah menerima tawarannya. Siang ini kami akan mengadakan pertemuan,” Adriano mengempaskan napas pendek. “Banyak sekali yang harus kuselesaikan,” keluhnya. “Apa kau ingin sarapan di sini?” tawar Adriano.
“Aku rasa tidak. Aku hanya kebetulan mampir. Lagi pula, kau pasti sibuk,” raut wajah Bianca terlihat berbeda. “Sekali lagi, selamat atas pernikahanmu. Semoga Mia bisa menjadi pasangan yang baik untukmu,” ucapnya kemudian. Wanita dengan blazer hijau emerald itu pun berdiri, dan diikuti oleh Adriano. Mereka berdua berjalan bersama ke dalam mansion sambil terus berbincang ringan. “Keputusan tepat karena kau menerima untuk bekerja sama dengan Don Vargas. Dia memiliki jaringan yang luas di Amerika dan Asia. Namun, sepertinya dia masih baru di Eropa. Entah apa yang dicarinya di Benua Biru,” Bianca mengakhiri kata-katanya dengan tawa renyah.
“Tentu saja keuntungan yang besar,” sahut Adriano ikut tertawa pelan. Namun, tawanya seketika terhenti karena Miabella yang sudah mandi dan berganti pakaian datang menghampirinya.
“Cantik sekali, Principessa,” Adriano kembali menggendong Miabella dan mencium pipi gembul itu berkali-kali. Hal tersebut tak luput dari perhatian Bianca. Wanita cantik itu seakan tengah merekam secara detail setiap hal yang dia lihat di depan matanya.
“Sepertinya kau sangat menyayangi anak ini,” ujar Bianca dengan agak tak acuh.
“Tentu saja. Aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya,” mata Adriano menerawang, membayangkan saat dia menjenguk Mia di rumah sakit ketika wanita itu baru melahirkan. Adriano juga merasakan kebahagiaan yang sama dengan Matteo, saat memandangi wajah Miabella yang baru berumur beberapa hari.
“Ya, sayang sekali. Jika kau memang sudah memutuskan untuk bekerja sama dengan Vargas, maka kau harus siap meninggalkan keluarga kecilmu dalam waktu yang lama,” ujar Bianca dengan senyuman yang terlihat aneh.
“Kenapa begitu?” Adriano menoleh pada Bianca sambil mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
“Don Vargas adalah tipe orang yang senang mengawasi segala sesuatu dan terjun secara langsung ke lokasi proyek. Dia tak ingin diwakilkan. Dapat dipastikan juga bahwa dia akan memaksa relasi bisnisnya untuk melakukan hal yang sama,” jelas Bianca tersenyum puas.