Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Dentro La Coperta


__ADS_3

Mia sempat tertegun untuk beberapa saat. Namun, dia berhasil menguasai diri. Begitu pula Olivia yang terkejut bukan kepalang. Dengan segera dia berdiri dan menjauh dari Adriano yang setengah sadar akibat pengaruh minuman keras.


“Ma-maafkan aku, Nyonya. Tolong jangan salah paham. Aku hanya membantu memapah tuan Adriano. Tubuhku ikut tertarik saat merebahkannya di ranjang. A-akhirnya aku terjatuh di atasnya,” terang Olivia terlihat gugup.


Mia tak segera menanggapi. Dia hanya tersenyum getir, lalu menghampiri Adriano yang mulai tertidur. “Kembalilah ke kamarmu, Olivia. Biar aku yang mengurusnya. Sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga dan mencintainya sepenuh hati,” ucap Mia tanpa memandang kepada Olivia yang kini berada di belakangnya.


“Ba-baik, Nyonya,” Olivia mengangguk lemah. Dia keluar dari kamar sang majikan dengan wajah tertunduk lesu.


Mia lalu duduk di tepian ranjang. Ditatapnya wajah tampan Adriano yang sudah terlelap. Dengkuran halus terdengar dari bibir tipisnya. Pelan dan hati-hati, Mia merapikan kaos Adriano yang tersibak ke atas, sehingga tampaklah tiga bekas luka parut di perut rata pria itu. Mia mengusapnya lembut. “Aku yang menyebabkan luka ini,” gumamnya.


Perhatian Mia kini tertuju pada alas kaki sang suami. Dia beringsut ke ujung ranjang, lalu melepasnya. Mia kemudian menyelimuti tubuh Adriano. “Tidurlah. Semoga marahmu tak akan lama,” bisik Mia tepat di telinga pria itu. Setelah itu, Mia berjalan memutari ranjang dan berbaring di sebelah Adriano. Tak lupa, dia melingkarkan tangan di atas perut suaminya. Ini pertama kalinya dia tidur tanpa membelakangi.


Tanpa terasa malam berlalu dan berganti pagi. Teriakan nyaring dari Miabella membuat Mia terbangun. Dia berniat untuk bangun dan membuka pintu. Namun, ternyata Adriano sudah lebih dulu berdiri di depan pintu yang telah terbuka.


Dengan setengah membungkuk, dia memeluk Miabella. “Aku ingin berenang lagi, Daddy Zio,” pinta bocah mungil itu.


“Nanti ya, Sayang. Aku sedang tidak enak badan. Izinkan aku beristirahat sebentar hari ini,” balas Adriano seraya mengecup kening Miabella.


“Bagaimana jika kita membuatkan sarapan untuk Daddy Zio?” ajak Mia pada putrinya. Wanita itu tiba-tiba sudah berdiri di belakang Adriano.


“Tidak usah. Aku tidak bernafsu makan pagi ini,” tolak Adriano pelan. Dia berdiri tiba-tiba dengan gerakan terlalu cepat sehingga tubuhnya yang masih belum pulih benar, kembali limbung dan hampir terjatuh.


Sigap, Mia menangkap tubuh sang suami dan memeluknya erat. Sementara Miabella hanya terdiam melihat adegan romantis itu.

__ADS_1


“Maafkan aku, Adriano. Tolong berikan aku satu kesempatan lagi. Aku akan menjadi yang terbaik untukmu,” ucap Mia bersungguh-sungguh.


Adriano sama sekali tak menanggapi. Dia melepaskan tangan Mia yang melingkar di bahunya dengan lembut. “Aku akan beristirahat sebentar. Kepalaku masih terasa berat dan pusing” ucapnya.


Adriano lalu menoleh kepada Miabella dan tersenyum lebar. Dia juga mengusap pipi gembul gadis kecil itu sebelum kembali berbaring di atas ranjang.


Mia melihat hal itu dengan tatapan sendu. “Duduklah dulu di sana, Sayang. Ibu akan merapikan diri sebentar,” pinta Mia pada Miabella. Setelah itu, dia berlalu menuju kamar ganti. Sembari berganti pakaian, Mia berpikir dalam-dalam dan memutuskan untuk bersungguh-sungguh dengan kata-katanya tadi. Nanti malam, dia akan mempersembahkan yang terbaik untuk Adriano.


Tanpa terasa, waktu berjalan cepat hingga malam pun kembali tiba. Mia terdiam di depan cermin wastafel ketika dia mendengar suara Adriano yang telah masuk kamar. Dirapikannya rambut panjang berwarna cokelat lurus yang dia biarkan tergerai di atas pundak sebelah kiri. Mia lalu menyatukan tali kimono yang dikenakannya, sehingga menjadi simpul berbentuk pita. Setelah mengela napas panjang, janda dari Matteo de Luca itu keluar dari kamar mandi.


Di dalam kamar utama, dia mendapati Adriano yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidur, seperti biasa dengan bertelanjang dada. Akan tetapi, pria itu sibuk dengan ponselnya dan seakan tak ingin peduli dengan kehadiran Mia di sana. Mia tahu dan dapat memahami hal tersebut. Adriano mungkin masih marah padanya.


Dengan langkah tenang dan gemulai, Mia berjalan menghampiri sang suami yang tak juga menoleh. Pandangan Adriano masih tertuju pada layar ponsel dan tak menghiraukan, meskipun Mia telah berdiri di dekatnya. Namun, untuk sesaat kemudian Adriano pada akhirnya menoleh. Dia memperhatikan Mia dengan lekat dan juga aneh. Sesuatu yang tak biasa bagi pria itu, ketika Mia menyuguhkan pemandangan indah di dalam kamar.


Ya, saat itu Mia berdiri sambil melepas kimononya dan hanya menyisakan lingerie two piece dari bahan lace berwarna hitam. Pakaian seksi itu mengekspos sebagian besar bentuk tubuh indahnya yang terlihat sangat menantang. Adriano terlihat semakin heran ketika wanita cantik itu naik ke atas tubuhnya, kemudian duduk di pangkuan sambil menghadap langsung padanya. “Ada apa ini, Mia?” tanya Adriano berpura-pura tak mengerti. Dia lalu meletakkan ponsel di atas meja sebelah tempat tidur, ketika Mia merangkulnya dengan mesra.


“Aku hanya merasa suntuk,” jawab Adriano tanpa melepaskan tatapannya dari Mia. Wanita itu terlihat sangat menggoda. Namun, Adriano tak berbuat apa-apa. Dia membiarkan Mia bersikap nakal padanya. Adriano hanya ingin tahu seberapa lihai wanita yang telah lama menjadi pengisi hatinya tersebut. “Apa itu membuatmu terganggu?” tanya Adriano dengan suaranya yang terdengar begitu dalam.


Mia menggeleng pelan. Jemari lentiknya masih berada di wajah Ardiano, menjelajahi dengan lembut setiap detail dari pahatan sempurna itu. Hidung yang mancung, bentuk bibir yang proporsional, ditambah rahang kokoh khas seorang pria dewasa yang dihiasi bulu-bulu halus dengan tatanan rapi. Mia kembali menyentuh bibir pria itu, melu•matnya dengan lembut dan juga mesra.


Sesaat kemudian, dia mengalihkan sentuhan tangannya pada kedua lengan Adriano. Diusapnya dengan perlahan hingga ke siku, kemudian kembali ke atas. Sapuan halus jemari lentik Mia kini menyentuh pundak dan berakhir di dada dengan tato kecil bergambar sebuah tulisan “Dominica”. Mia terdiam dan menatap tato itu untuk sejenak. “Siapa Dominica?” tanyanya pelan.


“Itu nama mendiang ibu kandungku,” jawab Adriano masih dengan tatapannya yang lekat tertuju kepada Mia. Deru napas berat pria itu mulai terdengar, ketika Mia kembali menggerakkan jemari lentiknya dari dada terus turun ke perut. Adriano tak pernah menyangka jika Mia bisa bersikap senakal itu. Dia hanya dapat menahan napasnya, ketika tangan Mia menelusup masuk ke dalam celana tidur dan menyentuh sesuatu yang menjadi lambang keperkasaannya selama ini. Pria itu masih terus menatap Mia meskipun sorot matanya kian sayu. “Kau yakin, Mia?” tanya Adriano di sela deru napas beratnya, menahan rasa yang mulai bergejolak hebat dan ingin segera dia luapkan. Namun, Adriano tetap menahan dirinya.

__ADS_1


Mia hanya tersenyum. Dia menjawab pertanyaan Adriano dengan sesuatu yang lebih luar biasa dari sekadar kata ‘iya’. Sesuatu yang membuat Adriano benar-benar menahan napasnya dengan kedua mata terpejam. Pria yang sejak tadi hanya diam dan membiarkan Mia mengeksplore tubuhnya, kini mulai bereaksi. Digenggamnya rambut panjang Mia dengan lembut, sehingga tak menghalangi pergerakan wanita itu. Beberapa saat lamanya, Adriano bercinta di dalam mulut Mia, hingga wanita itu berhenti dan mengangkat wajahnya. Dia tersenyum dengan bibir yang terlihat basah.


Lembut Adriano mengusap bibir basah Mia. Dia menarik tubuh indah sang istri dengan penuh perasaan, untuk kembali ke atas pangkuannya. Mia pun menurut. Dia tahu jika Adriano pasti sudah tidak sabar untuk segera melanjutkan permainan panas itu. “Aku milikmu seutuhnya malam ini,” bisik Mia menggoda.


Adriano tersenyum kalem. Perlahan, dia menggeserkan tali kecil yang melintang di antara pinggul Mia. Itu Mia anggap sebagai isyarat bahwa sang suami memang sudah benar-benar menginginkan dirinya. Dengan sebuah gerakan halus, Mia mewujudkan apa yang selama ini hanya menjadi angan dan mimpi Adriano. Kini, pria itu merasakan dengan nyata seperti apa sensasinya. Dia akhirnya dapat menikmati hal itu, mereguk manisnya sebuah pelayanan istimewa dari Mia.


Dirangkulnya pinggang ramping wanita cantik itu, ketika dia mulai bergerak dengan penuh irama. Mia membawa Adriano melayang dengan diiringi de•sahan-de•sahan lembut, yang membuat pria itu semakin tak karuan. Sementara Mia sendiri terlihat begitu lepas. Sepertinya dia sudah mampu mengikis, bahkan mungkin meruntuhkan dinding yang selama ini membentengi hatinya dari pria selain Matteo de Luca.


Lama sudah wanita bermata cokelat itu tak merasakan hal seperti yang tengah dia lakukan saat ini. Dia merasa kembali menjadi seperti seorang perawan, dan ini adalah kali pertama dirinya bercinta dengan seorang pria.


Terengah, Mia membenamkan wajahnya pada pundak Adriano yang saat itu masih merangkulnya dengan mesra. Keringat mulai membasahi tubuh keduanya. Namun, itu tak lantas membuat Adriano merasa puas. Segera dilepasnya penutup dengan sepasang cup berenda yang menutupi dada Mia. Adriano memenamkan wajahnya di sana, menikmati setiap debaran jantung Mia yang terus berpacu dan membuatnya semakin bergairah.


Tak dilewatkannya simbol keseksian bagi kaum hawa di seluruh dunia. Adriano menyentuh dan memainkannya dengan begitu leluasa, karena Mia pun membiarkan dan terlihat menyukai perlakuan itu. Wanita tersebut justru membalasnya dengan sebuah ciuman yang teramat mesra, membuat Adriano semakin terlena dan merasa begitu dimanjakan bagai seorang raja.


“Seperti inikah dirimu, Mia?” bisik Adriano menghangat di telinga sebelah kiri Mia.


“Kau menyukainya?” balas Mia.


“Tentu saja. Aku bahkan ingin kau lebih dari ini, Sayang,” bisik Adriano lagi, membuat Mia melenguh pelan ketika merasakan bulu-bulu halus dari wajah pria itu menyentuh lehernya.


Beberapa saat lamanya permainan panas itu terus berlangsung. Mia terlihat begitu kelelahan. Perlahan Adriano merebahkan tubuh mulus berbalut kulit kuning langsat yang sudah terlihat lesu karena terus dipacu. Adriano kemudian menurunkan segitiga bertali dan melepasnya. Dia merenggangkan kedua kaki Mia dan melanjutkan penyatuan panas tersebut.


Mia yang kini berada di bawah, merasakan sesuatu yang lain. Sekilas bayangan saat dirinya tengah melakukan hal yang sama dengan Matteo mulai muncul dalam ingatan. Namun, tak lama bayangan itu memudar dan berganti dengan raut wajah Adriano. Ekspresi yang ditunjukkan pria itu begitu menawan saat dilanda rasa nikmat yang luar biasa. Mia kembali meraup paras rupawan dengan rambut yang sedikit acak-acakan itu. Dilu•matnya lagi bibir pria tersebut.

__ADS_1


Sementara Adriano semakin membenamkan dirinya dalam tubuh Mia diiringi dengan helaan napas berat tertahan. Tak berselang lama, tubuh tegap itu terkulai di atas tubuh Mia yang segera menyambutnya dengan sebuah dekapan.


Beberapa saat kemudian, mereka saling melepas lelah dalam satu selimut. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi Adriano, ketika dirinya dapat menuntaskan hasrat kelelakiannya yang selama ini tertahan untuk dapat dia lampiaskan terhadap Mia. Wanita yang dulu hanya menjadi penghias mimpi-mimpi malam Adriano, kini tengah bergelayut manja di dalam dekapan lengan kokohnya. Pada akhirnya, Adriano dapat merasakan apa yang selama ini hanya menjadi milik Matteo de Luca. Tak ada keindahan yang paling dia sukai saat ini, selain mendengar de•sahan Mia di atas tempat tidurnya.


__ADS_2