Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Ferma Minaccia


__ADS_3

Mia tak banyak bicara, ketika dirinya dipertemukan dengan seseorang bernama Varra. Menurut Adriano, Varra merupakan seorang penata rias dan busana yang sudah sangat ternama. Dia adalah orang yang akan membantu Mia bersiap-siap, sebelum bertolak ke Pulau Kreta. Varra juga seorang pria bertubuh molek, dengan sikapnya yang menyerupai wanita. “Poia eínai aftí i gynaíka? (Siapa wanita ini?)” bisiknya kepada Adriano dengan bahasa tubuh yang terlihat manja.


Sementara, Adriano tersenyum simpul saat menanggapinya. Pria itu berdiri sambil memasukan tangan kanan ke dalam saku celana. “Den chreiázetai na psithyrízeis. Den katalavaínei ti glóssa mas (Tidak perlu berbisik. Dia tidak mengerti bahasa kita)," balas pria itu, membuat bibir Varra langsung membentuk huruf O.


“Aku ingin kau membuatnya terlihat istimewa hari ini. Namun, jangan terlalu berlebihan. Kau tahu bukan seperti apa yang aku sukai?” pinta Adriano dengan sikap dan nada bicara, yang selalu tenang bagaikan air danau menghanyutkan.


“Ow, kau tidak perlu khawatir untuk hal itu, Tampan,” sahut Varra sambil mencolek dagu Adriano dengan sikap yang teramat genit.


Sementara, Mia yang sudah bersiap duduk di depan cermin, hanya meringis kecil melihat adegan itu. Seulas senyuman terlukis di bibirnya. Dia cukup terhibur dengan adegan tadi. Lain halnya dengan Adriano, yang merasa lebih dari itu. Tatapan matanya berbinar, ketika melihat senyum kecil di wajah Mia.


“Sudahlah. Sebaiknya kau segera keluar dari kamar, karena ini adalah urusan para gadis. Ah, satu lagi. Siapa nama si cantik ini?” Varra kembali bertanya kepada Adriano, yang masih belum mengalihkan pandangannya dari Mia.


“Mia,” jawab Adriano mengucapkan nama itu dengan dalam dan penuh perasaan, membuat Mia segera membalas tatapannya. Untuk sesaat, sorot mata keduanya saling beradu. Namun, tak lama karena Mia memilih untuk mengalah. Dia memalingkan wajah dan kembali menghadap cermin rias di hadapannya.


Satu jam telah berlalu. Adriano yang sudah tampil rapi mengenakan kemeja putih dengan dua kancing bagian atas yang sengaja dibuka, berkali-kali melihat arloji di pergelangan kiri. Sesekali, dia juga menyandarkan tubuh pada dinding luar kamar. Sementara, pintu yang sejak tadi dia jaga, masih tertutup rapat.


Gelisah, Adriano menantikan Mia keluar dari dalam ruangan tersebut. Hingga beberapa saat kemudian, akhirnya Varra muncul dengan senyuman manis yang dia persembahkan untuk Adriano. “Sudah selesai, Tampan. Astaga! Wanitamu benar-benar cantik,” ujarnya seraya kembali mencolek dagu Adriano.


“Berhubung pekerjaanku sudah selesai, maka aku akan pulang sekarang. Masih banyak urusan yang harus kutangani,” lanjutnya seraya terus berlalu sambil melambaikan tangan dengan gemulai.


“Terima kasih, Varra,” balas Adriano dengan wajah berseri. Dia bergegas masuk ke kamar. Adriano mendapati Mia yang sedang berdiri terpaku di depan cermin. Pria itu terpukau melihat penampilan Mia setelah didandani.

__ADS_1


Janda dari Matteo de Luca tersebut, mengenakan backless dress putih sebatas betis, dengan tali kecil yang menyilang di bagian belakang. Dress itu mengekspos punggung indah Mia dengan jelas. Sementara, rambut panjangnya yang berwarna cokelat, dibuat tatanan kepang samping dengan helaian anak rambut yang dibiarkan terjatuh, sehingga terkesan natural dan tidak terlalu formal.


Adriano berjalan mendekat. Dia berdiri di belakang Mia. Pria tampan tersebut belum dapat mengalihkan perhatiannya dari wanita cantik tersebut. Kekaguman itu terlihat jelas dari sorot matanya. “Kita berangkat sekarang,” ajak Adriano pelan.


Akan tetapi, Mia tidak menjawab. Wanita itu bahkan tak menunjukan ekspresi apapun. Dia hanya berdiri terpaku, menatap bayangannya dan Adriano dari pantulan cermin di hadapan mereka.


“Kenapa, Mia?” tanya Adriano menatap lekat wanita yang terlihat tak nyaman dengan diri sendiri.


“Semenjak Theo tiada, ini pertama kalinya aku memakai pakaian selain warna hitam. Rasanya sangat aneh bagiku,” jawab Mia lirih. Dia lalu menundukkan wajah. “Tidak! Aku tidak bisa ikut denganmu!” Mia berbalik dan segera melangkah ke dekat tempat tidur. Dia meraih dress hitam miliknya. Mia bermaksud untuk berganti pakaian di ruangan lain dari kamar itu.


Akan tetapi, dengan segera Adriano menarik pergelangan tangan Mia dan mencengkeramnya sangat erat. Tatapan pria itu terlihat jauh lebih tajam dari biasanya. Adriano tampak tidak menyukai keputusan Mia yang telah menolaknya.


“Lepaskan tanganku!” Mia berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Adriano. Namun, lagi-lagi dia tak mampu mengimbangi tenaga pria itu yang terlalu besar dan kuat. Mia hanya dapat meringis kecil.


“Jangan membuat kesabaranku hilang, Florecita Mia!” ucap Adriano dengan penekanan suara yang teramat dalam dan tegas, meskipun dia berbicara dengan cukup pelan. “Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini. Aku ingin memastikan kau kembali pada Miabella. Selain itu, jika kau tak bersedia menuruti apa yang kukatakan dan menolak untuk ikut, maka jangan salahkan aku jika kubuka lagi kasus lama yang sudah kau kubur dan lupakan."


"Aku bisa saja mengatakan pada semua orang, bahwa kau yang telah menembak dan membuatku hampir mati. Lalu, suami dan seluruh anggota Klan de Luca yang terlibat dalam kejadian malam itu, bisa kutuntut atas semua yang telah mereka lakukan padaku!” Sebuah ancaman tegas dari Adriano yang terdengar tidak main-main. Raut wajah pria itu terlihat sangat berbeda. Dia sangat mengerikan di mata Mia.


Akan tetapi, bukan hanya raut wajah dan cara bicara Adriano yang menjadi perhatian Mia. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tergelitik untuk bertanya. “Sungguh? Kau benar-benar tidak mengatakan apapun pada orang lain tentang kejadian malam itu?” tanyanya dengan tatapan yang mulai sayu.


Adriano tak segera menjawab. Pria itu masih melayangkan tatapan tajam kepada Mia. Tanpa melepaskan rangkulan dan juga cengkeraman tangannya, Adriano menjawab masih dengan cara bicara yang sama. “Aku tidak bicara kepada siapa pun selain adikku, Valerie. Itu juga karena dia terus memaksa. Namun, dia telah bersumpah untuk tidak membuka mulutnya."

__ADS_1


"Apa yang akan terjadi pada Klan de Luca jika sampai hal itu diketahui banyak orang? Seluruh anak buahku akan menyerang ke sana dan mengobrak-abriknya dengan mudah. Tigre Nero adalah organisasi yang jauh lebih besar dari organisasi yang pernah dipimpin oleh mendiang suamimu, Mia. Selain itu, Tigre Nero juga menaungi banyak organisasi kecil yang bertebaran di seluruh penjuru Eropa." Tersungging sebuah senyuman sinis penuh kepuasan, di sudut bibir Adriano. Sementara, Mia hanya diam terpaku menatap pria di hadapannya.


“Aku masih memiliki banyak pertimbangan untuk bertindak, tidak seperti Matteo de Luca yang mudah sekali terbawa emosi. Aku memikirkan segala sesuatu dari berbagai aspek dan harus benar-benar matang dalam mengambil keputusan. Tidak gegabah seperti saat kau menembakku sebanyak tiga kali. Kau tidak tahu, padahal saat itu aku tengah berbicara dengan suamimu secara baik-baik. Aku sudah melepaskan Matteo dari kematian yang seharusnya kuberikan padanya. Kau datang tanpa bicara apa-apa dan langsung ....”


“Hentikan ... kumohon ....” Air mata kembali menetes di sudut bibir Mia.


“Kau mungkin tidak tahu jika akulah yang telah menghabisi Alex dan membuang mayat pria itu sejauh mungkin, hingga tak ada siapa pun yang dapat menemukannya. Kau tidak ingin bertanya kenapa? Jawabannya, karena Alex adalah bajingan yang telah menabrakmu, Mia!" Suara Adriano yang tegas kini sedikit bergetar. Dia tengah menahan amarah yang terus berusaha untuk dibendungnya sekuat tenaga.


Sementara, Mia yang tadi melawan tatapan Adriano, kini memilih untuk menunduk dan menyembunyikan wajah cantiknya.


Sesaat kemudian, Adriano melepaskan Mia seraya mendengkus kesal. Dia berlalu begitu saja dari dalam kamar. Meninggalkan Mia seorang diri. Terpaku dengan wajah menghadap lantai.


Arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri Adriano, telah menunjukan pukul sepuluh tiga puluh. Sementara, acara peresmian akan dilangsungkan sekitar satu setengah jam lagi. Adriano kembali merapikan penampilannya. Dia sudah bersiap untuk berangkat menuju landasan helikopter.


“Anda akan pergi sekarang, Tuan?” tanya Orlin yang melihat sang majikan telah tampil rapi, dengan kemeja putih serta dilapisi blazer abu-abu.


“Ya, Orlin,” jawab Adriano singkat dan tanpa menoleh. Dia tengah sibuk membalas pesan yang masuk padanya.


“Lalu, bagaimana dengan wanita itu?” tanya Orlin lagi.


Belum sempat Adriano menjawab, terdengar suara yang begitu lembut menyela obrolan mereka. “Aku sudah siap, Adriano. Mari berangkat."

__ADS_1


Seketika, Adriano menoleh. Mia telah berdiri di belakang Orlin dengan dress putih tadi. Dia juga sudah merapikan penampilannya, sehingga terlihat jauh lebih segar.


__ADS_2