
Adriano menuntun Mia keluar dari hotel dengan wajah dingin dan datar. Dia seakan tak mampu lagi untuk mengatasi rasa cemburu yang sudah mengusik serta menguasai akal sehatnya. Adriano benar-benar tak tahan saat melihat tatapan Juan Pablo terhadap Mia, yang malam itu memang terlihat sangat memesona.
"Masuk!" titah pria itu yang terlihat sangat kesal. Dia sudah membukakan pintu mobil untuk sang istri.
Dengan tatapan sayu dan sedikit gontai akibat pengaruh minuman yang tadi dia tenggak selama di dalam, Mia tertawa renyah saat menanggapi kekesalan sang suami. Namun, wanita dengan gaun teal green yang terbuka di beberapa bagian itu, memilih untuk tidak banyak bicara. Dia langsung saja menuruti ucapan Adriano.
Mia duduk tenang di dalam mobil mewah Adriano. Dia menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam. Sedangkan si pemilik mobil baru masuk dan memasangkan sabuk pengaman untuknya. "Kau benar-benar kacau jika sudah minum. Seharusnya tadi aku tidak membiarkanmu begitu saja," Adriano menggerutu pelan tepat di dekat wajah Mia, sehingga suaranya terdengar jelas oleh wanita cantik itu. Perlahan, Mia kembali membuka mata. Tanpa banyak bicara, dia segera menangkup paras tampan yang berada tepat di hadapannya. Mereka pun saling bertatapan untuk sejenak. Namun, seperti biasa. Adriano ibarat api yang disiram bensin, ketika berdekatan dengan ibu satu anak tersebut. Dia tak pernah bisa mengendalikan dirinya.
Lenguhan pelan nan manja pun meluncur dari bibir burgundy milik Mia, ketika dia merasakan lu•matan Adriano. Untuk beberapa saat, Mia tak juga melepaskan tangannya dari rahang kokoh pria bermata biru itu. Dia seakan ingin agar Adriano terus menciumnya.
"Hentikan, Mia. Sebaiknya kita lanjutkan saat sudah tiba di mansion," tolak Adriano. Dia melepaskan telapak tangan Mia dari wajahnya, lalu kembali dalam posisi siap di belakang kemudi. Tak berselang lama, Maserati GranCabrio hitam milik Adriano, melaju dengan begitu elegant meninggalkan area parkir hotel mewah tadi.
Selama di dalam perjalanan, Mia terlihat gelisah. Berkali-kali wanita itu mengubah posisi dengan gerakan-gerakan yang terlihat menggoda. Terakhir, dia memilih untuk menyilangkan kaki sehinggga belahan gaunnya yang sebatas paha tersingkap dengan sempurna. Tampaklah kaki jenjang dengan paha mulus, yang telah berhasil membuat Adriano menjadi hilang fokus. Sesekali, mata birunya melirik Mia yang tengah memejamkan mata. Lirikan itu kemudian beralih pada paha yang tampak jauh lebih menggiurkan dari segelas anggur kesukaannya.
__ADS_1
Adriano berusaha untuk tetap konsentrasi pada kemudi. Namun, makin sering dia melirik Mia, maka hasrat dalam hati semakin besar dan menggebu. Perlahan, dia menyentuh paha yang seakan sengaja Mia suguhkan untuk dirinya. Pria itu meraba dan merasakan betapa halus dan lembut permukaan kulit sang istri. Sementara tatapannya kembali ke depan.
Namun, sepertinya Adriano tak bisa untuk mempertahankan konsentrasi, ketika dia mendengar desa•han pelan Mia. Wanita itu menggelinjangkan tubuh indahnya saat merasakan tangan Adriano yang tak hanya menyentuh pahanya saja. Mia pun membuka mata, kemudian menatap sayu kepada pria yang tengah mengemudi dengan satu tangan. Disentuhnya paha Adriano dengan lembut. Sentuhan yang kemudian berubah menjadi sebuah rabaan menggoda, bergerak naik hingga ke dekat resleting celana panjangnya.
Mia tertawa renyah saat berhasil membalas perlakuan sang suami. Dia begitu menikmati saat melihat Adriano mengela kemudian menahan napas untuk sejenak, lalu mengempaskannya dengan dalam. "Aku tahu kau sudah tidak dapat menahan dirimu, Sayang," ucap Mia pelan. Suaranya penuh dengan desah manja yang menggoda, sehingga makin mengaburkan kewarasan dalam pikiran Adriano.
Tanpa banyak bicara, pria bermata biru itu segera menepikan kendaraan. Dia lalu membantu melepaskan sabuk pengaman Mia, kemudian menarik tubuh ramping itu agar duduk di atas pangkuannya.
Itulah yang Mia inginkan. Wanita itu tertawa manja dan tampak hilang kendali, sama seperti dulu saat di apartemen milik sang ketua Tigre Nero tersebut.
Dengan cekatan, Mia melepas sabuk dan pengait celana panjang yang Adriano kenakan. Setelah itu, dia menurunkan resletingnya. Tanpa melepas senyuman dari wajah dengan tatapan sayu, Mia juga melepas sepasang sepatu ankle strap heels berwarna silver, lalu dia letakkan. Setelah itu, wanita cantik tersebut memutar tubuh sambil menarik bagian bawah gaunnya hingga terangkat tinggi-tinggi. Tampaklah pakaian dalam model thong berbahan lace yang semakin membuat Mia terlihat seksi.
Sambil tersenyum nakal, Adriano menggeser bagian belakang pakaian dalam itu ke samping. Dia mengarahkan tepat ke dalam diri Mia, membuat wanita yang berada dalam pengaruh alkohol tersebut melenguh pelan sambil menggerakkan pinggul indahnya. Sedangkan Adriano merasakan sebuah hentakan yang luar biasa dan tak tertahankan. Dia hanya mampu menciumi pundak serta punggung mulus Mia. Sesekali, terdengar desisan tertahan dari suara beratnya, karena menahan perasaan nikmat luar biasa atas pelayanan yang diberikan Mia. "Lakukan dengan cepat, Sayang," ucap Adriano, berhubung saat itu mereka masih berada di jalan.
__ADS_1
Mendengar ucapan Adriano, Mia mempercepat gerakannya. Tak lama kemudian, wanita bermata cokelat itu menyandarkan tubuh kepada sang suami. Dia terlihat kelelahan, sehingga membuat Adriano lah yang harus menyelesaikan sisa permainan. Dengan gerakan cepat, pria itu mengakhiri semuanya. Sedangkan Mia masih terengah sambil bersandar padanya. "Ayo kita pulang," bisik Adriano sambil mencium pipi sebelah kanan istrinya.
"Ah, tidak mau. Aku belum puas, Sayang," rengek Mia dengan manja.
"Ayolah, Mia. Ini sudah terlalu malam," bujuk Adriano lagi. Dia terdiam untuk sejenak sampai dirinya merasa rileks. Setelah itu, pria bermata biru tersebut kemudian menyuruh Mia agar kembali ke jok sebelah. Dengan terpaksa Mia menurut, meskipun dengan wajah cemberut. Sikap manjanya membuat Adriano tersenyum simpul seraya menggumam pelan. Tak lupa, sebelum kembali memegang kemudi, pria itu merapikan kembali sabuk serta celana panjangnya. Setelah merasa siap, barulah Adriano kembali melajukan kendaraan mewah tadi.
Hingga tiba di halaman mansion, Mia masih tampak merajuk. Sikapnya teramat manja, bahkan ketika dia sudah keluar dari dalam mobil. Mia hanya mematung di tempatnya berdiri. Dia tak peduli meskipun tubuhnya sedikit gontai.
"Ayo, Sayang. Kau tak ingin masuk?" Adriano mengulurkan tangan, mengajak Mia untuk segera masuk. Akan tetapi, Mia tetap bergeming. Dia hanya menatap Adriano dengan sorot matanya yang sayu. "Oh, astaga ...," keluh Adriano pelan. Dia lalu mendekat kepada sang istri. Tanpa Mia duga, Adriano mengangkat tubuhnya kemudian dia letakkan di atas pundak sebelah kiri sehingga Mia memekik karena terkejut. "Kau sangat nakal dan manja," ujar Adriano sambil menepuk pinggul istrinya, kemudian berjalan masuk. Dia terus memanggul Mia hingga tiba di dalam kamar.
Setelah berada di kamar, Adriano segera menurunkan tubuh ramping Mia di atas kasur. Dengan segera, pria bermata biru itu melepas sabuk dan menurukan resleting celananya. Dia lalu melepas celana thong yang Mia kenakan. Tanpa berlama-lama, sang pemilik mansion mewah tersebut kembali melanjutkan permainan yang tadi sempat terjeda. "Kau ingin ini, Mia?" seringai Adriano yang kembali membuat istrinya mengerang pelan.
🍒🍒🍒
__ADS_1
Hai, kembali ceuceu bawakan satu judul novel yang pasti keren