
Mia segera turun dari mobil, ketika Francesca berlari ke arahnya. Mereka lalu berpelukan dengan penuh haru. Tangis sedih berbaur dengan rasa bahagia, menghiasi pertemuan tersebut. Rasa khawatir yang selama ini Francesca rasakan, akhirnya sirna sudah. "Mia kau dari mana saja?" tanya Francesca seraya mengusap air matanya. Namun, pertanyaan Francesca seketika terjawab, ketika Adriano keluar dari mobil bersama Miabella.
"Aku akan segera menikah dengan Adriano," ucap Mia. Suaranya bergetar karena menahan tangis.
Sontak, apa yang Mia katakan membuat Francesca begitu terkejut. Gadis itu benar-benar tak percaya dengan ucapan saudarinya tersebut. "Apa kau yakin, Mia?" tanyanya seraya mengalihkan pandangan kepada Adriano yang menghampiri mereka. Dia menggendong Miabella yang terlihat sudah mengantuk.
Adriano tersenyum ramah kepada Francesca. "Apa kabar, Nona Ranallo," sapanya.
"Tuan D'Angelo? Ya. Kabarku sangat baik. Aku hanya terkejut dengan berita rencana pernikahan kalian," ujar Francesca. Namun, dia mencoba untuk menyimpan sesaat semua rasa penasaran dalam hatinya. Gadis bermata hazel itu mengajak Mia masuk. "Dani akan datang besok bersama Marco. Dia sangat mencemaskanmu, Mia. Kami sibuk mencarimu di Roma," ujar gadis itu lagi sambil terus merengkuh pundak Mia, hingga mereka masuk. Sementara, Adriano langsung membawa Miabella ke kamarnya.
"Ayo. Akan kuceritakan sesuatu padamu," ajak Mia.
......................
Malam terus merayap menjemput suasana sepi di sekitar Casa de Luca. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas lebih tiga puluh, ketika Mia memutuskan untuk keluar dan berjalan menuju kamar Miabella. Dilihatnya gadis kecil itu sudah terlelap, karena kelelahan setelah hampir seharian berjalan-jalan di Kota Milan. Miabella tampak begitu bahagia karena Adriano membelikannya banyak hadiah, termasuk boneka salah satu tokoh super hero terkenal.
Mia tersenyum samar seraya memperhatikan wajah polos putri kecilnya. “Theo, putri kita sudah semakin besar dan pintar,” gumamnya pelan. Dia lalu mengecup kening Miabella, sambil membetulkan selimut yang menutupi tubuh mungil putri semata wayangnya. Setelah itu, Mia pun memutuskan untuk keluar dari sana.
Berjalan tenang menyusuri lorong, langkah Mia terhenti di depan kamar yang dulu ditempatinya bersama Matteo. Semenjak kepergian sang suami, Mia tak ingin menempati kamar itu lagi. Dia memilih tidur di kamar yang lain. Mia juga tak pernah masuk ke sana, karena ada terlalu banyak kenangan yang mengingatkannya pada sosok Matteo.
Namun, tak lama lagi Mia akan benar-benar meninggalkan kamar tersebut. Dia juga akan meninggalkan Casa de Luca, yang telah sekian lama menjadi tempatnya bernaung dan meniti hari demi hari penuh cerita indah tak terlupakan.
Mia akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke kamar itu. Dengan tangan yang gemetaran, wanita cantik berambut panjang tersebut memutar gagang pintu dan membukanya. Dia tertegun sejenak, sebelum akhirnya melangkahkan kaki untuk masuk. Mia terus mengumpulkan keberanian dan melawan segenap rasa takut, yang membuat dia merasa cemas.
Baru satu langkah ke dalam ruangan tersebut, Mia kembali tertegun. Dia lalu menyalakan lampu sehingga tampaklah seluruh ruangan itu dengan jelas. Semuanya masih terlihat sama. Tempat tidur, meja, kursi, segala yang ada di dalam ruangan tadi masih pada tempatnya. Sama seperti saat terakhir dia berada di dalam kamar tersebut.
Sepasang mata cokelat Mia terus menyapu setiap sudut ruangan. Dia lalu berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepiannya, pada sisi sebelah yang biasa menjadi tempat Matteo. “Theo ….” Suara Mia bergetar saat mengusap bantal yang selalu menjadi penyangga kepala sang suami, dalam menemaninya melewati malam. “Theo …,” desah berat Mia nan parau berbaur dengan sebuah isakan tertahan.
__ADS_1
Mia meraih bantal itu kemudian mendekapnya dengan erat. Sesekali, dia mencium bantal tersebut dan berharap menemukan aroma tubuh Matteo di sana. Namun, sekian lama Mia melakukan hal tersebut, ternyata dirinya tak menemukan apapun selain kepedihan. Sebuah kenyataan pahit yang harus membuatnya sadar, bahwa Matteo memang telah tiada.
“Theo ….” Suara Mia tertahan. Ingin rasanya dia meneriakkan nama itu sekencang mungkin, dan berharap agar Matteo dapat mendengar rintihan pilunya. Akan tetapi, Mia tak mampu melakukan hal itu. Dia hanya dapat menangis, meratapi cintanya yang telah pergi meskipun tanpa dia relakan
Sesaat kemudian, Mia kembali meletakan bantal itu seperti semula. Dia lalu beranjak menuju ruang ganti. Di sana, Mia membuka lemari pakaian Matteo. Disentuhnya satu per satu baju sang suami yang tergantung rapi.
Masih terukir jelas dalam ingatannya, hari di mana dia tengah memakaikan mantel pada tubuh tegap Matteo. Mia tak pernah menyangka, bahwa itu menjadi kebersamaan terakhirnya dengan pria bermata abu-abu tersebut.
Bayangan Mia kemudian beralih pada saat dirinya memeluk tubuh Matteo yang tak berdaya dengan bersimbah darah, hingga pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Lemas, tubuh Mia pun ambruk ke lantai dalam posisi bersimpuh. Kepalanya tertunduk dengan deraian air mata yang terus berjatuhan. Tangis kepedihan itu kembali pecah. Satu, dua, atau bahkan seratus tahun pun seakan tak pernah cukup baginya untuk bisa melupakan sosok rupawan tersebut.
Matteo adalah cinta pertama bagi Mia. Dia merupakan yang pertama dalam segala hal bagi wanita itu. Seandainya Matteo masih ada, maka Mia tak akan menyerahkan dirinya pada pria manapun.
"Theo, aku akan menikah dengan Adriano D'Angelo. Aku terpaksa melakukannya. Kumohon maafkan kebodohan ini. Aku melakukannya demi dirimu. Aku bersumpah akan memberikan keadilan yang belum kau dapatkan, Theo. Bagaimanapun caranya, aku akan menemukan pengecut yang telah menyerangmu dari belakang."
"Kau akan segera dapat beristirahat dengan jauh lebih tenang, setelah aku bisa menemukan orang itu. Ini adalah janji seorang istri yang terenggut kebahagiaannya dengan paksa.” Mia mengangkat wajahnya. Dia segera menghapus air mata yang membasahi pipi. Ibunda Miabella itu lalu bangkit dan berdiri tegak. Tekad Mia semakin bulat. Dia harus menyingkirkan segala keraguan dalam dirinya.
......................
Hari ini, adalah hari bersejarah di mana pria dengan postur 187 cm itu akan melepas masa lajangnya. Adriano sudah tampil gagah dengan tuksedo mahal yang membuat dia terlihat semakin menawan.
Sementara, Marco dan Coco lah yang kebetulan dan sangat terpaksa harus menjadi pendamping pengantin pria. Wajah kedua pria itu menyiratkan beban yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. “Bisakah kalian berdua bersandiwara untuk hari ini saja?” Adriano melirik kedua pria itu secara bergantian.
“Tidak!” jawab Coco tegas meskipun pelan.
“Sudahlah. Jangan membuat kegaduhan sekarang. Kasihan Tuan D’Angelo. Jangan sampai bunga-bunga dalam hatinya tidak jadi berkembang,” ujar Marco sambil menepuk lengan Coco.
“Oh, kau sangat pengertian, Marco. Terima kasih banyak,” balas Adriano seraya tersenyum simpul pada suami dari Daniella tersebut.
__ADS_1
“Ya, sama-sama. Aku sudah memiliki dua orang putra. Jadi, seharusnya bisa berpikir jauh lebih dewasa dari seorang lajang,” sindir Marco diselingi tawa pelan, ketika Coco mendelik padanya.
“Kasihan sekali Tuan Ricci yang tak kunjung menikah,” timpal Adriano menahan tawa.
Ejekan itu membuat Coco semakin kesal. Dia sudah mengepalkan tangan dengan sempurna. Namun, Coco harus memendam amarahnya dalam-dalam, karena pendeta yang akan memimpin upacara sakral itu telah hadir dan bersiap memulai acara. Suasana khidmat pun terasa dalam gereja yang menjadi saksi bisu pengikat Mia dan Adriano.
Seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi Adriano, ketika dia melihat Mia berjalan ke arahnya dengan gaun pengantin putih yang indah dan terlihat mewah. Adriano tak mampu melepaskan pandangannya sedikit pun, dari sosok yang selama ini selalu mengisi hatinya. Mia benar-benar terlihat sempurna hari itu. Dia sungguh luar biasa.
Mereka berdiri berdampingan di altar. Di hadapan pendeta yang membimbing keduanya dalam mengucapkan sumpah setia pernikahan, hingga ritual itu selesai. Adriano pun dipersilakan untuk mencium mempelainya.
Namun, pria itu terdiam sejenak. Dia menatap Mia yang terlihat sedikit ragu. Sesaat kemudian, Mia memberi isyarat pada Adriano, sebagai tanda bahwa dia mengizinkan pria itu untuk menciumnya.
Tanpa membuang waktu, Adriano menangkup wajah cantik wanita yang kini telah menjadi istrinya. Dia segera mencium Mia dengan lembut dan penuh perasaan.
Tak berselang lama, Miabella masuk memakai gaun putihnya yang cantik. Gadis kecil itu berjalan menuju altar. Di tangan Miabella ada sebuah baki kecil berisi cincin untuk ibu dan ayah barunya. Miabella menjadi pusat perhatian saat itu. Terlebih, ketika dia meminta untuk dapat mencium pipi Adriano, sebelum pria itu menyematkan cincin di jari manis Mia.
Setelah semua acara selesai, kini tiba pada sesi pesta dan jamuan makan. Ada banyak ucapan selamat untuk kedua mempelai dari para tamu undangan yang jumlahnya terbatas.
Daniella, hadir dengan membawa kedua putranya, Romeo dan Tobia. Dia tampak kewalahan mengasuh kedua anak yang hanya berjarak satu tahun.
Sementara, Francesca hari itu membawa beberapa temannya yang merupakan rekan sesama model. Para gadis itu terdengar sangat berisik dan mengundang perhatian Coco, yang sedang asyik menikmati minumannya bersama Damiano dan Marco. Pria berambut ikal tersebut lalu menghampiri kumpulan gadis cantik tadi. “Apanya yang seru, Nona-nona?” tanya Coco dengan gaya khasnya.
“Teman-temanku sangat nakal, Ricci,” jawab Francesca menahan tawa.
“Nakal bagaimana?” tanya Coco penasaran.
“Ah, Ricci. Tidakkah kau lihat jika kakak ipar Francy benar-benar tampan dan menggemaskan,” ujar salah seorang gadis berambut pirang dengan antusias. Dia mengarahkan pandangannya kepada Adriano, yang saat itu tengah berbincang dengan beberapa tamu.
“Oh, dia terlihat panas. Seperti daging panggang yang baru dikeluarkan dari oven,” timpal gadis yang lain sambil tertawa.
__ADS_1
Sikap mereka telah membuat Coco semakin kesal. Dia lalu mengarahkan pandangannya kepada Adriano. Perasaan tak suka dalam hatinya terhadap pria itu semakin menjadi.