
Pagi yang cerah diawali dengan sebuah aktivitas panas, untuk melanjutkan sisa-sisa percintaan semalam. Namun, seperti biasa. Adriano harus mempercepat permainan ranjangnya bersama Mia, karena suara teriakan cadel Miabella sudah terdengar di luar kamar. Sesekali, gadis kecil tersebut menggedor pintu dengan cukup keras, membuat Mia yang sedang berada di bawah tubuh Adriano seketika tertawa renyah.
“Putrimu sungguh luar biasa,” keluh Adriano seraya menyudahi aktivitas ranjangnya, meskipun permainan itu belumlah selesai. Dengan terpaksa dia turun dari tempat tidur, kemudian segera mengenakan celana panjangnya. Sementara Mia meraih lingerie beserta kimono yang tergeletak di atas sofa. Tak lupa dia menggulung rambut dengan menggunakan sebuah jepitan. “Aku akan mencubit pipi Miabella dengan keras,” gumam Adriano seraya berjalan menuju pintu kemudian membukanya. Kepala pria itu terasa pusing karena permainan yang tidak sampai selesai.
Di balik pintu, tampaklah wajah Miabella yang baru bangun tidur. Rambut panjang gadis kecil itu terlihat kusut dan tak beraturan. Seperti biasa, dia memeluk boneka kesayangannya. “Selamat pagi, Daddy Zio,” sapa gadis kecil bermata abu-abu itu.
“Selamat pagi, Principessa,” balas Adriano seraya menurunkan tubuhnya. Segera diraih tubuh mungil putri kesayangannya. Niat untuk mencubit pipi gadis kecil tersebut sepertinya tidak akan pernah dia lakukan, ketika berhadapan langsung dengan wajah imut menggemaskan itu. Adriano justru malah menggendong Miabella dan membawanya masuk ke kamar.
“Selamat pagi, Sayang,” sapa Mia dengan hangat. Dia kembali naik ke tempat tidur, di mana Adriano mendudukkan Miabella.
“Bukankah Ibu mengatakan jika hari ini kita akan menghubungi bibi berambut hitam?” Miabella rupanya masih teringat akan perkataan Mia semalam.
“Oh, astaga. Ini masih terlalu pagi, Sayang,” ucap Mia seraya melirik Adriano. Dia seakan tengah meminta bantuan agar pria itu ikut membujuk Miabella.
“Bibi berambut hitam selalu bangun pagi, tidak seperti Ibu yang selalu bangun siang,” sahut Miabella yang seketika membuat Adriano tertawa. Sedangkan Mia terlihat melayangkan protes dengan tatapan matanya. Namun, sebelum wanita itu sempat mengatakan sesuatu, bunyi dering ponsel telah membuatnya mengurungkan niat tersebut.
Adriano yang awalnya dalam posisi tidur menyamping sambil menopang kepala menggunakan tangan kanan, dengan terpaksa harus bangkit dan meraih ponselnya. Dia memeriksa nama pemanggil yang masuk. Ternyata, itu merupakan panggilan dari Coco. “Pronto,” sapa pria bermata biru itu.
“Apa kabar, Adriano? Kuharap telepon dariku tidak mengganggumu,” terdengar suara Coco di seberang sana.
“Ah, tentu saja tidak,” jawab Adriano. “Aku sudah membaik dan tidak lagi memakai perban,” ucap pria itu lagi.
“Syukurlah. Apa Mia ada di dekatmu?” tanya Coco setengah berbisik.
Sebelum menjawab, Adriano sempat melirik kepada Mia yang tengah merapikan rambut Miabella. “Ya, memangnya kenapa?” dia balik bertanya.
“Tidak ada. Um ... bisakah kalian meluangkan waktu untuk datang ke Italia?” suara dan nada bicara Coco terdengar agak lain dari biasanya, membuat Adriano menautkan alis. Dia merasakan ada sesuatu yang tak beres saat itu. Adriano kemudian turun dari tempat tidur dan sedikit menjauh dari sana. Dia memilih untuk melanjutkan perbincangan di atas balkon kamar. Hal itu membuat Mia sempat memperhatikannya untuk sesaat. Namun, tak lama dia kembali mengalihkan pandangan kepada Miabella.
Adriano terlihat bicara dengan raut yang cukup serius. Sesekali, Mia melirik ke arahnya. Ibu dari Miabella itu tak tahu suaminya tengah berbincang-bincang dengan siapa. Akan tetapi, Mia berusaha untuk menepiskan semua rasa curiga dalam hatinya. Apalagi karena Adriano tampak telah menyudahi obrolan di telepon. Pria bertubuh tegap itu melangkah gagah ke arahnya.
__ADS_1
“Siapa yang menghubungimu pagi-pagi begini, Adriano?” tanya Mia. Dia ingin menghilangkan rasa penasaran yang sedari tadi mengusik dan membuat dirinya merasa tak nyaman.
“Ricci,” jawab Adriano dengan segera. Dia kembali duduk di dekat Miabella. “Bagaimana jika kita pergi ke Italia saja. Apakah kau tidak merindukan kakek Damiano?” tawarnya kepada gadis kecil itu.
Mendengar nama Damiano disebut, raut wajah Miabella seketika terlihat antusias. Dia tersenyum lebar sambil menghambur ke dalam pelukan sang ayah sambung. “Sungguh, Daddy Zio? Kita akan menemui kakek di rumah ayah?” tanyanya tidak percaya.
Adriano tersenyum seraya mengangguk. “Kita akan berangkat hari ini. Bagaimana, Mia? Apa kau mau?” sang ketua Tigre Nero mengalihkan perhatiannya kepada istri tercinta yang saat itu hanya terdiam dan tampak sedang menerka-nerka sesuatu.
“Aku ikut saja,” jawab Mia kemudian, “tapi kenapa mendadak sekali?” tanyanya heran. “Aku harap paman Damiano baik-baik saja,” ucapnya lagi terlihat resah.
“Tenanglah, Sayang,” Adriano menyentuh pipi Mia dengan lembut. “Kita akan segera melihat keadaannya. Segera berkemaslah. Kita akan berlibur di Italia selama beberapa hari. Lagi pula, aku juga harus melihat club malam yang ada di Roma. Kau tahu bukan jika ballroom di sana telah disewa oleh Patrizio.”
“Pria yang kemarin itukah?” tanya Mia.
“Ya, kau benar,” jawab Adriano dengan segera. “Sebenarnya aku sudah menyerahkan segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan itu kepada Benigno. Akan tetapi, selagi berada di Italia tak ada salahnya jika aku melihat sendiri seperti apa suasana di sana,” jelas pria itu lagi.
“Ya, baiklah. Kalau begitu, aku akan mandi dulu,” ucap Mia yang kemudian turun dari tempat tidur. “Sayang, tunggulah sebentar di sini. Nanti akan kubantu kau untuk bersiap-siap,” ucap Mia sebelum berlalu ke dalam kamar mandi. Beberapa saat lamanya dia membersihkan diri, lalu keluar dengan menggunakan bathrobes putih. Wajah cantiknya terlihat begitu segar, membuat Adriano tak kuasa untuk tidak mencium pipi dan bibir Mia.
“Apa kita akan bermain busa, Daddy Zio?” sahut Miabella dengan mata berbinar.
“Tentu saja. Apapun yang menjadi keinginanmu, Principessa,” Adriano merengkuh tubuh mungil itu dan membawanya ke kamar mandi. Tak lama kemudian, terdengar tawa nyaring dan teriakan ceria dari anak itu.
Sementara Mia telah selesai memakai pakaian. Dia lalu mengeringkan rambutnya. Ketika tengah asyik bercermin, ponsel Adriano kembali berbunyi. Diliriknya benda pipih yang tergeletak begitu saja di atas laci. Mata indah wanita itu menyipit saat membaca nama yang tertera di layar ponsel tersebut. “Carina?” gumamnya seraya menautkan alis.
Tanpa pikir panjang, dia segera meraih ponsel dan melangkah cepat ke kamar mandi. Tampaklah Miabella yang berendam di dalam bathtub dengan badan penuh busa hingga ke kepala. Sementara Adriano, tersenyum lebar di sisi bath up, dengan telaten menggosok tubuh mungil putri sambungnya menggunakan spons mandi.
“Sahabatmu menelepon,” ujar Mia ketus seraya menyodorkan ponsel pada suaminya.
“Siapa?” tanya Adriano sambil mengernyitkan kening.
__ADS_1
“Siapa lagi kalau bukan Carina,” jawab Mia masih dengan nada dan wajahnya yang terlihat ketus.
Pria rupawan itu terkekeh melihat tingkah istrinya. Segala pencapaian duniawi yang telah dia miliki saat ini seakan tak berarti apa-apa, jika dibanding dengan rasa bangga ketika Mia cemburu padanya. “Angkatlah teleponnya, Sayang. Kau lihat sendiri tanganku,” Adriano mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan busa sabun. Dia seperti dengan sengaja ingin menggoda sang istri.
Mia mendengus pelan, lalu kembali mengarahkan perhatiannya pada ponsel di tangan. Sepertinya Carina tak putus asa dalam menghubungi Adriano hingga tersambung. Segera digesernya tombol hijau pada layar, kemudian dia tempelkan ponsel itu ke telinga. “Pronto!” sapa Mia, terdengar dingin dan datar.
“Ah, Mia rupanya. Di mana Adriano?” tanya Carina tanpa basa-basi.
“Adriano sedang memandikan putriku. Dia sudah memintaku untuk menjawab teleponnya,” seutas senyum samar tersungging di bibir ranum Mia.
Cukup lama tak terdengar jawaban dari seberang sana, hingga akhirnya Carina menyahut, “Ya, sudah. Nanti saja kutelepon kembali.”
“Kenapa tidak sekarang saja? Aku bisa menyampaikan pesanmu,” ujar Mia kemudian.
Carina tertawa pelan dan kembali terdiam. “Kau tidak perlu tahu apa yang akan kusampaikan pada Adriano, karena itu adalah rahasia. Dulu, semasa sekolah kami sering sekali bertukar rahasia. Bisa dikatakan bahwa hanya Adriano yang mengetahui rahasiaku, begitu pula sebaliknya,” jelas Carina memanas-manasi.
“Akan tetapi, sekarang kalian tidak sedang di sekolah lagi. Kasihan sekali kau Carina. Rupanya dirimu masih terjebak di masa lalu. Saranku, carilah pasangan hidup agar kau dapat memandang ke depan dengan lebih baik,” sindir Mia.
“Asal kau tahu, Mia. Aku adalah salah satu orang kepercayaan suamimu. Seandainya dia tidak pindah ke luar negeri dan menghilang, mungkin sekarang kami sudah memiliki anak-anak yang lucu,” Carina tertawa renyah di seberang sana.
“Astaga, hentikan halusinasimu. Kau terdengar semakin menyedihkan," ledek Mia. "Kenyatannya, pria yang kau khayalkan itu telah menjadi suamiku, dan kami baru selesai bercinta pagi ini,” ucapnya lagi terdengar sangat puas.
“Kau boleh merasa menang sekarang, janda Matteo de Luca. Namun, lihat saja nanti ketika aku berhasil merebut perhatiannya kembali. Terlebih kami akan bekerja sama dalam waktu yang lama,” balas Carina, kemudian mengakhiri panggilannya begitu saja.
Mia berdiri gamang. Entah apa yang dia pikirkan saat itu. Emosi sedikit demi sedikit mulai mengambil alih logikanya. Mia membalikkan badan dan kembali ke arah kamar mandi, bertepatan dengan Adriano yang juga berniat keluar sambil menggendong Miabella. Gadis itu terlihat menggemaskan dengan jubah mandi yang terlalu besar di tubuhnya.
“Ibu!” Miabella merentangkan tangan dan beralih ke dalam gendongan Mia. Tercium bau harum dan segar dari tubuh putri kesayangannya itu.
“Ada apa Carina meneleponku?” tanya Adriano dengan sorot mata yang teduh.
__ADS_1
“Aku tak dapat mengingat dengan baik, karena apa yang keluar dari mulutnya selalu saja dia niatkan untuk menyakitiku. Namun, ada satu hal yang tersimpan dalam memoriku. Dia mengatakan bahwa dirinya akan menjalin kerja sama denganmu dalam waktu yang lama. Ah, pasti menyenangkan sekali, ya,” bibir Mia boleh saja tersenyum saat itu. Akan tetapi, sorot matanya tajam menyiratkan kecemburuan yang teramat besar untuk sang suami.