Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Hunt for Stalker


__ADS_3

Adriano berjalan cepat menuju perkebunan. Seperti biasanya, pada jam-jam seperti itu Coco pastilah tengah sibuk di sana. Apalagi saat ini dia harus mengurusi hasil panen anggur yang akan segera disortir. Tatap mata Adriano begitu tajam tertuju ke depan. Tangan kanan pria itu memegangi drone misterius, sementara tangan kirinya sibuk mengoperasikan ponsel. Dia bermaksud untuk menghubungi Benigno, tangan kanan dan salah satu anak buah terkuat yang dia miliki.


“Pronto,” terdengar jawaban dari seberang sana, ketika panggilan sudah tersambung.


“Selamat siang, bos,” sapa Benigno ramah.


“Bisakah kau menghubungi Dante dan Serafino? Suruh mereka ke Casa de Luca di Brescia secepatnya,” titah Adriano tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


“Apakah ada masalah, bos?” tanya Benigno khawatir.


“Ya, Benigno. Ada seseorang yang telah dengan berani menantangku. Dia mengirimkan drone untuk memata-matai Mia dan aku, dan mungkin seluruh aktivitas di Casa de Luca,” geram Adriano sambil terus melangkah.


“Orang itu tak akan termaafkan, bos,” sahut Benigno.


“Ya, aku tak akan pernah memaafkannya,” desis Adriano, lalu mematikan ponselnya begitu saja ketika dia sudah berada di hadapan Coco.


“Tumben sekali Tuan Necis rela mengotori sepatu mahalnya di sini?” sindir Coco seraya tertawa lebar.


“Aku membutuhkan keahlianmu,” Adriano menyodorkan drone berwarna hitam yang mirip helikopter mini itu pada Coco.


“Dari mana kau mendapatkan ini?” Coco menerima benda itu dan membolak-baliknya. Pria berambut ikal tersebut mengamati benda yang baru saja Adriano sodorkan untuk beberapa saat.


“Benda itu tiba-tiba ada di dalam kamar yang kutempati. Siapa pun yang memegang kendali remotenya, dia telah menantangku secara terang-terangan. Drone tersebut berhenti di depan jendela kamar dengan lensa yang mengarah ke dalam, langsung tertuju padaku dan juga Mia saat itu,” jelas Adriano.


“Wah, gawat! Apa saat itu kalian tengah berbuat mesum?” Coco terbahak, lalu berhenti seketika tatkala melihat Adriano menatap tajam padanya. Niatnya untuk bercanda dia urungkan, karena Adriano tampak serius saat itu. “Baiklah, akan kucoba,” Coco mendehem pelan, kemudian bergegas mencari Emiliano. Tak berselang lama, pria berambut ikal itu kembali pada Adriano dan mengajaknya masuk ke Casa de Luca. Coco terus berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan antara perkebunan dengan bangunan utama. Langkahnya terhenti pada sebuah pintu kayu berbentuk kuno. Berkali-kali Adriano melewati lorong itu, tetapi dia tak pernah memperhatikannya.

__ADS_1


Coco lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan semacam kunci yang terlihat begitu antik. Dengan hati-hati, dia memasukkan kunci itu ke lubang dan memutarnya perlahan.


“Ruangan apa ini?” Adriano yang keheranan, menyapu pandangannya ke sekitar, sesaat setelah Coco membuka pintunya lebar-lebar dan mengajak dia untuk masuk.


Berbeda dengan pintu yang terkesan antik dan ketinggalan zaman, di dalam ruangan yang penuh dengan meja-meja panjang itu, terdapat segala macam senjata dan peralatan intai yang amat canggih. Kali ini, Adriano mengaku kagum. “Apakah semua ini milikmu?” tanyanya. Ujung jemari pria bermata biru tersebut menelusuri satu unit komputer beserta monitor yang berukuran raksasa. Di sebelah CPU, terdapat beberapa buah laptop yang berada dalam keadaan mati dan beberapa peralatan elektronik lain yang tak Adriano ketahui untuk apa fungsinya.


“Semua ini milik Matteo. Dia mempercayakannya padaku. Theo sangat paham akan kesukaanku pada dunia sadap menyadap,” jawab Coco pelan. Angan lajang tiga puluh dua tahun itu melayang pada sosok sahabat karibnya tersebut.


“Jadi, apa kau bisa mencari tahu siapa pengendali drone ini?” tanya Adriano lagi, setelah beberapa saat mereka larut dalam keheningan.


“Coba kulihat,” Coco meletakkan drone itu pada salah satu meja dan menyalakan salah satu laptop. Dia juga menyalakan CPU berkapasitas besar, hingga layar monitor raksasa yang tertempel di dinding menyala. “CPU ini adalah induk. Dia terhubung pada semua jaringan perangkat lunak yang terpasang di seluruh markas dan kantor organisasi de Luca. Apapun kegiatan anggota, semua dapat terpantau dengan jelas dari sini,” terangnya seraya menepuk bagian atas benda persegi itu.


Adriano mengangguk dan terus memperhatikan. Tangan Coco begitu lincah mengutak-atik drone, kemudian mengetikkan sesuatu di laptop. Setelah itu, bagian atas drone pun tampak menyala dan memperlihatkan warna merah. “Aku mengakses data lokasi awalnya,” ujar Coco dengan mata yang tak lepas dari layar laptop. Dia menekan tombol enter, lalu muncullah gambar peta di monitor raksasa.


“Apa yang harus kita lakukan? Jelas-jelas dia dengan sengaja menghentikan dronenya, tepat di depan mukaku,” ujar Adriano setengah menggerutu.


“Itu artinya dia memang sengaja melakukan itu. Si pelaku ingin agar kau menemukannya,” gumam Coco.


“Bisakah kau buat lebih spesifik, di mana lokasi awal yang terekam oleh drone itu?” Adriano mencondongkan badan dengan telapak tangan yang bertumpu pada tepian meja.


“Lihat itu,” Coco mengarahkan telunjuknya pada layar monitor raksasa. “Itu adalah gambar yang pertama kali terekam oleh drone tadi. Sebuah danau yang biasanya menjadi tempatku dan Matteo melepas penat,” terangnya.


“Apa menurutmu kita harus ke sana? Siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu,” ajak Adriano. Senyuman tipis tersungging dari bibirnya.


“Tentu! Sudah lama aku tak merasakan petualangan,” Coco ikut tersenyum dan tertawa. Dia lalu mematikan semua peralatan di sana dan bergegas keluar dari ruangan rahasia tadi. Setelah itu pria berambut ikal tersebut kembali menguncinya. Kunci itu dia simpan kembali ke dalam saku celana.

__ADS_1


Kedua pria tampan itu berjalan cepat menuju garasi besar yang terletak di halaman samping. Adriano memilih mobil jeep peninggalan Matteo. Dia menyalakan kendaraan sementara Coco menyiapkan pistolnya di balik t-shirt panjang yang dia kenakan. Sepuluh menit saja waktu yang dibutuhkan hingga mereka tiba di danau yang dimaksud. Suasana sore menjelang petang, terasa menghanyutkan bagi Coco. Banyak kenangan tentang dirinya beserta Matteo di tempat itu, ketika mereka sama-sama lelah dan bosan dengan aktivitas masing-masing. Di tempat itulah, dua sahabat karib tersebut membunuh waktu dengan bersantai, jauh sebelum mereka bertemu dengan pasangan masing-masing.


“Apa kau berhasil menangkap bayangan seseorang atau sesuatu?” pertanyaan Adriano membuyarkan lamunan Coco.


“Ti-tidak,” jawab pria berambut ikal itu tergagap. Diliriknya Adriano yang awas mengamati sekitar dengan pistol terkokang.


“Rupanya kita harus menyisir tempat ini terlebih dahulu. Waspadalah, Ricci,” Adriano mengingatkan. Dia mulai melangkah menyusuri tepian danau, hingga masuk ke dalam semak dan pepohonan yang tumbuh subur di sekitarnya. Akan tetapi, beberapa menit berlalu dan keduanya tak menemukan apapun, meski setiap sudut area pepohonan dan sekeliling danau sudah mereka telusuri.


“Jadi bagaimana, Adriano? Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Coco kebingungan. Dia juga terlihat lelah.


“Untuk saat ini, kita kembali saja ke Casa de Luca. Aku sudah memanggil beberapa anak buahku yang terkuat untuk ikut menjaga perkebunan. Sebaiknya kau juga hubungi Marco,” tutur Adriano seraya berjalan mendekat ke mobil dan berniat membuka pintu. Akan tetapi, geraknya terhenti ketika dirasa ada sesuatu yang aneh dan tertangkap oleh sepasang mata birunya.


“Kenapa?” Coco ikut berhenti di samping Adriano.


Namun, pria rupawan itu tak menjawab. Dia malah berjalan memutar ke bagian depan mobil. Di sana dia melihat ada sesuatu yang terselip di antara penyeka kaca depan mobil. “Apa itu?” Coco meletakkan dagunya di pundak Adriano. Dia ikut mengamati benda yang merupakan sebuah topeng.


Adriano menjauhkan diri dari Coco, sebelum membalik benda yang mereka temukan Keduanya terbelalak saat melihat motif di balik topeng kain itu. “Gambar tengkorak?” gumam Adriano dan juga Coco secara bersamaan. Mereka pun saling berpandangan. Anehnya, benda tersebut tak terlihat ketika berangkat tadi.


“Ini merupakan topeng yang biasa dipakai oleh anggota Tangan Setan ketika beraksi,” geram Adriano seraya meremas kain yang tergenggam di tangannya, kemudian melihat sekeliling.


🍒🍒🍒


Hai, jangan bosan ya. Ini ceuceu bawakan rekomendasi novel lagi.


__ADS_1


__ADS_2