Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Second Revenge


__ADS_3

“Lindungi aku!” Coco memberikan intruksi kepada pria yang tadi masuk bersamanya, dengan suara yang tidak terlalu nyaring. Si pria mengangguk. Dia sudah paham dengan apa yang harus dilakukannya. Pria itu memberikan isyarat kepada rekan-rekan lain, agar terus melesatkan tembakan pada seseorang yang diduga tengah bersembunyi di dalam kamar. Sementara Coco dan dirinya mengendap-endap menuju kamar tersebut.


Namun, sebelum langkahnya tiba di ambang pintu kamar, sebuah bom molotov terlempar begitu saja dari arah atas. Beruntung karena Coco dan pria itu sigap melompat serta berlindung di balik kursi kayu, yang terletak di samping sofa. Busa kursi melindungi Coco dari ledakan yang mampu menghancurkan kaca jendela dan perabot di sekitarnya.


“Dari mana datangnya bom itu?” tanya pria yang turut berlindung di belakang kursi bersama Coco. Sementara anggota lainnya masih tetap bersembunyi di balik sofa.


“Apa menurutmu dari langit-langit?” tebak Coco. Spontan, pria itu mendongak dan menemukan sebuah lubang kecil di langit-langit berwarna putih. Segera dia berdiri dan memberi aba-aba pada rekannya untuk mengarahkan senapan mereka ke atas. Nahas, ketika dia berdiri, beberapa tembakan menyasar tubuh pria itu. Tembakan tak hanya mengenai rompi anti peluru, tapi juga mengenai leher dan lengan pria yang belum Coco ketahui namanya tersebut. Pria tadi langsung roboh dengan darah yang mengalir dari luka yang menganga. Sementara itu, anggota lainnya sibuk menembakkan peluru ke langit-langit ruangan.


Tak berapa lama, langit-langit itu ambruk bersamaan dengan jatuhnya Thomas Bolton yang ternyata bersembunyi di sana. Coco segera mengarahkan moncong senjata pada pembunuh bayaran tersebut. Namun, gerakan Thomas Bolton teramat gesit. Pria itu berkelit dan segera masuk ke ruangan lainnya.


Tak ingin kehilangan jejak, Coco segera mengikuti Thomas ke salah satu ruangan yang ternyata adalah dapur. Demikian pula dengan anggota lainnya yang terus berjalan penuh waspada di belakang pria berambut ikal tersebut. Tepat ketika Coco hendak memasuki dapur, tiba-tiba penerangan mendadak padam. Ruangan itu menjadi gelap gulita. “Nyalakan senter kalian!” titah salah seorang anggota. Serempak, semuanya menyalakan senter yang menjadi satu dengan senapan laras panjang. Mereka juga menyalakan senter yang menempel di bagian depan helm pelindung. Saat itu, berondongan peluru kembali menyambut mereka semua.

__ADS_1


Coco bergerak ke samping, sementara orang-orang itu tetap tegak berdiri sambil membalas tembakan Thomas Bolton. Peluru-peluru dimuntahkan, mengenai peralatan masak dan tembok dapur. Salah satu peluru bahkan mengenai kompor gas hingga meledak dan terbakar.


Mereka juga terus menyerang ke arah meja dapur besar yang diyakini menjadi tempat Thomas Bolton bersembunyi. Sampai pada satu waktu, di mana Thomas tak lagi membalas tembakan. “Pelurunya habis! Dia pasti sedang mengisi amunisi!” seru salah seorang anggota.


Mengetahui hal tersebut, Coco segera mengambil inisiatif. Dia maju dan memutari meja. Coco akhirnya menemukan Thomas yang tengah mengisi senapannya. Dengan gerak cepat, dia menendang senjata sang pembunuh bayaran tersebut hingga terlempar beberapa meter jauhnya.


Thomas tak tinggal diam, dia membalas apa yang Coco lakukan dengan menendang tulang kering pria itu, hingga kekasih dari Fransesca tersebut jatuh terjerembab tepat di atas tubuhnya. Sigap, dia merebut senjata Coco dan memutar tubuhnya. Kini dia berada di atas Coco, lalu melilit tubuh pria berambut ikal itu. Sembari menyeringai, Thomas mengalungkan lengannya di leher Coco dan menarik pria tampan itu serta memaksanya berdiri. Thomas menjadikan Coco sebagai tameng. Moncong senjata yang berhasil dia rebut, Thomas tempelkan tepat pada pelipis Coco. Dia kembali menyeringai ke arah anggota berseragam lengkap tadi. “Kalau begini, apakah kalian masih akan tetap berusaha menembaki aku?” seringainya dengan suara nyaring.


Thomas tak juga melepaskan Coco. Dia malah membawa pria itu menuruni tangga, hingga menuju pintu keluar. Tak dipedulikannya orang-orang yang saat menatap ketakutan terhadap dirinya. Namun, ketika Thomas hendak membuka pegangan pintu itulah, Coco melihat sebuah kesempatan. Tangan Thomas yang lurus terulur, dia hantam menggunakan lutut.


Siku Coco kemudian bergerak ke belakang dan menyasar perut Thomas. Pistol Coco yang berada di dalam genggaman Thomas pun sempat menyalak mengenai yang menggantung di sana, hingga membuat ruangan yang tidak terlalu luas itu menjadi gelap gulita. Untunglah karena wanita yang tadi berada di depan dan sempat memberitahukan nomor kamar dari Thomas Bolton, segera bersembunyi di bawah meja saat melihat keadaan yang menurutnya sangat berbahaya. Dia tampak ketakutan dan tak berani keluar dari bawah sana.

__ADS_1


Sementara itu, dengan hanya menggunakan insting, Coco segera memukul kepala Thomas lalu merebut pistol yang hampir terlepas dari tangannya. Akan tetapi, Thomas kembali berkelit dan menarik pistol yang sudah berada di tangan pria berambut ikal tersebut. Namun, Coco pun tak kalah gesit dari sang pembunuh bayaran tadi. Dia lebih dulu menarik pelatuk. Namun, Thomas juga bergerak dengan sangat cepat, dia mengelak dan memukul lengan Coco hingga pistol itu kembali terjatuh dan tergeletak di atas lantai.


Merasa posisi senjata tersebut berada sedikit jauh dari mereka, Coco pun tak berniat mengambilnya. Dia fokus saja untuk melawan dan menghajar Thomas. Namun, lagi-lagi sang pembunuh bayaran itu berhasil menangkis semua serangan dari Coco. Dia mencengkeram kepalan tangan calon adik ipar Mia itu, dan berusaha memelintirnya. Akan tetapi, tangan Coco yang lain bergerak dengan cepat kemudian memukul ulu hati Thomas, membuat pria dengan postur tegap tadi terhuyung ke belakang dan kehilangan keseimbangan.


Thomas terjengkang. Namun, dia berhasil membalikkan badan secepat mungkin. Pria itu juga hendak bergerak meraih pistol yang tergeletak begitu saja di lantai. Coco yang sudah dapat memperkirakan apa yang hendak Thomas lakukan, segera mencegahnya. Dia melompat ke atas tubuh Thomas, lalu mencengkeram erat pergelangan tangan pria berjanggut cukup tebal itu. Sekuat tenaga, Coco menarik tangan Thomas ke belakang dan memelintirnya dengan sangat kencang. Terbayang dalam ingatan Coco, wajah pucat Matteo dengan tubuh bersimbah darah kala itu. Makin jelas mimpi buruk tersebut hadir kembali di pelupuk matanya, maka semakin kencang dan kuat tenaga yang Coco kerahkan untuk dapat menghabisi Thomas. "Dengan tangan ini kau dan rekan-rekanmu menghabisi sahabatku!" geram Coco tanpa ampun lagi.


Terdengarlah pekikan kencang dari bibir Thomas. Namun, hal itu tak membuat Coco berhenti. Dia tak menggubris suara kesakitan yang meluncur dari sang pembunuh bayaran tadi. Coco malah semakin menguatkan gerakannya sampai terdengar bunyi retakan tulang. “Sepertinya sendimu mulai berputar arah,” Coco terkekeh puas.


“Sialan! Siapa kau? Aku tidak memiliki urusan denganmu!” Thomas berniat membalikkan badan dan menghadap kepada Coco, tapi pria berambut ikal itu lebih dulu mengangkat kaki kiri serta menginjak tangan Thomas yang masih berada dalam cengkeramannya. Apa yang Coco lakukan, telah membuat tangan sang pembunuh bayaran menjadi patah seketika. Dia memekik semakin nyaring demi merasakan sakit yang luar biasa.


"Rasakan itu, Brengsek!" geram Coco lagi. "Kita memang tak akan pernah berurusan, andai kau tidak menghabisi sahabatku Matteo de Luca!" balas Coco dengan tegas. Sesaat kemudian, dia memindahkan kakinya pada punggung Thomas. Berkali-kali Coco menginjak punggung pria itu, sampai Thomas tak sadarkan diri masih dalam posisi tertelungkup. Merasa belum puas hanya begitu, Coco melepaskan tubuh pria yang sudah tak berdaya itu. Dia meraih pistolnya dan memuntahkan beberapa peluru tepat di kepala dan punggung Thomas, bersamaan dengan turunnya para pria berseragam rompi anti peluru tadi. Rupanya mereka baru mengamankan para penghuni lain di penginapan tersebut, berhubung itu merupakan penyergapan yang sangat mendadak.

__ADS_1


__ADS_2