
Setelah pertengkaranya dengan sang istri tadi pagi, Adriano lebih memilih untuk berdiam diri di dalam ruang kerja. Dia tidak ikut sarapan, makan siang, ataupun makan malam bersama dengan Mia dan Miabella. Adriano juga tak menemui putri kecil kesayangannya, sehingga Miabella merasa kehilangan. Dia terus merengek kepada Mia agar diantarkan ke tempat sang ayah. Namun, Mia menolak hal itu karena rasa kesal dalam hati wanita itu belum sepenuhnya sirna.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Mia telah selesai menata bantal, seperti yang biasa dia lakukan sebelum tidur. Akan tetapi, Adriano ternyata tak juga kembali ke kamar. Wanita itu mengeluh pelan seraya masuk ke kamar mandi. Mia mencuci muka agar merasa sedikit segar. Setelah itu, dia masuk ke walk in closet. Ketika dirinya akan berganti pakaian dengan baju tidur, pandangan Mia justru tertuju pada sebuah lingerie hitam yang belum sempat dia kenakan. Lingerie itu merupakan hadiah dari Adriano beberapa minggu yang lalu.
Mia tersenyum kecil seraya mengambil pakaian seksi berbahan lace tersebut. Ibunda Miabella itu lalu melepas dress yang masih dia kenakan. Mia juga menurunkan pakaian dalam, kemudian menggantinya dengan lingerie two piece tadi.
Untuk sejenak, wanita cantik itu memperhatikan dirinya lewat pantulan cermin. Dia menggerai rambut cokelatnya yang panjang, merapikan dan menata dengan sedemikian rupa. Diambilnya sebuah lipstik berwarna merah, kemudian dia oleskan pada permukaan bibir. Setelah merapikannya, Mia kembali berdiri tegak dan memperhatikan dirinya. Sesekali, dia memutar tubuh ramping berbalut kulit kuning langsat itu. Mia lalu tersenyum. Setelah itu, dia meraih sebuah kimono dan segera dikenakan. Mia pun keluar dari sana, bahkan dari dalam kamar. Wanita itu melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke ruang kerja sang suami.
Setibanya di depan pintu, Mia mengela napas dalam-dalam seraya kembali merapikan rambut dan kimono. Dia menempelkan jemari sebagai akses masuk untuk membuka pintu otomatis tersebut. Ternyata, kali ini Adriano tak menguncinya, sehingga Mia dapat masuk dengan mudah.
Suasana temaram dengan pengharum ruangan beraroma kopi, seketika menyambut kehadiran Mia di dalam ruangan bernuansa merah itu. Mia lalu melangkah ke dekat meja kerja, di mana Adriano tampak memejamkam mata sambil duduk bersandar dengan segelas anggur di tangan kanan. Dia berdiri sesaat, memperhatikan pria tampan di hadapannya. "Kau tidak ingin keluar dari sini, Adriano?" tanya Mia pelan.
Seketika Adriano membuka mata. Dia menyangka bahwa yang masuk tadi adalah Pierre, bukanlah Mia. Tentu saja Adriano merasa terkejut melihat sang istri ada di sana. "Mia?"
"Aku harap kau tidak sedang memikirkan yang lain," ujar Mia mengalihkan pandangan ke segala arah.
"Sudahlah. Aku lelah," tolak Adriano. Dia tampak malas karena merasa Mia datang ke sana untuk melanjutkan pertengkaran mereka tadi pagi. "Jika kau kemari hanya untuk mengajakku bertengkar lagi, maka lupakanlah. Aku tak akan menanggapinya. Silakan lampiaskan kemarahanmu pada dinding ruangan ini," ujar Adriano seraya meneguk minuman dalam gelas yang masih dia genggam.
Namun, Mia tidak menanggapi ucapan pria itu. Dia masih berdiri dan menatap sang suami. Sesaat kemudian, wanita cantik berambut cokelat tersebut berjalan mendekat. Sementara Adriano mengikuti langkah gemulai sang istri dengan tatapannya, hingga Mia berdiri di sebelah kursi yang dia duduki.
__ADS_1
Tanpa diduga, Mia membuka tali kimono yang menutupi tubuhnya, kemudian melepas baju tidur berbahan satin itu. Sementara Adriano hanya mengeryitkan kening melihat sikap Mia. Namun, semua rasa heran itu seketika sirna, saat Mia mendekatkan wajah lalu menciumnya untuk beberapa saat. Adriano pun terengah, karena Mia menciumnya dengan tanpa jeda. Dia juga meringis kecil, setelah sang istri menggigit bibirnya ketika dia mengakhiri adegan ciuman mereka.
"Jadi begitu maumu? Baiklah." Adriano meletakkan gelasnya di atas meja. Secepat kilat dia menarik tubuh Mia, hingga wanita itu duduk menyamping di atas pahanya. Kini, giliran pria bermata biru tersebut yang membalas sikap nakal Mia tadi. Adriano mencium sang istri dengan dalam. Dia juga mulai menjamah beberapa bagian tubuh Mia yang selalu menjadi kesukaannya.
"Kenapa tidak memintanya langsung padaku?" bisik Adriano dengan tangan yang berada di balik salah satu cup penutup. Lihai jemarinya bermain di dalam sana, mere•mas dan memilin aset kebanggaan Mia, membuat si pemiliknya tak mampu berkata-kata. Setelah itu, Adriano tersenyum puas. Dia menghentikan kenakalan tersebut, kemudian meraih gelas di atas meja. Adriano kembali meneguk anggur merah di dalam gelas itu.
"Apa kau lebih menyukai menikmati anggur itu dibandingkan diriku?" Mia menatap kecewa kepada Adriano.
"Aku ingin menikmati kalian berdua secara bersamaan," balas Adriano menyeringai aneh.
"Maksudmu?" tanya Mia tak mengerti.
Adriano tidak menjawab. Dia hanya tersenyum kalem. Pria bermata biru itu kembali meraih gelas berisi anggur yang tinggal tersisa sedikit lagi. Diteguknya minuman tadi kemudian dia simpan di dalam mulut. Setelah itu, Adriano memegangi kedua pipi Mia dan menekannya sedikit hingga mulut sang istri sedikit terbuka. Tanpa diduga, dia menempelkan bibirnya yang berisi minuman tadi pada bibir Mia. Untuk beberapa saat, mereka melakukan hal itu. Adriano memang menikmati anggurnya dan Mia secara bersamaan. Beberapa saat kemudian, Adriano bangkit dan menegakkan tubuh. Dia juga menurunkan sang istri dari pangkuannya.
"Aku tidak pernah menyalahkanmu, Mia. Dengan bersedia menjadi milikku, maka kau sudah menjadi obat dari segala luka ini," sahut Adriano lembut dan dalam.
"Kau harta yang terlambat kutemukan. Namun, aku tak harus menyesalinya karena saat ini telah kumiliki. Aku tak akan rela jika ada wanita lain yang berusaha untuk mengambil dirimu dariku," ucap Mia kembali menjalarkan sentuhan tangannya pada tubuh tegap Adriano. Dia lalu tersenyum seraya menyambut sebuah ciuman panas yang membuat mereka berdua semakin terbakar.
Helaan napas Adriano terdengar begitu berat, ketika dia merasakan lidah Mia yang bermain dan menggelitik langit-langit mulut. Pria itu mere•mas pinggul wanita yang telah menjadi penguasa hatinya dengan gemas, termasuk ketika Mia menjalarkan ciuman penuh godaan pada sekitar leher, kemudian menjalar semakin ke bawah.
__ADS_1
Dengan cekatan, Mia menurunkan celana tidur Adriano, lalu segera menyambut sesuatu yang selama ini selalu dapat membuat dia merasa terbang ke nirwana. Mia segera melahapnya seperti seorang anak kecil yang tengah menjilati sebuah es krim, sebelum akhirnya memasukkan itu ke dalam mulut. Sementara Adriano menatapnya sambil membelai lembut rambut panjang sang istri. Tak berselang lama, dia pun menggenggam bagian belakang rambut itu.
Makin cepat Mia memainkan benda itu di dalam mulutnya, semakin berat pula helaan napas yang meluncur dari bibir Adriano. Pria itu semakin erat dalam menggenggam rambut panjang Mia. Lekat dia memperhatikan wajah cantik istrinya yang bergerak maju mundur dengan tatapan nakal. "Sei mia, Bella (Kau adalah milikku, Cantik)," ucap Adriano di sela ringisan kecilnya, karena menahan perasaan luar biasa yang ingin segera dia tuntaskan. Merasa semakin tak tahan, Adriano pun menghentikan gerakan Mia. Dia membantu wanita itu untuk berdiri, lalu membalikkan tubuh rampingnya. Adriano kemudian merapatkan punggung Mia ke dadanya.
Tanpa diminta, Mia mengangkat kaki sebelah kanan, ketika sang suami mulai melakukan penyatuan mereka. Sebuah desa•han panjang meluncur dari bibirnya, ketika Adriano memegangi kaki Mia yang terangkat tadi. Pria itu menghentakkan tubuh ibunda Miabella tersebut dari belakang. Sementara Mia sendiri melingkarkan sebelah tangan pada leher pria bermata biru tersebut. Sesekali, dia menyandarkan kepala pada pundak Adriano dengan wajah mendongak. Tak kuasa diri Mia merasakan setiap cumbuan mesra sang suami.
"Oh, Adriano ...." desah tertahan Mia dengan tubuh yang terus terhentak. Sementara Adriano sesekali menciumi leher dan daun telinga Mia, membuat wanita bermata cokelat itu meringis kecil kala menahan rasa geli bercampur nikmat yang terus menderanya.
"Kau sangat luar biasa, Sayang," bisik Mia lagi.
Adriano menyeringai puas. "Kau juga, Mia. Aku sangat mencintaimu," balas Adriano.
"Aku juga sangat mencintaimu," balas Mia memalingkan wajahnya ke samping, menyambut kembali ciuman Adriano.
Sementara itu, Pierre berdiri di luar untuk masuk ke ruang kerja tersebut. Di tangannya tergenggam sebotol anggur yang baru dia ambil dari ruang khusus penyimpanan. Rencananya, malam itu dia akan menemani sang majikan untuk minum bersama. Namun, ternyata akses masuknya ditolak. Pierre pun berdiri di sana hingga beberapa saat lamanya.
Sekitar satu jam kemudian, pintu otomatis itu terbuka. Tampak Mia yang tersenyum lebar sambil merapikan rambutnya. Dia begitu terkejut saat melihat Pierre yang tiba-tiba muncul dari sisi sebelah lain pintu. "Pierre, sejak kapan kau di sini?" tanya Mia.
"Sejak satu jam yang lalu," jawab pria asal Perancis itu seraya mengulum senyumnya lalu mengangguk sopan, ketika melihat Adriano muncul.
__ADS_1
Wajah pria tiga puluh dua tahun tersebut tampak jauh lebih ceria jika dibandingkan dengan siang tadi. "Pierre?" sapa Adriano. Dia melirik botol minuman yang ada di dalam genggaman sang ajudan. Adriano pun tersenyum simpul. "Simpan saja di dalam, karena aku harus menemani Mia ke kamar. Acara minum bersamanya kita tunda untuk lain kali saja," pria bermata biru itu menepuk lengan Pierre, lalu meraih jemari Mia dan menggenggamnya. Sementara Mia hanya tersenyum, seraya menyelipkan rambut pada sela-sela telinga sebelah kanan. Dia mengikuti langkah tegap sang suami, yang menuntunnya menuju kamar mereka.
Lain halnya dengan Pierre. Lajang empat puluh tahun tersebut hanya dapat mengempaskan napas pelan seraya menggeleng. Hatinya kini mulai dilanda kegalauan, antara tetap sendiri atau mulai mencari seorang pasangan.