Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
In the Dark Night


__ADS_3

“Kami sering berbincang tentang segala hal di tempat ini sampai dini hari,” terang Damiano, sepasang mata tuanya menerawang jauh pada kegelapan malam yang menyelimuti kebun anggur. Lahan luas dengan hamparan pepohonan sejauh mata memandang. Dia lalu menoleh pada Adriano yang tak sedikit pun melepaskan pandangan dari dirinya.


“Kau tahu, Nak? Kepribadian kalian sungguh jauh berbeda. Theo yang selalu berapi-api dan dirimu yang tenang bagaikan air. Namun, entah kenapa aku melihat satu kesamaan di antara kalian,” Damiano mengalihkan perhatiannya pada Adriano. Mata tua itu menyiratkan kepiluan.


“Mungkin kesamaan itu adalah, kami sama-sama sangat mencintai Mia,” sahut Adriano seraya mencondongkan badan dan menumpukan siku pada tembok pembatas.


“Ya, itu adalah salah satunya. Akan tetapi, ada satu hal lain yang benar-benar mirip. Kalian sama-sama gigih dalam memperjuangkan segala sesuatu, meskipun dengan cara yang berbeda,” Damiano terkekeh, lalu mendekatkan dirinya pada Adriano. “Kau juga sangat menyayangi Miabella, seakan-akan anak itu adalah darah dagingmu sendiri,” imbuhnya.


“Aku sendiri pun tak tahu, Damiano. Setiap kali aku melihat Miabella, rasanya seolah-olah dia adalah bagian dari diriku. Aku sudah menyayangi anak itu sejak pertama kali melihatnya, saat dia masih berumur beberapa hari di rumah sakit,” angan Adriano melayang ke saat-saat dimana dirinya menjenguk Mia yang baru saja melahirkan.


“Kuharap rasa itu tak akan pernah berubah. Jika suatu saat nanti waktuku telah habis di dunia, kutitipkan Miabella padamu ....”


“Kau selalu kudoakan untuk berumur panjang, Damiano,” potong Adriano. “Jangan berbicara seperti kau akan pergi, aku tidak menyukainya.”


Damiano kembali tertawa. “Kau tak pernah tahu sampai berapa lama usia manusia, Nak. Bisa saja kita bercakap-cakap seperti sekarang, lalu beberapa saat ke depan ... seperti saat itu ... tiba-tiba saja ....” pria tua tersebut menjadi tergagap, bicaranya jadi tak beraturan, kemudian menangis lirih. Tak biasanya Damiano memperlihatkan sisi lemahnya.


“Matteo pasti sangat berbahagia, ketika dia pergi, dirinya meninggalkan banyak orang yang menangis sedih dan merasa kehilangan. Sudah jelas terlihat bahwa banyak orang yang menyayanginya,” hibur Adriano sembari melingkarkan tangan di pundak Damiano seraya menepuknya lembut.


“Mungkin salah satu alasan Tuhan tidak mencabut nyawaku saat itu adalah karena aku belum menemukan seseorang yang tulus menyayangiku. Jika saat itu aku mati, entah siapa yang akan menangisi kepergianku,” lanjut Adriano yang kemudian menunduk dan diakhiri dengan tawa getir.


“Tuhan tak pernah membiarkanmu sendirian. Akan selalu ada orang yang mencintaimu, walaupun kadang orang itu tak terlihat. Ingat selalu akan hal tersebut, Nak,” senyuman hangat khas seorang ayah, tersungging dari bibir Damiano yang seketika membuat Adriano terpaku untuk beberapa saat.


“Bolehkah aku memelukmu? Kau seperti seorang ayah yang lama tak kutemukan,” pinta Adriano dengan suara bergetar.


“Kau tak perlu memintanya, Nak,” Damiano dengan segera merangkul dan memeluk Adriano cukup lama, sampai suara seseorang memanggil namanya.


“Kukira kau pergi lagi ke apartemenmu,” tampaklah Mia yang berdiri tak jauh dari dua pria berbeda generasi itu. Dia tengah mengeratkan kimononya, lalu bersedekap.


Adriano serta Damiano menoleh secara bersamaan. Sesaat kemudian, sang ketua Tigre Nero itu kembali mengalihkan perhatiannya kepada Damiano. “Mia sekarang tak dapat tidur nyenyak jika aku tak memeluknya,” bisik pria bermata biru itu membuat Damiano tertawa.

__ADS_1


“Pergilah. Aku juga akan beristirahat. Punggungku mulai terasa sakit,” ujar Damiano sebelum dirinya berjalan ke arah yang berbeda dengan Adriano dan juga Mia.


“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Mia ketika mereka melangkah menyusuri lorong menujuk kamar.


“Tidak ada, hanya obrolan ringan. Kenapa kau terbangun?” Adriano merengkuh erat tubuh istrinya, sambil terus berjalan hingga tiba di depan pintu kamar yang terbuka.


“Aku terbangun karena tak menemukanmu di sampingku,” jawab Mia manja.


“Astaga,” gemas, Adriano mengangkat tubuh wanita itu, kemudian memanggulnya di pundak. Dia lalu menjatuhkan tubuh Mia ke atas ranjang. “Ayo, kita tidur,” Adriano ikut melompat dan berbaring di samping Mia, lalu kembali mendekapnya erat. Tingkah laku mereka saat itu, persis seperti remaja belasan tahun. Tak berselang lama, mereka terlelap dalam mimpi, hingga tak sadar ketika pagi tiba dan Miabella membuka pintu kamar.


“Daddy Zio! Ada yang mencarimu!”


Dengan penuh semangat, Miabella mengguncang-guncangkan tubuh Adriano.


“Ada apa, Principessa?” mata Adriano masih tampak mengantuk, tapi dia paksakan untuk bangun dan duduk menghadap balita cantik itu. Begitu pula Mia yang ikut terbangun mendengar teriakan nyaring putrinya.


“Ya, ampun. Sepagi ini sudah ada penggemar yang mencarimu, Adriano,” keluh Mia. Dia menyibakkan selimut, lalu turun dari ranjang. Sembari berjalan menuju kamar mandi, dia menggulung rambutnya dan menghampiri Miabella. “Kau belum mandi, Sayang? Ayo mandi bersamaku,” ajaknya lembut. Mia kemudian menggendong putrinya ke kamar mandi. Begitu pula dengan Adriano yang ikut turun dan segera mengikuti istri serta putrinya.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Adriano untuk membersihkan dan merapikan diri. “Aku keluar dulu, Sayang. Nanti susul aku di ruang tamu, ya,” serunya sambil terburu-buru ke luar kamar. Sayup-sayup terdengar jawaban Mia yang mengiyakan. Senyum kalem pun terkembang di wajah tampannya. Bagi Adriano, semenjak menikah dengan Mia, setiap pagi adalah anugerah.


Senyuman itu terus bertahan sampai langkah kakinya berhenti di ruang tamu. Adriano tertegun ketika dia melihat sosok perempuan yang bertamu di Casa de Luca sepagi itu. “Untuk apa kau kemari, Gianna?” tanya Adriano dengan dingin. Nada bicara seperti itu dia tujukan pada seseorang yang tak lain adalah adik tirinya.


“Tolong aku, Adriano,” tak seperti saat terakhir mereka bertemu, kali ini tak ada aura keangkuhan sama sekali dari gadis itu. Wajahnya terlihat begitu memelas.


“Apa yang harus kubantu?” Adriano melipat tangannya di dada.


“Padre ... Padre ....” Gianna terbata.


“Ada apa dengan Padre?” pria bermata biru itu mulai tak sabar, terdengar dari intonasinya yang sedikit meninggi.

__ADS_1


“Tadi pagi saat Padre hendak berangkat kemari, ada beberapa orang menyergapnya di depan pagar. Mereka lalu membawanya entah ke mana. Orang-orang itu memasukkan Padre ke dalam kendaraan berwarna hitam. Aku masih mengingat dengan jelas plat nomornya,” terang Gianna.


Adriano mengembuskan napas pelan sembari menyugar rambutnya. “Apa kau mencurigai seseorang?” tanyanya kemudian.


“Entahlah. Wajah mereka tampak asing. Aku belum pernah melihatnya. Mungkin saja mereka adalah orang-orang suruhan untuk menagih utang,” jawab Gianna teramat lirih sambil menunduk dalam-dalam.


“Lalu, bagaimana dengan ibu dan kakak-kakakmu? Apa yang mereka lakukan? Kenapa kau malah menyusulku kemarii?” cecar Adriano mulai terlihat kesal.


“Mereka terlalu takut untuk keluar rumah,” jelas Gianna ragu-ragu.


Adriano tertawa dengan nada yang meremehkan. Tak disangka, saudara-saudara dan ibu tirinya hanyalah sekumpulan pengecut. Tak pantas rasanya mereka menyandang nama besar Moriarty. “Ya, ampun,” dia menggelengkan kepala pelan.


Saat itu, Mia muncul dari ruang tengah. Langkahnya anggun mendekati Adriano sambil menggandeng Miabella. Ibu dan anak tersebut sudah tampil rapi dan cantik. “Kenapa tidak dipersilakan duduk, Adriano?” tanya Mia lembut.


Adriano tak segera menjawab, dia mendekati Mia lalu membisikkan sesuatu di telinganya. Miabella yang tak dapat mendengar apapun, buru-buru mendekat pada ayah sambungnya itu dan menarik-narik celana yang Adriano kenakan.


“Astaga, lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Mia lagi. Suaranya cukup pelan, tetapi Gianna masih dapat mendengarnya.


“Aku membutuhkan bantuan Adriano, Nyonya. Tolong selamatkan ayahku,” sela Gianna seraya menangkupkan tangannya di dada.


Perasaan Mia yang teramat lembut, tentu tak dapat menolak permintaan saudara tiri Adriano itu. Dengan terpaksa, dia mengangguk sambil memaksakan senyum pada Gianna,


“Berhati-hatilah dan cepat pulang. Aku menunggumu,” tanpa ragu, Mia mencium bibir Adriano untuk sesaat. “Terus kabari aku. Biarkan ponselmu tetap menyala," pesannya dengan rona cemas.


🍒🍒🍒


Hai, readers. Ceuceu kembali membawa rekomendasi novel keren untuk dibaca.


__ADS_1


__ADS_2