
"Tuan muda, coba Anda lihat ini." Carlo menyodorkan teropongnya kepada Romeo yang tengah asyik membalas pesan dari seseorang.
Romeo pun segera menghentikan aktivitasnya. Dia memasukkan ponsel ke dalam jaket, kemudian menerima teropong yang Carlo sodorkan padanya. Kakak dari Tobia tersebut mulai mengintai dari jarak yang cukup jauh. Dia melihat hal sama seperti yang Carlo saksikan tadi. Ketiga pria berpakaian hitam itu tampak memberi arahan kepada Oxana. Sedangkan gadis cantik berambut pirang tersebut hanya manggut-manggut. Entah apa yang tengah mereka bicarakan, karena tak berselang lama si gadis pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Keluarlah, Carlo. Kita coba ikuti ketiga pria itu," titah Romeo. Dia mengenakan kembali topi baseballnya dan bersiap menyalakan mesin mobil.
Sesuai perintah dari putra sang ketua klan, Carlo pun keluar. Dia bergegas menaiki motor yang terparkir tak jauh dari kendaraan milik Romeo. Setelah menghidupkan motornya, Carlo kemudian mengikuti laju kendaraan yang dikemudikan oleh putra dari Marco tersebut. Sedangkan, sulung dua bersaudara itu sendiri mengikuti sebuah SUV hitam yang berada beberapa meter di depan. Mobil tadi melaju ke arah pinggiran kota, kemudian berhenti di halaman sebuah bangunan satu lantai yang tidak terlalu besar.
Suasana di sana terbilang sepi, karena jarak antar bangunan juga saling berjauhan. Romeo menghentikan mobilnya di bawah sebuah pohon yang berada beberapa meter jauhnya dari halaman bangunan tadi.
Sementara Carlo yang mengendarai motor, ikut memarkirkan kuda besinya tepat di belakang kendaraan milik Romeo. Awalnya dia duduk saja sambil mengawasi, hingga pria itu melihat Romeo keluar dari mobil dan berjalan menghampiri ke arahnya.
"Aku ingin tahu apa yang mereka lakukan di dalam," ujar Romeo seraya berdiri di sebelah motor Carlo.
"Jangan gegabah, Tuan muda. Kita belum tahu siapa dan seperti apa kekuatan mereka," tegur Carlo berhati-hati.
__ADS_1
"Kita lakukan dengan penuh kewaspadaan," ucap Romeo lagi tetap pada pendiriannya. "Kuharap kau membawa senjata sebelum pergi."
"Aku selalu membawanya ke manapun. Akan tetapi, ada baiknya kita awasi dulu pergerakan mereka dari sini," saran Carlo yang tidak ingin ambil risiko. Bagaimanapun juga, dia masih memiliki tugas dan tanggung jawab atas diri Miabella. Carlo tak ingin mati konyol di sana. Dia terbiasa bergerak atas perhitungan yang sangat matang, jika bukan karena benar-benar terdesak seperti kejadian penculikan kemarin.
"Baiklah jika kau ingin tetap mengawasi dari sini," ucap Romeo pada akhirnya. Dia berdiri di sebelah Carlo yang kemudian turun dari motor.
"Sebentar, Tuan muda. Aku harus menjawab telepon dulu." Carlo berjalan sedikit menjauh dari Romeo. Saat itu, Miabella yang menghubunginya. Gadis cantik tersebut menanyakan keberadaan sang pengawal yang tak kunjung pulang. Akan tetapi, setelah panggilan dari Miabella berakhir, ternyata bersambung pada panggilan dari Adriano. Carlo pun harus menjawab dan berbincang beberapa saat dengan sang majikan.
Sedangkan Romeo mulai merasa jenuh. Tanpa berkoordinasi terlebih dahulu dengan Carlo, pemuda dua puluh tahun tersebut berjalan mendekat pada bangunan yang sedang mereka awasi. Usia muda dengan gejolak yang menggebu-gebu, membuat dirinya tak bisa menahan diri. Romeo terlalu penasaran dan langsung saja mengikuti kata hati, meskipun dia belum sepenuhnya berpengalaman.
Putra sulung sang ketua Klan de Luca tersebut melihat sebuah meja. Benda itu sepertinya berukuran cukup besar, meskipun yang tampak hanya sebagiannya saja. Tak berselang lama, muncul tiga pria yang tadi mereka ikuti. Ketiganya duduk di sana dengan ditemani beberapa botol minuman keras. Terdengar pula percakapan di antara mereka menggunakan bahasa yang tak bisa Romeo pahami. Pemuda itu pun segera mengeluarkan ponsel, kemudian mulai merekam.
Romeo melakukannya dengan sangat hati-hati. Wajah ketiga pria tadi tampak jelas pada layar ponselnya. Namun, ternyata dia menangkap ada suara lain. Seseorang yang dipanggil dengan nama Czar. Sebelumnya, pemuda dua puluh tahun tersebut telah mendengar nama itu berkali-kali disebut, ketika dia dan Miabella menjadi korban penculikan. "Ah sial! Apa yang mereka bicarakan?" gumam Romeo pelan. Meskipun begitu, si pemuda tak berhenti merekam, hingga dia merasakan sesuatu yang menyentuh kepala bagian belakangnya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Anak kecil?" tegur seorang pria dengan bahasa asing seperti yang digunakan oleh pria-pria di dalam. "Artem! Dmitriy! Bogdan! Kalian kedatangan tamu rupanya!" seru si pria memanggil ketiga rekan yang lain. Dia masih menodongkan senjata ke dekat kepala Romeo.
__ADS_1
Sontak, ketiga pria yang berada di dalam pun menjadi terkejut. Sedangkan pria satu lagi yang berada di luar dan sedang menodongkan pistol kepada Romeo, tampak tertawa puas. Namun, tawanya seketika sirna, ketika sebuah lengan kekar berbalut jaket berbahan jeans milik Carlo melingkar di lehernya. Pria tadi tersentak dan refleks menarik pelatuk senjata yang dia pegang. Sebuah letusan pun terdengar. Untunglah Romeo sudah lebih dulu menghindar.
Dengan gerakan cepat, Carlo menarik pria tadi ke bagian samping rumah, bersamaan dengan keluarnya ketiga pria yang tadi disebutkan. "Hey!" seru salah seorang dari mereka saat melihat pergerakan Carlo yang membawa salah satu temannya ke balik dinding.
Sementara Carlo terus mengencangkan cekikan lengannya hingga pria tadi meronta. Setelah itu, dia memegangi kepala si pria lalu membenturkannya pada dinding berkali-kali, hingga darah segar mengucur deras dari sana. Sedangkan Romeo, menahan pergerakan ketiga pria yang akan menghampiri mereka dengan sebuah tembakan.
"Inilah yang tidak kusukai," gerutu Carlo. Dia berbalik, karena dari arah belakang ternyata ada sekitar tiga orang lainnya yang muncul dan hendak menyerang mereka. Ketiga pria tinggi besar tadi tidak datang dengan membawa senjata api, melainkan sebuah belati yang sama persis seperti malam itu.
Carlo pun mulai bersiap. Dia mengeluarkan sebuah barnekel dari saku jaket, kemudian memasangkannya pada tangan kanan. "Majulah satu per satu," tantangnya. Dia mengambil sikap kuda-kuda saat salah seorang mendekat sambil mengarahkan belati ke arahnya.
Dengan gerakan yang cepat, Carlo berkelit ke samping dekat dinding bangunan. Dia menangkap tangan pria yang memegang belati tadi, lalu menahannya menggunakan tangan kiri. Sementara tangan kanan yang sudah dipakaikan barnekel, dia pukulkan ke rahang pria itu dengan keras. Carlo lalu menariknya dan memutar tubuh pria tadi hingga menempel pada dadanya dengan posisi membelakangi. Tangan kiri yang masih digunakan untuk memegangi pergelangan musuh, dia arahkan ke dada si pria sehingga belati itu menusuk dan mengoyak perut si pemiliknya.
Satu lawan tumbang dengan senjata sendiri. Kini, tersisa dua lagi yang siap menyerang. Mereka maju secara bersamaan. Hal itu membuat Carlo harus jauh lebih sigap. Dengan teknik sama seperti tadi, sang pengawal rupawan tersebut menghadapi dua orang yang terus menyerangnya secara membabi buta.
Sementara di lain posisi, Romeo sibuk beradu tembak dengan pria yang kini hanya tinggal satu orang. Satu di antaranya telah terluka, dan satu lagi menghilang. Sepertinya dia masuk untuk melapor kepada seseorang yang berada di dalam. Seorang pria yang mereka panggil Czar.
__ADS_1