Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
A Drop of Tears


__ADS_3

Adriano terbang dari Yunani menuju Italia dengan perasaan tak menentu. Sepanjang perjalanan, Mia yang duduk di sebelah sang suami terus menggenggam tangan, menghibur, serta memberinya semangat. Demikian halnya dengan Miabella yang terus bertingkah lucu selama di dalam pesawat. Sikap balita cantik itu sedikit banyak mampu menghilangkan rasa sedih Adriano.


Satu jam perjalanan terasa begitu lama bagi seseorang dengan perasaan harap-harap cemas seperti Adriano. Ingin rasanya dia cepat sampai, agar segera dapat mengikuti prosesi pemakaman sang nenek yang telah sekian lama tidak dia temui.


“Daddy Zio, apa kau sedang bersedih?” celoteh Miabella tiba-tiba. Dia duduk dengan posisi menghadap kepada sang ayah sambung. Sementara Damiano duduk di samping gadis kecil itu. Miabella yang heran melihat sikap Adriano, sesekali melirik Damiano dan juga sang ibu. Mata abu-abunya tak henti mengamati wajah-wajah yang sama sendunya dengan ekspresi sang ayah.


“Apakah aku terlihat bersedih, Principessa?” Adriano balik bertanya sambil memaksakan senyum. Dia sadar, tak seharusnya memperlihatkan sikap yang demikian di hadapan putri kesayangannya.


“Iya, kau sepertinya sedang sedih,” Miabella mengangguk-angguk lucu sembari memegang dagu, meniru gerakan Damiano ketika sedang berpikir. Adriano pun tersenyum lebar saat melihatnya.


Tingkah lucu Miabella, memang akan selalu menjadi obat di kala kesedihan dan kegalauan tengah melanda pria itu. Sama halnya seperti dulu, saat dirinya dirundung rasa bersalah, setelah mendengar ucapan dari Sergei. Adriano menjaga jarak dengan Mia, tapi tidak dari Miabella.


Adriano tertawa lepas saat itu, kemudian tersenyum simpul. “Kenapa kau lucu sekali? Jadi, apa yang harus kulakukan agar dapat kembali ceria sepertimu?” tanyanya.


“Tidak ada. Ibu pernah mengatakan padaku bahwa menangis itu tidak apa-apa. Aku juga sangat sedih waktu ayahku tidak kunjung pulang. Kata kakek Damiano, ayah sudah bahagia di surga. Langsung saja sedihku menghilang,” Miabella berceloteh penuh semangat.


Semua yang ada di sana seketika terdiam mendengar kata-kata polos Miabella. Tak terkecuali Mia. Bayangan wanita itu kembali pada saat di mana Matteo tergeletak bersimbah darah dalam pangkuannya. “Kau benar, Sayang,” ucap Mia beberapa saat kemudian. “Kita tidak boleh menangisi seseorang yang sudah berbahagia,” gumamnya seraya menunduk, lalu menoleh ke arah jendela.


“Ya, ampun. Sekarang giliran ibu yang bersedih. Bagaimana ini, Kakek?” Miabella menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


Kali ini, Damiano lah yang tak mampu menahan tawanya. “Biarlah, Bella. Asalkan kau tidak ikut-ikutan sedih,” sahut Damiano seraya mengelus lembut pucuk kepala cucu kesayangannya itu.


“Terima kasih, Principessa. Kau telah mengembalikan keceriaanku,” ujar Adriano pelan. Sekilas, ekor mata birunya melirik kepada Mia yang masih menerawang ke luar jendela. Adriano lalu mengalihkan perhatian kepada sang istri. Digenggamnya jemari lentik Mia,. Dia lalu berbisik di telinga wanita itu, “Kalau begini, rasa sedihku berganti menjadi marah dan cemburu. Jangan katakan bahwa saat ini kau kembali meratapinya.”


Mia segera menoleh dengan mata terbelalak. “Aku tidak sedang meratap, Adriano,” suara Mia terdengar begitu lirih dan sebisa mungkin dia atur, agar Damiano dan Miabella tak bisa mendengarnya. Mia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga sang suami. “Aku sedang memikirkanmu yang keras kepala. Selalu saja membahayakan nyawa entah untuk apa. Apa kau tak bisa membayangkan sedikit saja, bagaimana rasanya menjadi aku yang setiap saat selalu merasa ketakutan? Takut jika kejadian mengerikan itu terulang kembali,” bisik Mia dengan intonasi yang penuh penekanan.


Adriano sudah hendak menanggapi ucapan Mia. Akan tetapi, seorang awak kabin yang dia sewa untuk menemani perjalanan udara, memberitahukan jika sebentar lagi jet pribadinya akan mendarat di bandara Malpensa yang terletak di dekat kota Milan. Fokus Adriano teralihkan pada Miabella. Dengan telaten dia memasang serta mengeratkan sabuk pengaman balita tersebut. Setelah itu, dia membetulkan sabuk pengaman Mia. Sedikit goncangan yang tak berarti, mengiringi pendaratan pesawat prbadinya. Beberapa saat kemudian, Mia akhirnya bernapas lega, ketika awak kabin membuka pintu pesawat dan mempersilakan mereka untuk keluar.


“Senang terbang bersama Anda, Tuan dan Nyonya,” ucap pramugari itu dengan senyum ramah.


Adriano tidak menjawab. Dia hanya menanggapinya dengan mengangguk pelan. Perasaan tak nyaman kembali hadir saat kakinya melangkah turun dari tangga pesawat, dan memasuki sebuah mobil jemputan yang sudah siap mengantarnya ke manapun. “Tidak apa-apa kan jika kita langsung ke pemakaman?” tanyanya kepada Damiano.


“Kasihan sekali nenek. Siapa yang mengurusi pemakamannya?” Adriano mengembuskan napas panjang seraya menggeleng lemah.


Akan tetapi, jawaban dari pertanyaan itu segera terjawab setelah mereka tiba di area pemakaman umum, perbatasan kota Milan.


Emiliano sudah mengurus semuanya dengan baik. Dia berdiri paling depan, saat prosesi penguburan jenazah berlangsung. Tak terlalu banyak yang hadir di sana. Mereka segera mengalihkan perhatian, ketika rombongan Adriano tiba. Begitu pula saat pria bertubuh jangkung itu berdiri di sebelah Emiliano yang sempat meliriknya sejenak. Namun, tak ada kata yang terucap dari pria paruh baya tersebut, berhubung saat itu seorang pendeta tengah memberikan khutbahnya.


Adriano tampak begitu khusyuk mengikuti acara pemakaman sang nenek hingga usai. Sepasang mata birunya lekat memperhatikan pusara wanita tua, yang baru dia temui lagi setelah puluhan tahun berlalu. Untunglah karena saat itu dia berlindung di balik kaca mata hitam, sehingga tak ada yang tahu bahwa matanya kembali berkaca-kaca.

__ADS_1


Siapa yang dapat menyangka bahwa seseorang yang bisa berlaku bengis seperti Adriano, tetap menangis saat dirinya merasa kehilangan. Dari sana pula, Adriano dapat sedikit merasa lega. Dia bersyukur tak ada di dekat ibunya, ketika wanita itu meninggalkan dunia ini. Jika saat itu dirinya menyaksikan sendiri kepergian Domenica, maka bukan tak mungkin hal tersebut akan semakin menjadi beban berat bagi dirinya.


Lamunan Adriano seketika buyar, ketika Emiliano menyentuh pundaknya. "Aku akan segera mengurus pembangunan makamnya," ucap pria paruh baya itu.


"Terima kasih, Padre," balas Adriano melirik sang ayah yang memilih untuk tak banyak bicara. Emiliano tahu dan sadar betul bahwa Adriano pun tak berminat untuk berbasa-basi dengannya. Pria itu lebih memilih menyapa Damiano.


"Maaf karena acara liburan kalian menjadi terganggu," sesal Emiliano yang dutujukan kepada Dmiano.


"Oh, tidak masalah sama sekali," sahut Damiano ramah. "Aku turut berduka cita, Tuan Moriarty," ucap pria itu lagi.


"Terima kasih, Tuan Baresi. Ini sesuatu yang tak diduga sama sekali. Padahal baru kemarin aku menemuinya, dan dia terlihat sehat," terang Emiliano dengan nada penuh sesal. Dia sempat menoleh kepada Mia. Tanpa sebuah sapaan langsung, keduanya saling tersenyum dan mengangguk ramah.


"Begitulah umur, Tuan Moriarty. Hal itu benar-benar merupakan rahasia Tuhan. Kita tidak akan pernah tahu, mungkin saja hari esok merupakan giiran Anda atau diriku yang harus menghadap Tuhan. Karena itulah, aku selalu berusaha untuk melakukan segala yang terbaik," sahut Damiano. Tatapannya tak juga lepas dari sosok tegap Adriano. Pria dengan kemeja hitam itu masih berdiri terpaku memperhatikan pusara Matilda.


"Anda memang pria yang baik, Tuan Baresi," ujar Emiliano menanggapi. "Aku beruntung bisa mengenal orang seperti Anda," ujar Emiliano.


"Semua orang terlahir dalam kebaikan, Tuan Moriarty. Setiap bayi yang datang ke dunia ini, disambut dengan suka cita dan harapan-harapan luar biasa untuk masa depannya. Tinggal kita selaku orang tua akan membawa dan mengarahkan mereka ke mana. Begitu juga dengan orang dewasa yang telah lama hidup di dunia. Sejahat apapun dia, Tuhan masih menciptakan satu rasa yang akan selalu tersentuh oleh air mata. Aku yakin itu. Orang terkejam sekalipun sebenarnya masih memiliki hati, tetapi mungkin tak mereka hiraukan atau bahkan diabaikan dengan sengaja," tutur Damiano.


"Ya, Anda benar sekali," sahut Emiliano lagi.

__ADS_1


Sementara Adriano masih terdiam di tempatnya berdiri. Pikirannya melayang ke masa silam, hingga dering ponsel menyadarkannya. Nama Arsen muncul di sana


__ADS_2