
Don Vargas dan beberapa orang di luar, bergegas masuk mengikuti arah suara anak buahnya. Seketika, bau anyir darah menusuk indra penciuman semua yang berada di dalam sana. “Apa-apaan ini?” mata Don Vargas terbelalak melihat noda cipratan darah hampir rata menutupi dinding gedung yang berwarna putih. Akan tetapi, warna darah itu sudah mulai memudar. “Apakah ini bekas lokasi pembantaian zaman perang, Don?” tanya salah seorang anak buahnya hati-hati.
“Tidak,” Don Vargas membungkuk dan mengusap noda darah pada tembok itu dengan ujung jemarinya. “Aroma darah akan menghilang setelah bertahun-tahun lamanya. Jelas noda dan bau menyengat ini menandakan bahwa darah ini masih baru,” lanjutnya.
“Tetaplah waspada,” tegas Don Vargas seraya mengarahkan jari telunjuk pada semua anak buahnya.
“Don!” panggil Pedro lagi yang saat itu berada agak jauh di depan Don Vargas. “Aku menemukan sesuatu,” pemuda itu menunjuk ke salah satu pintu yang terletak di ujung lorong. Hati-hati dia memasuki ruangan tersebut.
Don Vargas mengikuti dari belakang bersama anak buah yang lain. Kedua tangan pria itu erat memegang pistol yang diacungkan ke segala arah. Raut wajahnya pun tampak semakin tegang ketika di ruangan itu, dia melihat banyak sekali monitor berlayar datar yang tertempel di seluruh sudut ruangan. Di tengah-tengah ruangan tersebut terdapat meja panel yang berbentuk memanjang. Meja itu penuh dengan tombol-tombol yang tak diketahui fungsinya.
“Apa-apaan ini?” sentaknya saat dia melihat pada satu layar monitor yang merekam semua pergerakan sejak dia dan pasukannya tiba di Menara Hitam.
“Ada yang mengawasi kita, Don. Rupanya kita tidak sendirian di tempat ini, ” desis Pedro dengan perasaan was-was.
“Berarti memang betul dugaanku. Nenad masih ada di tempat ini. Dia tak pernah meninggalkan Menara Hitam. Itulah sebabnya kita tidak bisa menemukannya di manapun,” geram Don Vargas. Matanya kemudian beralih pada monitor lainnya yang memuat rekaman gambar seluruh sudut area Menara Hitam. Dia berhenti pada salah satu monitor yang menampilkan gedung berbentuk memanjang dan berada paling depan. Benda itu merupakan yang terdekat dengan tembok pembatas.
Don Vargas memicingkan mata. Dia memperhatikan dengan saksama gambar yang terdapat di layar tadi. “Apa kalian melihatnya?” tanya pria itu tiba-tiba.
“Melihat apa, Don?” Pedro balik bertanya.
“Lihatlah di layar itu. Aku melihat adanya pergerakan,” jawabnya sambil menyeringai.
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Don?” pria bertubuh kurus dan jangkung tadi mulai membuka suara.
“Kita sisir gedung itu! Instingku mengatakan bahwa ada sesuatu yang bersembunyi di dalam sana,” tanpa menunggu tanggapan dari anak buahnya, Don Vargas berlalu keluar dari ruangan begitu saja. Dengan setengah berlari, dia menuju gedung yang dimaksud tadi.
Bangunan lawas itu tampak begitu angker. Seluruh sisi dindingnya seperti bekas hangus terbakar dan berwarna kehitaman. Don Vargas membuka pintu utama gedung tersebut dengan cara menendangnya kencang, sampai salah satu daun pintu yang berjumlah dua buah itu jebol seketika. Namun, suasana begitu lengang di dalam sana. Terlalu senyap, hingga membuat Don Vargas curiga. “Di mana mereka menyembunyikan kamera yang tadi mengawasi kita? Apakah mereka dengan sengaja membiarkan kita masuk?” desisnya pelan lalu terdiam. Dia tampak berpikir untuk beberapa saat sebelum mendongak. Sorot matanya yang tajam dia arahkan pada Pedro yang sudah lebih dulu bergerak menyusuri pintu demi pintu di dalam bangunan itu.
__ADS_1
“Pedro! Kembali ke sini! Sepertinya ini jebakan!” seru Don Vargas kemudian. Namun, peringatannya terlambat. Baru saja Pedro berjalan satu langkah, sebuah peluru melesat entah dari mana asalnya dan langsung menembus kening anak buah Don Vargas tersebut. Pedro roboh setelah sempat menembakkan pistolnya ke segala arah.
“Sialan!” umpat Don Vargas. Sementara anak buahnya yang lain membentuk lingkaran mengelilingi pria itu untuk melindunginya. Mereka semua berada dalam posisi sigap dan waspada. “Kita benar-benar dijebak! Mereka memang sengaja membiarkan kita masuk ke dalam sini!” teriak Don Vargas sembari mengarahkan anak buahnya untuk ke luar gedung.
Namun, baru saja satu kaki Don Vargas menginjak tanah berumput di luar gedung, satu anak buahnya yang berada di belakang ikut tertembak oleh peluru yang lagi-lagi tak diketahui asalnya. Dia tewas seketika, sedangkan darah yang berasal dari dada kiri pria malang itu memuncrat hingga mengenai kemeja putih Don Vargas.
“Brengsek!” Don Vargas mengurungkan niatnya untuk keluar dari gedung tua itu. Dia kembali masuk seraya memberondongkan tembakan ke segala arah. Beberapa peluru menembus tembok-tembok yang menghitam dan juga langit-langit. Anak buahnya pun mengikuti apa yang dia lakukan, menembak ke segala arah. Akan tetapi, tak ada tanda-tanda bahwa pelurunya telah mengenai seseorang.
Don Vargas memilih untuk diam sejenak dan berpikir. Dia berpikir ulang untuk mengganti strategi. Pria itu kemudian mendongak dan mulai memperhatikan sekelilingnya dengan lebih teliti. Lantai satu gedung itu hanya berisi ruangan yang dipisahkan oleh sekat-sekat yang terbuat dari dinding tipis dan dilengkapi oleh pintu-pintu yang semuanya tertutup. Hanya satu pintu yang terbuka, karena sebelum tewas Pedro sempat membukanya. Langit-langit atap juga tak terlihat adanya lubang.
“Don,” sebut salah seorang anak buahnya yang berbadan jangkung dan kurus. Don Vargas menoleh, lalu tersenyum.
“Apakah kau memikirkan apa yang aku pikirkan?” tanyanya.
“Tembakan yang menewaskan Pedro berasal dari depan tubuhnya. Hal itu terbukti dari lubang peluru yang terdapat tepat di tengah-tengah kening,” ujar pria jangkung itu.
“Itu artinya si penembak berasal dari belakang kita,” balas Don Vargas yang begitu yakin, sebab posisi Pedro saat itu saling berhadapan dengan dirinya. Serentak, anak buah Don Vargas membalikkan badan dan menembaki pintu-pintu tertutup yang ada di depannya.
Pria jangkung yang kini berdiri di samping Don Vargas, mulai was-was. Dia sudah bersiap menembakkan senjatanya, tetapi Don Vargas mencegahnya. ”Simpan pelurumu! Sepertinya kita memiliki banyak musuh di sini,” sarannya.
“Ada lebih dari satu orang yang menembaki kita, Don,” sahut pria jangkung berkumis itu.
“Ya, aku tahu,” dengan tenang, Don Vargas menyapu pandangan sekali lagi. Kali ini, dia tak ingin ada yang terlewat dari pengamatannya. “Di sana,” bisik Don Vargas lirih. Jemarinya menunjuk lurus pada sebuah lukisan bergambar manusia yang berukuran besar. Lukisan itu terpampang di salah satu dinding.
“Lukisan manusia itukah, Don?” anak buahnya yang tersisa satu orang itu balas berbisik.
“Pura-puralah tak tahu,” ujar Don Vargas. Dengan secepat kilat dia berlari menuju ruangan yang pintunya telah jebol tadi, kemudian bersembunyi di sana. Anak buahnya berniat mengikuti langkah Don Vargas, tapi harus terhenti ketika sebutir peluru terbang dari samping dan menembus leher.
__ADS_1
Kini, Don Vargas sangat yakin jika tembakan berasal dari balik lukisan raksasa. Dengan gerak cepat, dia menyembulkan kepala dan tangan dari dalam ruangan lalu menembaki lukisan tersebut hingga koyak. Tak berapa lama, sesosok tubuh yang tak bernyawa, muncul dari dalam lukisan dan ambruk dengan beberapa luka tembak.
Don Vargas yakin jika saat itu masih banyak orang-orang bersenjata yang mengincarnya, sehingga dia memilih untuk tetap berada di dalam ruangan aneh tadi. Dia mundur dari kamar tanpa pintu tersebut dan mencoba duduk sebentar di ranjang besi. Don Vargas bermaksud mengatur ulang strateginya. Satu tangan kanan memegang sudut ranjang dan menumpukan telapak tangannya di sana.
Namun, tanpa sengaja dia menekan tombol yang ada di permukaan sudut ranjang tersebut, membuat lantai yang dia pijak bergetar, lalu bergeser. Demikian pula ranjang yang dia duduki, tiba-tiba terbelah akibat pergeseran lantai tadi. Tak siap dan juga kehilangan keseimbangan Don Vargas pun terjatuh ke lantai yang menganga. Tubuhnya menghantam permukaan keras dan lancip yang ternyata adalah anak tangga kecil. Dia baru berhenti berguling, ketika sudah berada di anak tangga terakhir. Tanpa merasakan sakit, pria itu segera berdiri dan kembali membidikkan senjata. Akan tetapi, alangkah terkejutnya dia saat melihat sosok seseorang yang berdiri tepat di hadapannya sembari menyeringai. “Ka-kau!” geram Don Vargas.
“Apa kabar, Bos?” sapanya sambil terkekeh pelan.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Don Vargas dengan nada tinggi.
“Tentu saja sedang bekerja,” jawab sosok itu.
“Bekerja? Jadi, kau bekerja untuk Nenad?” pertanyaan Don Vargas itu disambut oleh tepuk tangan dari seorang yang lain. Awalnya Don Vargas tak dapat melihat dengan jelas sosok yang tengah bertepuk tangan tersebut. Namun, lama kelamaan sosok yang bersembunyi di kegelapan tersebut maju dan memperlihatkan wajahnya. Seseorang yang kemudian berdiri di samping pria pertama tadi.
Don Vargas memperhatikan dua orang yang sudah berdiri gagah di hadapannya. Dia mengenali satu orang sebagai Lionel, sedangkan seorang yang lain tentu saja Nenad. Don Vargas mampu mengingat wajah yang sama persis dengan foto yang telah dikirimkan oleh Adriano. “Jadi, kau sekarang bekerja untuk Nenad. Betulkah begitu, Lionel?” pria dengan rambut yang mulai memutih itu tertawa sumbang.
“Tepatnya adalah aku bekerja pada siapa pun yang bersedia membayarku,” jawab Lionel santai.
“Aku membayarnya banyak sekali, lebih banyak dari yang pernah kau berikan kepadanya,” timpal Nenad dengan nada mengejek.
Murka, Don Vargas menggerakkan moncong pistolnya ke arah Nenad. Sebelum dia sempat menarik pelatuk, Lionel lebih dulu menancapkan pisau belati yang sejak tadi telah dia sembunyikan di balik lengan kemeja. Pisau belati itu yang mulanya terselip di bawah pergelangan tangan, kini telah menyayat punggung tangan Don Vargas. Sayatan itu begitu dalam sampai-sampai Don Vargas memekik kesakitan dan menjatuhkan pistolnya.
“Bodoh! Bodoh sekali aku! Kukira Nenad akan sendirian! Adriano mengatakan padaku bahwa Nenad telah hancur! Kupikir dia sudah tak memiliki siapa-siapa dan apapun lagi!” racau Don Vargas tanpa henti.
“Kau salah, Pak Tua! Aku masih memiliki Lionel yang setia,” ejek Nenad sambil tertawa nyaring.
Don Vargas meringis. Darah mengucur deras dari punggung tangannya yang terkoyak. Ringisan kesakitan itu kemudian berubah menjadi tawa. “Setia katamu? Lionel hanya setia pada uang,” balasnya dengan tersengal-sengal menahan sakit.
__ADS_1
“Lihatlah, kita meiliki kondisi tangan yang sama,” dengan tenang, Nenad menunjukkan satu tangannya yang cacat dan penuh luka jahitan. “Sahabat Matteo de Luca yang membuatku begini. Apakah kau mengenalnya?” tanya Nenad.
“Sahabat Matteo de Luca?” sekilas pikiran Don Vargas melayang pada Adriano. Dia terdiam sejenak, lalu tergelak pelan. “Lucu sekali dunia ini. Betapa takdir terus-menerus mempermainkan kita,” ujarnya dengan tatapan lurus kepada Lionel yang lebih banyak diam. “Aku dulu membayar Lionel untuk menghabisi nyawa Matteo de Luca. Dia adalah salah satu dari empat penembak yang kusewa untuk membunuh pria tampan dari Italia itu.”