
Hari yang terasa begitu melelahkan untuk Gianna. Gadis cantik berambut pirang tersebut melempar tasnya dengan sembarangan ke atas sofa. Setelah itu, dia mengempaskan tubuh ramping berbalut kemeja ketat yang dipadukan dengan skinny jeans, sambil mengempaskan napas penuh keluh-kesah. Entah apa yang membuat Gianna merasa tidak bersemangat.
Perlahan, putri bungsu Emiliano Moriarty itu memejamkan mata birunya yang indah. Namun, baru saja dia akan terhanyut, suara ketukan di pintu telah berhasil membuat dirinya kembali terjaga. Gianna terdiam sejenak sambil berpikir. Entah siapa yang datang bertamu ke apartemennya saat itu.
Dengan malas-malasan, gadis berpostur 172 cm tadi beranjak dari duduknya. Dia berjalan menuju pintu, lalu membukanya sedikit. Seketika, Gianna terkejut dan berusaha untuk kembali menutup pintu tersebut. Namun, orang yang berada di luar pun sigap menahannya dengan kuat. Lagi-lagi, tenaga seorang Gianna harus kalah. Pintu itu pun terbuka dan menampakkan paras tampan Juan Pablo di baliknya.
"Pergi kau dari sini!" usir Gianna dengan ketus. Dia kembali bermaksud untuk menutup paksa pintu apartemennya. Akan tetapi, gerakan Juan Pablo begitu lincah. Tanpa terduga dia bergerak dengan sangat cepat menahan dan menerobos masuk, hingga saat pintu tertutup pria itu sudah berada di dalam. Juan Pablo berdiri dengan gagah di hadapan Gianna. Seperti biasa, pria itu selalu dengan tatapannya yang dingin dan datar. Dia memandang lekat kepada gadis cantik yang dalam beberapa hari kemarin terlibat insiden kecil dengannya. "Aku ingin bicara," ucap pria asal Meksiko itu pada akhirnya.
"Aku tidak ingin mendengar apapun darimu!" tolak Gianna dengan segera.
"Tak apa, tapi aku tetap harus bicara denganmu," ujar Juan Pablo sedikit memaksa.
"Bicara saja, tapi aku tak akan menanggapinya sama sekali!" balas Gianna dengan sikap yang lebih ketus.
"Kau tidak akan bisa bersikap seperti itu," bantah Juan Pablo masih tanpa ekspresi yang berlebihan.
"Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan," sahut Gianna pongah sambil melipat kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Kalau begitu silakan pilih cara apa yang kau inginkan," Juan Pablo meraih lengan gadis di itu dan memeganginya dengan cukup kencang. "Kau suka cara lembut atau kasar?" suara pria latin itu terdengar penuh penekanan. Namun, Gianna tak menjawab. Dia hanya memandang dengan sorot penuh kemarahan terhadap Juan Pablo. Untuk beberapa saat, tatapan keduanya saling beradu dan seakan tengah menyelami satu sama lain. Perlahan, Juan Pablo pun melepaskan cengkeramannya. Gadis itu langsung mengusap-usap lengan yang terasa sakit.
"Aku kemari untuk meminta maaf atas kejadian kemarin," ucap Juan Pablo kemudian, setelah keheningan sempat hadir di antara mereka berdua.
"Kau sangat menjijikan!" umpat Gianna sambil memalingkan wajah.
"Kau telah salah menilai, Nona Moriarty," bantah Juan Pablo. Pria bermata cokelat madu itu tak melepaskan pandangan, dari gadis cantik yang kini enggan untuk memperlihatkan wajah kepada dirinya. "Apa yang kau pikirkan tentangku semuanya keliru. Salah besar jika dirimu mengira bahwa aku menyukai Adriano D'Angelo," jelasnya.
"Itu kenyataannya. Kau pria yang aneh!" nada bicara Gianna masih tetap terdengar ketus.
"Aku pria yang normal. Seratus persen normal. Aku masih menyukai dan mengagumi seorang wanita. Itu kenyataannya," tegas pria asal Meksiko itu.
"Tidak. Kau telah salah mengerti, Nona Moriarty," Juan Pablo tetap membantah pemikiran konyol Gianna. "Aku punya alasan tersendiri kenapa tidak menjalin hubungan yang serius dengan wanita manapun," kilahnya.
"Itu sangat mengada-ada. Mana mungkin pria seusia dirimu tidak pernah ... maksudku pasti adakalanya kau membutuhkan ...." Gianna terdiam sejenak. "Oh, astaga! Kenapa aku harus memikirkan hal yang bukan urusanku!" Gianna mendengus pelan. Dia lalu membalikkan badan hingga membelakangi Juan Pablo. Sedangkan kedua tangannya masih terlipat di dada.
Sementara Juan Pablo hanya berdiri sambil memperhatikan gadis itu. Sesekali, pria Amerika Latin tersebut memicingkan matanya. "Do you know the meaning of making love? (Apa kau paham makna dari bercinta?)" tanya Juan Pablo kemudian setelah dirinya terdiam beberapa saat.
__ADS_1
Gianna tidak menjawab. Gadis itu terlihat gelisah. Semua tampak jelas dari bahasa tubuhnya. Hal tersebut tak luput dari perhatian pria tiga puluh lima tahun, yang masih berdiri tegak dan tak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Sorot tajam Juan Pablo terus tertuju pada tubuh semampai Gianna meski gadis itu tetap membelakanginya.
"Aku mendapat didikan secara militer dari mendiang ayahku. Masa remaja kuhabiskan dengan berbagai pendidikan formal dan juga non formal. Ketika para pemuda lain asyik menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, maka saat itu aku tengah sibuk melakukan berbagai latihan fisik dan mengasah keahlian. Salah satunya adalah berlatih menembak," tutur Juan Pablo. Entah mengapa, dia merasa perlu untuk memberikan sebuah penjelasan yang mendetail seperti itu kepada Gianna.
Namun, ternyata gadis berusia dua puluh empat tahun itu tidak menanggapinya sama sekali. Gianna hanya terpaku mendengarkan penuturan dari pria berpostur tegap tadi. Gadis dengan skinny jeans itu bahkan tidak juga membalikkan badan, meskipun Juan Pablo menyentuh pundaknya. "Aku tidak pernah terlalu banyak bicara kepada siapa pun, Nona Moriarty. Namun, aku sangat berterima kasih padamu karena kau telah membuatku merasa terhibur," ucap pria asal Meksiko tersebut masih dengan intonasi yang sama.
"Selain itu, maksud kedatanganku kemari adalah untuk berpamitan. Aku akan kembali ke Monaco besok. Maaf untuk semua kekeliruan yang terjadi."
Seusai berkata demikian, Juan Pablo kemudian berjalan ke dekat pintu. Namun, baru saja beberapa langkah, pria tampan berkulit eksotis tadi segera tertegun saat mendengar sebuah pertanyaan dari Gianna. "Kapan kau akan kembali berkunjung ke Roma?" Gianna menatap sayu ajudan Don Vargas tersebut.
Juan Pablo tidak segera menjawab. Dia terdiam sejenak dan hanya menatap gadis cantik bermata biru itu. Dia yang sudah berdiri di depan pintu, kembali mendekat hingga berdiri di hadapan Gianna yang masih memandang ke arahnya. Tanpa banyak bicara, Juan Pablo memegangi tengkuk kepala Gianna, menggenggam rambut panjangnya yang indah. Dia menahan agar gadis itu tak menghindar ketika dirinya kembali mencium adik tiri Adriano tersebut.
Gianna memang tak bisa menghindar. Dia berdiri terpaku saat kembali merasakan hangatnya bibir Juan Pablo dengan lumat•an-lumat•annya yang membuat gadis itu semakin tak mampu untuk beranjak.
"Kau ingin aku kembali?" tanya Juan Pablo dengan suaranya yang terdengar begitu dalam. Walaupun dia sudah menghentikan ciumannya, tapi seakan tak ada jarak antara bibirnya dengan bibir Gianna. Namun, lagi-lagi putri dari Emilino Moriarty itu seperti kehilangan kata-kata, terlebih karena hembusan napas Juan Pablo terasa begitu hangat menerpa wajahnya.
"Jika kau ingin aku kembali, maka aku pasti akan menemuimu lagi."
__ADS_1
"Kenapa kau harus menemuiku?" tanya Gianna pelan. Dengan berani, dia melawan tatapan lekat Juan Pablo.
"Aku melakukan apapun yang kuinginkan. Kau tak harus bertanya kenapa, karena tidak ada aturan yang akan membuatku terhukum jika menemuimu, Bice (Pemberi Kebahagiaan)," Juan Pablo memanggil Gianna dengan sebutan Bice, yang merupakan nama tengah gadis itu. Sebuah panggilan yang membuat Gianna menunduk karena tersipu malu.