
Adriano turun dari mobil sportnya tanpa melepas kaca mata hitam yang dia kenakan. Sang ketua hanya sedikit merapikan kemejanya saat berhadapan dengan sang ajudan setia. "Ada apa, Pierre? Apa kau akan pergi?" tanya Adriano yang heran saat melihat pria bermata hijau itu tampak tergesa-gesa.
"Ya, Tuan. Aku akan menyelesaikan sedikit urusan," jawab Pierre. Lajang empat puluh tahun itu menaikkan lengan sweatshirt abu-abu yang dikenakannya. Sebuah kaca mata hitam, dia gantungkan pada leher baju tersebut.
"Urusan apa?" tanya Adriano menaikkan sebelah alisnya.
"Nanti akan kuceritakan jika sudah selesai," sahut Pierre. "Istri dan putri Anda ada di ruang baca. Nona kecil terlihat sangat senang berada di sana. Aku rasa, Anda mungkin sudah bisa mendaftarkannya untuk masuk sekolah nonformal. Dengan begitu, dia bisa belajar untuk bersosialisasi dan tentu saja memiliki banyak teman," saran Pierre.
"Ya, kau benar. Aku terlalu sibuk sampai melupakan hal itu," balas Adriano seraya mengangguk. "Baiklah, hati-hati di jalan," pesannya. Tanpa berbasa-basi lagi, Adriano segera melangkah masuk ke dalam mansion. Sementara Pierre menuju mobil yang terparkir di depan garasi. Sebelumnya, dia sudah menyiapkan mobil klasik tersebut, sehingga dirinya bisa langsung berangkat. Packard Panther, mobil klasik buatan tahun 1954 itu telah melaju keluar dari halaman mansion. Entah akan ke mana pria asal Perancis tersebut. Dia menyusuri jalanan kota Monte Carlo hingga tiba di depan sebuah gedung apartemen dengan penthouse mewah lima lantai.
"Pierre," seorang wanita cantik yang tiada lain adalah Bianca, menyambut kedatangan lajang itu di tempat tinggalnya. "Angin apa yang membawamu kemari?" tanya wanita muda tersebut seraya mempersilakannya masuk.
Pierre tersenyum ramah. Dia melangkah masuk. Seketika, terciumlah wangi aroma bunga yang begitu menyegarkan di dalam ruangan bernuansa warna vanilla tersebut. Bianca lalu mempersilakan tamunya untuk duduk pada sofa yang terlihat sangat unik. Sofa itu berlapis bahan berbulu lembut serta tebal, dan berwarna senada dengan dinding juga ornamen lainnya di dalam ruangan tadi.
"Ingin minum sesuatu?" tawar Bianca. Saat itu, dirinya tampil tanpa polesan make up sama sekali. Akan tetapi, dia masih tetap terlihat sangat cantik dan menarik.
"Tidak usah. Lagi pula, aku tidak akan lama," tolak Pierre yang sudah duduk di atas sofa. Dia sedikit membungkukkan badan, dengan kedua telapak tangan yang saling menempel.
__ADS_1
"Baiklah," sahut Bianca seraya duduk di sebelah Pierre dengan posisi sedikit menyamping, dan menghadap kepada pria itu, "katakan ada perlu apa kau datang kemari," wanita muda tersebut tampak lesu dan tidak bersemangat.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Bianca, Pierre menatap wanita muda itu dengan lekat. Dia seakan tengah menganalisa sosok cantik nan elegant di dekatnya. "Apa kau baik-baik saja, Nona?" tanyanya. Dia melihat ada sesuatu yang berbeda dari diri Bianca.
Akan tetapi, Bianca sendiri justru membalasnya dengan senyuman sinis. "Semoga aku tidak melambung dan terbang dengan terlalu tinggi. Aku harap bukan Adriano yang menyuruhmu datang kemari untuk menanyakan keadanku," cibir wanita muda yang merupakan seorang pebisnis andal tersebut.
"Ya, memang bukan," sahut Pierre menegaskan.
"Aku yakin itu," gumam Bianca dengan nada setengah menggerutu. Sepasang mata abu-abunya kembali mengarah kepada Pierre. "Lalu?" tanya dia lagi seraya menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.
"Aku sudah berbicara dengan tuan D'Angelo, mengenai sesuatu yang kau katakan tempo hari. Aku hanya ingin memastikan kebenarannya," terang Pierre tanpa mengalihkan tatapan dari paras cantik tanpa riasan itu.
"Jadi, itu memang benar," ujar Pierre lagi menegaskan.
"Tentu saja," balas Banca yakin. Wanita keturunan Perancis-Argentina itu tertawa sinis dan seakan meremehkan. "Itu memang benar, karena aku mendapatkan kabar tersebut dari mulut seseorang yang dapat dipercaya," jelas Bianca lagi penuh percaya diri.
"Hal itu pula yang ingin kutanyakan padamu, Nona. Jadi, dari siapa kau mengetahui kabar buruk itu? Jika dihitung-hitung, kejadian tersebut sebenarnya sudah cukup lama. Tuan Adriano sendiri menyimpan rahasia tentang kejadian yang menimpanya dengan begitu rapat," jelas lajang empat puluh tahun tadi.
__ADS_1
"Kau saja yang bodoh, Pierre," cibir Bianca dengan seenaknya. Wanita muda itu memang sangat angkuh dan juga sombong. "Jika sudah mengetahui yang sebenarnya, lalu ke mana perginya loyalitasmu selama ini?" tanya Bianca lagi dengan setengah mengejek.
"Apa yang harus kulakukan jika tuan D'Angelo sendiri menekankan agar diriku harus menutup mulut, serta menyimpan kabar tentang kejadian itu dengan rapat. Loyalitasku tetap terjaga untuknya," sahut Pierre dengan senyuman kecil yang tersungging di sudut bibirnya. Dia masih belum mengalihkan tatapan dari Bianca. "Jadi, dari siapa kau mengetahui hal itu. Nona Alegra?" tanyanya lagi dengan sedikit mendesak.
"Adriano yang menyuruhmu bertanya padaku?" Bianca balik bertanya.
"Bukan. Ini murni inisiatifku sendiri," jawab Pierre yakin.
Mendengar jawaban dari pria di dekatnya itu, Bianca hanya dapat mengempaskan napas pelan. Dia lalu menopang kepalanya dengan tangan kanan, yang diletakkan pada sandaran sofa berlapis kain bulu-bulu tadi. "Aku tahu maksudmu, Pierre. Kau ingin memintaku untuk menjaga rahasia ini, bukan?" Bianca memang seorang wanita yang sangat cerdas. Dia seolah dapat menebak apa yang menjadi maksud dan tujuan seseorang, hanya dengan mengamati gestur lawan bicaranya. Pantaslah jika wanita berusia dua puluh sembilan tahun tersebut dapat menjadi seorang pebisnis yang andal, selain karena dia memang memiliki darah bisnis yang kental dari mendiang sang ayah.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku tahu siapa yang kuhadapi. Aku tidak ingin bermasalah dengan ketua Tigre Nero yang perkasa, meskipun diriku yakin bahwa Adriano tak akan tega menyakiti seorang wanita," ujarnya kembali dengan sebuah senyuman sinis.
"Baguslah. Kuharap kau tidak bermain-main dengan tuan D'Angelo. Kusarankan sebaiknya agar kau tidak mengusik ketenangannya," Pierre terlihat cukup serius dengan kata-kata yang dia ucapkan.
"Kenapa kau begitu peduli padaku?" Bianca masih tetap terlihat angkuh di hadapan Pierre.
"Bagaimanapun juga, aku sudah mengenalmu dengan sangat lama, Nona Alegra. Aku tahu jika kau merupakan sahabat baik tuan D'Angelo. Diriku yakin jika tuan pun pasti sebenarnya tak ingin berselisih denganmu, apalagi kalian berdua merupakan rekan bisnis yabg luar biasa," jelas Pierre.
__ADS_1
"Tidak lagi!" sahut Bianca dengan tegas, "aku sudah memutuskan tak akan bekerja sama dengan Adriano D'Angelo dalam bentuk apapun, setelah semua penghinaan yang dia dan istrinya lakukan padaku tempo hari. Alasannya, karena harga diriku jauh di atas sebuah kontrak kerja sama bernilai ratusan juta sekalipun."