
Pierre membantu menyiapkan peralatan yang diperlukan, untuk mengawasi ruangan yang berada di seberang kamarnya. Sementara Adriano kembali menghubungi Mia untuk beberapa saat.
“Sudah siap, Tuan,” bisik Pierre. Seketika Adriano menoleh kemudian mengangguk. “Akan kutelepon lagi nanti, Sayang,” ucap Adriano lembut, lalu mengalihkan perhatiannya pada meja kamar berukuran besar yang sudah penuh oleh monitor dan kamera. Adriano pun mengakhiri perbincangan dengan sang istri. Dia meletakkan ponselnya di atas meja.
Tampaklah pada layar monitor tadi kondisi kamar 2205. Tak ada penampakan apapun selain pegawai hotel yang membersihkan lorong dan petugas room service yang berseliweran. “Apa kamar itu masih kosong?” tanya Adriano.
“Masih, Tuan. Si penyewa belum terlihat memasuki kamar,” jawab salah satu anak buah Adriano.
“Hm." Adriano menggumam pelan seraya mengangguk dan mengusap-usap rahangnya. Beberapa jam sudah dia lewati, hanya untuk mengamati pergerakan yang tampak pada layar monitor, tapi tak menunjukkan penampakan berarti.
Pierre bahkan sempat menguap berkali-kali saking jenuhnya.
“Masih jauh waktu yang harus kita habiskan sebelum jam delapan. Menurut Anda, apa yang akan kita lakukan? Apa kita harus berdiam di sini terus?” tanya Pierre.
“Mau tidak mau, kita harus tetap berada di tempat ini sampai nanti malam. Aku khawatir Jacob akan menangkap pergerakan kita, jika kita banyak berkeliaran di luar sana,” jawab Adriano sambil merogoh kantong dan mengeluarkan sebungkus rokok. Dia melemparkan kotak rokok itu ke atas meja, setelah mengambil sebatang dan menyulutnya. “Kalian ambillah,” suruh Adriano dengan telunjuk mengarah ke bungkusan rokok tadi. “Akan kupesankan sarapan,” ujar pria rupawan itu beranjak dari duduk, lalu menghubungi operator. Dia memesan berporsi-porsi menu sarapan sambil mengisap rokok dan mengepulkan asapnya perlahan.
Tak berselang lama, beberapa orang pegawai hotel datang dan mengetuk pintu kamar Adriano. Pierre mendekat dan mengintip dari lubang yang sudah tersedia, kemudian menoleh pada sang majikan. “Petugas room servis hendak mengantarkan pesanan Anda, Tuan,” lapornya.
“Suruh saja mereka meninggalkan troli makanannya di depan pintu,” titah Adriano dengan nada datar.
“Baik.” Pierre mengangguk lalu membuka pintunya separuh, sehingga orang-orang di luar tak akan bisa melihat apa yang ada di dalam kamar. Dia mengatakan pada petugas hotel itu, persis seperti yang telah disampaikan oleh Adriano.
__ADS_1
Setelah beberapa orang pegawai itu pergi, barulah Pierre membuka pintunya lebar-lebar dan mendorong dua buah troli makanan tadi masuk ke dalam kamar. Untuk sejenak, semua orang yang berada di sana melupakan ketegangan dan mulai menikmati hidangan hotel yang tersaji di hadapan mereka. “Enak juga makanannya. Seingatku, pemilik hotel ini adalah temanku juga,” ujar Adriano.
“Sepertinya sudah berganti pemilik, Tuan,” sahut Pierre. “Tuan La Roe sudah tidak tinggal di Monaco lagi. Dia menjual semua asetnya di sini,” jelas pria asal Perancis itu.
“Oh, lalu siapa pemilik baru dari tempat ini?” tanya Adriano.
“Berdasarkan informasi yang telah kami kumpulkan, pemilik barunya adalah seorang berkebangsaan Swedia,” jawab Pierre lagi.
“Swedia? Hm, begitu rupanya,” gumam Adriano. Entah apa yang ada dalam benak pria tersebut saat itu, ketika mata birunya yang indah kembali menerawang ke luar jendela hotel.
Hingga pagi berlalu sampai menjelang malam, Adriano beserta anak buahnya tak melihat sesuatu yang mencurigakan. Belum ada seorang pun yang muncul di kamar 2205. Apalagi Jacob yang seakan menghilang ditelan bumi. Adriano semakin yakin bahwa Jacob tengah merencanakan sesuatu yang besar untuk dirinya.
“Saatnya Anda berganti pakaian, Tuan.” Suara Pierre membuyarkan lamunan Adriano. Pria rupawan itu menoleh dan tersenyum, lalu berdiri meraih setelan jas yang disodorkan oleh sang ajudan.
“Tuan? Apa Anda sudah siap?" tanya Pierre dari balik pintu. Sekarang sudah lima menit menuju pukul delapan,” ucapnya mengingatkan.
“Aku sudah siap, Pierre,” sahut Adriano sembari membuka pintu lebar-lebar.
Sementara itu, di lobi hotel, Christiabel sudah tiba di sana. Dia terlihat begitu cantik dan elegan menggunakan atasan blouse dari satin halus berlengan panjang berwarna mocca, dengan kerah v neck yang cukup rendah. Dia memasukkan bagian bawah bouse tadi ke dalam rok span sebatas lutut, bermotif asimetris dengan warna senada. Rok span tadi memiliki belahan cukup tinggi, karena saat Christiabel melangkah maka paha mulusnya terekspos dengan jelas.
Langkah kaki berbalut ankle strap heels wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu, terlihat begitu anggun saat menghampiri meja resepsionis yang berdesain mewah dengan ukiran berlapis emas. “Selamat malam,” sapanya. “Aku sudah membuat janji dengan tuan Jacob Karlsberg,” ucapnya ramah.
__ADS_1
“Anda pasti Nona Christiabel Cantona,” balas seorang resepsionis wanita bersetelan rapi. “Tuan Jacob sudah berpesan agar Anda menunggu di kamar 2205. Silakan. Ini kuncinya, Nona,” ucap resepsionis itu sambil menyerahkan sebuah kunci berbentuk kartu pada wanita cantik jelita itu.
“Terima kasih,” balas Christiabel tersenyum hangat saat menerima kunci tadi. Dengan langkah penuh percaya diri, wanita itu memasuki lift hingga tiba di lantai yang dia tuju. Tepat pada saat pintu lift terbuka dan wanita itu keluar dari sana, tiba-tiba saja listrik di hotel mewah berbintang lima tersebut padam. Tak terkira betapa terkejutnya Christiabel saat itu. Dia sendirian di lorong hotel yang gelap gulita. Begitu pula yang dirasakan oleh Adriano ketika layar monitor dan kamera perekam yang anak buahnya letakkan di depan pintu 2205, mendadak gelap dan tak dapat mengambil gambar apapun.
Beruntung pemadaman listrik itu tak berlangsung lama. Namun, peralatan canggih itu tak dapat langsung digunakan karena anak buah Adriano harus menyetel ulang pengaturannya. Christiabel pun bersyukur ketika lampu di lorong hotel kembali menyala terang. Dia berjalan dengan agak tergesa-gesa menuju kamar 2205 dan segera membuka kuncinya. Wanita itu sudah tak sabar untuk bertemu dengan Adriano, seperti yang sudah dikatakan oleh Jacob sebelumnya. Akan tetapi, dia harus sedikit kecewa ketika di ruangan itu ternyata tak ada siapa pun. “Mungkin Adriano datang terlambat,” gumamnya pada diri sendiri, lalu masuk ke dalam dan menutup pintunya.
Di seberang kamar tempat Christiabel berada, Adriano masih serius berkutat dengan layar monitor yang sudah menunjukkan gambar normal. “Bagaimana ini, Tuan? Kita tidak tahu apa yang terjadi selama pemadaman tadi. Bisa saja pria itu sudah masuk ke dalam kamarnya.” Anak buah Adriano terdengar was-was.
“Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan memasuki kamar itu,” sahut Adriano dengan tenang. Dia lalu berjalan ke arah pintu dan hendak membukanya ketika Pierre mencekal lengan sang majikan.
“Berhati-hatilah, Tuan,” ucap Pierre dengan wajah datar. Akan tetapi, terdengar jelas nada bicaranya yang was-was dan penuh kekhawatiran.
“Tenang saja, Pierre. Selama ada kau di dekatku, maka aku akan selalu aman,” kelakar Adriano seraya menepuk pundak ajudannya pelan dan berbalas sebuah senyuman kecil dari pria berambut pirang tersebut.
Dengan langkah gagah, Adriano berjalan keluar kamar. Dia lalu berdiri tepat di depan pintu kamar 2205. Adriano terdiam dan menunggu arahan dari Jacob untuk selanjutnya. Akan tetapi, pria misterius itu tak jua menghubunginya seperti yang telah dia janjikan.
Adriano pun berinisiatif untuk menuju ruang resepsionis. Dia hendak meminta kunci kamar. Namun, sebelum pria itu sempat beranjak, pintu kamar tadi terbuka tiba-tiba. Pria rupawan itu langsung siaga. Dikeluarkannya pistol dari balik pinggang sambil awas mengamati sekeliling sebelum melangkah masuk.
Ruangan 2205 itu terlihat sama luas dan mewahnya dengan kamar yang dia sewa. Adriano dapat melihat dengan jelas karena pencahayaan kamar dari lampu kristal yang terlihat begitu indah dan amat terang.
Adriano mengarahkan pistolnya ke segala arah dan semakin waspada, ketika dia mendengar suara dari dalam kamar mandi. Perlahan dan hati-hati, pria tampan itu berjalan menuju ke arah suara.
__ADS_1
Dia berdiri di depan pintu kamar mandi yang mulai sedikit terbuka, bersamaan dengan pintu kamar hotel yang tertutup dan terkunci dengan sendiri. Keheranan, Adriano berniat kembali ke pintu masuk untuk memeriksanya. Namun, seketika ketua Tigre Nero itu menghentikan langkah, ketika suara merdu Christiabel menyebut namanya. “Adriano, kau sudah datang?”