Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Silent Revenge


__ADS_3

“Jangan lepaskan peganganmu, Principessa,” Adriano mengarahkan tangan mungil Miabella agar mencengkeram celana panjang yang dia kenakan dengan erat, sementara dirinya membopong Mia yang tak sadarkan diri. Adriano tak peduli meskipun saat itu mereka telah menjadi pusat perhatian pengunjung pasar malam lainnya. Dia juga tak ingin mengejar atau mencari tahu siapakah sosok laki-laki misterius yang sempat tertangkap oleh matanya. Fokus Adriano saat itu hanya tertuju kepada Mia yang tergeletak tak berdaya di tanah berumput dalam keadaan setengah sadar


Sesampainya di tempat parkir, Adriano membuka pintu mobil dan membaringkan tubuh Mia di kursi belakang.


“Daddy Zio, ibuku kenapa?” tanya Miabella yang masih juga tak berhenti menangis, karena merasa khawatir akan keadaan sang ibu.


“Ibumu tidak apa-apa, Sayang. Kita akan segera membawanya pulang,” sebisa mungkin Adriano bersikap tenang di hadapan putri sambungnya, walaupun dalam dada pria itu ada gemuruh yang sangat besar atas kejadian tadi.


Setelah memasangkan sabuk pengaman pada Miabella, Adriano melajukan kendaraannya dalam kecepatan tinggi hingga tiba di halaman depan Casa de Luca. Telaten dia membantu gadis kecil itu turun dari mobil. Setelahnya, barulah Adriano membopong tubuh Mia dan membawa wanita yang tak sadarkan diri tersebut ke dalam kamar. Sementara Miabella masih terus mengikuti langkah ayah sambungnya dengan terisak.


“Ada apa ini, Nak?” Damiano saat itu hendak menuju ke kamarnya. Namun, dia harus mengurungkan niat karena berpapasan dengan Adriano yang tampak kalut. Pria tua itu lalu membantu membukakan pintu kamar yang ditempati oleh Mia dan Adriano selama berada di Casa de Luca.


“Ibuku sakit, Kakek,” ucap Miabella sebelum Adriano sempat menjawab pertanyaan Damiano. Pria itu lebih dulu membaringkan Mia di atas ranjang dan melepas sepatunya. Adriano kemudian duduk di samping ranjang sambil terus menepuk pipi Mia hingga tersadar.


Miabella yang melihat ibunya mulai siuman, segera melompat ke atas ranjang dan duduk di samping Mia. “Ibu,” rengeknya sambil mengucek-ucek matanya yang basah.


“Bella,” tangan Mia lemah terulur, mengusap pipi gembul putri semata wayangnya. Dia lalu tersenyum menatap Damiano yang berdiri tak jauh dari ranjang. Pria tua itu terlihat begitu khawatir. “Adriano,” Mia mengalihkan pandangan pada sang suami. “Aku tidak apa-apa,” ucapnya demi menenangkan perasaan pria bermata biru itu.


“Apa yang terjadi, Sayang? Kenapa kau menjauh dari kami?” lembut nada bicara Adriano sembari membelai pipi Mia.


“Iya, Ibu. Kenapa Ibu menjauh? Apakah Ibu tidak suka permen kapas?” tanya Miabella dengan polosnya, membuat Mia tak dapat menahan tawa.


“Tidak, Sayang,” Mia menggeleng lemah. “Di sana terlalu banyak orang, jadinya ibu tersesat,” jawab wanita berambut cokelat tersebut.


“Bisakah kau jelaskan padaku apa yang telah terjadi pada Mia, Adriano?” Damiano yang sedari tadi hanya bergeming dan menyimak percakapan mereka bertiga, akhirnya ikut membuka suara.

__ADS_1


“Seseorang berusaha menculik Mia, Damiano. Entah untuk apa tujuannya,” jelas Adriano penuh sesal. Seharusnya dia tak lengah barang sedetik pun menjaga istri yang teramat dia cintai.


“Astaga,” Damiano berjalan memutari ranjang, lalu berdiri di samping Adriano. “Siapa kira-kira pelakunya, Nak?” tanya pria itu lagi.


“Aku masih belum tahu, Damiano. Namun, aku berjanji padamu akan segera menemukan orang itu secepatnya,” tegas Adriano. Mata birunya kembali berkilat penuh amarah kala mengingat kejadian tadi.


“Aku ingin tidur di dekat ibu,” ujar Miabella tiba-tiba. Sambil sesekali terisak, dia berbaring di samping Mia dan melingkarkan tangannya pada leher sang Ibu dengan erat.


“Tentu saja, Sayang,” Mia menghadapkan tubuh kepada Miabella seraya balas memeluk putri kecilnya itu.


“Baiklah, kalian beristirahat saja dulu. Aku akan berada di kamar jika kau membutuhkan sesuatu, Nak,” ujar Damiano seraya menepuk pelan pundak Adriano.


“Terima kasih, Damiano.”


Sepeninggal Damiano, Adriano masih duduk terpekur di tepi ranjang. Angannya melayang beberapa hari ke belakang saat dirinya menyerbu Menara Hitam. Pikirannya kemudian berlanjut pada kasus kematian Don Vargas saat mencari keberadaan Nenad. “Lionel,” gumamnya pelan. “Sudah pasti ini ulah Lionel, Mia,” Adriano bangkit dari duduknya. Dia sepertinya hendak meninggalkan kamar.


“Sudahlah, Adriano. Kau lihat sendiri bahwa aku baik-baik saja,” cegah Mia. Susah payah dengan kepala yang masih terasa berat, dia berusaha untuk duduk.


“Untuk saat ini kau mungkin masih baik-baik saja, Mia. Namun, apakah kau bisa menjamin kejadian yang sama tidak akan terulang lagi ke depannya? Apalagi aku tidak selalu berada di sampingmu,” balas Adriano sambil menatap lekat ke arah istri tercintanya.


“Sudahlah. Kau beristirahat saja dulu. Jangan khawatir, Mia. Bukankah aku sudah berjanji untuk tidak membahayakan diriku?” Adriano terpaksa kembali mendekati istrinya dan mengecup lembut bibir wanita itu.


“Aku juga, Daddy Zio. Cium aku,” pinta gadis kecil itu saat melihat kedua orang tuanya saling berciuman.


“Bene, Sayang,” Adriano terkekeh, lalu mencium kening dan pipi gembul balita cantik itu. Tak lupa dia juga mencubit kedua pipi Miabella dengan gemas.

__ADS_1


“Aku akan berada di ruang kerja. Kalian tidurlah,” dengan telaten, Adriano menyelimuti ibu dan anak itu. “Tidak ada bantahan!” telunjuk Adriano terangkat ketika Mia hendak mengucapkan sesuatu.


“Buona notte, i miei angeli (para bidadariku),” ucap Adriano sebelum mematikan lampu dan menutup pintu kamar. Langkahnya tergesa-gesa menuju ruang kerja milik mendiang Matteo.


Sesampainya di sana, Adriano membuka pintu ruangan dengan perlahan, kemudian menyalakan lampu. Ruang kerja itu masih tetap tak berubah semenjak terakhir kali dia melihatnya. Walaupun para pelayan tak pernah absen membersihkan tempat itu, tapi tak ada satu barang pun yang berpindah apalagi hilang dari tempatnya.


Adriano berjalan masuk dan memutari meja kerja. Di sana terdapat foto pernikahan Matteo dengan Mia, serta foto kedua orang tua Matteo yang seakan tengah menyambutnya. Pria rupawan itu tersenyum samar, lalu mendudukkan diri di kursi.


Dia lalu merogoh ponsel dari saku celana. Dipilihnya satu dari sekian ratus nomor kontak yang ada di penyimpanan memori teleponnya. Adriano mengarahkan kursor pada nomor milik detektif Ignazio Ranieri. Cukup lama dia menunggu sampai detektif muda itu menjawab panggilan darinya.


“Pronto,” terdengar sapaan detektif Ignazio dari seberang sana. “Ada kabar apa, Tuan D’Angelo?” tanyanya kemudian.


“Seseorang telah berusaha menculik istriku beberapa saat yang lalu,” jawab Adriano tanpa basa-basi. “Aku rasa ini ulah Lionel, salah satu pembunuh bayaran yang bekerja untuk Nenad Ljudevit,” jelasnya.


“Aku juga tidak menemukan apapun di Menara Hitam selain jenazah orang-orang tak dikenal dan pabrik narkoba serta senjata yang terbengkalai, Tuan D’Angelo. Tidak ada sosok Nenad ataupun Lionel yang baru saja anda sebutkan,” papar Detektif Ignazio,


“tapi aku terus mencari kedua nama itu di pusat data. Nenad Ljudevit memang sangat terkenal di dunia hitam Amerika. Menurutku, akan sangat mudah menemukannya jika dengan berbekal foto dan nama. Namun, sepertinya memang ada sosok yang sengaja menyembunyikan Nenad dengan sangat baik, sehingga tak mudah ditemukan oleh pihak kepolisian,” sambung detektif tadi.


“Sosok itu sudah pasti adalah Lionel,” sahut Adriano. “Ah, ya, kuberitahukan padamu bahwa Lionel bukanlah nama asli. Mungkin kau bisa memulai pencarian di pusat data dengan nama ‘Melker Eidef Kielman’," saran Adriano.


“Baiklah, sudah kucatat. Jika ada perkembangan selanjutnya, maka aku akan segera mengabari anda,” tutup detektif Ignazio sebelum mengakhiri pembicaraan mereka.


Adriano tercenung untuk beberapa saat di sana sambil memainkan ponsel yang dia genggam. Pria itu kemudian bangkit dari kursi dan berdiri di dekat jendela ruangan yang mengarah ke perkebunan. “Apakah kau ingin membalas penyerbuan kami di hari itu, Lionel?” Adriano bergumam seorang diri sambil terus berpikir.


“Jika memang demikian, maka bersiaplah. Kau belum melihat sebesar apa kekuatan dan kekuasaan yang aku miliki,” wajah tampan Adriano tampak menyeringai. "Seberapa kuat dirimu? Kau hanya pria yang hidup untuk uang, dan aku tidak takut."

__ADS_1


__ADS_2