Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Kembali Berulah


__ADS_3

Empat hari telah berlalu dari acara kremasi yang dilakukan terhadap jasad Damiano. Adriano serta Mia pun sudah kembali ke Monaco, berhubung ada suatu urusan yang tak bisa mereka wakilkan. Sedangkan Adriana memilih untuk tetap di Casa de Luca, menikmati liburan musim panasnya.


Aktivitas di perkebunan yang diliburkan selama tiga hari karena masa berkabung pun kini sudah berjalan kembali. Bagi para buruh perkebunan yang baru, kepergian Damiano memang tidak terlalu berpengaruh. Namun, untuk para pekerja lama, tentu saja mereka teramat kehilangan.


Hal sama pula yang terjadi kepada Miabella. Gadis cantik tersebut masih saja tampak murung. Seperti halnya malam itu. Miabella berdiri sendiri di dekat bukaan ruang tamu bangunan Casa de Luca. Dia merenung dan memikirkan tentang segala hal. Salah satunya adalah keputusan Adriano yang memisahkan dirinya dari Carlo.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun, suasana di sekitar Casa de Luca telah sunyi senyap. Satu derap langkah pelan yang disertai helaan napas, terdengar begitu jelas di telinga gadis berambut panjang itu. Miabella pun menoleh.


Di belakangnya, tampak Romeo yang sudah berpenampilan rapi. Wangi aroma parfumnya langsung menyeruak, begitu menyengat serta menusuk hidung putri sambung Adriano tersebut.


"Astaga. Apa kau menghabiskan satu botol parfum dalam sekali pakai?" sindir Miabella seraya menautkan alis.


"Aroma parfumnya saja yang memang seperti ini," kilah Romeo. Dia melihat jam tangan dengan barlen berwarna hitam yang melingkar di pergelangan kirinya.


"Apa kau akan pergi?" tanya Miabella lagi.


"Ya. Aku ada kencan buta malam ini," sahut Romeo setengah berbisik.


"Iyakah?" Miabella terlihat tak percaya. "Dengan siapa? Apakah gadis yang kau hubungi kemarin-kemarin saat di lorong perkebunan?" celetuknya. Namun, tak lama kemudian gadis itu mengulum bibir sendiri.


"Sudah kuduga kau pastu menguping pembicaraanku dengan Patrizia ...." Romeo menjeda ucapannya. Pemuda dua puluh tahun tersebut keceplosan menyebutkan nama gadis yang akan bertemu dengan dia malam itu.


"Ah, jadi namanya Patrizia." Miabella melipat kedua tangan di dada. Gadis bermata abu-abu tadi tampak berpikir. "Bolehkah aku ikut? Rasanya suntuk sekali berada di sini terus-menerus." Raut wajah Miabella yang awalnya terlihat ketus, tiba-tiba berubah agak memelas.


"Tidak bisa. Jika kau ikut, maka artinya Dante akan turut serta bersama kita. Tidak! Tidak! Aku tak akan leluasa karena merasa diawasi," tolak Romeo dengan segera. Dia lalu berbalik dan bermaksud untuk melanjutkan langkah menuju pintu keluar utama.

__ADS_1


"Romeo, tunggu!" cegah Miabella. Putra sulung Marco pun tertegun dan menoleh. "Kenapa kau harus merisaukan Dante? Aku bisa pergi ke manapun tanpa membawanya," ujar gadis itu dengan tenang.


"Begitukah? Lalu, apa kata paman Adriano andai dia tahu bahwa kau keluar lagi tanpa pengawalan?" Romeo menatap lekat sepupunya yang cantik. Kata-kata pemuda itu telah membuat Miabella berpikir.


"Kalau begitu jangan sampai daddy zio mengetahuinya," sahut Miabella setelah beberapa saat.


"Kau membuang waktuku saja," keluh Romeo.


"Ayolah, Romeo. Aku juga ingin bersenang-senang agar bisa sedikit menghilangkan kesedihan ini," desak Miabella. "Jika tidak pergi denganmu, maka aku bisa pergi sendiri." Miabella membalikkan badan, bermaksud untuk membuktikan ucapannya.


Sementara Romeo mengenal Miabella dengan baik. Dia tahu bahwa gadis itu tak pernah main-main dengan ucapannya. "Tunggu!" cegah Romeo. "Baiklah, kau boleh ikut. Namun, ada satu hal yang harus kau lakukan terlebih dahulu agar lolos dari kamera pengintai di dekat pintu depan," ucap pemuda itu lagi seraya mengarahkan ekor matanya ke arah luar.


Kedua calon penerus dari keluarga de Luca tadi sama-sama berpikir. Beberapa saat kemudian, Romeo sepertinya memiliki ide. Tanpa banyak bicara, kakak dari Tobia tersebut berlalu ke bagian lain bangunan Casa de Luca. Entah rencana apa yang ada di benaknya saat itu.


"Apa? Haruskah aku memakai jaket Tobia?" protes Miabella. Dia melakukan penolakan secara tidak langsung.


"Memangnya kenapa? Tobia rajin mandi. Jadi, kau tidak perlu khawatir," sahut Romeo mengulum senyumnya.


"Aku tahu betul bahwa jaket ini dia kenakan saat pertama tiba di Casa de Luca. Sudah berapa hari itu dan pasti belum dicuci." Miabella kemudian mengendus jaket bomber tadi. Seketika paras cantiknya meringis. "Uh ... bau sekali!"


"Terserah kau saja, Bella," ujar Romeo menanggapi dengan tenang. Dia bermaksud untuk membalikkan badan. Namun, Romeo segera menghentikan langkah, ketika Miabella akhirnya setuju dengan idenya. Gadis itu segera mengenakan jaket serta topi rajut tadi. Miabella lalu menggulung rambut panjangnya hingga masuk ke dalam penutup kepala.


Baru saja dia siap dengan penyamarannya, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menegur gadis cantik tersebut. "Kakak mau ke mana?"


Miabella dan Romeo serempak menoleh. Tak jauh dari tempat mereka berada, Adriana sudah berdiri sambil memasang senyum manis. Dia melambaikan tangan dengan tanpa bersalah sama sekali. "Apa Kakak akan pergi? Kenapa harus berpenampilan seperti itu?" tanya gadis belia lima belas tahun tersebut. Dia lalu berjalan mendekat kepada Miabella. Adriana memperhatikan sang kakak dengan saksama.

__ADS_1


"Astaga! Kenapa kau selalu saja mengetahui urusan orang lain?" protes Miabella jengkel. Sedangkan Romeo hanya tersenyum melihat ke arah putri bungsu Adriano dan Mia tersebut.


"Omong-omong, di mana paman Dante? Apa dia menunggu di luar?" Adriana melangkah ke dekat pintu kemudian melihat ke luar. "Tak ada siapa pun," gumam gadis itu lagi dengan suara yang masih terdengar jelas oleh Romeo serta Miabella. Dia lalu kembali membalikkan badan. Adriana tersenyum penuh arti kepada sang kakak yang sepertinya sudah paham dengan makna dari bahasa tubuh adiknya tersebut.


"Pinjamkan aku lima belas euro," pinta Miabella. Dia menyodorkan tangan kepada Romeo, dengan telapak menghadap ke atas.


"Dua puluh," ralat Adriana seraya kembali tersenyum.


"Kau ini! Daddy zio memberimu uang jajan bulanan lebih dari cukup, tapi masih saja memerasku!" Miabella tampak sangat gemas terhadap sang adik yang masih terlihat sangat tenang.


Berbeda dengan Romeo yang memasang raut tak percaya. Sesaat kemudian, sulung dari dua bersaudara itu tersenyum sambil menoleh kepada Adriana. "Hebat sekali dirimu, Adriana. Kau bisa menaklukan Miabella semudah itu," ujar Romeo tak kuasa menahan tawa. Dia lalu merogoh saku belakang celana panjangnya. Romeo mengambil dompet, kemudian mengeluarkan beberapa lembar euro. "Aku memberimu lebih," ucap pemuda berambut pirang itu seraya menyodorkan uang tadi kepada Adriana.


"Ow, kau baik sekali. Terima kasih, Romeo," balas Adriana ceria. Dia menerima uang itu, kemudian masukkan ke dalam saku baju piyamanya. "Rahasiamu aman bersamaku, Kakak," ucap gadis itu lagi sebelum beranjak meninggalkan ruang tamu. Adriana berjalan dengan riang untuk kembali ke kamarnya.


"Adik menyebalkan!" umpat Miabella.


Sementara Romeo kembali tertawa. "Adikmu itu diam-diam menghanyutkan. Aku pikir dia gadis yang kalem, tapi ternyata ... astaga menarik sekali." Romeo terus saja tertawa. Sesaat kemudian, pemuda bermata amber tersebut kembali melihat arloji yang melingkar di pergelangan kiri. Sudah waktunya untuk berangkat. Dia pun segera mengajak Miabella keluar.


Dengan langkah yang dibuat tidak menimbulkan kecurigaan, Miabella berada di samping kiri Romeo agar tubuhnya sedikit tersamarkan. Dia baru bernapas lega, ketika telah masuk ke dalam mobil. Romeo meminjam kuncinya dari Fabio, sopir pribadi yang merupakan putra dari Nico.


"Oh syukurlah." Miabella menyandarkan tubuhnya setelah memasang sabuk pengaman.


"Awas jika kau meminta pulang cepat-cepat. Aku tidak mau kau sampai mengganggu acaraku nanti," pesan Romeo saat mobil sedan hitam yang dia kendarai telah keluar dari gerbang pertama Casa de Luca.


"Kau tenang saja. Aku bukan anak kecil lagi," balas Miabella tak acuh. Dia mengalihkan pandangan ke luar jendela, pada pemandangan malam kota Brescia. Tujuan mereka berdua saat itu adalah sebuah cafè yang berada di kawasan pusat kota.

__ADS_1


__ADS_2