
Melewati liburan yang sangat menyenangkan di Amerika, Miabella tampak begitu ceria ketika sudah kembali berada di mansion. Entah bagaimana juga dengan kelanjutan hubungan antara Adriano dan Mia, setelah menghabiskan waktu selama beberapa hari di negeri Paman Sam tersebut.
Sesuai rencana, besok Marco dan Coco akan tiba di Monaco. Mereka memundurkan jadwal keberangkatan ke salah satu negara terkecil di dunia itu, setelah Francesca merengek agar dirinya ikut serta ke sana.
Sementara Arsen pun belum kembali ke Yunani. Selama Adriano berada di Amerika, pria itu menghabiskan waktunya di mansion. Hubungannya dengan Adriano memang terbilang dekat. Karena itu, Adriano tak merasa keberatan ketika pria itu mengatakan ingin menghabiskan beberapa lama di Monaco, setelah dirinya menghadiri jamuan Vargas malam itu.
“Kau tidak ingin berbagi cerita tentang liburanmu, Kawan,” Arsen tersenyum nakal saat dirinya menemani Adriano bermain billiard.
“Kau tidak melihat raut bahagia dari wajahku?” Adriano menanggapi pertanyaan Arsen bukan dengan sebuah jawaban. Dia tengah fokus membidik bola-bola kecil. Lihai tangannya memainkan stik dalam memasukan bola-bola tersebut.
“Aku sudah menduganya. Sayang sekali karena kau juga membawa gadis itu bersamamu, sehingga aku tidak bisa mengajaknya bersenang-senang di sini,” celoteh Arsen yang kini mendapat giliran bermain.
“Siapa maksudmu? Olivia?” tanya Adriano.
“Ya. Aku tidak mungkin membicarakan istrimu,” jawab Arsen enteng.
Adriano terdiam sejenak, sebelum dia kembali berbicara. Pria itu tengah memikirkan cetita yang dituturkan oleh Olivia ketika mereka masih berada Amerika. Olivia ingin sekali dapat mengunjungi pria bernama Cristobal di Piana, dan juga kedua orang tuanya di Piacenza, Italia. Akan tetapi, gadis itu tak berani datang ke sana sendirian. “Jika aku memberimu sedikit tugas, apa kau bersedia melakukannya?” tanya Adriano yang kini mendapat giliran bermain.
Katakan dulu apakah itu tugas berat atau ringan,” sahut Arsen menanggapi.
“Aku rasa tugas yang akan sangat menyenangkan bagimu,” jawab Adriano kalem. Dia menghentikan permainnya sejenak, kemudian beralih pada Arsen yang berdiri di sisi lain meja. Pria bermata biru itu menegakkan tubuhnya sambil memegangi tongkat billiard yang dia berdirikan di atas meja. Adriano menatap Arsen untuk sesaat. “Ini tentang Olivia,” lanjutnya membuat wajah tampan Arsen tampak sumringah.
“Apa yang harus kulakukan terhadap gadis manis itu?” tanya pria asal Yunani tersebut dengan semangat.
Adriano tak segera menjawab. Sesaat kemudian, dia pun sedikit bercerita tentang keinginan Olivia untuk mengunjungi Cristobal dan kedua orang tuanya. Dia juga mengungkapkan bahwa Olivia merasa takut dengan seseorang yang disebut sebagai tuan tanah di kampung halamannya.
“Tuan tanah? Kira-kira tuan tanah yang mana, ya?” pikir Arsen. Dia mencoba untuk menerka-nerka.
“Memangnya, ada berapa banyak tuan tanah yang kau kenal di Italia?” Adriano berjalan memutari meja billiard itu dan mengamati bola-bola sebelum membidiknya.
“Ada beberapa. Kau harus tahu, sebagian dari para tuan tanah itu berhubungan dekat dengan gembong-gembong mafia. Mereka biasa memonopoli perdagangan, dan menjadikan para mafia sebagai penyokong mereka dari belakang. Jika tidak seperti itu, mereka akan mudah untuk dilindas oleh para saingannya,” jelas Arsen dengan tenang.
“Lalu, apa yang harus kulakukan untuk gadis itu?” tanyanya kemudian.
“Bukan tugas berat. Kau hanya perlu menemaninya pergi ke Piana dan juga Italia untuk menemui keluarganya. Bagaimanapun juga, gadis itu merupakan seseorang yang telah berjasa bagiku,” jelas Adriano lagi.
“Oh, hanya itu?” Arsen dengan nada bicaranya yang terdengar begitu enteng. “Bukan hal sulit bagiku. Pasti akan kulakukan dengan senang hati,” lanjutnya dengan senyum lebar. Dia pun melanjutkan permainan.
Untuk beberapa saat, mereka asyik dan fokus dalam permainan tersebut hingga Pierre datang menghampiri keduanya. Awalnya, sang ajudan hanya menonton saja. Namun, tak berselang lama permainan pun berakhir untuk kemenangan Arsen. “Tidak biasanya Anda kalah, Tuan,” ujar Pierre heran.
__ADS_1
“Aku sengaja mengalah,” kilah Adriano enteng dan tanpa beban.
“Mungkin dia terlalu sering bercinta saat liburan kemarin,” celetuk Arsen sekenanya.
Sebuah candaan yang membuat Adriano kembali teringat akan sesuatu. Pria bermata biru itu memperhatikan Arsen dengan cukup lekat. “Katakan padaku, seberapa besar kau mengenal Vargas dan ajudannya?” tanya Adriano.
Arsen meletakan tongkat billiard yang sedang dia pegang. Pria itu lalu menghampiri dan berdiri di dekat Adriano. “Apa yang ingin kau ketahui, Kawan?” tanyanya.
“Segalanya,” jawab Adriano dengan segera.
Bukannya menjawab, Arsen malah tertawa pelan. Dia lalu mengusap-usap tengkuk kepalanya. Sementara Adriano dan Pierre menunggu jawaban dengan raut penasaran. “Aku berkenalan dengan pria itu sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Vargas adalah pengusaha. Dia merajai perdagangan dalam hampir segala sektor di wilayah Amerika. Setahuku dia tak hanya berkecimpung dalam bisnis hiburan malam, tapi ada beberapa bisnis lain yang membuatnya dapat merajai dan bahkan memonopoli perdagangan, bahkan dalam jalur gelap sekalipun,” terang Arsen.
“Kau tahu, Adriano? Vargas adalah produsen senjata terbesar di wilayah Amerika. Profesinya yang dulu merupakan mantan militer, mempermudah dirinya dalam bisnis itu,” lanjut Arsen membuat Adriano segera berekasi.
Pria bermata biru tersebut mengubah posisi berdiri jadi menyamping dan menghadap kepada Arsen. Sementara tangan kanannya dia letakkan pada pinggiran meja billiard, dan tangan kirinya dia letakan di pinggang. Adriano merasa semakin tertarik dengan penjelasan Arsen. “Jadi, dia juga berbisnis jual beli senjata?” tanya Adriano lagi.
“Ya, dan itu dijalankan dengan jalur legal! Perlu kuulangi, dia memilik pabrik senjata legal dan dipasarkan secara legal pula. Area pemasarannya adalah di wilayah Amerika Utara dan Selatan. Dia tak pernah merambah keluar dari sana,” jelas Arsen yakin.
Adriano tampak berpikir keras sembari mengusap dagu. Apabila penuturan Arsen benar adanya, maka Vargas tak perlu dicurigai karena jalur perdagangan senjatanya berbeda dengan milik Matteo yang diedarkan di pasar gelap.
“Kenapa, Adriano? Apa kau ragu untuk bekerja sama dengannya?” tebak Arsen.
“Apa ada yang salah dengan wajahku?” Arsen menautkan alisnya.
“Tidak. Tidak apa-apa,” Adriano terkekeh pelan. “Aku akan melihat keadaan Mia dan Miabella,” ucapnya sambil berlalu meninggalkan Arsen dan Pierre begitu saja.
“Astaga! Begitu besar pengaruh wanita itu. Padahal baru beberapa jam yang lalu kalian sarapan pagi bersama!” seru Arsen dari dalam ruangan. Sementara Adriano tak mempedulikan hal itu. Dia terus melangkah menuju satu lantai di atas ruangan tadi. Dia berpikir jika di jam-jam seperti itu, Mia berada di kamar Miabella untuk menidurkan putri kecilnya.
Namun, ketika langkah kaki Adriano tiba di depan kamar putri sambungnya, gerak pria tampan itu harus terhenti oleh suara nyaring Valerie. “Jangan berisik! Miabella sedang tidur!" tegur Adriano.
“Maaf, maaf tapi ini penting sekali, Moy brat!” ujar Valerie seraya meletakkan kedua tangannya di depan dada dengan telapak yang mengarah pada Adriano.
“Ada apa?” Adriano menghadapkan tubuhnya pada Valerie.
“Apa kau masih ingat senjata Matteo de Luca yang waktu itu aku sempat membantu merakitnya?” nada bicara Valerie begitu menggebu-gebu.
“Iya? Kenapa memangnya?” Adriano semakin mendekatkan dirinya kepada Valerie.
“Kau tak tahu, Moy brat! Selama kau berbulan madu di Amerika, aku sengaja mengunjungi temanku di Sicilia. Dia juga salah satu perakit senjata, sama sepertiku. Awalnya kami hanya bersenang-senang berkeliling kota. Lalu, kami berhenti di sebuah bar dan sedikit minum-minum di sana. Tak berapa lama, datanglah segerombolan orang bertopeng tengkorak. Mereka tiba-tiba menodongkan senjata pada si pemilik bar. Orang-orang barbar itu menuduh si pemilik bar sebagai pengedar senjata!” Valerie menarik napas panjang sebelum kembali bercerita.
__ADS_1
“Saat itu aku tak ingin ikut campur. Akan tetapi, salah satu pria bertopeng itu mengeluarkan senapan laras panjang yang sama persis dengan milik Matteo. Padahal, kau tahu sendiri ‘kan jika senjata Matteo tidak diedarkan secara bebas,” lanjutnya.
“Lalu? Apa kau berhasil mencegah orang-orang bertopeng itu?” tanya Adriano penasaran.
“Tidak, karena mereka berjumlah banyak dan semuanya menodongkan senjata ke segala arah, kemudian menghilang setelah menghabisi si pemilik bar,” jawab Valerie.
“Apa kau masih ingat nama bar dan pemiliknya?” tanya Adriano antusias. Tangannya mencengkeram lengan Valerie.
“Ya, bar itu bernama Palazzo del Rosso. Hanya informasi itu yang kudapat. Semua orang di tempat itu membungkam mulut mereka,” tutur Valerie. “Apa kau mau menyelidikinya ke sana?”
“Tentu saja!” sahut Adriano cepat, bersamaan dengan pintu kamar Miabella yang terbuka. Mia menyembulkan wajahnya di sana.
“Hai, Mia,” sapa Valerie.
Wanita cantik itu sempat mengangguk, lalu menoleh pada Adriano. “Kapan kita berangkat?” tanyanya pada sang suami.
“Berangkat ke mana?” Adriano tampak kebingungan.
“Kau bilang akan pergi ke Sicilia,” ucap Mia.
“Ya, tapi tidak bersamamu,” tegas pria bermata biru itu.
“Sayangnya, aku memaksa!” Mia tak mau kalah.
“Apa yang akan kau lakukan di sana, Mia? Kau hanya akan menghambat gerakku!” tolak Adriano.
Sementara Valerie hanya mampu memandang Adriano dan Mia secara bergantian sambil menyimak perdebatan sepasang suami istri itu.
“Kalau begitu, kau tak boleh pergi sendiri. Ajak Marco atau Ricci bersamamu!” putus Mia.
🍒
🍒
🍒
Hai, readers. Ini Ceuceu bawakan satu lagi rekomendasi novel keren untuk dimasukan ke dalam rak.
__ADS_1