
Perlahan, Adriano membuka mata ketika pendengarannya menangkap suara rintihan pelan tak jauh dari tempat dia terbaring. Pria tampan bermata biru itu mencoba untuk mengumpulkan kesadaran, setelah beberapa saat lamanya tertidur karena pengaruh obat. Adriano pun sesekali meringis menahan sakit. Namun, dia merasa terganggu dengan suara rintihan kecil yang kembali terdengar olehnya.
"Manja! Berisik sekali!" sergah Adriano. Rasa hati ingin membentak suara yang sangat dia kenal sebagai milik Juan Pablo. Akan tetapi, tubuhnya terlalu lemah untuk melakukan hal itu.
Juan Pablo yang telah siuman beberapa saat lebih dulu dari Adriano, menggerakkan kepalanya ke samping di mana terdapat ranjang tempat sang ketua Tigre Nero. Bukannya marah, pria asal Meksiko itu justru tertawa pelan dan seakan mengejek. "Jelek sekali kau, Adriano. Aku senang karena sudah berhasil mematahkan tulang hidungmu," ledeknya setelah melihat plester yang terpasang pada batang hidung suami dari Mia tersebut.
"Setelah ini akan kucongkel bola matamu, lalu kuganti dengan dua buah arancini," balas Adriano tertawa pelan. Namun, dia kembali meringis menahan sakit.
"Sebelum itu terjadi, akan kupatahkan tanganmu terlebih dulu." Juan Pablo tak mau kalah, meskipun dia menanggapi ucapan sang ketua Tigre Nero dengan tenang. "Katakan sesuatu padaku, Adriano," pintanya kemudian. Sementara Adriano tidak menjawab. Dia hanya menggumam pelan.
"Apa yang telah kau lakukan terhadap Sergei Redomir?" tanya Juan Pablo.
"Kau masih saja menanyakannya," jawab Adriano malas.
"Aku tidak yakin jika kau tak tahu apapun tentang menghilangnya dia," ucap Juan Pablo ragu. Namun, Adriano tampaknya tak berniat untuk menjawab. "Katakan saja," desak pria berjuluk Elang Rimba tersebut.
"Apa pentingnya dia untukmu?" tanya Adriano pelan.
"Tidak ada," jawab Juan Pablo enteng. "Aku masih memiliki utang padanya."
"Memalukan. Elang Rimba berutang," ledek Adriano lagi memaksakan diri untuk kembali tertawa.
"Tutup mulutmu!" sergah Juan Pablo agak tegas. Namun, tak berselang lama dia kembali meringis menahan rasa sakitnya. Juan Pablo terdiam untuk beberapa saat. Pria tampan asal Amerika Latin tersebut tengah mengatur laju napas, demi menetralkan perasaan tak nyaman pada beberapa bagian tubuhnya.
"Sergei telah membantuku untuk mendapatkan tanah yang kita jadikan sebagai lahan kasino di Birmingham. Aku belum sempat memberikan upah atas jasanya," jelas Juan Pablo dengan tatapan menerawang pada langit-langit ruangan itu.
"Kasihan sekali," sahut Adriano. "Sergei sudah memakan banyak keuntungan, dari penjualan senjata milik Matteo de Luca," tutur Adriano singkat.
"Jadi, kau menghabisinya?" terka Juan Pablo kembali menoleh kepada Adriano yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Julukan Elang Rimba memang tepat untukmu. Kau punya pengamatan setajam burung pemangsa itu." Adriano tersenyum sinis. "Camaro yang lapar, begitu senang saat kuberikan tubuh Sergei untuknya," ucap Adriano lagi dengan puas.
"Camaro ...." ulang Juan Pablo setengah bergumam. Setelah itu, pria tampan berkulit eksotis tersebut memilih untuk diam. Ingatan Juan Pablo kembali pada wajah cantik sang istri yang entah bagaimana keadaannya saat ini. "Bice ...." desah Juan Pablo berat dan dalam seraya memejamkan mata. Dia tak tahu bahwa saat itu Adriano masih memperhatikan dirinya.
__ADS_1
Perjalanan panjang telah Adriano lalui, untuk bisa sampai pada titik di mana dirinya dapat menemukan jawaban dari sesuatu yang terkubur selama bertahun-tahun. Dia begitu berhasrat agar dapat segera menemukan pembunuh Matteo, dan berani menantang maut karenanya. Namun, saat apa yang dicarinya dengan susah payah hingga harus berkorban segala hal tersebut telah berhasil dia temukan, kenyataan berkata lain. Adriano harus mengambil keputusan yang bertolak belakang dengan niat awalnya saat menikahi Mia dulu.
"Kenapa kalian menikah dengan diam-diam?" tanya Adriano kemudian setelah mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
"Karena kau dan karena diriku sendiri," jawab Juan Pabo tanpa membuka mata. Dia tak ingin melewatkan bayangan wajah cantik sang istri yang sangat dia butuhkan kehadirannya saat ini.
"Karena diriku?" Adriano masih menoleh kepada Juan Pablo.
Juan Pablo tak segera menjawab. Dia juga masih belum membuka matanya. Entah pria itu kembali tertidur atau hanya sekadar menghindari perbincangan dengan Adriano. "Kau begitu ingin menghabisi Elang Rimba, tanpa kau tahu bahwa hidup kita berdua sama-sama menyedihkan." Juan Pablo tersenyum simpul.
"Aku jauh lebih beruntung darimu, Brengsek!" maki Adriano ketus, tapi tetap dengan nada bicara yang pelan. Dia tak bisa berkata dengan terlalu kuat, karena kondisi tubuh yang masih terasa sakit.
Ya, Adriano memang tidak salah berkata demikian. Dia jauh lebih beruntung meskipun telah dibuang oleh keluarga Emiliano, sang ayah kandung. Adriano mendapatkan pendidikan dan bimbingan yang baik dari Alessandro Moriarty. Meskipun pria itu adalah seorang ketua mafia yang sangat disegani atas nama besarnya di dunia hitam, tetapi Alessandro sangat menyayangi keponakannya tersebut. Dia memberikan yang terbaik untuk Adriano.
Lain halnya dengan Juan Pablo. Ketika usianya sekitar sebelas tahun, sang ayah tiri yaitu Sebastian Naldo Quentiero harus tiada. Mattea pun menjadi orang tua tunggal dalam membesarkannya. Semua berjalan baik, hingga Juan Pablo menginjak usia remaja. Segalanya berubah setelah dia tergabung dalam aliansi pembunuh bayaran bernama Killer X. Juan Pablo hidup dalam bimbingan orang-orang yang haus akan darah. Kebrutalan, kengerian, dan tindakan-tindakan sadislah yang menjadi makanannya sehari-hari.
Namun, Juan Pablo masih terbilang beruntung karena dirinya memiliki seorang ibu seperti Mattea. Perlahan-lahan dan dengan penuh kesabaran, Mattea mengembalikan sisi kebaikan dalam diri putranya. Apa yang wanita itu lakukan tak sia-sia, ketika Juan Pablo memutuskan untuk mengundurkan diri dari keanggotaan Killer X. Padahal, dia menjadi salah satu yang paling diandalkan dalam membangun nama besar aliansi pembunuh bayaran tersebut.
Sayangnya, meskipun Juan Pablo tak lagi berada dalam aliansi hitam tadi, dendam terhadap sang ayah yang telah dianggap mengabaikan dia dan sang ibu tak juga sirna. Kesempatan emas itu datang, tatkala nama Matteo de Luca masuk ke dalam daftar situs penjualan senjata ilegal di Amerika dan menyaingi perusahaannya yang memang telah bersertifikasi legal dari pemerintah. Dua alasan kuat yang membuat Juan Pablo, ketika menjadikan putra sah dari Roberto de Luca tersebut sebagai target dari senapan berpeluru khas miliknya.
......................
Dua hari telah berlalu. Adriano dan Juan Pablo sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Mia yang kondisinya sudah membaik, kerap menemani Adriano di sana. Sebuah keajaiban karena Mia tak mengalami masa-masa berat, tidak seperti saat dulu ketika mengandung Miabella. Jadi, dia bisa beraktivitas dengan lebih nyaman. "Beristirahatlah, Sayang," ucap Mia seraya mengecup lembut bibir Adriano yang masih terbaring lemah. Dia baru selesai menyuapi sang suami.
"Kau juga jangan sampai terlalu lelah, Mia. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan kepada calon bayi kita," pesan Adriano seraya memandang sang istri yang berdiri di sebelah ranjang.
"Jangan khawatirkan aku. Sebaiknya pikirian agar kau segera pulih. Dengan begitu kita bisa segera pulang dari sini," balas Mia dengan lembut. "Tidurlah. Aku akan ke kantin sebentar." Seusai berkata demikian, Mia kembali mengecup kening Adriano, lalu keluar dari sana.
Mia melangkah dengan hati-hati. Tujuannya saat itu adalah kantin rumah sakit, karena dirinya hendak membeli makanan. Namun, langkah kecil wanita cantik tersebut harus terhenti di depan kamar rawat yang hanya terhalang dua ruangan dari kamar perawatan tempat Adriano berada. Mia pun berdiri di depan pintu lalu mengetuknya. Setelah itu, dia memutar pegangan hingga pintu terbuka.
Tampaklah Juan Pablo yang juga masih terbaring tak berdaya. Tak ada siapa pun di sana yang menemaninya. Mia lalu berjalan mendekat. Dilihatnya makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit masih utuh di atas meja khusus tak jauh dari tempat tidur. "Tuan Herrera?" sapa Mia lembut. Suaranya yang meskipun terdengar cukup pelan, tapi berhasil membuat Juan Pablo seketika membuka mata.
"Mia," balas Juan Pablo dengan suara berat. Dia menatap Mia dengan sorot mata yang tampak sayu.
__ADS_1
"Kau belum makan?" tanya Mia kembali mengarahkan pandangan pada makanan yang masih utuh tadi.
"Aku kesulitan," jawab Juan Pablo pelan.
"Astaga. Kenapa perawat tak membantumu?" Wajah Mia terlihat resah. Tanpa banyak bicara, dia mengambil makanan itu lalu menggeser kursi ke dekat ranjang. Mia duduk di sana. Tak ada rasa canggung saat dirinya mulai menyuapi pria yang merupakan kakak tiri Matteo tersebut.
Juan Pablo pun tak menolak saat Mia menyuapi dirinya. "Terima kasih, Mia," ucap pria itu pelan. Dia menatap lekat wanita yang dulu sempat menjadi pujaan hatinya meskipun tak kesampaian.
"Bagaimana dengan Gianna?" tanya Mia sambil terus menyuapi Juan Pablo.
"Dia belum mengetahui keadaanku. Aku juga tidak bisa menghubunginya. Ponselku rusak," jelas Juan Pablo.
"Astaga. Bagaimanapun juga dia harus tahu tentang keadaanmu yang sebenarnya," ujar Mia yang tampak khawatir.
"Dia sedang hamil muda. Terlalu riskan jika harus datang kemari. Aku akan meminta untuk dipindahkan ke rumah sakit di Roma," ucap Juan Pablo.
"Lalu, bagaimana dengan ibumu?" tanya Mia lagi.
"Ibuku ada di Meksiko. Dia tidak perlu melihat seberapa kacaunya aku saat ini," jawab Juan Pablo enteng.
"Ada apa denganmu, Tuan Herrera? Kau membutuhkan seseorang yang bisa merawatmu secara intens. Merawat dalam hal-hal seperti ini," protes Mia yang merasa heran dengan sikap pria itu.
"Aku sudah terbiasa menjalani segala sesuatunya sendiri," sahut Juan Pablo tenang.
"Ya, tapi sekarang kau sudah memiliki seorang istri. Kau tidak memahami bagaimana perasaan kami para wanita, saat harus membiarkan suami pergi dari rumah dengan menyelipkan senjata di bagian tubuhnya. Aku sendiri ... akan sangat cemas dan tak akan bisa tidur semalaman, hingga Adriano kembali dan tertidur di ranjang yang sama denganku. Gianna pun pasti merasakan hal itu."
Jaun Pablo tak mengatakan apapun lagi. Dia hanya menggumam seraya tersenyum kecil. Juan Pablo bahkan tak menolak ketika Mia mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. "Setidaknya katakan jika saat ini keadaanmu baik-baik saja," ucap Mia sebelum panggilannya tersambung. Dia lalu memberikan ponsel itu kepada Juan Pablo ketika suara Gianna terdengar menyapa.
"Pronto. Apa kabar, Mia?"
"Ini aku, Bice. Suamimu."
🍒 🍒 🍒
__ADS_1
Hai, ceuceu datang lagi bawa rekomendasi novel keren. Ayo cek 😉