
“Baiklah, akan kupertimbangkan terlebih dahulu,” sahut Adriano menanggapi tawaran dari Don Vargas. Sang ketua Tigre Nero tersebut lalu merapikan kemeja hitam yang dia kenakan. “Sebenarnya, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Kebetulan hari ini aku dan Mia harus mencari bingkisan untuk hadiah,” ucapnya lagi.
“Oh, begitu? Apa Anda juga akan pergi ke Yunani?” tanya Don Vargas seakan sudah dapat menebak arah pembicaraan Adriano.
“Ya. Apakah Arsen mengundang Anda juga?” Adriano balik bertanya.
“Oh, tentu saja. Kami sudah lama saling mengenal. Aku menyukai karakter Arsen Moras yang selalu terlihat santai dan apa adanya. Dia juga tak hanya pandai memikat lawan jenis, tapi lebih dari itu. Arsen sama seperti Sergei Redomir. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya seakan mengandung pemikat bagi lawan bicara. Hal seperti itu merupakan bakat yang sangat istimewa dan tidak dimiliki oleh setiap orang,” terang Don Vargas. Sesaat kemudian, pria paruh baya tersebut sedikit berpikir. “Namun, sayang sekali karena hingga saat ini aku masih belum mengetahui ke mana menghilangnya Sergei Redomir."
Sementara Adriano sebisa mungkin tetap terlihat tenang dan tak menimbulkan kecurigaan. “Kusarankan untuk mencarinya ke Moscow. Apa tuan Herrera sudah mengatakan itu kepada Anda?” tanyanya datar.
“Ya, tentu. Moscow dan semua tempat yang sering dia kunjungi. Kita tahu bahwa Sergei kerap memanjakan dirinya dengan melakukan perjalanan ke luar negeri, berlibur ....” Don Vargas terdiam sejenak. Sorot matanya tiba-tiba berubah dan tampak lain dari yang tadi Adriano lihat. “Anda tahu, Tuan D’Angelo? Satu hal yang aku takutkan adalah ketika diriku sibuk mencarinya ke mana-mana, ternyata dia masih berada di Monaco.”
Adriano membalas tatapan aneh Don Vargas. Namun, sesaat kemudian pria bermata biru itu menyunggingkan sebuah senyuman. “Seberapa luas negara Monaco hingga seorang Don Vargas tidak bisa menemukan Sergei Redomir? Menurutku itu sangatlah lucu,” ucapnya. “Anda juga tahu jika Sergei adalah orang yang sangat berisik. Mana mungkin jika seseorang seperti itu sulit untuk ditemukan,” ujarnya tanpa mengalihkan tatapan dari pria paruh baya tersebut.
“Itu mungkin saja. Entahlah, karena bisa jadi Sergei dibuat diam. Sementara orang yang membungkam mulutnya juga pasti bukanlah seseorang yang sembarangan,” bantah Don Vargas. Dia masih dengan tatapan aneh yang dilayangkan terhadap Adriano. Akan tetapi, tak lama kemudian sebuah senyuman hangat muncul di bibirnya yang dipenuhi kumis. “Ah, sudahlah. Aku yakin tak lama lagi dia pasti akan segera ditemukan,” ujarnya tenang dan segera ditanggapi dengan sebuah anggukan pelan dari Adriano.
“Baiklah, Tuan D’Angelo. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk mampir kemari. Aku harap Anda segera memikirkan dan mengambil keputusan atas tawaranku tadi,” Don Vargas beranjak dari duduknya. Dia berdiri lalu menyalami Adriano. Jabat tangan yang terasa begitu tegas, khas seorang militer.
“Sampai bertemu lagi di Yunani, Don Vargas,” pamit Adriano.
“Ya, Tuan D’Angelo. Sampai bertemu di Yunani,” balas pria paruh baya itu. “Pengawalku akan mengantar Anda hingga ke halaman,” ucapnya kemudian.
“Baik, terima kasih,” sahut Adriano seraya berlalu dari beranda itu. Dia kembali melangkah gagah menuju pintu keluar, dari mansion yang tak kalah megah jika dibandingkan dengan mansion miliknya. Namun, sebelum Adriano benar-benar keluar dari bangunan serba putih itu, langkah tegapnya harus terhenti saat dia melihat kehadiran Juan Pablo di sana.
Pria asal Meksiko tersebut muncul dengan tampilan kasual. Saat itu, Juan Pablo mengenakan t-shirt panjang berwarna hitam, dengan aksen v neck dan kerah shanghai. Pakaian santai tadi dipadukan dengan celana jeans yang dilengkapi sebuah sabuk. Pria berwajah dingin tersebut, berjalan ke arah Adriano sambil menaikkan lengan t-shirtnya, sehingga memperlihatkan urat-urat tangan yang tampak sangat tegas. Sebuah arloji pun melengkapi penampilan ciamiknya hari itu.
__ADS_1
Adriano tertegun seraya memperhatikan Juan Pablo yang semakin mendekat. Bayangan tentang sikapnya semalam terhadap Mia kembali muncul. Ingin rasanya dia menghajar pria dengan kulit eksotis tersebut karena telah berani menyentuh sang istri tercinta, meskipun sebenarnya itu bukanlah sebuah sentuhan yang patut untuk dijadikan sebagai bahan kecemburuan.
“Tuan D’Angelo,” sapa Juan Pablo yang sudah berdiri di hadapan Adriano. Dia menyodorkan tangan dengan maksud mengajak Adriano bersalaman. “Aku tidak tahu Anda akan datang kemari,” ucapnya lagi berbasa-basi.
“Ya. Don Vargas mengundangku secara mendadak pagi ini, tapi aku akan segera pulang,” sahut Adriano berusaha meredam rasa kesal dalam hatinya.
“Oh, sayang sekali,” sesal Juan Pablo, “padahal kita bisa bermain billiard terlebih dahulu,” ujarnya mencoba basa-basi lagi. Namun, seperti biasanya tanpa ekspresi yang berlebihan.
“Sayang sekali, Tuan Herrera. Aku rasa mungkin lain kali saja. Aku sudah janji untuk menemani Mia berbelanja sepulang dari sini. Aku tidak ingin dia menunggu terlalu lama. Anda tahu bukan, wanita cantik tidak boleh dibiarkan merasa bosan apalagi kesal,” sahut Adriano dengan senyuman yang terkesan begitu puas sembari membalas jabat tangan Juan Pablo.
Untuk sesaat, kedua pria rupawan itu saling menatap tajam satu sama lain, sebelum Juan Pablo kembali tersenyum samar lalu mengangguk. “Semoga hari Anda menyenangkan,” ucapnya seraya berlalu ke dalam mansion.
Adriano baru mengalihkan tatapannya dari Juan Pablo setelah sosok menawan itu tak lagi tampak dari pandangan. Dia kembali berjalan menuju mobil mewah yang sudah siap di halaman depan mansion, kemudian mengendarainya pulang dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanan, Adriano banyak berpikir tentang Don Vargas yang cukup mengusik rasa ingin tahunya. Perkataan pria itu tentang Elang Rimba, dirasa cukup mencurigakan baginya. Pria paruh baya tersebut seakan mengenal dekat sosok misterius itu.
“Ricci, bagaimana keadaan Casa de Luca?” tanya Adriano.
“Sejauh ini aman dan damai. Kedua anak buahmu sangat membantu pekerjaan di sini. Grazie, Adriano,” jawab Coco tulus.
“Apa drone itu sudah tidak terlihat lagi di langit perkebunan?” tanya Adriano lagi.
“Tidak ada apapun di sini, Amico. Aku sendiri juga heran. Drone milik Tangan Setan itu hanya muncul sekali saja,” jelas Coco terdengar ragu.
“Kuharap benda itu tidak muncul lagi. Merepotkan saja,” gerutu Adriano yang ditanggapi dengan tawa dari Coco.
__ADS_1
“Aku juga berharap Serafino dan Dante tetap tinggal di Casa de Luca. Aku suka mereka. Tempat ini tak terasa sepi lagi,” celoteh Coco kemudian.
“Menikahlah, maka kau tak akan lagi merasa kesepian,” Adriano tersenyum lebar setelah mengucap demikian.
“Jangan meledekku, Amico. Mudah bagimu bicara. Masalahnya Francy terus menolak untuk menikah, karena dia masih fokus dengan kariernya sebagai model,” elak Coco.
“Ada dua pilihan untukmu, Ricci. Menyerah atau bertahan,” canda Adriano. Dia juga sampai harus menahan tawanya.
“Jika tak ada lagi yang ingin kau katakan, biar kututup teleponnya!” sentak Coco yang mulai terpancing emosi.
“Jangan dulu. Tunggu! Ada satu hal penting yang ingin kubicarakan denganmu,” cegah Adriano.
“Cepat katakan!” sahut Coco kesal.
“Kau begitu menguasai teknologi dan pandai mengutak-atik barang-barang elektronik. Apakah itu artinya kau bisa meretas data pribadi seseorang?” Adriano bertanya dengan nada pelan.
“Siapa yang kau maksud? Akan kucoba,” Coco pun menurunkan intonasi bicaranya.
“Don Vargas,” jawab Adriano sambil tersenyum penuh arti.
“Apa yang ingin kau cari tahu tentangnya?” kalimat Coco terdengar berubah menjadi serius.
“Semua tentang masa lalu dan latar belakangnya. Secara mendetail,” uja Adriano. Satu tangannya lihai memutar kemudi hingga tiba di depan mansion. Dia lalu menghentikan kendaraan dan berdiam sejenak di balik kemudi, sambil berbincang lewat telepon.
“Biasanya, orang yang bergelut di dunia mafia, sulit sekali untuk ditelusuri data pribadinya. Namun, untukmu akan kucoba,” jawab Coco.
__ADS_1
“Grazie, Ricci. Kutunggu secepatnya informasi darimu,” tutup Adriano. Dia langsung menyimpan ponsel ketika melihat Pierre berjalan ke arahnya dengan raut serius.