Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Men's Strategy


__ADS_3

Tak ada yang paling membahagiakan bagi Adriano, selain melakukan perjalanan dengan mengantongi restu dari istri tercinta. Wajah tampannya terlihat begitu ceria saat melintasi landasan helikopter. Dengan menggandeng tangan Mia di sebelah kiri dan Miabella di sebelah kanan, Adriano tersenyum lebar saat dirinya tiba di sisi badan helikopter. Diciuminya kedua pipi gembul Miabella sebelum beralih mencium lembut bibir Mia beberapa saat lamanya. Dia tak peduli jika dirinya menghalangi pintu, sampai-sampai Coco harus memutari moncong helikopter untuk masuk ke dalam dari pintu yang berbeda.


“Harusnya kita bisa lebih mesra dari mereka berdua, Francy,” protes Coco. Belum sempat Francesca menjawab, Marco berjalan di sampingnya, lalu menaiki helikopter seorang diri.


“Hei, di mana Dani? Kenapa dia tidak mengantarmu pergi?” tanya Coco keheranan.


“Nikmatilah masa mesra kalian sebelum datang monster-monster kecil yang berjumlah belasan,” seringai Marco yang sama sekali tak menjawab pertanyaan sahabat Matteo tersebut. “Dani tertidur karena kelelahan mengejar Romeo dan Tobia di kolam belakang,” sahut Marco pada akhirnya.


“Tenag saja, Marco. Aku sangat menyukai anak-anak. Kurasa aku siap memiliki banyak anak. Betul ‘kan, Ricci?” Francesca mengangkat satu alisnya seraya tersenyum menggoda pada calon suaminya. “Ricci?” ulangnya ketika Coco pura-pura tak mendengar.


“Aku berangkat dulu, Sayangku.” Coco mengecup bibir dan kening Francesca. Setelah itu, dia segera masuk ke dalam helikopter. Dia memilih tempat duduk di samping Marco.


"Awas jika sampai kau ketahuan berbuat yang tidak-tidak di sana!" ancam Francesca dari luar. Nada bicaranya terdengar sangat tegas dan juga serius.


"Tenang saja, Francy. Aku yang akan menjaga calon suamimu," sahut Marco seraya menepuk-nepuk pundak Coco.


Tersisa hanya Adriano yang masih saja bercengkerama bersama Mia dan juga Miabella.


“Kuharap kau masih mengingat kami saat bersenang-senang di sana,” ucap Mia dengan bibir melengkung, persis seperti anak kecil yang tengah merajuk ketika hendak ditinggal pergi oleh orang tuanya.


“Tentu saja, Sayang,” Adriano membelai lembut pipi istrinya menggunakan punggung tangan.


“Kuharap kau membayangkan wajahku saat dikelilingi oleh para wanita cantik dan seksi,” lanjut Mia yang ternyata belum ingin berhent memberikan pesan-pesan keramatnya, sembari merengkuh Miabella dan menggendongnya.


"Sudah kukatakan tak ada wanita seksi, Mia," sanggah Adriano meyakinkan sang istri.


“Aku titip es krim yang banyak, Daddy Zio!” sela balita cantik itu setelah Adriano menanggapi perkataan Mia yang belum juga merasa yakin.

__ADS_1


“Ya, ampun. Kalian benar-benar, ya,” Adriano terkekeh pelan melihat sikap ibu dan anak itu.


“Hei, Adriano! Lihatlah! Pilot helikoptermu sudah menggaruk-garuk kepala berkali-kali. Sepertinya dia akan pingsan jika harus menunggumu terlalu lama,” seru Coco dari dalam helikopter. Sontak pilot tersebut menoleh dan menggeleng ketakutan ke arah Adriano.


“Ti-tidak, Bos! Itu tidak benar! Aku bisa menunggu selama apapun yang Anda mau,” sanggah pilot itu dengan nada sedikit panik.


“Ayo, Mia. Kita turun. Ada banyak hal yang harus kita diskusikan,” ajak Francesca yang menarik pelan lengan sang kakak tiri, agar segera mengikuti dirinya.


“Francesca benar, Sayang. Turunlah. Aku berangkat sekarang. Pilotnya akan segera menyalakan mesin. Kau pasti tak ingin jika rambutmu berantakan terkena angin dari baling-baling,” bujuk Adriano seraya mengecup bibir istrinya sekali lagi.


“Baiklah, tapi ingat perjanjian kita!” tegas Mia dengan intonasi sedikit nyaring, membuat Marco dan Coco ikut menoleh seketika.


“Kau tidak boleh mematikan ponsel barang sedetik pun dan harus menjawab panggilan tiap kali aku menelepon!” pesannya.


“Tentu saja,” jawab Adriano seraya tertawa renyah, untuk menutupi sedikit rasa gugup. Dia pun segera melompat masuk ke dalam kabin helikopter. Setelah siap, Adriano lalu melambaikan tangannya kepada Miabella.


Perlahan, helikopter milik Adriano terbang semakin tinggi, meninggalkan landasan yang terletak di atap bangunan Casa de Luca. Tak sampai setengah jam, mereka pun akhirnya tiba di landasan mansion. Saat itu, waktu telah menunjukkan pukul lima sore.


Ketiga pria bertubuh tegap itu disambut oleh Pierre dan beberapa pelayan. Adriano turun dari helikopter, kemudian mengajak tamu-tamunya untuk langsung turun ke ruang kerja di lantai dasar dengan menggunakan lift. Pierre terus mengikuti langkah tuannya sementara para pelayan tadi berbelok ke arah yang berbeda.


Di ruang kerja, Adriano menekan tombol khusus yang berada di bawah meja ruang kerjanya. Tak berapa lama, dinding yang berada di belakang meja kerja Adriano, perlahan bergeser ke samping kemudian terbuka lebar. Tampaklah ruangan di balik dinding tersebut yang membuat Marco dan Coco terbelalak takjub.


“Silakan masuk, Tuan-tuan,” ajak Pierre sopan sembari menekan saklar, sehingga penerangan yang berada di dalam ruangan tersebut menyala.


Baik Marco maupun Coco tak henti-hentinya berdecak kagum saat melihat ruangan rahasia yang penuh dengan koleksi senjata Adriano. Mulai dari pistol antik yang berjenis revolver, sampai pistol semi otomatis dan otomatis seri terbaru. Semua berjajar rapi di dalam rak khusus yang tertempel di tembok. Sedangkan senapan laras panjang berbagai macam tipe, tergantung berjajar bagaikan hiasan dinding. Saking banyaknya senjata, sampai-sampai tembok ruangan itu sendiri pun tak terlihat.


“Astaga, untuk apa senjata sebanyak ini? Bukankah kau mengatakan jika dirimu tak menyukai senjata?” tanya Marco.

__ADS_1


“Siapa yang mengatakan bahwa aku tak menyukai senjata? Aku hanya mengatakan bahwa diriku tidak berdagang senjata. Namun, tentu saja aku tetap hobi membelinya dan mengoleksi,” terang Adriano.


“Aku suka ini,” ujar Coco. Tanpa permisi, dia melewati tubuh Pierre yang berdiri di dekat Adriano dan terus mendekati rak kayu. Dia mengambil satu pistol berjenis Dessert Eagle dan satu pistol SIG Sauer. Dengan santainya, Coco menyarungkan dua senjata itu di balik pinggang. “Kita berangkat sekarang, ‘kan?” Coco mengedarkan pandangannya pada tiap orang yang berada di ruangan tersebut.


Adriano tak segera menjawab. Dia malah saling pandang dengan Marco sebelum sorot mata birunya kembali pada Coco. "Sekarang sudah pukul lima sore. Jika kita terbang saat ini juga, maka aku harus mempersiapkan pesawat dan pilotku lebih dulu. Hal itu akan menghabiskan waktu selama dua jam. Artinya, kita akan terbang pada pukul tujuh malam. Itu artinya kita akan tiba di Vukovar pada tengah malam,” jelasnya.


“Apakah kau sudah mulai merasa lelah? Lalu, kenapa jika kita tiba di sana sudah tengah malam? Bukankah itu bagus? Keuntungan bagi kita karena musuh akan lebih sulit memantau dalam keadaan gelap,” sahut Coco antusias.


“Kurasa idenya bagus juga,” timpal Marco sambil mengangkat bahu.


“Maaf, Tuan. Aku hanya sekadar ingin mengingatkan bahwa nyonya Mia terbiasa mencari Anda pada tengah malam. Anda ingat bukan, ketika sedang sibuk di ruang kerja dan tak segera kembali ke kamar. Tiap jam sepuluh ke atas, nyonya akan menelepon Anda tanpa jeda sampai Anda menjawab panggilannya,” tutur Pierre mengingatkan dengan gaya bicaranya yang tenang.


“Itu tidak bagus,” ucap Marco lagi.


“Ya ampun, Amico. Kukira kau lebih berpengalaman dalam menghadapi wanita dibandingkan aku. Ternyata, penilaianku salah,” ejek Coco sambil tergelak. “Begini!” pria berambut ikal itu memasang tampang serius, tapi terlihat kocak di mata Adriano dan Marco. “Bukankah kabin jet pribadimu juga menyediakan tempat tidur?”


“Ya, tapi hanya ada satu tempat tidur,” jawab Adriano datar.


“Nah, jika Mia menelepon maka kau tinggal beraksi di atas ranjang sambil berpura-pura bahwa dirimu sedang berada di kamar hotel,” saran Coco sambil tersenyum jumawa.


“Mia sudah hapal interior tempat tidur di dalam pesawat. Apa kau bodoh, Ricci?” gerutu Adriano.


“Kau bisa menyuruh awak kabin untuk mengganti sprei atau tirainya. Apapun asalkan terlihat berbeda,” ucap Coco yang masih sangat percaya diri atas pendapatnya.


“Berarti jadwal terbang kita akan jauh lebih lama lagi jika kru pesawatu harus mengganti interior terlebih dulu,” pikir Adriano.


“Tidak apa-apa, asalkan kita bisa berangkat secepatnya ke Kroasia,” desak Coco masih pada pendapatnya.

__ADS_1


Adriano mengela napas dalam-dalam. Dia lalu merogoh ponselnya dan menghubungi sang pilot pribadi. "Czar, bisakah kau mengerahkan timmu untuk mengubah interior kabin pesawat dalam waktu setengah jam? Jika bisa lebih cepat maka akan lebih baik," tanya Adriano. Wajahnya tampak serius saat mendengar jawaban dari sang pilot. "Terserah bagaimana timmu bekerja, yang pasti aku ingin sesuatu yang baru dalam kabinku," tegas pria itu.


__ADS_2