
Seketika, Mia mengalihkan pandangannya kepada Adriano. Tajam sorot mata yang dia layangkan kepada pria berparas rupawan tersebut. Namun, Mia tak segera menanggapi ajakan pria itu. Dia justru kembali mengalihkan pandangannya ke samping, menembus jendela kaca mobil yang saat itu tengah berhenti untuk sejenak.
Adriano dapat memahami hal itu dengan baik. Pria bermata biru tersebut tidak berharap terlalu banyak. Semua jawaban yang akan Mia berikan, seakan telah berada dalam benaknya. Dia sudah dapat menebak itu semua. “Aku akan kembali ke Monaco setelah urusan di sini selesai. Jika kau berubah pikiran, maka datanglah besok pagi-pagi ke tempatku,” ucap Adriano masih sedikit berharap Mia akan menerima ajakannya.
Akan tetapi, Mia tak juga menjawab. Wanita bertubuh ramping itu masih membisu dengan tatapan menerawang ke luar, pada suasana kota yang telah diselimuti warna gelap. “Antarkan aku pulang sekarang juga,” pintanya kemudian dengan suara yang terdengar begitu pelan.
“Sudah kukatakan bahwa kita akan makan malam dulu,” tolak Adriano seraya kembali menjalankan laju mobilnya.
“Sudah kukatakan bahwa aku ingin pulang!” tegas Mia. Dia tetap menolak ajakan makan malam dari Adriano.
Tak ingin berdebat, Adriano pun mengalah. “Baiklah. Kita tidak akan makan malam bersama. Setidaknya, biarkan aku membelikanmu sesuatu. Kau harus tetap makan. Tubuhmu terlihat jauh lebih kurus dari saat terakhir aku melihatnya,” ucap pria bermata biru itu tanpa memandang ke arah Mia.
Kata-kata yang dilontarkan Adriano, telah membuat Mia kembali mengalihkan pandangan kepadanya. Namun, dia tak menanggapi sama sekali. Mia merasa heran karena Adriano begitu memperhatikannya.
Beberapa saat kemudian, Adriano menghentikan laju mobilnya di depan sebuah kedai makanan. Setelah melepas sabuk pengaman, pria itu menoleh kepada Mia. “Kau mau ikut ke sana atau akan menunggu di dalam mobil?” tawarnya.
“Aku di sini saja,” jawab Mia pelan dan agak lemah. Dia tampaknya sudah malas meladeni pria itu.
Adriano tersenyum kalem seraya mengangguk pelan. “Baiklah. Tetaplah duduk manis dan tunggu aku kembali. Ingat, jangan pergi ke manapun karena ini sudah malam. Aku tidak ingin jika kau sampai tersesat,” pesannya sebelum keluar dari dalam mobil.
Mia menanggapinya hanya dengan sebuah anggukan lemah. Dia memperhatikan langkah tegap Adriano yang tengah menuju pintu masuk kedai. Setelah memastikan bahwa pria itu benar-benar masuk, Mia segera membuka pintu mobil dan beranjak keluar dengan tergesa-gesa. Dia melepaskan mantel milik Adriano, lalu meninggalkannya di dalam kendaraan tersebut.
Mia bergegas meninggalkan tempat itu. Langkahnya terlihat begitu cepat. Sesekali, dia melihat ke belakang untuk memastikan tak ada yang mengikutinya. Mia terus berjalan dengan raut cemas, terlebih saat itu suasana sudah gelap. Dia lalu berbelok ke sebuah jalan sempit yang hanya dapat dilalui oleh sebuah mobil kecil.
Samar-samar, dari kejauhan tampak beberapa pria yang tengah berkerumun di tepi jalan. Mereka asyik bercanda ria, hingga terdengar gelak tawa yang cukup keras. Ragu, Mia segera menghentikan langkahnya. Wanita itu tertegun dan berpikir. Dia berniat untuk kembali. Mia pun membalikan badan.
Namun, wanita itu harus kembali tergegun. Di belakangnya telah berdiri seorang pria tinggi besar yang menatap dengan seringai kecil padanya. “Apa kau tersesat, Nona?” tanyanya dalam Bahasa Yunani yang tidak Mia pahami.
Wanita itu pun tidak menjawab. Dia bergerak mundur dengan perlahan.
__ADS_1
“Siapa kau? Sepertinya kau bukan penghuni tempat ini. Apa kau sedang mencari sesuatu atau seseorang?” tanya pria itu lagi sambil berjalan maju.
Namun, lagi-lagi Mia tidak menjawab. Dia menggeleng pelan. “Maaf, aku ... aku salah ... aku ....” Mia tergagap. Dia berbicara dalam bahasa yang lain kepada pria itu. Entah kenapa, Mia bisa tersesat dengan memasuki gang sempit tersebut. Di sana adalah sebuah pemukiman yang sepertinya merupakan sebuah lokalisasi.
“Maaf, sepertinya aku tersesat." Mia bermaksud untuk berlalu dari hadapan pria itu.
Namun, dengan segera pria asing tadi mencegahnya. “Oh, rupanya kau seorang pendatang? Kenapa harus terburu-buru? Lihatlah, di sana ada sebuah bar," tunjuknya pada sebuah bangunan berpintu kayu yang memang sengaja dibuka. "Meskipun itu hanya bar kecil, tapi mereka memiliki minuman yang sangat nikmat. Jika kau mau, aku bisa menraktirmu minum bersama. Setelah itu, kita bisa berjalan-jalan sebentar. Akan kuperlihatkan padamu betapa indahnya kota ini di malam hari, atau mungkin kau juga ingin tahu seberapa hebat pria Yunani dalam memuaskan seorang wanita di atas ranjang.” Pria itu kembali menyeringai seraya bermaksud untuk meraih tangan Mia.
Akan tetapi, sebelum dia berhasil menyentuh Mia, sebuah tangan kekar berlapis mantel hitam terlebih dahulu mencekal pergelangan tangan pria tadi dengan kencang. “Wanita itu tidak mengerti apa yang kau katakan, Bodoh!” sentak pria yang tiada lain adalah Adriano. Dia menarik dan memelintir tangan pria tadi ke belakang, sehingga menimbulkan perhatian dari pria-pria yang sedang berkumpul di sisi lain gang sempit tersebut.
Mereka segera menghampiri ke arah Adriano berada dan seakan hendak mengeroyoknya. Namun, saat itu Adriano masih terlihat sangat tenang. Dia malah semakin mengencangkan cekalannya pada tangan pria yang kini berdiri di depannya dengan posisi tangan terlipat di belakang punggung.
Pria itu meringis dan memekik pelan. Sementara, para pria yang tadi berjumlah sekitar sepuluh orang, segera bergerak. Mereka bermaksud untuk menyerang Adriano. Dengan segera, Adriano mengeluarkan pistol dari balik mantel. Membuat Mia segera bersembunyi di belakangnya.
Adriano mengarahkan senjata api otomatis itu kepada para pria yang tadi hendak menyerangnya. “Mundur!” sentaknya tegas. “Aku bisa menghabisi kalian semua dengan sangat mudah,” ancam Adriano. “Ketahuilah bahwa seluruh distrik ini sudah berada di dalam wilayah kekuasaanku,” imbuhnya.
Gerombolan orang-orang itu mundur perlahan. Kebanyakan dari mereka tampak terkejut. “Memangnya kau siapa?” tanya salah seorang dari mereka.
Suasana, hening seketika. Wajah orang-orang itu tampak pucat. “An-anda adalah atasan Be-Benigno?” tunjuk salah satu pria ke arah Adriano dengan kalimat terbata.
“Aku muak melihat wajah kalian! Cepat pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran!” sentak Adriano sembari mengarahkan moncong pistolnya ke arah mereka. Sontak segerombolan pria berandalan tadi lari tunggang langgang.
Mia yang berdiri di belakang tubuh atletis Adriano kini dapat bernapas lega. Namun, itu tak berlangsung lama. Raut murung kembali hadir di wajah cantiknya. “Kenapa?” tanyanya lirih.
“Apanya?” Adriano yang keheranan, segera menoleh dan membalikkan badan ke arah Mia.
“Kenapa kau menyelamatkanku? Bukankah aku dulu telah berusaha membunuhmu?” Setitik air mata jatuh di pipi mulus Mia.
Adriano tak langsung menjawab. Dia menatap lekat pada wanita yang telah melukai hati dan fisiknya itu. Terlihat jelas bobot tubuh Mia berkurang drastis, meskipun tak mengurangi kadar kecantikannya.
__ADS_1
Mia menunduk dalam-dalam demi menghindari mata biru yang memandang sayu padanya.
“Aku pun tak tahu kenapa, Mia. Beribu kali kau menolak dan menyakitiku, aku tetap tak akan pernah bisa melihatmu sengsara atau terluka,” jawab Adriano, membuat Mia mendongak dan tertegun sesaat.
“Kuantar kau pulang,” ujarnya lagi dengan pelan sambil berjalan menuju mobilnya yang diparkir di tepi jalan. Setelah memasuki mobil, mereka berdua saling terdiam. Tak ada suara selain deru mesin mobil yang berbunyi pelan.
“Di depan sana,” tunjuk Mia sembari mengarahkan telunjuknya ke arah penginapan kecil yang terletak di pinggiran kota.
“Kau tinggal sendirian di sana?” Adriano terbelalak tak percaya.
“Kenapa memangnya?” balas Mia yang bernada protes. Dia tak menyangka bahwa Adriano adalah seorang yang cerewet.
“Di sekitar sini adalah daerah rawan. Untuk sementara, kau menginaplah di tempatku. Di sana jauh lebih aman," sahut Adriano. Dia segera memutar balik kemudinya tanpa menunggu persetujuan dari Mia.
“Hentikan! Lebih baik aku tinggal di penginapan daripada kembali ke tempatmu!” tolak Mia dengan nada tinggi.
Mendengar hal itu, Adriano langsung menginjak remnya secara mendadak, sampai-sampai tubuh Mia terhentak ke depan.
“Sejak kapan kau menjadi egois begini?” hardik Adriano. “Tidakkah kau memikirkan keadaan putrimu? Apa jadinya jika kau terancam bahaya di sini? Bagaimana dengan Miabella yang masih sangat membutuhkan perhatianmu?"
"Seharusnya, kau pulang ke rumah dan menemaninya bermain! Dia juga sama kehilangan seperti yang kau rasakan , Mia!” Entah lari ke mana sikap tenang yang selalu menjadi ciri khas Adriano selama ini.
“Aku ... Aku ....” Mia tak mampu menjawab. Dia malah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan mulai menangis.
“Maafkan aku. Aku lepas kendali,” sesal Adriano.
“Sudah setahun aku mendapat perawatan di rumah sakit, untuk mengatasi gangguan kecemasan yang kembali kualami setelah peristiwa saat itu. Sejak kepergian Theo, aku menjadi gila, Adriano. Aku tak bisa melihat wajah Miabella atau aku akan histeris. Setiap kali melihat wajah Miabella, aku selalu teringat kepada Theo,” tangis Mia semakin kencang hingga bahunya berguncang.
“Di satu sisi, aku sangat merindukan putriku,” isaknya pilu.
__ADS_1
Tak terkira rasa perih dan sesal yang semakin memenuhi dada Adriano. “Maafkan aku, Mia. Maafkan aku,” ucapnya berulang-ulang.
Tanpa pikir panjang, Adriano segera merengkuh tubuh ringkih Mia. Pria itu memeluknya dengan erat. Kali ini, Mia sama sekali tak memberontak.