Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
La Chiamata


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Coco sudah terbangun. Kali ini, bukan suara alarm yang membuatnya terjaga. Akan tetapi, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Coco yang baru saja membuka mata, mencoba untuk mempertajam penglihatannya. Namun, rasanya dia terlalu lelah dan mengantuk, sehingga dirinya tak peduli dengan siapa yang menghubunginya saat itu. Coco langsung saja menjawab panggilan tersebut.


"Ricci," terdengar suara seorang pria yang kini mulai akrab di telinga Coco. Seketika pria berambut ikal membuka matanya yang terasa berat.


"Adriano? Apakah ini kau?" sahut Coco tak percaya.


"Ya. Ini aku. Bagaimana?" tanya Adriano.


"Apanya?" Coco balik bertanya. Sikap konyolnya kembali hadir saat itu. Coco menggaruk-garuk kepala sambil menekuk kedua lututnya. "Bisakah kita bertemu? Kenapa kau tidak segera kembali? Mia sangat menghawatirkanmu."


"Lukaku belum pulih. Aku sengaja menyembunyikan diri terlebih dahulu agar ...."


"Kau bersembunyi dari siapa? Thomas Bolton?" sela Coco. "Tenang saja, Amico. Pria itu sudah kuhabisi semalam, meskipun dengan susah payah," ujarnya bangga. Coco lalu tertawa renyah.


"Sungguh? Bagaimana kau bisa melakukannya?" Adriano terdengar meragukan ucapan Coco.


"Ceritanya sangat panjang. Beritahu di mana posisimu sekarang. Aku akan ke sana untuk menjemputmu pulang," ucap Coco lagi sambil sesekali menguap panjang. Tampak jelas jika dirinya begitu lelah saat itu.


Tak berselang lama, Adriano kemudian menyebutkan salah satu wilayah hutan lindung di daerah sana. Dengan segera, Coco memeriksanya di peta. Jaraknya ternyata tidak terlalu jauh dari daerah yang dia tempati saat ini. "Jangan beritahu Mia dulu. Kondisiku masih sangat memprihatinkan. Aku tidak ingin membuatnya sedih," pesan Adriano.

__ADS_1


"Astaga ...." keluh Coco pelan seraya menggaruk alisnya. "Baiklah, aku akan mandi dan bersiap-siap dulu. Nanti kuhubungi lagi ke nomor ini."


"Ya, boleh. Baiklah. Aku tunggu," Adriano kemudian menutup sambungan teleponnya. Sedangkan Coco bergegas turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.


Sementara itu, Mia telah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka dan juga para penjaga di luar. Walaupun dirinya adalah istri dari Adriano, tetapi Mia tak merasa sungkan untuk mengantarkan makanan bagi para pengawal, yang sengaja sang suami datangkan untuk menjaganya. Apa yang Mia lakukan saat itu, tak luput dari perhatian sepasang mata yang terus mengawasi dari jarak tidak terlalu jauh. Seorang pria dengan mantel hitam dan mengenakan topi, berdiri di bawah pohon sambil terus memperhatikan sosok cantik bertubuh semampai tersebut. Semua gerak-gerik Mia, dia abadikan dalam jepretan kamera ponselnya. Pria itu kemudian masuk ke mobil, ketika Mia juga kembali ke dalam rumah.


"Apa kau akan pergi lagi, Ricci?" tanya Mia yang melihat Coco sudah tampil rapi. Pria berambut ikal itu telah duduk di meja makan sambil menghadapi menu sarapan yang Mia siapkan.


"Aku akan keluar sebentar. Kau baik-baiklah di rumah, karena aku juga tidak akan lama," jawab Coco seraya memulai sarapannya.


"Apa kau akan mencari daddy zio, Paman?" tanya Miabella dengan polos. Tidak biasanya dia berbicara kepada Coco dengan nada seperti itu.


"Anggap saja begitu, Bella," jawab Coco seraya kembali menyantap sarapannya dengan terburu-buru. Setelah itu, Coco segera meraih jaket dan mengenakannya. Pria itu sudah tampil rapi dan bersiap untuk pergi.


“Nanti kuberitahu padamu, Mia,” hanya itu kata-kata yang Coco ucapkan kepada mantan istri dari mendiang sahabatnya tersebut. Setelah selesai dengan persiapannya, Coco segera berpamitan. Sedangkan Mia mengantarknya hingga ke pintu. Dia berdiri sejenak di sana dan memperhatikan calon adik iparnya itu hingga keluar dari halaman. Barulah, Mia kembali masuk dan menghampiri Miabella.


Sementara Coco berjalan dengan tenang keluar dari halaman. Pandangannya seketika tertuju pada mobil sedan hitam yang semalam dia lihat. Kendaraan itu melaju bersamaan dengan munculnya Coco di sana. Merasa ada sesuatu yang tak beres, pria berambut ikal itu pun bergegas kembali ke rumah untuk menemui Mia. Dilihatnya ibu satu anak itu tengah membereskan meja makan. Kedatagan Coco telah membuat wanita itu tampak keheranan. Terlebih karena Coco berdiri sambil memperhatikannya. "Kau sudah kembali? Cepat sekali," Mia mengernyitkan keningnya.


"Apa semuanya baik-baik saja, Mia?" Coco balik bertanya.

__ADS_1


"Ya," jawab Mia semakin terlihat heran, "memangnya kenapa?" tanyanya lagi. "Kau terlihat sangat aneh, Ricci," ujar Mia seraya menggeleng pelan. Sesekali, dia melihat Miabella yang tengah asyik bermain. Sementara itu, Coco tampak salah tingkah. Dia kebingungan. Entah harus bagaimana caranya memberikan penjelasan kepada ibu satu anak itu.


Melihat gelagat yang dirasa tak wajar dari Coco, Mia menghentikan sejenak pekerjaan dan menghampiri calon adik iparnya. "Katakan padaku ada apa?" pintanya.


"Maafkan aku, Mia. Aku harap ini hanya sekadar persaan saja, tapi ... aku melihat ada seseorang yang mencurigakan dan sepertinya tengah mengawasi rumah ini. Semalam, saat pulang aku mendapati pria dengan mantel dan topi masuk ke mobil sedan hitam. Lalu, pagi ini ... pagi ini aku kembali melihat mobil yang sama. Apa menurutmu itu sesuatu yang tidak mencurigakan?" Coco menggaruk kepalanya sejenak.


"Bisa saja jika orang itu memang warga di sini. Kita orang asing dan tak mengenal siapa pun selain ...." Mia tak melanjutkan kata-katanya ketika dia melihat ada yang datang ke sana. Kebetulan saat itu pintu rumah dalam keadaan terbuka. Juan Pablo dan Bianca muncul dengan sikap keduanya yang selalu terlihat penuh percaya diri.


"Selamat pagi, Mia," sapa Bianca dengan gaya bicaranya yang khas, selalu anggun dan juga elegant.


"Selamat pagi, Bianca. Sayang sekali, kami baru selesai sarapan," Mia menatap wanita yang mengaku dirinya sebagai sahabat dekat Adriano.


"Oh, terima kasih sebelumnya. Namun, aku kemari hanya untuk mengetahui kabar terbaru tentang Adriano. Juan sudah memberitahuku bahwa kalian bertiga telah melihat bangkai mobil yang Adriano tumpangi. Apakah polisi sudah berhasil menemukannya?" Bianca menatap kepada Mia yang terlihat malas dalam meladeni ucpan wanita muda itu. Setelah itu, dia lalu melirik Juan Pablo untuk sejenak.


Mia sudah terlihat akan menjawabj pertanyaan wanita muda ketururnan Argentina-Perancis itu. Akan tetapi, dengan segera Coco menyela dan menjawab pertanyaan tersebut. "Kebetulan, kami pun sedang menunggu kabar terbaru dari pihak kepolisian," ujarnya terlihat meyakinkan.


"Apakah kepolisian di sini bekerja dengan sangat lamban?" keluh Bianca seraya berdecak tak percaya. Dia melirik kepada Juan Pablo, seakan meminta penjelasan dari pria itu.


"Mereka bekerja sesuai prosedur. Di setiap negara, setiap instansi yang bertanggung jawab dalam bidang seperti ini juga berbeda-beda. Mereka bekerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku di negara masing-masing. Maka dari itu, memang sebaiknya kita menunggu dan bersabar. Kecuali, jika nyonya D'Angelo meminta bantuan kepada Don Vargas untuk membantu melakukan pencarian. Aku rasa itu akan jauh lebih cepat prosesnya," jelas Juan Pablo yang berakhir pada sebuah saran untuk Mia.

__ADS_1


"Aku rasa itu tidak perlu. Kami tidak ingin merepotkan siapa pun. Aku dan Mia akan lebih bersabar dalam menunggu berita dari pihak yang berwajib. Bukankah begitu, Mia?" Coco menoleh kepada Mia dengan tatap mata penuh isyarat.


"Oh, iya tentu. Kau benar, Ricci," sahut Mia sedikit kikuk. Dia mulai memahami bahwa keberadaan Adriano harus dirahasiakan.


__ADS_2