
“Um, kau mengenal Stefano?” tanya gadis itu ragu. Sorot matanya menunjukkan rasa curiga, karena dia belum pernah bertemu dengan Adriano sebelumnya.
“Tentu saja,” sahut Adriano datar dengan tatapan tak lepas pada gadis itu.
“Siapa, Lucia?” Terdengar suara seorang pria dari dalam ruangan yang kemudian muncul dan berjalan mendekat. Pria yang ternyata adalah Stefano, tertegun ketika melihat sosok Adriano berdiri garang di depan pintu apartemen sang adik. “Tuan D’Angelo?” sapanya ragu. “Ini suatu kejutan. Apakah Anda ada perlu denganku?”
Stefano terlihat salah tingkah. Sesekali dia melirik kepada Lucia yang terus memperhatikan kakak dan juga tamunya. “Mari kita bicara di luar saja. Rasanya tidak enak jika kita mengobrol di sini. Ini adalah apartemen yang baru disewa oleh suami adikku. Mereka baru pindah kemari dari Positano,” ajaknya seraya buru-buru keluar dan mengarahkan Adriano untuk menaiki tangga menuju atap gedung.
Adriano tak membantah. Dia memilih untuk mengikuti langkah pria itu dengan tenang, sampai mereka berdua tiba di atap gedung. Keduanya mendekat pada pagar beton sebagai pembatas tepian gedung. Pria rupawan itu bahkan sempat melongok ke bawah bangunan berlantai tiga belas tersebut. “Siapa pun yang jatuh dari ketinggian ini, pasti akan mati,” gumamnya.
Mendengar hal itu, Stefano mundur perlahan sambil menggeleng pelan. “A-ada keperluan apa Anda menemuiku kemari, Tuan?” tanyanya terbata. Sikapnya menjadi jauh lebih waspada.
Adriano yang semula membungkuk melihat lalu lintas di bawahnya, segera berbalik dan menghadap Stefano. “Giuliano mengatakan padaku bahwa kau telah membunuh Ilario. Dia adalah kakak tiriku yang juga merupakan keponakan dari Vincenzo Moriarty. Kau sudah tak takut rupanya pada sosok Vincenzo,” ujarnya seraya berjalan mendekat pada Stefano yang malah melangkah mundur.
“Jangan takut padaku, Stefano. Jelaskan saja alasanmu padaku. Siapa tahu aku akan kasihan dan berubah pikiran untuk mencincang dan memberikan tubuhmu pada Camaro,” Adriano menyeringai, lalu melepas tutup kepalanya. Dia memperlihatkan rambutnya yang sedikit acak-acakan.
“Tuan, tolonglah. Dengarkan aku.” Stefano meletakkan kedua tangannya di depan dada. “Aku terpaksa membunuhnya karena dia sudah membuat organisasiku rugi. Ilario membawa lari puluhan kilo bubuk morfin yang bernilai jutaan Euro,” jelasnya.
“Bukankah organisasimu berada di bawah kakakku, Vincenzo?” tanya Adriano.
“Sudah tidak lagi sejak tuan Vincenzo tewas. Dulu, Anda tidak bersedia mengambil alihnya sehingga kami memilih untuk lepas dari klan Moriarty dan .…” Stefano menelan ludah ketika punggungnya sudah menempel pada tembok pembatas yang berada di sisi lain atap gedung. Dia tak bisa bergerak ke mana-mana lagi. Sementara Adriano berada tepat di hadapannya dengan tatapan membunuh. “Kami memutuskan untuk bergabung dengan klan Herrera yang baru saja melebarkan sayapnya di Italia,” lanjut Stefano dengan suara bergetar.
“Siapa katamu?” Adriano mencengkeram erat-erat penutup kepala yang sedari tadi dia genggam, sambil terus mendekatkan dirinya kepada Stefano.
“Klan Herrera. Organisasi milik Juan Pablo Herrera. Akan tetapi, dia menyerahkan seluruh kebijakannya pada Don Vargas. Don Vargas diberi kewenangan untuk mengatur jalannya organisasi,” terang Stefano. Peluhnya semakin banyak membanjiri kening, ketika Adriano mengangkat tangan, kemudian mencengkeram lehernya.
__ADS_1
“Jadi, kau sekarang berada di bawah kekuasaan Juan Pablo? Pria itukah yang telah memerintahkan untuk membunuh saudaraku?” Tangan Adriano yang telah berada di leher Stefano, mencekiknya dengan semakin kuat.
“Ti-tidak, Tuan! Sungguh! Jefe (Bos) Herrera tidak tahu-menahu tentang masalah ini. Dia bahkan datang ke pelabuhan dan menanyakan langsung kepada Giuliano. Dia juga terlihat tak menyukai keputusanku,” elak Stefano.
“Tetap saja sekarang kau menjadi anak buahnya,” geram Adriano. Penutup kepala yang tadi dia genggam, dia pindahkan ke kepala Stefano. Wajah pria itu kini tertutup seluruhnya oleh penutup berbahan wol. Adriano juga meletakkan tangan dan menekan muka Stefano kuat-kuat agar tak bisa bernapas.
“Tidak, Tuan! Ampuni aku! Sungguh! Demi arwah tuan Vincenzo!” pekiknya dengan tidak terlalu nyaring.
“Berani-beraninya kau menyebut nama kakak angkatku!” geram Adriano.
“Jangan bunuh aku, Tuan,” pinta Stefano. Suaranya terdengar semakin lemah. “Aku akan menikah bulan depan,” imbuhnya pelan.
Adriano menghentikan gerakannya dan berpikir sejenak. Perlahan dia melepaskan cengkeramannya. Adriano juga membuka penutup kepala dari wajah Stefano, kemudian membuangnya begitu saja ke lantai beton. “Kau ingin aku tidak membunuhmu?” tanyanya.
Stefano tak segera menjawab. Dia terbatuk-batuk sambil mengangguk. “Ampuni aku, Tuan. Akan kulakukan apa saja untuk membayar kesalahanku,” pintanya setengah mengiba.
“Apa saja,” balas Stefano mantap sembari memegangi lehernya yang mulai terasa ngilu.
“Kalau begitu, dengarkan baik-baik. Aku memberi tugas kepadamu yang harus kau jalankan dengan benar. Jika kau gagal ataupun berkhianat, kupastikan tak hanya dirimu. Adik dan keluargamu pun pasti akan kuhabisi semuaya,” ancam Adriano dengan raut datar.
“Aku siap, Tuan. Walaupun harus mengkhianati Jefe Herrera,” ucap Stefano.
“Bagus.” Adriano tersenyum puas, lalu menepuk-nepuk pundak Stefano yang sedikit lebih pendek darinya. “Aku ingin kau menjadi mata-mataku. Awasi Juan Pablo dan laporkan padaku setiap gerak-geriknya. Lebih bagus kalau kau mendapatkan informasi berharga dari orang itu,” titah Adriano.
“Tentu, Tuan. Itu adalah perkara mudah. Mengingat kedudukanku yang menjadi perwakilan organisasi Artiglio di Corvo, aku akan lebih sering bertemu dengan Jefe Herrera. Akan kulakukan semuanya untuk membayar kematian Ilario,” sahut Stefano cepat. Wajahnya juga menunjukkan keyakinan yang teramat kuat.
__ADS_1
Adriano tak menanggapi apapun. Dia malah memandang Stefano dengan semakin tajam, lalu berhenti ketika ponsel yang dia simpan di saku jaket berdering nyaring. Tergesa-gesa dirinya merogoh ponsel itu dan tersenyum samar saat membaca nama Mia di layarnya. “Pronto, Sayangku,” ucapnya demikian lembut. Segala sikap keji yang baru saja dia lakukan terhadap Stefano, seakan menguap seketika. Stefano sendiri tampak keheranan melihat hal aneh di depan matanya. Adriano seolah menjadi sosok yang sepenuhnya berbeda.
“Aku akan pulang sebentar lagi, Sayang,” ucap Adriano pelan, kemudian mengakhiri panggilan. Perhatiannya kembali pada Stefano yang menatapnya keheranan. “Kau akan memahami hal itu jika sudah memiliki istri,” ujarnya seraya berlalu menuju tangga turun. “Ingat pesanku, Stefano. Jangan berkhianat atau kau dan semua orang yang dirimu sayangi akan mati.” Adriano menoleh sesaat pada Stefano yang masih diam terpaku di tempatnya. Dia melanjutkan langkah meninggalkan pria itu.
Sambil memasukkan kedua tangannya di saku jaket bomber, Adriano memasuki lift dan menekan tombol lantai dasar. Setelah pintu lift terbuka, dia berjalan begitu saja melewati lobi tanpa berpamitan pada penjaga apartemen yang masih asyik menonton televisi. Adriano terus keluar gedung dan menyeberang menuju kendaraan mewah yang dia parkir di tepi jalan.
Adriano terdiam sejenak sebelum menyalakan mesin mobil. Benaknya seakan menimbang-nimbang untuk menghubungi Gianna ataukah tidak. Pada akhirnya, dia menelepon gadis itu walaupun saat itu sudah tepat tengah malam. “Gianna, apa kau sudah tidur?” sapa Adriano beberapa saat setelah Gianna mengangkat teleponnya.
“Belum, Adriano. Aku masih menyelesaikan laporan keuangan untuk kukirimkan padamu besok,” jawab Gianna.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Adriano.
“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya, hanya saja … beberapa hari terakhir ini aku merasa mudah lelah,” jawab Gianna.
“Jangan terlalu memforsir pekerjaanmu. Aku sama sekali tak masalah walaupun kau tak melakukan apapun. Aku tetap akan menggajimu,” tutur Adriano.
“Aku tidak mau makan gaji buta. Rasanya tak adil bagi pegawaimu yang lain,” tolak Gianna.
Adriano terkekeh. Terbersit rasa bangga pada adik tiri yang meskipun perempuan satu-satunya dalam keluarga, tapi dia memiliki keberanian dan keteguhan yang jauh lebih kuat dari kakaknya. “Oke. Beristirahatlah. Selamat malam,” tutup Adriano. Dia lalu mengakhiri panggilannya.
Niat semula yang hendak dia utarakan untuk memperingatkan Gianna agar menjauhi Juan Pablo, Adriano urungkan begitu saja.
Pria itu lebih memilih segera kembali ke Casa de Luca dan berbaring di samping Mia, yang pasti sedang was-was karena menunggunya pulang.
🍒🍒🍒
__ADS_1
Hai, semua. Satu lagi rekomendasi novel untuk ditambahkan ke rak.