
Mobil yang ditumpangi Adriano beserta keluarga kecilnya juga Damiano, telah tiba di halaman luas Casa de Luca. Tampak Coco dan Gianna berdiri menyambut kedatangan mereka. Selagi dalam perjalanan menuju Casa de Luca, Emiliano telah menghubungi putri bungsunya tersebut agar bersiap-siap, karena Adriano ingin berbicara dengannya. Emiliano sendiri berada di kendaraan lain dan turun terlebih dahulu.
Tak berselang lama, Adriano muncul dari mobil yang dia tumpangi. Pria itu berjalan dengan hati-hati, karena sambil menggendong Miabella yang sudah tertidur lelap. Gadis kecil tersebut tampak sangat kelelahan.
“Bagaimana, Amico? Kapan kita akan berangkat?” Coco yang berdiri di teras, langsung menghampiri dan merengkuh pundak Adriano.
“Nanti malam kita akan membahas tentang hal itu. Sekarang aku ingin membicarakan sesuatu dulu dengan Gianna,” jawab Adriano sambil terus berjalan menuju kamar Miabella. Dengan cekatan, Mia membuka pintu kamar putrinya lebar-lebar, sehingga Adriano dapat dengan mudah masuk dan segera membaringkan Miabella di atas ranjang.
Pelan dan sangat hati-hati, Adriano menyelimuti tubuh mungil putri kesayangannya, sebelum dia bangkit dan keluar dari kamar. Niatnya adalah untuk menemui Gianna. “Beristirahatlah dulu, Sayang,” dia juga sempat mengecup kening Mia, yang segera berbalas sebuah senyuman lembut dari wanita itu.
Langkah Adriano terlihat begitu gagah. Sesaat kemudian, dia berhenti di ruang tengah, di mana Gianna dan Emiliano sedang menunggu kehadirannya. Mereka duduk di sofa berbentuk melingkar dengan warna merah bata. “Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” raut gadis berambut pirang itu tampak tegang. Sesekali dia menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.
“Begini,” Adriano kemudian ikut duduk di dekat Gianna. “Bagaimana ibumu? Sudah berapa lama kau tak pulang ke rumah?” tanyanya.
“Aku tidak pulang dari semenjak keluar mencari Padre bersamamu. Kenapa memangnya?” Gianna balik bertanya.
“Apa kau sudah mantap untuk tidak kembali ke rumahmu yang di sana?” Adriano menatap lekat pada adik tirinya itu.
“Ya!” jawab Gianna mantap.
“Kau juga ingin mencari pekerjaan, bukan?” tanya Adriano lagi.
“Tentu saja. Aku masih punya harga diri untuk tidak terus-menerus menumpang di sini,” kata-kata Gianna demikian tegas dan tanpa ragu sama sekali.
“Bagus. Aku suka itu,” ujar Adriano membuat Gianna tersenyum bangga. “Jadi begini, aku memiliki pekerjaan untukmu. Kuharap kau tidak menolaknya. Dulu kau mengatakan bahwa dirimu adalah lulusan akuntansi bukan?”
“Ya. Benar sekali, Adriano,” wajah cantik Gianna tampak berseri, ketika mengetahui bahwa Adriano akan membantunya.
__ADS_1
“Ikutlah bersamaku ke Roma. Aku akan menugaskan kau untuk mengelola keuangan di klub milikku. Kupercayakan semua urusan tentang hal itu padamu. Untuk tempat tinggal, kau bisa menempati apartemenku yang tak terpakai di sana,” tutur Adriano.
“Sungguh?” seru gadis itu tak percaya. Dia sempat melirik sang ayah untuk sejenak, lalu kembali mengalihkan perhatian kepada Adriano. “Terima kasih banyak, Adriano,” ucap Gianna dengan senyuman yang terlihat sangat tulus. Tak terkira betapa bahagia perasaan gadis muda dua puluh empat tahun tersebut. “Akhirnya aku bisa terbebas dari Madre. Tak ada lagi yang bisa mengatur langkahku lagi,” ujarnya seraya menghambur ke dalam pelukan sang kakak tiri.
Adriano sempat terpaku mendapat perlakuan seperti itu dari Gianna. Namun, pada akhirnya dia membalas pelukan gadis itu dengan hangat. “Aku akan mengantarkanmu besok. Jadi, sebaiknya kau bersiap-siap,” ucap pria bermata biru itu seraya melepaskan pelukannya.
“Baiklah. Lagi pula, pakaianku sudah dibawakan oleh Padre kemari beberapa hari yang lalu, jadi aku tidak perlu kembali ke rumah untuk berkemas,” sahut Gianna dengan antusias.
“Belajarlah untuk hidup mandiri, Nak. Aku ingin kau bisa sekuat Adriano, meskipun dirimu adalah anak perempuan,” pesan Emiliano.
“Tentu, Padre,” sahut Gianna dengan senyuman lebar yang tak kunjung lepas dari paras cantiknya.
................
Seusai makan malam, Adriano melanjutkan perbincangan dengan Coco di ruang kerja. Satu hal yang tengah mereka bahas dengan serius adalah rencana keberangkatan menuju Zlatibor, Serbia. “Aku sudah berhasil mendapatkan sebuah alamat yang disinyalir sebagai tempat tinggal Nenad Ljudevit. Menurut informasi yang kuterima, dia berada di Menara Hitam. Kita akan berangkat ke sana lusa, karena besok aku harus ke Roma terlebih dulu,” jelas Adriano.
“Apakah kau yakin jika alamat yang kau dapatkan itu benar dan dapat dipercaya?” Coco terdengar ragu-ragu.
“Cara apa yang kau pakai sampai-sampai dia mau memberitahukan alamat tuannya?” tanya Coco lagi penasaran.
“Kau tak perlu tahu tentang hal itu, Ricci. Percayalah,” Adriano kembali memamerkan senyumnya yang menawan.
“Baiklah, aku menurut saja,” Coco menurut pada akhirnya.
“Jangan lupa, bersiap-siaplah dari sekarang. Setelah dari Roma, kita akan langsung terbang ke Serbia,” tegas Adriano lagi.
“Astaga, suplemen apa yang kau minum sehingga memilki daya tahan tubuh sekuat itu, Amico?” Coco berdecak tak percaya.
“Memangnya kenapa?” Adriano mengernyitkan keningnya.
“Apa kau tidak pernah merasa lelah?” tanya pria berambut ikal itu masih dengan raut keheranan. “Kasihan sekali Mia, dia pasti ....”
__ADS_1
“Pasti apa?”
“Ya, dia pasti harus minum suplemen juga,” celoteh Coco sambil tertawa lebar. Sebuah candaan yang tak ingin Adriano tanggapi sama sekali. Sementara Coco tampak sangat senang atas ledekannya itu.
“Setidaknya keinginanku selalu tersalurkan dengan baik,” balas Adriano setelah merasa terganggu karena suara tawa Coco yang terkesan begitu puas.
Seketika, pria bermata cokelat itu terdiam. “Oh, jangan ingatkan aku akan hal itu,” keluhnya. Namun, sesaat kemudian Coco tampak tersenyum. “Jika kita akan berangkat lusa, maka itu artinya aku masih memiliki waktu satu hari untuk berpamitan terlebih dahulu kepada Francy,” ujarnya.
“Bagaimana jika kita berangkat sama-sama?” tawar Adriano.
“Tidak,” tolak Coco dengan segera, “aku lebih suka melakukan perjalanan dengan motor,” ucapnya kemudian.
“Baiklah,” balas Adriano. “Aku akan mengumpulkan informasi lainnya. Kurasa cukup untuk malam ini,” tutup Adriano seraya beranjak dari duduknya.
“Aku juga akan mencari tahu tentang lokasi Menara Hitam,” ujar Coco dengan cukup nyaring, karena Adriano sudah berada di dekat pintu keluar.
Adriano menoleh seraya membalasnya dengan sebuah anggukan. Setelah itu, dia segera berlalu menuju ke kamar yang dia tempati bersama Mia. Di sana, sang istri sudah menunggu kedatangannya sambil duduk di tepi ranjang. Bahasa tubuh wanita itu menunjukkan bahwa dia sedang merasa was-was.
“Kenapa lagi, Sayang?” Adriano segera mendekat dan memeluk Mia sambil mengusap-usap punggungnya.
“Jangan pergi, Adriano. Kumohon,” pinta Mia lirih. Wajah cantiknya masih menempel di dada bidang Adriano.
“Besok aku akan pergi ke Roma untuk melihat keadaan klub sekalian mengantar Gianna. Apa kau ingin ikut, Sayang?” tawar Adriano lembut.
“Kau tahu bahwa bukan itu yang kumaksud,” desah Mia pelan.
“Maksudmu ke Serbia?” Adriano mengangkat satu alisnya.
Mia mendongak dan menatap langsung ke dalam bola mata biru yang selalu menghanyutkannya. Wanita cantik bermata cokelat itu mengangguk pelan.
“Mia,” wajah istrinya terlihat sangat menggemaskan sehingga Adriano tak tahan untuk tidak melu•mat bibir ranum itu untuk beberapa saat lamanya.
__ADS_1
“Terima kasih karena telah sangat mengkhawatirkan diriku, Sayang. Aku begitu tersanjung. Akan tetapi, ini hanya urusan pekerjaan,” ujar Adriano seraya membelai pipi halus Mia, lalu kembali menautkan bibirnya dengan mesra.