
"Ya, aku bisa melihat itu dengan baik. Tak mungkin Anda menjadi ketua Tigre Nero jika tidak memiliki kemampuan demikian," ujar Juan Pablo menanggapi ucapan Adriano.
"Bukankah kau ingin jauh lebih akrab denganku, Juan?" Adriano melirik pria latin di sebelahnya.
Juan Pablo menggumam pelan seraya melirik Adriano, tanpa menghentikan langkahnya. Pria itu kemudian tersenyum kecil. "Aku harus mulai membiasakan diri," ucapnya.
"Ya. Terlebih jika kau ingin mendekati adikku," ujar Adriano dengan enteng, membuat Juan Pablo kembali terlihat salah tingkah. "Jadi, sejak kapan?" tanya pria itu lagi.
"Apanya?" Juan Pablo balik bertanya.
"Sejak kapan kau mulai menggoda Gianna?" tanya Adriano sedikit mengganggu pria di sebelahnya.
Akan tetapi, Juan Pablo tak segera menanggapi pertanyaan Adriano barusan. Dia hanya kembali menggumam pelan. Juan Pablo terus melangkah untuk kembali menuju aula pesta. "Aku harap kau tidak keberatan," ucap pria bermata cokelat madu itu kemudian.
"Tidak, tentu saja. Lagi pula, Gianna masih memiliki orang tua yang lengkap, dan aku tak berhak mengatur hidup apalagi sesuatu yang membuatnya merasa bahagia. Walaupun dia merupakan adikku," jelas Adriano.
"Apa yang harus kulakukan untuk berterima kasih padamu?" Kini, giliran Juan Pablo yang melirik Adriano.
"Berterima kasih untuk apa?" Adriano balik bertanya.
"Untuk semuanya," jawab Juan Pablo singkat.
Adriano tersenyum simpul. Tatapannya lurus tertuju ke depan. Sementara, langkah kaki berbalut sepatu pantofel hitam itu tampak sangat percaya diri menapaki hamparan karpet merah di sepanjang koridor. "Aku tidak tahu kenapa kau harus mengucapkan kata terima kasih. Namun, terlepas dari itu semua ada satu hal yang pernah Don Vargas janjikan padaku," ujar Adriano. Dia menghentikan langkahnya, kemudian menoleh kepada Juan Pablo yang juga ikut tertegun.
"Apa itu?" tanyanya penasaran.
"Don Vargas pernah berjanji akan mempertemukanku dengan Elang Rimba, dengan catatan aku bisa menemukan sosok Nenad Ljudevi atau bahkan hingga menghabisi nyawa pria itu. Namun, seperti yang kita ketahui ... seperti inilah kenyataannya," tutur Adriano menjelaskan apa adanya.
Juan Pablo terdiam sejenak. Dia tak pernah tahu bahwa ada perjanjian seperti itu antara Don Vargas dengan Adriano. "Lalu? Kau ingin aku yang melunasi janji dari Don Vargas terhadapmu?" tanyanya.
"Aku tidak mengatakan demikian," sahut Adriano. "Namun, aku akan sangat berterima kasih andai kau bersedia untuk mempertemukanku dengan Elang Rimba," lanjut Adriano dengan tatapan lekat kepada Juan Pablo.
"Sebegitu besarnya obsesimu terhadap Elang Rimba. Andai kalian sudah saling berhadapan, lalu apa yang akan kau lakukan terhadapnya?" tanya Juan Pablo seakan memberikan sebuah tantangan terhadap sang ketua Tigre Nero.
__ADS_1
"Apapun yang akan kulakukan terhadapnya, itu akan menjadi urusanku. Terus terang saja bahwa aku tidak tahu banyak tentang organisasi atau tokoh-tokoh hitam yang mendiami Benua Amerika," ujar Adriano lagi.
"Jangan berani menyelami lautan yang tak kau ketahui berapa kedalamannya," saran Juan Pablo.
"Kita tidak akan tahu jika tak menceburkan diri ke dalam lautan itu," balas Adriano.
"Ya, tapi itu sama artinya dengan bunuh diri," ucap Juan Pablo lagi.
"Aku memiliki sembilan nyawa, karena itu diriku selalu lolos dari kematian paling menakutkan sekalipun," tegas Adriano penuh percaya diri.
Juan Pablo tersenyum kecil. Dia lalu menyentuh pangkal hidungnya. "Baiklah, Adriano. Akan kuberi jalan agar kau dapat bertemu dengan Elang Rimba, tapi kau juga harus membantuku menemukan keberadaan Sergei Redomir."
Seketika, Adriano terpaku mendengar penawaran dari Juan Pablo. Haruskah dirinya membedah perut Camaro untuk menemukan sisa-sisa daging dari tubuh Sergei Redomir? Itu pun sesuatu yang tak mungkin. "Kenapa kau begitu menginginkan Sergei Redomir?" tanyanya penasaran.
"Aku masih memiliki urusan yang belum selesai dengannya. Lagi pula, tenaga Redomir sangat kubutuhkan. Kau tahu seperti apa dia," jelas Juan Pablo.
"Jika hanya untuk urusan bisnis, maka aku lebih menyarankan agar kau merekrut Arsen Moras. Menurutku dia jauh lebih cakap jika dibandingkan dengan Sergei," saran Adriano. "Arsen sangat cerdik dan tenang dalam mengeksekusi lawan bicaranya. Ada banyak proyek besar yang bisa kudapatkan atas bantuan dia," tutur Adriano lagi.
“Ya, aku juga mengakui bahwa Arsen Moras hebat dan sangat jago bernegosiasi. Otaknya sangat cerdik. Menurutmu, apakah aku bisa mempercayainya?” Juan Pablo menghentikan langkah dan menghadapkan tubuhnya pada Adriano.
“Baiklah, aku akan mencoba berbicara dengannya. Kulihat tadi dia tengah berbincang dengan beberapa kolega di taman,” ujar Juan Pablo.
“Aku bersedia mendampingimu bertemu dengan Arsen. Lagi pula, ada sesuatu yang juga ingin kubicarakan dengannya,” ujar Adriano yng segera disambut dengan hangat oleh Juan Pablo. Dua pria rupawan itu pun akhirnya berbelok menuju taman yang terletak di belakang mansion, di mana Arsen dan Olivia berada.
Sementara itu, Mia masih asyik mengobrol bersama Mattea di aula utama. Banyak hal seru yang mereka perbincangkan saat itu. Di antaranya adalah bertukar resep masakan. Sesekali obrolan seru dua wanita berbeda generasi itu diselingi dengan tawa renyah.
Akan tetapi, keceriaan mereka harus terganggu oleh datangnya seorang wanita yang tampak begitu cantik dan anggun. Wanita itu berjalan angkuh mendekati Mia dengan segelas anggur di tangan kanan. Entah disengaja atau tidak, wanita itu menyenggol tubuh Mia serta menumpahkan anggurny ke dada istri dari Adriano tersebut.
Gaun mewah bertaburkan kristal di bagian dada itu memerah akibat cairan anggur yang mengotorinya. “Astaga,” Mia spontan memekik. Sedangkan Mattea juga amat terkejut sampai-sampai dia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Ah, maafkan aku, Nyonya D’Angelo. Aku sungguh-sungguh tak sengaja,” wanita itu tampak terkejut, tapi tak lama dia tertawa terbahak. Dia seakan merasa puas dengan apa yang baru saja dilakukannya.
“Kau,” desis Mia. Bola mata cokelat itu membulat, demi melihat sosok wanita yang berdiri angkuh di hadapannya.
__ADS_1
“Hei, jangan marah. Anggap saja itu sebagai balasan atas apa yang pernah kau lakukan dulu. Kau pernah melumuri blazer mahalku dengan keik jelekmu,” ejek wanita yang tak lain adalah Bianca Alegra. Sontak keributan kecil tersebut menjadi perhatian beberapa tamu yang berada di sekitar mereka.
“Tidakkah kau sadar siapa yang tengah berdiri di antara kita sekarang, Nona Alegra?” nada bicara Mia terdengar penuh penekanan. Tangannya terulur ke arah Mattea yang hanya terpaku menyaksikan adegan itu. “Beliau adalah ibunda dari pemilik pesta ini. Di mana sopan santunmu?”
Seketika Bianca terkesiap. Dirinya tampak salah tingkah dan merasa sangat malu. Rasa marah yang belum terlampiaskan pada Mia, membuatnya hilang akal. “Aku sungguh-sungguh minta maaf, Nyonya. Aku sama sekali tidak menyangka jika … ah, ma’af. Izinkan aku meminjam nyonya D’Angelo sebentar saja,” Bianca terbata, lalu membungkuk penuh hormat.
“Tidak apa-apa, Nona. Kuharap tidak ada kekerasan lain yang Anda lakukan di tempat ini. Sebaiknya Anda membicarakan semuanya secara baik-baik, karena hal-hal buruk yang Anda lakukan hanya akan kembali ke diri sendiri,” tutur wanita itu, yang meskipun intonasinya lembut, tetapi cukup menyentil telinga dan hati Bianca.
“Nyonya D'Angelo adalah teman baruku. Berbicaralah dengan cara yang baik dan lembut. Aku permisi agar Anda berdua bisa lebih leluasa berbincang,” Mattea mengangguk penuh keanggunan, kemudian undur diri dari sana dan berjalan pelan menuju sudut lain ruangan luas tersebut.
Bianca terdiam, menunggu Mattea berjarak sedikit lebih jauh sebelum dia kembali berkonfrontasi dengan Mia. “Kau sungguh-sungguh wanita ular. Kau pintar bersandiwara,” maki Bianca saat tak melihat siapa pun di sekitarnya selain Mia. “Seandainya semua orang tahu apa yang pernah kau lakukan terhadap Adriano,” geramnya. “Adriano sekarang juga menjadi bodoh karena menikah denganmu!” Tak henti-hentinya wanita itu melontarkan kata-kata menyakitkan.
“Cukup, Nona Alegra! Hinalah aku sepuasmu, tapi tidak dengan suamiku. Kalau kau selalu mengungkit-ungkit hal itu, maka jangan terkejut jika mungkin suatu saat aku bisa saja menembak mulutmu agar tak terlalu pedas dalam berbicara,” ancam Mia. Tutur katanya yang selalu manis, menghilang saat itu. Emosinya yang masih dalam keadaan tidak stabil, kembali terganggu oleh sosok Bianca. Rasa-rasanya dia bisa histeris dan bersikap lebih kasar dari saat itu.
“Ka-kau berani mengancamku?” sergah Bianca. Jari telunjuknya yang diarahkan lurus ke wajah Mia, tampak sedikit gemetar.
Melihat hal itu, Mia semakin mengangkat wajahnya, seolah menantang Bianca.
“Kau akan kalah satu langkah jika menganggap remeh musuh yang ada di depanmu. Seseorang yang terlihat lemah, bisa saja menyimpan satu kekuatan yang membinasakan,” seringai Mia.
“Kau memang kejam, Mia! Tak heran jika kau tega menembak Adriano!” Nada bicara Bianca semakin meninggi. Dia sudah hendak mengucapkan sumpah serapah lagi ketika tiba-tiba Pierre muncul entah dari mana dan mencengkeram erat pergelangan tangannya.
“Kau pasti sepenuhnya sadar, siapa yang tengah kau hadapi saat ini, Nona. Kumohon tenangkanlah dirimu,” perkataan Pierre memang terdengar lembut, tetapi sorot matanya terlihat begitu tajam seakan menembus dada Bianca.
“Jangan ikut campur, Pierre! Jangan membuatku turut membencimu!” balas Bianca.
“Bagaimana mungkin aku tidak ikut campur, Nona? Selain karena tuan Adriano adalah majikanku, aku juga merasa khawatir jika kau terus bersikap seperti ini. Sebagai orang yang dekat dengan tuan Adriano, kau tentunya sudah tahu apa risikonya jika mengusik ketenangan majikanku. Tuan Adriano tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengganggunya,” tegas Pierre.
Mulut Bianca terkatup. Amarahnya yang meluap-luap, luruh seketika saat Pierre mengingatkan tentang betapa kejamnya Adriano jika miliknya terusik. “Mia harus meminta maaf atas semua yang pernah dia lakukan padaku!” tuntut Bianca beberapa saat kemudian.
“Baiklah. Aku minta maaf karena pernah menumpahkan kue di dadamu, Nona Alegra. Namun, seharusnya kau juga harus meminta maaf karena telah mengotori gaun mahalku. Adriano yang membelikan ini khusus untukku,” tutur Mia dengan senyum terkembang.
“Kau ….” Tangan Bianca terkepal. Wajahnya memerah dengan rahang mengetat. Pierre tahu bahwa sebentar lagi Bianca akan ‘meledak’. Akan tetapi, sebelum hal itu terjadi, dia lebih dulu menyeretnya menjauh dari Mia. Pierre membawa wanita muda itu keluar dari aula pesta. "Kau adalah wanita yang berkelas, jadi jangan permalukan dirimu dengan cara seperti ini," saran pria asal Perancis tersebut pelan, sambil terus mengajak Bianca keluar.
__ADS_1
"Lepaskan aku, Pierre! Berani-beraninya kau menyentuhku!" tolak Bianca. Dia berusaha untuk menyingkirkan tangan Pierre dari lengannya.
Namun, tanpa diduga Pierre mendorong Bianca hingga wanita itu bersandar pada salah satu pilar mansion. Ajudan setia Adriano tersebut tak banyak bicara. Dia hanya menatap Bianca dengan lekat.