Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Belle


__ADS_3


Selang satu hari setelah kembali dari Italia, Adriano mengajak Mia untuk membeli gaun malam yang akan dikenakannya saat menghadiri undangan dari Don Vargas. Tujuan mereka adalah sebuah butik ternama di kota Monte Carlo. Belle, itulah nama butik yang didatangi oleh keduanya. Tempat yang terlihat begitu mewah. Interiornya pun tampak sangat berkelas.


"Adriano," seorang wanita cantik dengan rambut tebal bergelombang yang indah dan tertata rapi, segera menyambut mereka berdua. Tanpa rasa canggung sama sekali, wanita itu merangkul Adriano sambil mencium pipi sebelah kirinya. "Ke mana saja kau? Sudah lama sekali kita tidak bertemu," tanyanya dengan telunjuk lentik berkuku panjang yang bergerak menelusuri kemeja bagian depan Adriano.


Adriano tertawa pelan saat menanggapi sikap dari wanita itu. "Aku sedang sibuk dan terkadang pergi ke luar negeri," sahutnya yang kemudian segera menggenggam tangan Mia, membuat wanita cantik tadi mengalihkan perhatian kepada ibunda dari Miabella tersebut. "Perkenalkan, ini adalah Florecita Mia D'Angelo, istriku," ucap Adriano dengan bangga seraya melirik dan tersenyum kepada Mia. Walaupun merasa tak nyaman, tapi akhirnya ibu satu anak tersebut memaksakan diri untuk tersenyum.


"Istrimu?" wanita berambut indah tadi menautkan alisnya. "Sejak kapan kau menikah? Aku sama sekali tidak mendengar berita itu," ujarnya dengan sorot mata aneh yang sesekali dia layangkan kepada Mia.


"Kami menikah di Italia beberapa waktu yang lalu," jelas Adriano tanpa melepaskan genggamannya dari tangan Mia. Sesaat kemudian, Adriano kembali melirik istrinya. "Sayang, perkenalkan dia adalah Christiabel Cantona. Sahabatku," Adriano memperkenalkan wanita cantik tadi kepada Mia. Akan tetapi, Mia sendiri hanya mengangguk pelan diiringi sebuah senyuman kecil. Perasaan canggung dan tak nyaman kian menggelayutinya.


"Oh, iya Belle," Adriano kembali berbicara. "Bisakah kau membantu istriku memilihkan gaun pesta yang cocok untuknya?" pinta pria bermata biru itu masih terlihat tenang.


"Tentu. Kau datang kepada orang yang tepat. Mari ikuti aku," ajak wanita bernama Christiabel itu. Dia melangkah anggun bagaikan seorang peragawati. Dari belakang tampak jelas lekuk indah tubuhnya, ditambah dengan bentuk pinggul yang sangat proporsional dan juga menawan.


Tanpa banyak bicara, Adriano mengajak Mia untuk mengikuti Christiabel ke bagian lain butik. Mereka berjalan dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari wanita itu. Ketiganya lalu berhenti pada sebuah ruangan dengan deretan gaun indah dan tampak berkilau.

__ADS_1


"Ini adalah beberapa koleksiku. Semuanya merupakan rancanganku sendiri, Nyonya D'Angelo," Christiabel mengarahkan tangannya pada deretan gaun-gaun indah yang terpajang di dalam ruangan tersebut. "Kau ingin memilih sendiri atau harus kubantu mencarikan yang paling cocok untukmu?" tanyanya dengan senyum serta tatapan aneh yang dilayangkan kepada Mia.


"Jika kau tidak keberatan, aku rasa mendapatkan bantuan dari ahlinya akan jauh lebih baik," sahut Mia dengan bahasa tubuh seelegan mungkin. "Aku harus memanggilmu apa, nona atau nyonya?" tanyanya kemudian.


"Aku masih lajang, Nyonya D'Angelo. Mencari pria yang benar-benar tepat untuk dijadikan sebagai pasangan seumur hidup teramat sulit," terangnya seraya melirik kepada Adriano yang saat itu tengah duduk dengan gagah pada sebuah bangku busa berbentuk persegi. Dia tampak sedang memainkan ponsel, dengan sikapnya yang selalu terlihat memesona. Sesekali, Adriano menggerak-gerakkan kaki kanannya yang berada di atas paha sebelah kiri. Dia tak menyadari bahwa dirinya tengah menjadi pusat perhatian dua wanita cantik.


"Ya, kau benar sekali, Nona Cantona," sahut Mia menanggapi ucapan Christiabel. Dia semakin tak nyaman karena wanita cantik itu menunjukkan sikap yang dirasa aneh terhadap Adriano.


"Mari kupilihkan gaun yang cocok untukmu," ajak Christiabel kemudian. Dia mendekat pada sederet gaun dengan model dan juga warna-warna yang tampak sangat berkelas. "Kau memiliki bentuk tubuh yang indah. Tidak akan sulit mencari gaun yang cocok untukmu," ucapnya sambil memilih beberapa untuk Mia. "Cobalah ini, mungkin ada salah satu yang cocok," sarannya. Dia lalu menyodorkan sekitar tiga potong gaun kepada Mia.


Tanpa banyak bicara, Mia langsung menerimanya. Wanita dua puluh sembilan tahun itu melangkah ke dekat kamar pas. Dia juga melewati Adriano yang masih asyik dengan ponselnya, membuat pria bermata biru tersebut segera mengalihkan perhatian, hingga Mia menghilang di balik tirai cantik berwarna keemasan.


Adriano tertawa pelan mendengar kata-kata wanita cantik di sebelahnya. Dia memasukkan ponsel ke dalam saku kemeja, dengan tanpa mengubah posisi duduk. "Aku tidak seistimewa itu, Belle," bantahnya.


"Salah besar. Pada kenyataannya, ada banyak wanita yang jatuh hati padamu. Kau ingat? Dulu aku pernah memperkenalkanmu kepada teman-temanku," Christiabel melirik sang ketua Tigre Nero. Sepasang mata indahnya mengerling penuh arti kepada pria tampan dengan tatapan yang terus tertuju pada ruang pas. Adriano, sepertinya tengah menunggu Mia keluar dengan gaun-gaun cantik yang dicobanya.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Adriano. Pria bernata biru itu tak menoleh sedikit pun kepada Christiabel yang justru bersikap sebaliknya.

__ADS_1


"Oh, astaga. Setiap hari mereka menggangguku dengan pertanyaan ini dan itu tentang dirimu. Untuk membuat mereka diam, kukatakan saja bahwa kau adalah kekasihku," terang Christiabel yang kemudian tertawa renyah tanpa mengalihkan pandangannya. Begitu juga dengan Adriano. Kali ini, dia menoleh sambil tersenyum cukup lebar. Bersamaan dengan itu, Mia membuka tirai dan melihat adegan manis tersebut.


Mia tertegun untuk sejenak, sebelum akhirnya menyebut nama sang suami dengan tidak terlalu nyaring. Dengan segera Adriano mengalihkan perhatian kepada Mia. Dia tampak cantik dengan gaun berwarna teal green yang menjuntai hingga ke lantai. Gaun itu terlihat berkilau dengan taburan kristal yang menghiasinya. Tanpa banyak bicara, Adriano langsung saja beranjak dari duduknya dan menghampiri sang istri.


Pria dengan postur tegap itu terus memperhatikan sang istri dengan gaun indah yang melekat di tubuhnya. Gaun dengan tali kecil di pundak serta beraksen v neck, yang memperlihatkan sebagian dada Mia. Adriano kemudian membalik tubuh istrinya sehingga jadi membelakangi. Sungguh luar biasa, punggung mulus Mia pun terlihat dengan begitu jelas.


"Apa kau menyukai gaun ini?" bisiknya.


"Aku akan memilih gaun ini andai kau juga menyukainya," jawab Mia pelan. Darahnya terasa berdesir dengan semakin kencang, ketika merasakan helaan napas Adriano yang menghangat di telinganya.


"Aku sangat menyukainya," bisik Adriano lagi. "Setelah ini kita langsung pulang," pria itu kembali berbisik, membuat Mia tersenyum kecil. Dia seakan sudah bisa menebak maksud dari ucapan sang suami. Mia pun kembali ke dalam kamar pas untuk berganti pakaian.


Selang beberapa saat, setelah pilihan dijatuhkan pada gaun tadi, sepasang suami istri itu segera berpamitan. Christiabel kembali mencium pipi kiri Adriano. "Senang bisa bertemu lagi denganmu, Adriano," ujarnya diiringi senyuman yang teramat manis, "dan tentunya kau juga Mia," dia melirik Mia untuk sesaat, sebelum Adriano melajukkan mobil mewahnya dan meninggalkan tempat itu.


"Apa kau tidak memiliki teman dengan wajah dan ukuran pinggul serta dada yang biasa saja, Adriano?" tanya Mia dingin. Rasa cemburu kembali menghampiri ibu satu anak itu.


"Tidak," jawab Adriano dengan enteng dan terlihat tenang. Dia tersenyum kalem seraya melirik Mia dari balik kaca mata hitam yang dikenakannya. Adriano tahu jika sang istri tercinta, kembali dilanda rasa cemburu. Namun, dia tak ingin membahasnya. Hal itu hanya akan semakin memperpanjang masalah. "Apa kau ingat tadi Miabella pesan apa?" tanyanya. Adtiano mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Aku lupa," sahut Mia sambil memalingkan wajah ke luar jendela kaca mobil. Sikapnya kembali membuat Adriano menyunggingkan sebuah senyuman. Dia pun mencoba untuk tetap fokus pada kemudi, meski dalam hati sudah merasa gemas dengan sikap merajuk Mia. Namun, pada akhirya Adriano memilih untuk menepi sejenak.


__ADS_2