Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Akhir Kisah dari Yunani


__ADS_3

Semilir angin berembus pelan menerpa rambut panjang Mia. Wanita itu berdiri menatap hamparan laut biru yang berkilau terkena pancaran sinar mentari. Sudah lewat tengah hari, dan dia masih betah berdiri di sana. Entah apa yang membuat ibu dua anak tersebut tak juga beranjak dari tempatnya.


Sementara Adriano asyik memperhatikan dari dalam rumah. Pria tampan itu berdiri di ambang pintu, sambil menyandarkan lengan. Sedangkan kedua tangannya bersembunyi di dalam saku celana panjang. Sebuah senyuman kecil pun terlukis di sudut bibir yang dihiasi kumis tipis. Sesuatu yang menggambarkan sisa-sisa kharisma serta ketampanan di masa muda sang ketua Tigre Nero.


"Daddy." Tangan mungil Adriana yang dihiasi bulu-bulu halus, tiba-tiba melingkar di perut sang ayah. Gadis remaja itu mendekap ayahnya dari belakang dengan erat. Jika sudah bersikap seperti itu, biasanya Adriana ingin meminta sesuatu. Entah apa yang kali ini dia inginkan. Sedangkan Adriano tidak berkata apa-apa. Pria itu hanya menggumam pelan, karena sudah paham akan tingkah putri bungsunya tersebut. "Apa boleh kita tinggal lebih lama di sini?" tanya Adriana kemudian. Gaya bicara gadis manis bermata biru tersebut terdengar cukup manja.


"Kau ingin kita di sini sampai kapan lagi? Kita sudah terlalu lama berada di Yunani. Memangnya kau tidak merindukan Monaco?" Adriano menoleh sejenak ke belakang, mencari wajah putri bungsunya yang bersembunyi di balik punggung. Namun, ekor mata pria paruh baya tersebut hanya dapat menangkap sedikit saja, dari sosok menggemaskan yang terlalu mungil bagi tubuh tegap Adriano


"Aku belum sempat mengunjungi tempat lain, Daddy," rengek Adriana masih terdengar manja.


"Lalu?" Adriano tersenyum ketika Mia menoleh padanya. Dia mengeluarkan salah satu tangan dari dalam saku, kemudian melambai kepada sang istri. "Lihatlah. Ibumu sangat cantik bukan?" Pria berambut gelap itu tak mengalihkan pandangannya dari sosok Mia yang terlihat elegan dalam balutan sheath dress putih tanpa lengan. Wanita itu selalu terlihat cantik dengan apapun yang dia kenakan. Hal tersebut membuat kekaguman Adriano terhadap Mia tidak pernah ada habisnya. Perasaan indah itu tetap besar dan tak akan mungkin berkurang.


"Ayolah, Daddy," bujuk Adriana. "Ibu mengatakan dulu kau jarang sekali pulang ke mansion di Monaco, dan lebih sering menghabiskan waktu di Yunani," ujar gadis itu lagi kembali membujuk sang ayah.


"Ya, dia benar. Namun, itu terjadi sebelum aku menikah dengan ibumu, Sayang," sahut Adriano tenang. "Jika kau menyukai negara ini, maka kita bisa datang lagi kapan-kapan. Masih ada banyak waktu. Mungkin nanti kita bisa pergi dengan mengajak kakakmu juga. Itu pasti akan jauh lebih menyenangkan. Miabella pun selalu betah jika kuajak kemari. Ya, dulu dia akan merasa senang dan antusias saat kubawa ke manapun." Adriano tersenyum simpul. Ingatannya kembali pada masa silam, di mana dia mendapat sebuah anugerah terindah yang tak ternilai dengan apapun.


Rasa sayang Adriano tak akan pernah berubah, bahkan hingga Miabella beranjak dewasa dan tumbuh dengan segala sikap liarnya yang tak jarang sulit untuk dikendalikan. Adriano mengempaskan napas pelan. "Setelah dari sini, kita akan langsung ke Italia dan melihat keadan kakakmu di sana," ujar pria itu kemudian. "Pikirkan oleh-oleh apa yang ingin kau bawakan untuk kakakmu, Sayang," ucapnya lagi.


"Hhh," keluh Adriana pelan karena merasa kecewa. Dia melepaskan pelukan dari sang ayah, ketika merasakan ponselnya bergetar.


Benda tersebut gadis itu simpan dalam sebuah tas kecil khusus, yang selalu dirinya bawa ke manapun. Tanpa berlama-lama, Adriana segera memeriksanya.

__ADS_1


Nama Achiles muncul di layar. Pemuda itu mengirimkan sebuah pesan untuk Adriana. Entah apa isi dari pesan tersebut. Satu yang pasti, hal itu membuat si gadis tujuh belas tahun tadi langsung tersenyum sembari berlalu begitu saja meninggalkan Adriano. Adriana seakan lupa dengan permintaan dan juga rasa kecewanya, karena saat itu dia terdengar bersenandung kecil sambil sesekali bersiul.


Menyaksikan tingkah gadis bermata biru tadi, Adriano hanya dapat tersenyum seraya menggeleng pelan. Sepeninggal putri bungsunya itu, dia pun memutuskan untuk mengahampiri Mia. Ayah dua anak tersebut melangkah gagah menuruni deretan anak tangga, lalu berjalan sebentar hingga tiba di sebelah wanita pujaan hatinya. "Apa yang membuatmu betah berlama-lama di sini, Sayang?" tanya Adriano lembut. Tangan kanan pria itu pun terulur, bermaksud hendak merengkuh pinggang ramping sang istri.


Tanpa harus diminta, Mia pun semakin mendekat. Dengan penuh rasa nyaman, dia menyandarkan kepala di pundak Adriano yang segera mengecup keningnya. "Aku ingin menunggu senja di sini," ucap ibu dua anak tersebut kembali mengarahkan pandangan pada langit dan lautan lepas yang menjadi penghias Santorini yang indah.


"Bolehkah jika kutemani?" tawar Adriano seraya melirik wanita cantik yang dia rangkul dari samping.


"Dengan senang hati, Tuan D'Angelo," sahut Mia seraya tertawa renyah. Dia lalu mendongak untuk meminta sebuah hadiah kecil dari pria yang teramat dicintainya.


Adriano pun memahami makna dari bahasa tubuh sang istri. Belasan tahun hidup bersama, membuatnya begitu mengenal Mia dengan segala sesuatu yang bahkan tak diucapkan oleh wanita cantik tersebut. Dengan ditemani semilir angin yang mengantarkan mereka menuju sore hari, pertautan manis pun berlangsung di bawah langit Santorini yang cerah.


Adriano masih sama. Dia tetap menjadi pria yang hangat dan juga romantis, yang tak segan mengeluarkan lembaran euro demi memanjakan Mia dan kedua putrinya. Namun, yang paling utama bukanlah hanya dari segi materi. Ada sisi luar biasa dari pria itu yang tak bisa dijabarkan oleh untaian kata sepanjang apapun juga.


"Kau memang pria yang sangat baik, Adriano. Mungkin karena itulah Tuhan mempertemukan kita kembali di tempat ini. Apa kau tahu, Sayang? Setelah perasaanku kau hidupkan kembali, aku merasa semakin yakin bahwa Tuhan itu memang penyayang. Tak ada alasan lagi bagi diriku, untuk meratapi sesuatu yang membuat sakit dan terpuruk," tutur Mia lembut.


"Ya, Sayangku. Akan selalu ada perjalanan untuk bisa berada di tempat tujuan. Sejauh apapun itu, kita pasti akan tiba di sana. Aku sudah menemukan tujuan hidupku. Kau, Miabella, dan juga Adriana. Kalian bertiga adalah bidadari yang membuat diriku merasa lupa, akan lelahnya perjalanan panjang untuk bisa sampai di titik ini." Adriano memindahkan tangannya pada lengan Mia. Dia mengeratkan rengkuhan seraya berkali-kali mengecup pucuk kepala sang istri tercinta.


Desir angin kembali berembus pelan. Langit cerah di sore hari tampak begitu indah. Satu kenangan lama hadir lagi dalam ingatan kedua insan yang telah saling mengikrarkan diri, untuk meniti setiap detik dalam kebersamaan yang intens.


Tak ada satu hal pun yang dapat memisahkan Mia dari Adriano, begitupun sebaliknya. Semua rintangan telah mereka lawan dan dapat dilalui, meski tidaklah terasa mudah. Kini, keduanya hanya tinggal menunggu waktu. Entah kapan saat itu akan tiba, hari di mana Mia ataupun Adriano tak dapat lagi saling menggenggam tangan masing-masing. Di mana tak akan terdengar lagi ungkapan cinta yang manis, dan membuat keduanya dapat sama-sama tersenyum dalam mereguk indahnya cinta.

__ADS_1


Pada langit senja yang teduh, Adriano dan Mia saling menitipkan rasa kasih di antara mereka berdua. Cinta yang begitu besar dan tumbuh dari masa ke masa, menunggu ribuan hari dan musim untuk dapat menyatukannya dalam sebuah kenyataan yang berawal dari deraian air mata.


"Aku menyukai tempat di mana kita berdiri sekarang. Kau dan aku, semuanya berawal dari sini," ucap Adriano kemudian.


"Terima kasih untuk semua yang telah kau lakukan, Adriano. Aku tak akan menyesali pertemuan kita yang terlambat. Segalanya telah terbayar, ketika kututup setiap hari dalam dekapanmu. Kau cinta terakhir bagiku." Mia kembali menyandarkan kepalanya di pundak Adriano.


"Kau adalah cinta pertama dan terakhir untukku, Florecita Mia. Malaikat penyelamat tercantik sampai kapanpun. Biarlah waktu terus berputar dan musim berubah serta menghadirkan rasa yang berbeda setiap pergantiannya. Namun, Adriano D'Angelo akan tetap sama. Dulu, saat ini, dan beberapa waktu kemudian, hingga aku tak sanggup lagi untuk menyebutkan namamu dan hanya dapat menyimpannya dalam hati. Menjadikannya kenangan penuh arti. Kau satu-satunya. Kau ibu dari kedua putriku yang luar biasa."


Bersama, mereka menikmati senja yang damai dan tak lama lagi akan segera turun. Ia datang untuk menggantikan siang yang ceria dan penuh cerita di Santorini, Yunani.


...-End-...


Hai, readers. Berakhir sudah perjalanan antara Adriano bersama Mia. Semoga semuanya merasa terhibur mengikuti episode yang panjang ini. Maaf jika masih banyak kekurangan dalam penyampaiannya.


Apakah di sini ada yang penasaran dengan kelanjutan dari kisah hidup Carlo dalam mengungkap identitas aslinya? Semua akan ceuceu othor kupas tuntas dalam novel berjudul The Bodyguard. Kapan sih tayangnya? Yuk, follow ceuceu othor, agar bisa mendapat info selanjutnya.


Untuk melanjutkan kehaluan, kita rehat sejenak dari kisah mafia yang penuh ketegangan. Bagi yang suka cerita romantis, jangan lupa mampir dan ramaikan ya. Dijamin selalu beda dari novel-novel sebelumnya.


Salam sayang,


🍒 Komalasari.

__ADS_1



__ADS_2