Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
La Fuga


__ADS_3

Sepeninggal wanita asing tadi, Adriano hanya diam. Dia tidak melakukan apapun selain mengamati belasan pria yang berdiri mengelilinginya. Perawakan mereka tampak tegap, dengan garis wajah yang tegas. Adriano mulai menerka seperti apa latar belakang mereka sebenarnya. Jika mereka bukan dari golongan dunia hitam, pastilah mereka orang yang terbiasa menghadapi kekerasan setiap harinya. Dalam pandangan Adriano, karakteristik orang-orang itu lebih cocok menjadi tentara bayaran atau setidaknya penah berkecimpung di dunia militer. Cara mereka memegang senjata dan berkoordinasi terlihat sangat rapi juga teratur. “Tak kusangka, ternyata aku mendapatkan lawan yang cukup tangguh,” gumamnya sembari tersenyum samar.


Dirasakannya kalung berbandul pedang yang berhasil dia curi dari wanita misterius tadi. Kalung itu kini tersembunyi di bawah telapak kakinya. Di saat orang-orang itu lengah, Adriano menyepak kalungnya ke arah samping kiri, tak jauh dari kaki kursi besi. Perlahan, Adriano mencondongkan tubuhnya ke depan, sehingga kursi tersebut sedikit bergeser ke depan juga.


“Hei! Sedang apa kau?” seru salah seorang yang berhasil memergoki aksinya.


“Ah, sepertinya aku mulai mengantuk,” Adriano menyeringai lebar, kemudian kembali diam. Tak berselang lama, dia memiringkan badannya dan menjatuhkan diri ke samping, di mana tangannya tepat berada di atas kalung emas berbandul yang lebih dulu tergeletak di atas lantai kayu. Sigap, tangan pria itu meraih kalung tadi dan menggenggam benda tersebut dengan erat.


Sebenarnya, lengan Adriano terasa nyeri akibat tertindih kursi besi. Beban tubuhnya kini bertumpu pada lengan yang terjepit. Akan tetapi, Adriano tak menghiraukannya. Dia cukup puas karena sudah dapat menggenggam kalung itu.


“Apa-apaan kau!” hardik orang-orang itu. Beberapa di antara mereka menghampiri Adriano, kemudian menegakkan kembali kursinya.


“Seperti yang kukatakan tadi, aku mengantuk,” jawab Adriano datar. Senyuman yang sejak tadi menghiasi paras tampannya mulai memudar, terlebih ketika salah seorang dari mereka itu melayangkan pukulan di bagian wajah. Darah segar menetes dari sudut bibir Adriano. Dia menyapu darah itu menggunakan ujung lidahnya. Setelah itu, pria bermata biru tersebut menatap tajam pada orang yang telah berani membuat wajahnya terluka. Tatapan yang dingin sekaligus bengis dia layangkan. “Lihat saja nanti jika tubuhku tak lagi terikat, kaulah yang akan pertama kali kuhabisi,” desisnya dengan bernada ancaman.


“Jangan bermimpi!” orang itu berniat untuk memukul Adriano lagi. Akan tetapi, pria rupawan tersebut segera mengelak, sehingga orang asing tadi hanya memukul angin. Adriano lalu berusaha untuk berdiri, sampai kursinya ikut terangkat. Dia menumbuk pria itu sekuat tenaga. Pria asing itu pun terhuyung ke belakang dan terjatuh tak sadarkan diri.


“Hei!” teriak yang lainnya. Mereka berusaha membalas Adriano.


Namun, satu teman lainnya segera mencegah. “Bos mengatakan bahwa kita tidak boleh melakukan kontak fisik dengannya!” cegah pria itu.

__ADS_1


“Kau tidak lihat dia sudah melukai Bruce!” tolak salah satu dari sekian orang itu tampak emosi.


“Tenanglah! Tidak bisakah kau sabar sebentar saja sampai besok pagi?” cegah rakannya lagi.


Adriano tertawa kecil mendengar perdebatan orang-orang itu. Di saat mereka sibuk bertengkar, Adriano dengan leluasa menggunakan ujung bandul pedang untuk memutus tali yang mengikat pergelangan tangannya. Dia cukup kesulitan karena bandul tumpul itu tidak terlalu kuat untuk memutus tali tampar berdiameter besar.


Akan tetapi, ternyata kalung yang dia curi, memiliki rahasia lain yang cukup mengejutkan. Adriano tak menduga, di saat dia memegang erat bandul berbentuk pedang tersebut di belakang tubuhnya, dia tak sengaja menekan tombol kecil yang hampir tak terlihat. Tombol itu ternyata dapat membuka benda tadi, sehingga bandul pedang itu terbelah menjadi dua. Adriano meraba isi bandul itu dengan hati-hati. Dia dapat merasakan sebuah benda tajam tersembunyi di dalamnya. Sesuatu itu berbentuk seperti jarum dengan ukuran yang lebih lebar.


Perlahan, Adriano menggesekkan benda tajam itu ke atas permukaan tali tampar. Beberapa saat kemudian, usahanya membuahkan hasil, tali tamparnya terlepas bersamaan dengan suasana yang kembali hening. Orang-orang itu berhasil meredam perselisihan mereka dan kembali ke posisi masing-masing.


Namun, Adriano tak ingin mengambil risiko. Dia tetap berpura-pura masih dalam keadaan terikat sempurna. Saat itu, Adriano tak dapat melakukan apapun selain menunggu hingga malam semakin larut. Adriano kemudian menundukan kepala sambil terpejam. Rasa lelah yang mendera, membuat dirinya tak kuasa menahan kantuk. Pada akhirnya dia sempat tertidur untuk beberapa saat dan memulihkan tenaga, hingga tanpa terasa malam telah berlalu.


Pria rupawan itu berusaha untuk mengumpulkan segenap kesadarannya. Mata biru milik sang ketua Tigre Nero tersebut, tajam melihat sepasang sepatu boots berbahan kulit dengan warna hitam di hadapannya. “Adriano D’Angelo.” terdengar si pemilik sepatu boots tadi menyebut namanya.


Suara pria tadi pernah Adriano dengar sebelumnya. Demi menghilangkan rasa penasaran dalam hati, Adriano kemudian mendongak. Seketika, pria bermata biru tersebut diam terpaku dengan sorot mata yang menyiratkan rasa tidak percaya. Betapa tidak, Timothy Dixon telah berdiri dengan angkuh sambil melipat kedua tangan di dada. Penampilannya pun terlihat berbeda dengan yang Adriano temui kemarin saat berada di lokasi proyek. Tak ada kemeja atau apapun yang menunjukan bahwa dia adalah pria yang rapi. Saat itu, Timothy hanya mengenakan singlet berwarna putih dengan celana jeans biru belel.


Di samping sang arsitek, berdiri wanita yang semalam duduk di atas pangkuan Adriano. Sementara pria-pria bertubuh tegap dengan wajah yang sangar, berjejer di belakang kedua orang itu. Si wanita tersenyum puas sambil terus mengunyah permen karet. Dia membiarkan lengannya menjuntai begitu saja di atas pundak Timothy. Sementara tatapannya tertuju kepada Adriano dan tampak sedikit nakal.


“Adriano D’Angelo,” lagi, pria itu menyebutkan nama Adriano dengan nada penuh ejekan. Suara helaan napas berat meluncur dari bibirnya yang dipenuhi janggut cukup tebal. Dia mungkin merasa berada di atas angin, karena melihat Adriano yang masih dalam keadaan terikat kencang.

__ADS_1


“Timothy Dixon atau ... siapa namamu yang sebenarnya?” Adriano menautkan alis dengan nada bicara yang terdengar penasaran, tapi masih terkesan begitu tenang.


Pria yang mengaku sebagai Timothy Dixon itu tertawa lepas. Bukannya menjawab, pria itu justru malah melirik wanita di sebelahnya. “Kau dengar itu, Duscha? Dia bertanya siapa aku ....” pria itu kembali tertawa lebar, kemudian diikuti oleh mereka yang ada di sana. Semuanya terdengar meledek Adriano. Raut penuh ejekan pun tampak nyata dari wajah-wajah yang kini tampil tanpa penutup muka, sehingga Adriano dapat melihat mereka satu per satu dengan jelas. Ada juga sopir yang kemarin membawanya di antara wajah-wajah itu.


Pria dengan singlet putih tadi setengah membungkuk. Wajahnya berada cukup dekat di hadapan Adriano. “Lalu, apa tujuanmu yang sebenarnya datang ke Inggris? Aku yakin bukan hanya karena proyek kasino bersama Don Vargas, kan?” tanyanya seraya kembali menegakan tubuh berbalut kulit kecokelatan itu.


Adriano menatap lekat pria yang berdiri di hadapannya. Sesaat kemudian, dia lalu memicingkan mata. “Thomas Bolton?” desisnya pelan.


Dengan segera, ucapan pelan Adriano disambut dengan sebuah tepukan tangan dari pria berjanggut cukup tebal itu. Tawa lebar kembali meluncur dari bibirnya. “Sang ketua Tigre Nero yang hebat. Pantaslah jika perkumpulan mafia yang kau pimpin bisa merajai daratan Eropa,” decaknya beberapa kali seraya menggeleng pelan.


“Akuilah kehebatanku,” Adriano tersenyum lebar. “Jadi, kau memang benar Thomas Bolton yang sedang kucari? Ah, kebetulan sekali. Itu artinya aku tidak perlu masuk ke gorong-gorong untuk dapat menemukanmu,” seringai pria rupawan bermata biru itu. Dia lalu tertawa renyah.


“Ya, aku adalah Thomas Bolton yang sedang kau cari. Kau harus tahu bahwa aku merupakan seekor buaya ganas yang bersembunyi di dalam gorong-gorong, hanya sekadar untuk menunggu mangsanya terjatuh sendiri. Lihatlah apa yang terjadi sekarang padamu. Kau sudah berada di dalam gorong-gorong kekuasaanku,” pria yang ternyata adalah Thomas Bolton itu mengepalkan tangannya dengan kuat di hadapan Adriano. Dia lalu melirik wanita di sebelahnya. “Apa kau tahu seberapa kuat gigitan seekor buaya, Duscha?” tanyanya.


Wanita yang ternyata bernama Duscha itu tertawa renyah sambil terus mengunyah permen karetnya. “Oh, Thomas. Aku belum pernah digigit buaya,” dia lalu berjalan mendekati Adriano dan sedikit menurunkan tubuhnya di samping pria itu. Duscha kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Adriano. “Aku ingin kau yang menggigitku,” bisik wanita itu nakal, kemudian tertawa lebar.


“Dengarkan aku. Buaya memiliki kekuatan gigitan lebih dari lima ribu pon per inci persegi. Gigitannya bisa disandingkan dengan seekor T-rex. Silakan bayangkan sendiri. Seberapa hebatnya dirimu, Adriano D’Angelo? Jangan karena merasa telah berhasil menghabisi sahabatku Andreja Borislav, maka kau berpikir bisa membunuhku dengan mudah. Itu tidak akan pernah terjadi, karena sebelum kau menghabisiku... aku yang akan lebih dulu menghajarmu dengan tanpa ampun!” sebuah tendangan keras mengarah ke tepat kepada Adriano.


Namun, secepat kilat pria yang masih terduduk itu melonggarkan ikatan yang memang sudah terlepas dari semalam. Gerak refleks Adriano, masih bagus ketika dia menahan terjangan Thomas yang mengarah pada dirinya. Dia memelintir kaki itu dan membelitnya dengan tali yang segera terlepas saat dia bergerak. Sementara Thomas yang sudah kehilangan keseimbangan, jatuh telentang di atas lantai.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat, Adriano menarik pria itu dan menjadikannya sebagai tameng hidup. Dia memegangi kedua tangan Thomas yang dilipat ke belakang punggung pria tersebut. Adriano juga menekan lehernya dengan kuat. Sementara itu, pria-pria berperawakan tegap sudah siap dengan pistol mereka yang terarah langsung kepada Adriano. Awas dan tajam, mata biru pria itu mengamati setiap pergerakan di sekelilingnya.


__ADS_2