
Sepasang mata abu-abu milik Miabella tak berkedip saat melihat pemandangan luar biasa di hadapannya. Gadis itu terpaku tanpa sepatah kata pun, ketika menyaksikan ada tiga ekor black panther di dalam ruangan berpintu besi yang baru saja terbuka. Dua dari hewan buas tadi tengah berjalan mondar-mandir. Sedangkan seekor lagi memilih untuk berdiam diri di sudut ruangan yang menjadi kandang mereka. Mata dari hewan buas itu berwarna kuning, menatap tajam kepada Miabella yang masih terpaku di tempatnya.
“Ya, Tuhan,” desis gadis cantik tersebut tak percaya. Dia bermaksud untuk berjalan mendekat ke arah jeruji besi.
“Tidak!” cegah Carlo dengan segera. “Jangan terlalu mendekat. Mereka belum terbiasa denganmu.” Pria tampan itu menahan lengan Miabella agar tak semakin maju.
“Apa mereka belum jinak? Mereka terlihat sangat menggemaskan. Aku ingin sekali memegangnya,” celoteh gadis itu yang seketika membuat Carlo mengernyitkan kening, dengan sikap aneh Miabella yang tampak antusias.
“Kau tidak takut?” tanya Carlo heran.
“Kenapa aku harus takut? Mereka hanya seekor kucing. Kebetulan saja tubuhnya jauh lebih besar. Lagi pula, mereka di dalam kandang.” Miabella tertawa pelan. Dia lalu menoleh kepada sang pengawal pribadi.
“Selama ada kau di dekatku, tak ada satu hal pun yang akan membuat diriku merasa takut,” ujar gadis itu lagi, membuat Carlo terdiam menatapnya untuk beberapa saat. Dia terus memperhatikan Miabella yang terlihat begitu antusias.
“Sejak kapan mereka ada di sini?” tanya Miabella kemudian
“Mereka adalah generasi kedua, itu yang tuan Adriano katakan padaku. Dulu dia memelihara seekor bernama Camaro. Padahal jenis kelaminnya betina, tapi aku juga tidak mengerti kenapa tuan memberinya nama demikian.” Carlo menautkan alis dan tampak berpikir.
“Lalu, siapa nama mereka?” tanya Miabella lagi masih dengan sikapnya yang tampak sangat penasaran, karena ingin mendekat serta menyentuh ketiga hewan itu.
“Kau lihat mereka berdua yang sedang berjalan mondar-mandir? Itu adalah Archie dan Louie. Sedangkan yang menyendiri bernama Dexter,” terang Carlo sambil menunjuk satu per satu, dari ketiga black panther di dalam kandang tadi.
“Aku ingin sekali menyentuhnya,” ucap Miabella dengan raut manja.
“Tidak!” tolak Carlo dengan segera.
“Sungguh menyebalkan. Daddy Zio memelihara hewan ini sejak lama, tapi dia tak memberitahuku sama sekali,” keluh Miabella lagi mendengus pelan. “Apakah ibuku tahu tentang ini?”
“Tidak sama sekali,” jawab seseorang dari arah belakang. Suara berat Adriano terdengar di dalam ruangan itu, membuat mereka berdua seketika membeku.
“Mati aku,” gumam Carlo pelan. Dia harus siap menerima konsekuensi dari keteloderannya karena telah membiarkan Miabella masuk ke sana. Padahal sudah ada aturan yang sangat jelas dari Adriano tentang hal tersebut.
__ADS_1
“Tidak ada yang tahu, begitu juga dengan ibumu. Aku tak ingin membuatnya merasa takut,” ucap Adriano lagi seraya berjalan mendekat. Pria yang sebentar lagi akan menginjak usia lima puluh tahun itu berdiri tepat di belakang anak gadisnya. “Sedang apa kau di sini, Bella?” tanya Adriano datar. Dia jelas tak suka saat harus mendapati Miabella berada di ruangan paling rahasia dari mansion miliknya.
“Aku ... aku hanya ingin melihat-lihat,” sahut Miabella seraya membalikkan badan, kemudian tersenyum kepada sang ayah yang memasang raut tak bersahabat. Adriano yang biasa terlihat ramah dan hangat, saat itu tampak dingin. “Apa kau akan memarahiku lagi, Daddy Zio?” tanya Miabella polos.
“Tak seharusnya kau masuk kemari,” ujar Adriano tanpa menanggapi pertanyaan putrinya. Dia lalu mengalihkan pandangan kepada Carlo yang hanya terdiam. “Keluar dan pergi ke kamarmu, Bella. Aku ingin bicara sebentar dengan Carlo,” suruh Adriano tanpa mengalihkan tatapan dari anak asuhnya yang kini telah berusia jauh lebih dewasa.
Menyadari sikap serius yang Adriano tunjukkan, tentu saja membuat Miabella menjadi was-was. Dia melirik kepada Carlo yang masih memilih untuk tak bersuara. “Ini salahku, Daddy Zio. Aku yang memaksanya untuk ....”
“Pergilah dari sini, Bella,” potong Adriano cukup tegas.
Akan tetapi, Miabella tak menurut. Gadis cantik itu justru menggeser tubuhnya, sehingga menjadi perisai bagi Carlo. “Aku tak akan membiarkanmu memarahi apalagi menghukumnya, Daddy Zio,” ucap Miabella tegas.
Namun, Adriano tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju kepada pria tiga puluh empat tahun, yang sepertinya siap menerima segala risiko dari kelalaiannya. “Kau tidak akan melakukan apapun terhadap Carlo! Aku pastikan itu,” tegas Miabella lagi.
“Ini bukan urusanmu, Principessa,” sahut Adriano menanggapi ucapan anak gadisnya. “Keluarlah dulu. Biarkan aku bicara berdua dengan Carlo.” Adriano tak melepaskan pandangannya dari pria tiga puluh empat tahun yang masih memilih untuk tak berkata apapun terhadap dirinya.
Seperti itulah sikap Carlo saat dirinya merasa bersalah. Dia tak akan banyak bicara apalagi membangkang. Pria itu hanya diam dan mendengarkan teguran yang dialamatkan terhadap dirinya. Terlebih, jika yang marah adalah seorang Adriano D’Angelo. Carlo tak akan berani untuk membantah sama sekali.
“Jika Daddy Zio hendak menghukumnya, maka hukumlah aku juga,” ucap Miabella bersikeras dengan sikapnya. Dia seakan tak takut sama sekali saat menantang seorang Adriano.
Jika sang ayah sudah menyebutkan nama lengkapnya, maka Miabella tak akan bisa berkutik. Sambil menundukkan wajah, gadis cantik itu berjalan melewati Adriano dengan begitu saja hingga dirinya berada di dekat pintu masuk. Namun, sebelum benar-benar keluar dari sana, Miabella kemudian membalikkan badan dan menatap Carlo yang juga tengah memandang ke arahnya dengan sorot yang tak dapat diartikan. Hal tersebut ternyata tak lepas dari pengamatan Adriano.
“Sudah selesaikah kalian saling memandang?” celetuk pria bermata biru itu, membuat
Carlo seketika tergagap dan kembali mengarahkan perhatian padanya. Akan tetapi, ekor mata pria berambut gelap tersebut masih bisa menangkap Miabella yang sudah keluar dari ruangan rahasia tadi.
“Apa yang kau pikirkan, Carlo?” tanya Adriano dengan nada yang begitu dingin dan datar.
“Maafkan aku Tuan. Ini adalah sepenuhnya salahku,” jawab Carlo seraya menunduk dalam-dalam.
“Dalam pekerjaan ini, kau tak boleh melibatkan hati. Jika kau mengikutsertakan perasaanmu, maka kau tak akan bisa menolak apapun keinginan putriku. Biar kuingatkan sekali lagi, keselamatannya adalah tanggung jawabmu," tegur Adriano.
__ADS_1
“Aku mengerti, Tuan,” sahut Carlo mengangguk pelan. Dia sempat mengangkat wajahnya sesaat, lalu bersitatap dengan Adriano sebelum kembali menunduk.
“Akan sangat berbahaya jika kau tak bisa menolak keinginan Miabella. Bagaimana jika dia menginginkan hal-hal yang berisiko tinggi, sementara kau hanya tunduk dan patuh terhadap apapun kemauan putriku? Tugasmu adalah memastikan dirinya aman, walaupun Bella tidak menyukainya,” tegas Adriano lagi.
“Aku berjanji akan mengubah sikapku, Tuan,” sahut Carlo mantap.
Adriano tak segera menanggapi. Dia malah mengamati pria yang memiliki warna bola mata yang sama seperti dirinya. Adriano tak melewatkan sedikit pun sosok tegap itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Aku jadi memiliki ide untuk menjauhkanmu dari putriku,” cetusnya beberapa saat kemudian.
Carlo langsung mendongak dan terbelalak saat mendengar hal itu. “A-apakah itu maksudnya, Tuan? Apakah Anda akan memecatku?” tanyanya dengan raut wajah yang terlihat was-was.
Namun, Adriano justru tertawa pelan saat mendengar pertanyaan dari Carlo. “Mana mungkin aku bisa memecatmu. Bagiku, kau seperti anak laki-laki yang tidak pernah kumiliki,” sahutnya. “Aku hanya berpikiran untuk mencari pengawal yang lain untuk Miabella. Dengan begitu, kau bisa tetap berada di sini menjadi ajudanku. Aku akan memakaikanmu baju yang necis dan juga rapi seperti Pierre dulu. Kau tahu bukan? Sebuah kemeja dengan celana formal," jelas pria yang masih tetap terlihat menawan itu. Dia tampak menyunggingkan senyum samar.
Sementara Carlo tak mampu menjawab. Dia amat terkejut dengan keputusan yang baru didengarnya itu. “A-aku ... aku tidak terbiasa berpakaian rapi, Tuan,” protesnya dengan terbata.
“Lama-kelamaan kau akan terbiasa,” balas Adriano sambil merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Dia lalu menawarkan pada pria tampan yang masih terihat kikuk karena tak tahu harus berkata apa.
Carlo menggeleng lemah. “Tidak, Tuan. Terima kasih,” tolaknya sopan.
“Lusa, aku akan mengantarkan Miabella untuk tinggal di Casa de Luca. Dia hendak menenangkan diri sekaligus mencari pengalaman yang diinginkan. Entah yang seperti apa, karena aku juga tak terlalu memahaminya," terang Adriano dengan kotak rokok yang belum dia buka.
"Kuharap kau tetaplah berada di sini dan mulai pelajari pekerjaan barumu sebagai seorang ajudan,” ucap Adriano lagi sambil menarik sebatang rokok dengan menggunakan bibirnya.
Melihat hal itu, Carlo segera menyodorkan korek api otomatis kepada Adriano meskipun tak diminta. Dia bahkan membantu menyulut rokok sang tuan, hingga asap putih mengepul pelan dari hidung dan mulut pria rupawan tersebut.
“Jadi, nona Miabella akan pindah ke Casa de Luca tanpa diriku?” ulang Carlo ragu-ragu. Si tampan dengan tampilannya yang garang dan macho itu tampak menautkan alis.
“Ya, apakah kau merasa keberatan dengan hal itu?” tanya Adriano seraya menghisap rokoknya dalam-dalam, sambil terus memperhatikan raut wajah Carlo yang mendadak murung.
“Tidak, Tuan. Aku tak harus merasa keberatan. Bagaimanapun juga, aku harus selalu patuh terhadap semua keputusan Anda,” jawab Carlo yang kembali menundukkan wajah. Sesekali, pria itu menggaruk kening lalu mengusap rambut gelapnya.
“Apa kau yakin akan menerimanya, walaupun keputusanku bertentangan dengan hatimu yang terdalam?” pancing Adriano, membuat Carlo mendongak dan menatapnya dengan sorot bertanya-tanya.
__ADS_1
Sementara Miabella yang sejak tadi menguping dari balik dinding, terdengar mendengus pelan. Gadis itu bergegas pergi dari sana. Dia berjalan dengan cukup cepat sambil menggerutu, hingga membuatnya tidak hati-hati dengan langkah sendiri. Gadis itu pun tersandung dan jatuh tersungkur pada undakan anak tangga.
"Tangga sialan!" umpat Miabella sambil menendang salah satu undakannya. Namun, seketika dia meringis kesakitan. "Ah, bodoh!" gerutunya lagi. Miabella teramat kesal atas keputusan Adriano.