
Adriano memarkirkan kendaraannya di depan sebuah butik mewah dengan nama Belle. Tanpa melepas kaca mata hitam yang dia kenakan, pria itu keluar dari dalam mobil kemudian membukakan pintu untuk Mia yang tampak malas-malasan. "Tersenyumlah," bisik Adriano saat melihat paras cantik sang istri yang sejak tadi tertekuk cemberut.
"Bagaimana aku bisa tersenyum saat kau mengajakku bertemu dengan salah satu mantan wanita penghiburmu," sahut Mia pelan tapi sedikit ketus. Sedangkan Adriano hanya tertawa pelan saat menanggapi sikap dan jawaban dari istrinya.
"Daddy Zio, kita mau apa kemari?" tanya Miabella yang masih berada di dalam mobil.
Suara gadis kecil itu seketika mengingatkan Adriano, bahwa dia tak hanya pergi berdua dengan Mia. Adriano pun mengalihkan perhatiannya kepada balita bermata abu-abu tersebut seraya tersenyum kalem. Dengan segera, dia membukakan pintu dan membantu Miabella turun. Setelah itu, pria bermata biru tadi menggendongnya masuk. Tak lupa dia juga menuntun Mia, menggenggam tangannya dengan erat.
Sesampainya di dalam, mereka segera disambut oleh seraut wajah cantik nan anggun, dengan rambut yang tergerai indah. Sosok yang tentu saja membuat Mia seakan tak bisa bernapas, saat membayangkan wanita itu pernah bergumul mesra dengan pria yang dia cintai saat ini. Namun, sebisa mungkin Mia tetap menahan diri serta memperlihatkan sikapnya yang elegant.
"Hai, Adriano," sambut Christiabel dengan senyum terkembang. Dia mencium pipi suami dari Mia tersebut. Setelah itu, perhatian Christiabel beralih kepada Mia. "Hai, Mia. Apa kabar?" sapanya seraya merangkul dan saling menempelkan pipi dengan Mia. Christiabel juga sempat melihat kepada Miabella yang asyik menyapu pandangan pada seluruh sudut butik mewahnya. Wanita cantik bertubuh sintal itu tersenyum kecil. Namun, dengan segera dia dapat menguasai diri dan tetap bersikap tenang.
"Daddy Zio, aku juga ingin membeli baju baru di sini," ucap Miabella dengan gaya bicaranya yang sangat menggemaskan.
"Oh maaf, Sayang. Aku tidak membuat baju untuk balita sepertimu," sahut Christiabel dengan tawa pelan.
"Apakah hanya untuk ibuku?" tanya Miabella.
"Ya, hanya untuk wanita dewasa. Nanti jika kau sudah jauh lebih tinggi, datanglah kemari dan kau bisa memilih gaun manapun," sahut Christiabel dengan hangat. Sementara Mia menatap wanita itu dengan lekat. Dia terus memperhatikan setiap detail dari raga indahnya.
"Aku ingin kau membantu Mia mencari gaun pesta yang cocok untuknya," pinta Adriano dengan sikap dan nada bicara yang terlihat biasa saja.
"Oh, tentu. Tunggulah dulu," ucap Christiabel menatap Adriano dengan penuh arti. Sebuah kerlingan mata yang terlihat sangat memuakkan bagi Mia. Namun, lagi-lagi wanita itu tak ingin bersikap konyol yang hanya akan dapat merendahkan harga dirinya. "Mari, Mia. Ikutlah denganku," ajak sang pemilik butik cantik itu.
"Kau yakin, Adriano?" bisik Mia sebelum mengikuti Christiabel ke bagian lain butiknya.
__ADS_1
"Aku mengetahui karakter kalian berdua, Sayang," balas Adriano dengan berbisik pula. Dia mengiringi langkah anggun Mia dengan sebuah senyuman. Setelah itu, diturunkannya Miabella kemudian diajak duduk pada sebuah bangku berlapis busa tebal dan empuk.
Di bagian lain butik, Mia berdiri dan kembali memperhatikan Christiabel yang tengah memilihkan beberapa gaun pesta yang indah, hingga wanita itu menghampirinya. Dia menyodorkan gaun-gaun cantik yang dipegangnya kepada Mia.
"Cobalah. Aku rasa gaun-gaun ini cocok untukmu," ucap Christiabel dengan senyuman hangat.
"Mau membantuku?" tanya Mia dengan raut wajah yang biasa saja.
"Tentu," sahut Christiabel. Dia menemani Mia ke ruang ganti.
Beberapa saat kemudian, Mia telah mencoba sebuah gaun yang sangat indah. Adalah halter neck dress dengan taburan kristal di bagian atasnya. Sedangkan bagian bawah gaun itu terbuat terbuat dari sifon berwarna hitam yang didesain melebar.
"Ini sangat cocok untukmu, Mia. Kau akan menjadi pusat perhatian di pesta nanti," sanjung Christiabel. Dia membantu Mia merapikan gaun tadi.
"Aku tidak ingin menarik perhatian pria manapun. Cukuplah Adriano yang merasa terkesan dan mengagumiku," balas Mia sambil memperhatikan dirinya lewat pantulan cermin.
"Aku wanita yang sudah menikah. Aku tidak membutuhkan perhatian dari pria lain. Begitu juga yang kuharapkan dari Adriano. Semoga perhatiannya hanya tertuju padaku, meskipun ada banyak wanita cantik yang menginginkannya," ujar Mia melirik wanita yang baru selesai membantu merapikan gaunnya.
Christiabel tersenyum simpul. Sepertinya dia memahami maksud dari ucapan Mia. Namun, wanita itu memilih untuk tidak menanggapinya. Dia kembali fokus pada bagian bawah gaun tadi.
"Pakailah ankle strap heels. Kau akan terlihat jauh lebih elegan dan seksi," saran Christiabel. Dia berdiri di sebelah Mia, menatapnya lewat pantulan cermin untuk beberapa saat. "Selamat. Kau wanita yang beruntung," ucapnya setelah hanya saling beradu tatap lewat pantulan cermin dengan Mia.
"Terima kasih," balas Mia. "Aku sangat mencintai Adriano, dan dia pun sebaliknya. Kami mencoba untuk membina rumah tangga yang harmonis tanpa gangguan dari siapa pun. Namun, pada kenyataannya itu tak semulus yang kuharapkan," ujar Mia dengan nada setengah menyindir.
"Adriano sangat tampan dan berkharisma. Bukan salahnya jika dia digilai banyak wanita," balas Christiabel terlihat tenang saat berkata demikian.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak menyalahkan Adriano atas hal itu. Aku juga berusaha untuk mengabaikan semua masa lalunya dengan sederet wanita. Namun, aku akan merasa terusik jika ada yang berusha masuk ke dalam kehidupannya saat ini, setelah dia menjadi suamiku," tegas Mia dengan nada bicara tenang, tapi raut wajah yang serius.
"Apa kau sedang menyindirku, Mia?" tanya Christiabel.
"Aku tidak tahu bahwa kau merasa tersindir dengan ucapanku," balas Mia.
Christiabel tertawa renyah, menunjukkan deretan giginya yang putih dan tersusun rapi. "Sejujurnya, ini sesuatu yang memang tak pantas. Akan tetapi, aku memang jatuh cinta kepada Adriano sejak lama, dari semenjak pertama kali mengenalnya. Dia sosok pria yang sangat luar biasa dan juga menarik. Namun, tidak dulu ataupun sekarang. Cinta dalam hatiku hanya akan menjadi sebuah perasaan sepihak. Aku tahu dan sangat menyadari hal itu, tapi tetap saja ada perasaan rindu yang ingin kuutarakan padanya," tutur Christiabel dengan sorot mata yang tampak sendu.
"Apa kau sadar bahwa yang dirimu lakukan telah melukai perasaanku, Nona Cantona?"
"Maafkan aku, Mia. Aku sudah berusaha untuk menepiskan hal itu. Namun, tetap saja terkadang aku ingin agar Adriano dapat mengetahui seperti apa perasaanku," ujar Christiabel dengan seutas senyuman di wajahnya.
"Kau salah besar, Nona Cantona. Aku mengatakan yang sebenarnya, bahwa kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri dengan terus memupuk perasaan itu terhadap suamiku," protes Mia. "Kau sangat cantik dan juga terlihat berpendidikan. Aku yakin tak akan sulit bagimu untuk bisa menemukan seseorang yang bisa mencintai dan menghargai persaan yang kau miliki. Namun, kupastikan bahwa orang tersebut bukanlah Adriano D'Angelo, karena dia tak akan pernah berpaling kepada wanita manapun," tegas Mia. Dia menatap Christiabel untuk beberapa saat. "Aku ambil gaun yang ini. Kuakui, kita memiliki selera yang sama," tutup Mia seraya mempersilakan Christiabel agar keluar dari kamar ganti itu.
Selang beberapa saat, Mia dan Christiabel telah kembali menghampiri Adriano yang tengah bercengkerama bersama Miabella. Raut wajah Mia pun tampak jauh lebih berseri dibandingkan beberapa saat yang lalu.
"Apa kau sudah mendapat gaun yang sesuai, Sayang?" tanya Adriano seraya berdiri menyambut sang istri. Sedangkan Mia tidak menjawab. Dia hanya menunjukkan paper bag putih yang dijinjingnya. Adriano pun tersenyum.
"Aku menyarankan kepada istrimu agar tidak menunjukkan gaun itu, hingga nanti dia akan memakainya," ucap Christiabel ikut bersuara. Sorot matanya lembut dia tujukan kepada Adriano.
"Terima kasih, Belle. Jika Mia merasa cocok dengan gaun hasil rancanganmu, maka dia pasti akan menjadi langganan butik ini," sahut Adriano. Dia lalu menoleh kepada Mia. "Aku ingin selalu memberikan segala yang terbaik untuk istri dan juga putriku."
"Terima kasih, Sayang," balas Mia dengan lembut seraya menyentuh pipi Adriano. "Kudoakan semoga butikmu tetap menjadi yang terbaik di Monaco, atau mungkin kau juga bisa merambah hingga ke luar negeri," ucap Mia lagi.
"Ya, Mia. Aku sudah memikirkan rencana itu. Terima kasih atas dukungannya." Christiabel tersenyum tulus kepada Mia.
__ADS_1
"Itulah kenapa aku jatuh cinta kepada wanita cantik ini, Belle. Dia seperti sebuah magnet yang mengunciku dengan sangat erat. Tak ada keindahan lain yang mampu mengalihkan kekagumanku dari Mia," ucap Adriano dengan dalam dan penuh arti, membuat Christiabel hanya dapat tersenyum nanar. Ya, itulah kenyataan yang harus dia terima. Melepaskan perasaan cinta akan jauh lebih baik baginya.