
“Adriano, Putraku,” Emiliano berdiri dan segera menyambut langkah tegap Adriano yang tengah menuju ke arahnya. Sepasang mata tua pria tampak berbinar saat melihat sang anak datang ke sana. Namun, sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, Gianna yang tiba-tiba masuk segera menghambur ke dalam pelukan pria tua tersebut. Gadis itu terisak dalam dekapan sang ayah. “Sudahlah, aku tidak apa-apa,” ucap Emiliano menenangkan anak gadisnya.
Sementara Adriano hanya terpaku menyaksikan adegan yang tersaji di hadapannya. Dia tidak ingat kapan terakhir kali Emiliano memeluknya. Sepercik rasa perih muncul di sudut hati, tapi segera dia tepis. Adriano tak ingin menjadi pria yang lemah dan juga melankolis. Setidaknya, itulah yang selalu ditekankan oleh sang paman, Alessandro Moriarty.
“Ikutlah denganku ke Casa de Luca. Kau juga Giana,” ajak pria bermata biru itu seraya membalikan badan.
“Signor, kuharap Anda tidak membuat perhitungan dengan kami karena masalah ini,” ucap Giuliano sambil mengiringi langkah tegap Adriano keluar dari bangunan tadi.
Sang ketua Tigre Nero tersebut kemudian tertegun, lalu menoleh. “Siapa yang bertanggung jawab di sini?” tanyanya.
“Stefano,” jawab Giuliano dengan segera.
‘Siapa?” tanya Adriano seraya menautkan alisnya. Dia tak mengenal nama yang disebutkan oleh pria itu.
“Stefano Verratti,” jelas Giuliano dengan menyebutkan nama lengkap pria yang tadi dia beritahukan namanya kepada Adriano, “tapi, sekarang Stefano sedang tidak berada di sini. Dia harus menghadiri pernikahan adiknya di Puglia,” terangnya lagi.
“Itu bukan urusanku,” sahut Adriano dingin. “Kupikir organisasi kecil ini sudah bubar, tapi ternyata kalian masih beroperasi,” ucap pria bermata biru itu lagi dengan diiringi senyum mencibir.
“Setelah bos kami tiada, organisasi memang sempat goyah. Namun, saat itu ada seorang bos besar yang datang untuk mengambil alih organisasi ini. Kami bisa berdiri lagi dan kembali menjalankan bisnis dengan stabil,” terang Giuliano.
“Bos besar? Siapa?” selidik Adriano masih dengan raut wajah dan intonasi yang sama seperti sebelumnya.
“Entahlah, kami tidak tahu dengan pasti. Namun, kudengar jika bos besar itu bukanlah orang Italia. Aku rasa Stefano mungkin jauh lebih paham. Anda tahu bukan jika aku hanya orang bawahan. Aku dan rekan-rekan yang lain, bersyukur karena bisa melanjutkan bisnis lagi sejak sekitar tiga tahun yang lalu,” tutur pria dengan pelipis yang robek itu. Sesekali, dia menyentuh sudut bibirnya sambil meringis kecil.
Adriano tak menanggapi lagi penuturan dari Giuliano, karena saat itu sang ayah beserta adik tirinya datang menghampiri mereka. Tanpa diperintah, Giuliano segera membukakan pintu untuk Emiliano. “Maafkan kami, Tuan Moriarty,” ucapnya penuh sesal.
__ADS_1
Emiliano tidak menjawab. Pria tua tersebut hanya menanggapi permintaan maaf Giuliano dengan sebuah tepukan di pundak. Setelah itu, dia segera masuk ke mobil dengan diikuti oleh Gianna. Sementara Adriano masih berdiri di tempatnya. Dia mengamati sekeliling tempat itu untuk sesaat. Tanpa banyak berbasa-basi lagi, pria bermata biru tersebut berjalan ke pintu sopir dan segera masuk ke mobilnya. Adriano pun melajukan kendaraan tersebut, meninggalkan tempat itu.
Selama di dalam perjalanan, tak sepatah kata pun terucap dari bibir Adriano untuk sang ayah. Namun, Emiliano memahami sikap yang ditunjukan putranya. Dia bisa menerima hal itu. Dengan datang untuk menjemputnya saja, bagi ayah empat anak tersebut sudah merupakan sesuatu yang luar biasa dari Adriano. Setidaknya dia tahu bahwa putra hasil dari hubungan gelap dengan wanita yang tak pernah diakui itu, masih menaruh rasa peduli terhadapnya.
“Apa kau akan lama di Italia, Nak?” pada akhirnya Emiliano tidak tahan untuk tak berbicara kepada putranya.
“Tergantung Mia,” jawab Adriano datar. Tatap matanya tetap fokus pada jalanan yang mereka lalui. “Kau tahu bukan jika Damiano sedang sakit?”
“Ya, tentu saja. Damiano beruntung karena ada banyak orang yang mengkhawatirkannya,” balas Emiliano pelan.
“Orang baik pasti akan mendapatkan kebaikan,” sahut Adriano dengan dingin. Ucapan yang terdengar biasa saja, tapi terasa begitu tajam menusuk relung hati Emiliano. Pria paruh baya itu pun memilih untuk diam. Dia sadar bahwa Adriano tak ingin berbasa-basi dengannya.
Dua jam perjalanan mereka lalui dalam kebisuan. Baik Emiliano maupun Gianna tampaknya tak ingin membuka percakapan. Emiliano terlalu lelah, sedangkan Gianna seakan memiliki beban pikirannya sendiri. Adriano sendiri pun begitu fokus dalam mengendarai mobil.
“Apakah di perkebunan de Luca sedang membuka lowongan pekerjaan?” tanya Gianna akhirnya memecah keheningan.
“Aku merupakan seorang sarjana akuntansi. Aku pandai dalam mengelola keuangan,” jawab Gianna dengan sorot penuh harap.
“Ajak aku ke manapun, Adriano. Asalkan tidak pulang ke rumah,” pintanya memelas.
“Rumah itu bagaikan neraka. Selama di sana, aku hanya bisa tertawa semu, tapi sudut hatiku terasa kosong,” lanjut gadis itu lagi sembari menunduk lesu.
“Kunci kebahagiaan sebuah rumah, ada pada seorang ibu. Jika ibu itu tidak bahagia atau bahkan cenderung keji, maka jangan harap hidupmu akan damai,” ujar Adriano, membuat sang ayah mengembuskan napas pelan.
Pria tua itu tak hendak menanggapi, karena dia merasa bahwa seluruh kesalahan ada pada dirinya. Emiliano hanya membutuhkan waktu untuk berbicara berdua saja dengan Adriano. Sebuah perbincangan dari hati ke hati antara ayah dan putranya. Emiliano pun memilih untuk menahan diri terlebih dahulu.
Perjalanan mereka akhirnya usai, ketika mobil yang Adriano kendarai telah tiba di halaman luas Casa de Luca. Mia langsung menyambut mereka dengan hangat. Wanita cantik bermata cokelat itu mengajak mereka untuk makan malam bersama.
“Setidaknya biarkan kami membersihkan diri dulu, Mia,” bisik Adriano ketika sang istri yang sejak tadi telah menunggu, segera menuntunnya ke ruang makan. “Dengar, aku ingin meminta izin padamu,” tangan kekar Adriano menghentikan langkah Mia, membuat ibu dari Miabella tersebut seketika berbalik kepada dirinya.
"Izin untuk apa?" tanya Mia.
“Bolehkah ayah dan adik tiriku menginap untuk sementara di sini?” Adriano mengarahkan tangan pada Emiliano dan juga Gianna.
Sepasang mata indah Mia berbinar ketika mendengar jawaban dari Adriano. Wanita itu kemudian tersenyum lebar. “Tentu saja. Paman Damiano pasti akan senang. Rumah ini terlalu luas jika hanya ditempati seorang diri,” ujarnya antusias.
“Terima kasih, Nyonya de ... maaf maksudku Nyonya D’Angelo,” Gianna terbata dan ketakutan saat dia salah menyebut nama.
__ADS_1
Raut wajah Mia berubah murung untuk sesaat. Namun, sesaat kemudian dia kembali memamerkan senyum ketika Adriano memandangnya penuh arti. “Ya, itu benar. Aku adalah Nyonya D’Angelo sekarang, tapi aku akan sangat senang jika kau memanggilku hanya dengan nama ‘Mia’ saja,” ujarnya lagi.
“Maafkan aku, Nyonya ... ehm ... maksudku Mia. Terima kasih banyak atas keramahanmu. Aku dan ayahku sangat berutang budi padamu,” ucap Gianna dengan mata berkaca-kaca.
Mia tak menjawab. Dia langsung menyambut adik iparnya tersebut dengan sebuah pelukan hangat. Tak sedetik pun adegan itu terlewat dari mata tua Emiliano. Setitik butiran bening menetes dari sudut matanya. Ada rasa haru yang menyeruak begitu saja.
Kesempatan yang Emiliano tunggu akhirnya tiba, ketika Mia mengajak Gianna ke kamar tamu. Sebelumnya, dia sudah memerintahkan pelayan untuk menyiapkan segala perlengkapan bagi tamu-tamu spesialnya.
Emiliano kemudian mendekat kepada putranya. Dia memberanikan diri untuk menyentuh pundak Adriano. “Kita harus bicara, Nak," ucapnya pelan tapi terlihat begitu berharap.
“Pentingkah?” balas Adriano seraya menoleh untuk sejenak.
“Bagiku sangatlah penting,” jawab Emiliano dengan sangat yakin, meskipun tatap matanya terlihat sendu kala memandang sang putra.
Adriano serikit terenyuh dengan sikap sang ayah. Tak ada salahnya untuk menyetujui permintaan pria tua itu. “Baiklah. Maru ikuti aku,” Adriano mengajak Emiliano keluar menuju halaman samping. Di sana, dia memilihkan sebuah bangku kayu sebagai tempat duduk ayahnya. Adriano lalu duduk di samping Emiliano. “Katakan, hal penting apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Adriano dengan pandangan lurus ke depan.
Emiliano tertawa lirih sebelum memulai pembicaraan itu. “Istrimu sangatlah cantik. Sikapnya yang hangat dan ramah, mengingatkanku pada Domenica, ibumu.”
Mendengar hal itu, perhatian Adriano beralih sepenuhnya kepada Emiliano. “Apa yang ingin kau coba sampaikan, Padre?” tanyanya dingin.
“Aku ... sungguh bersyukur melihatmu bersama Mia. Kau tampak sangat bahagia,” Emiliano mengela napas panjang, berusaha menahan tangis yang hampir lolos dari pelupuk matanya. “ Kebahagiaan yang seharusnya kuberikan padamu semenjak kau dilahirkan. Kebahagiaan dan perlindungan yang luput dan tak pernah kau terima dariku.
Aku mencintai Domenica, tapi sayangnya diriku terlalu pengecut untuk memperjuangkan dia," sesal Emiliano.
“Apa kau tidak mencintai Claudia, sehingga kau tega mengkhianatinya?” Adriano melontarkan pertanyaan bernada sinis kepada sang ayah.
“Kami awalnya hanya teman bersenang-senang. Namun, Claudia hamil dan meminta pertanggungjawabanku, sehingga aku harus menikahinya. Kupikir, dengan hidup bersama maka aku akan bisa mencintainya, tetapi ...” Emiliano menengadah dan memandang ke angkasa,
“nyatanya aku malah bertemu dengan Domenica kemudian jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat itu, dia memakai seragam pelayan dan menyodorkan buku menu padaku. Tiba-tiba aku merasa telah menemukan separuh jiwaku,” Emiliano kini menunduk dalam-dalam.
“Kami sering bertemu diam-diam, tapi aku tak pernah mengatakan padanya jika diriku telah menikah, sampai pada suatu hari ibumu mengikutiku pulang. Saat itulah dia mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Domenica yang malang. Padahal dia berniat memberikan kejutan padaku. Dia hendak memberitahukan kehamilannya,” Emiliano memijit pangkal hidung dan terisak pelan.
“Dia pergi dari rumah, tak hanya membawa rasa kecewa, tapi juga sakit hati dan luka fisik akibat cercaan serta hajaran Claudia. Sejak saat itu, Domenica menghilang dari sisiku. Lima tahun kemudian, dia kembali lagi. Domenica berdiri di teras rumah dengan membawamu ke hadapanku,” isakan Emiliano terdengar semakin kencang. Bahunya sampai bergetar akibat luapan emosi yang tak terbendung. “Seharusnya saat itu aku menahannya agar tidak pergi. Namun, diriku terlalu lemah. Maafkan aku. Maafkan aku, Nak," Emiliano bangkit dari duduknya, lalu bersimpuh di hadapan Adriano.
🍒🍒🍒
Hai, ceuceu datang lagi bawa rekomendasi novel keren untuk semua.
__ADS_1