Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia
Little Devil


__ADS_3

Tak ada alasan bagi Carlo untuk membantah keputusan yang telah dibuat oleh Adriano. Pria itu terpaku untuk sejenak, ketika Miabella menoleh ke arahnya sebelum gadis cantik tersebut berlalu dari sana. Namun, Carlo pun tak bisa berbuat apa-apa. Meskipun ada perasaan yang berat dan begitu aneh, tetapi dengan segera pria itu tepiskan. Terlebih, karena dia mendengar teguran halus dari Mia.


“Apa kau sudah makan, Carlo?” tanya wanita itu menatap pria yang telah menjadi anak asuhnya.


“Sudah, Nyonya,” jawab Carlo terpaksa berbohong, karena dia sama sekali sedang tak bernafsu untuk menyantap apapun.


“Kalau begitu, makanlah kudapan ini.” Adriana yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya, menyodorkan nampan kecil berisi Arancini. Gadis belia itu baru mengambil makanan tadi dari atas meja. Gadis cantik berambut hitam itu tersenyum manis kepada Carlo.


Carlo yang tak menyangka jika Adriana sudah berada di dekatnya, sedikit melonjak karena terkejut. “Tidak, Nona. Lain kali saja,” tolak pria itu. “Aku permisi dulu, Nyonya,” pamit Carlo mengalihkan perhatiannya kepada Mia sambil mengangguk penuh hormat. Pria tampan bertato itu kemudian berlalu begitu saja dari ruang keluarga, meninggalkan Adriana yang tampak berbisik-bisik dengan sang ibu.


Sementara Carlo berusaha untuk mengikuti langkah Adriano dan juga Miabella yang sudah tak terlihat. Dia berpikir mungkin ayah dan anak itu telah memasuki lift menuju kamar Miabella, sehingga Carlo memutuskan untuk menyusul mereka melalui tangga. Gerakan pria tiga puluh empat puluh tahun tersebut begitu gesit saat menaiki undakan anak tangga menuju lantai dua.


Dugaan Carlo memanglah sangat tepat. Miabella tengah mengambil koper untuk mengemasi beberapa pakaian dari dalam lemari berukuran besar. Padahal, sebelumnya dia sudah mengemasi baju ke dalam sebuah tas jinjing. “Apa kau ingin kubantu, Nona?” tawarnya.


“Tidak usah. Pergilah, Carlo!” tolak Miabella dengan wajah bersungut-sungut, tapi terlihat begitu menggemaskan.


“Apa kau marah padaku?” tanya Carlo lagi.


“Aku marah pada semuanya!” sentak Miabella sambil menoleh kepada pria itu.


“Astaga. Berapa lama kau akan menginap di Casa de Luca?” tanya Carlo lagi saat melihat Miabella yang mengambil sebuah koper lain dengan ukuran yang lebih besar. Dia mulai memasukkan pakaiannya sambil terus menggerutu. Gadis bermata abu-abu itu bahkan tak melipat baju-bajunya dengan benar.


“Aku akan tinggal di sana untuk selamanya!” jawab Miabella tanpa dipikir terlebih dulu. Dia lalu terdiam dan berdiri mematung. Mata indahnya menerawang menatap lantai kamar. “Seharusnya dulu aku tidak kuliah di luar negeri. Tiga tahun aku menjauh dari daddy zio. Sekarang sikapnya menjadi berubah padaku,” sesal gadis cantik itu.


“Aku tak pernah berubah, Principessa. Kaulah yang berubah,” sahut seseorang yang tak lain adalah Adriano, membuat Carlo segera menoleh dengan raut terkejut.

__ADS_1


“Tuan? Apakah sudah waktunya berangkat?” Dia melihat Adriano telah melapisi kemeja yang dikenakannya dengan jaket bomber berwarna hitam polos.


“Ya, Carlo. Jaga mansion dengan baik selama aku pergi ke Italia,” pesan Adriano sambil menepuk pundak pengawal kepercayaan Miabella tersebut. Dia lalu mengalihkan perhatiannya kepada sang putri.


“Apa saja yang kau bawa, Principessa?” Pria rupawan yang telah berusia hampir setengah abad itu mengernyitkan kening, saat melihat sebuah tas jinjing beserta dua koper besar dengan resleting yang tak tertutup rapi. Benda itu tergeletak di dekat kaki Miabella.


“Semua pakaian dan benda-benda berhargaku! Aku akan tinggal di sana selama-lamanya. Aku tak akan kembali lagi kemari,” jawab Miabella dengan nada yang mengancam.


“Oh, ya? Semuanya?” Adriano mengulum senyum. “Kulihat masih ada banyak baju-bajumu di lemari," ujar pria itu seraya melirik lemari pakaian Miabella yang masih terbuka.


“Koperku tidak muat! Aku harus mencari beberapa koper lagi!” sungut Miabella seraya melipat tangan di dada.


“Percayalah, Principessa. Jika kau membawa semua baju-bajumu, maka kujamin helikopterku akan kelebihan muatan. Baling-balingnya tidak akan kuat berputar,” kelakar Adriano yang segera ditanggapi dengan tawa tertahan dari Carlo.


Sedangkan Miabella melotot seakan tak terima. Dua orang pria itu benar-benar meruntuhkan kesabarannya.


Satu hal yang tak diketahui oleh Miabella adalah Adriano telah terluka perasaannya, akibat kata-kata pedas yang telah dia ucapkan. Benak pria rupawan itu terus memutar kalimat Miabella yang mengatakan bahwa dia sudah tak sabar ingin meninggalkan mansion, tempat gadis itu dibesarkan dan dilimpahi kasih sayang dari dirinya.


“Tuan,” panggil Carlo yang sedari tadi terdiam. “Aku sama sekali tidak bermaksud untuk ikut campur, tapi … percayalah bahwa nona Miabella tak sungguh-sungguh dengan ucapannya tadi. Aku mengetahui dengan pasti jika dia begitu menyayangi dan mengidolakan Anda. Lagi pula, dia sangat manja. Jadi, saat keinginannya tak dipenuhi maka nona akan bersikap seperti itu,” lanjutnya hati-hati.


Adriano mengalihkan tatapannya kepada Carlo. Dia lalu menepuk pundak pria itu sambil tersenyum simpul. “Apapun yang Bella rasakan terhadapku, tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku tetap menyayanginya sekalipun dia membenciku,” pungkas ayah dua anak itu sembari melangkah meninggalkan kamar.


Dengan sikap yang tetap terlihat tenang, Adriano memasukkan kedua tangannya di saku celana sambil berjalan santai menuju landasan. Di sana, Miabella sudah menunggunya dengan wajah bersungut-sungut. Akan tetapi, Adriano memilih untuk tidak menghiraukan gadis itu.


Pria tampan tersebut segera melompat masuk ke dalam helikopter, memasang headphone aviator, lalu mengeratkan sabuk pengaman. Diliriknya Miabella yang tengah melakukan hal yang sama. Adriano dapat bernapas dengan lega karena putrinya dapat memasang sabuk pengaman dengan baik dan benar. Selama ini, selalu dialah yang melakukan semuanya untuk Miabella.

__ADS_1


Beberapa saat setelah helikopternya mengudara, tak sekalipun Miabella menoleh pada sang ayah. Dia terus saja memalingkan wajah ke arah jendela. Hal tersebut terus berlangsung sampai mereka tiba di Casa de Luca. Tampak Coco beserta putra sulungnya yang menyambut di ujung landasan.


Coco sendiri tak banyak berubah. Hanya beberapa helai uban yang terlihat di antara rambut ikalnya. Selebihnya, dia tetap terlihat sempurna. Enzo, putra pertama yang baru berumur empat belas tahun tampak sangat bersemangat saat Miabella turun dari helikopter. “Selamat datang, Cugina (sepupuku),” sambut remaja laki-laki itu seraya merentangkan tangan.


“Enzo!” Miabella setengah berlari sambil menyeret kopernya untuk balas menyambut. “Lihatlah, kau semakin tampan,” sanjungnya.


Sedangkan, Adriano memilih untuk berjalan santai, kemudian menghampiri Coco dan menyalami pria itu. “Apa kabarmu, Ricci?” sapanya.


“Sudah hampir empat bulan kalian tidak berkunjung. Apakah kau sudah lupa dengan tempat ini, Amico?” protes Coco.


“Maafkan aku karena terlalu sibuk sampai tak sempat ke mana-mana. Baru kali ini saja ada waktu longgar,” kilah Adriano seraya tersenyum lebar.


“Apa kabar, Miabella? Kudengar kau baru saja diwisuda,” sapa Coco yang kemudian mengalihkan perhatiannya pada sang keponakan.


“Ya begitulah, Paman. Tak ada yang istimewa. Itu hanya sekadar seremoni belaka,” sahut Miabella acuh tak acuh. Dia merengkuh bahu Enzo, lalu menuruni anak tangga landasan menuju lantai di bawahnya.


Sikap Miabella tersebut membuat Coco mengernyitkan kening. Dia kembali menoleh kepada Adriano. “Hei, apa yang terjadi?” tanyanya keheranan.


“Dia semakin tak terkendali semenjak pulang dari Inggris. Entah apa yang membuatnya berubah seperti itu,” jawab Adriano seraya menggelengkan kepalanya pelan.


“Bersabarlah, Amico.” Coco merengkuh pundak Adriano dan mengarahkannya untuk ikut turun. “Aku jadi teringat saat Theo baru pulang ke rumah setelah empat tahun berkuliah di Amerika. Dia membakar seluruh kemeja dan baju-baju mahalnya, lalu mulai memakai t-shirt butut dengan celana belel,” tuturnya sembari mengarahkan suami Mia itu menuju ke ruang keluarga.


“Apa yang membuatnya bersikap seperti itu?” tanya Adriano dengan heran.


“Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Sama seperti Bella saat ini. Segala tingkah lakunya sama sekali tak dapat ditebak. Kadang aku merasa kasihan melihatmu. Hidupmu sudah terikat pada setan kecil itu. Kau tak bisa lari lagi, Amico.” Selesai berkata demikian, Coco tertawa terbahak. Dia tampak sangat puas, sampai-sampai tak menyadari bahwa sikapnya saat itu telah membuat semua orang memusatkan perhatian kepadanya.

__ADS_1


“Apa kau sedang membicarakan aku, Paman?” Nada bicara yang teramat ketus meluncur dengan begitu saja dari mulut Miabella. Gadis itu sudah berdiri di tengah-tengah ruang keluarga. Di sana juga ada Damiano, Francesca, beserta ketiga putra-putrinya, yaitu Enzo, Neve, dan juga Lilla.


__ADS_2