
Juan Pablo tak mengira akan merasa begitu kacau setelah kematian Don Vargas. Pria yang selama ini sudah dianggap seperti pengganti ayah kandung bagi dirinya, kini telah terkubur di dalam tanah pemakaman kota Monte Carlo. Pria paruh baya dengan watak tegas tetapi menyenangkan itu tak akan dapat dia temui lagi. Tak tahu apa yang harus dilakukan, Juan Pablo pun memilih untuk menenangkan diri di villa miliknya yang berada di kota Roma.
Dia harus memikirkan rencana dengan matang. Menemukan pembunuh Don Vargas akan menjadi tujuan utamanya kali ini. "Jangan khawatir, el tìo (paman). Walaupun sudah lama aku tidak memegang senjata, tapi keahlianku belumlah sirna. Akan kupersembahkan darah orang yang telah berani merampas kehidupanmu. Jika perlu, akan kubawakan kepala dan juga tangannya ...." Juan Pablo tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Dia mere•mas kencang botol minuman yang kemudian segera diteguk dengan cukup cepat. Sesaat kemudian, pria berambut gelap itu mulai menyalakan sebatang rokok sambil duduk bersandar.
Asap tipis mengepul dari rokok yang tengah diisap pria tiga puluh lima tahun tersebut. Kegundahan hati Juan Pablo tak juga sirna, karena belum merasa yakin tentang siapa pelaku sebenarnya yang telah menghabisi Don Vargas. Perasaan itu membuat dirinya tiba pada satu pemikiran yang sangat liar. Juan Pablo bertekad untuk menghabisi siapa pun, yang dia ketahui sebagai musuh bebuyutan dari pria paruh baya itu. Langkah pertama yang akan dia lakukan adalah menemukan keberadaan Lionel.
"Akan kuhancurkan aliansi pembunuh bayaran itu hingga tak tersisa. Mereka yang telah berani mengusik ketenangan Elang Rimba, tak akan pernah bisa selamat dari kematian yang mengerikan," geram Juan Pablo kembali mere•mas botol dengan tatap matanya yang dingin, tapi begitu tajam.
Juan Pablo kemudian meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja, tepat di sebelah asbak dan sebotol minuman yang menemaninya sore itu. Pria dari Amerika Latin tersebut bermaksud untuk menghubungi seseorang. Akan tetapi, entah kenapa tiba-tiba ingatannya justru tertuju kepada Gianna. Tanpa berpikir panjang, dia segera menghubungi gadis itu dan memintanya agar datang ke villa. Setelah itu, Juan Pablo beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk masuk.
Menjelang petang, Gianna telah tiba di sana. Kehadirannya disambut oleh seraut wajah tampan yang dingin tapi terlihat sangat menawan. Juan Pablo berjalan ke arahnya dengan hanya mengenakan celana jeans. Gianna pun terpaku melihat pria itu yang seakan dengan sengaja memamerkan bentuk tubuh atletis, dengan kulit eksotisnya yang membuat dia terlihat sangat maskulin dan seksi. Dari sana pula, gadis berambut pirang itu mengetahui bahwa Juan Pablo memiliki sebuah tato bergambar kalajengking, pada perut di sisi kanan bawah.
"Aku pikir kau tidak akan datang," ucap pria asal Meksiko yang kini telah berdiri tepat di hadapan Gianna. Sedangkan gadis cantik berambut pirang itu masih terpaku. Tiga kali dirinya berciuman dengan pria yang selalu memperlihatkan sikap dingin itu. Tak dapat dipungkiri, ada perasaan aneh yang mulai menggelitik hatinya, dan membuat adik tiri Adriano tersebut menjadi salah tingkah.
"Ada apa kau memintaku untuk datang kemari?" tanya Gianna tanpa mengubah sikap berdirinya. Walaupun rasa risih dalam diri kian menguasai gadis itu, tapi dia tetap ingin terlihat tenang.
__ADS_1
"Aku hanya sedang butuh teman," jawab Juan Pablo menatap lekat si pemilik mata biru yang juga tengah memandang dirinya.
"Kau tidak meminta gadis lain untuk datang dan menemanimu di sini?"
"Aku tidak mau," jawab Juan Pablo dengan segera. Dia lalu meraih jemari lentik Gianna, kemudian menuntunnya menuju ke dalam kamar. Untuk sejenak, Gianna terpaku melihat suasana di dalam ruangan tersebut yang bernuansa hitam, baik dari dinding maupun segala furniturenya. Kamar itu benar-benar menggambarkan pribadi seorang Juan Pablo Herrera.
Sesaat kemudian, Gianna segera menghentikan pengamatannya pada ruangan tadi, ketika Juan Pablo yang baru keluar dari kamar mandi tampak berjalan ke arahnya. Pria bertubuh tegap itu semakin mendekat, kemudian menyentuh wajah Gianna. Dia membelai pipi kemerahan gadis cantik tersebut dengan lembut dan perlahan. Satu ciuman pun tak terelakan dari mereka berdua. "Menarilah untukku, Bice," pinta Juan Pablo dengan wajah yang masih berada tepat di hadapan wajah Gianna.
"Kau menyukai tarianku?" tanya putri bungsu Emiliano itu polos.
"Aku sedang kacau saat ini," ucap Juan Pablo lagi dengan suaranya yang terdengar begitu dalam dan berat. "Berikan aku sedikit hiburan," pintanya kemudian. Pria itu masih berdiri sambil terus memperhatikan Gianna yang tengah menyimpan tasnya di atas sofa. Tak satu pun gerakan dari gadis itu yang luput dari perhatiannya, termasuk ketika dia sudah bersiap untuk menari. Namun, ada satu hal yang membuat Gianna merasa aneh, yaitu ketika Juan Pablo melepas t-shirt yang dia kenakan.
"Juan ...." Gianna hendak melakukan protes, tapi tak sempat dia lanjutkan karena Juan Pablo kembali membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman. Sementara tangan pria itu cekatan melepas pengait celana jeans yang dia kenakan. Sebelum gadis itu melakukan protes lagi, dengan segera Juan Pablo menurunkan skinny jeans tadi hingga terlepas.
Tampaklah tubuh ramping dengan kulit seputih susu. Dalam balutan pakaian dalam berwarna hitam, lekuk indah Gianna terlihat sangat memesona. "Kau menginginkanku, Juan?" tanya Gianna antara malu, ragu, dan juga sedikit berharap.
__ADS_1
"Aku ingin melihatmu menari," jawab Juan Pablo. Setelah itu, dia beranjak dari hadapan Gianna kemudian duduk di atas sofa sambil merentangkan tangan lurus di atas sandarannya. Sementara, kaki kanan pria itu berada nyaman di atas paha sebelah kiri. Tatapan tajam yang dingin dan datar Juan Pablo pun, tertuju pada sosok cantik dalam penampilan setengah polos yang berdiri tak jauh di hadapannya.
Walaupun awalnya tampak ragu, tapi pada akhirnya Gianna melakukan apa yang Juan Pablo inginkan. Gadis itu mulai menggerakkan tubuh dengan sangat luwes. Dia terlihat begitu gemulai saat mengikuti irama lagu yang mengiringi tarian itu. Adegan tersebut berlangsung hingga beberapa saat, dan baru berhenti ketika Juan Pablo beranjak dari duduknya. Pria yang dalam keadaan bertelanjang dada tadi melangkah ke hadapan Gianna.
Dengan segera, Juan Pablo merengkuh pinggang ramping gadis itu lalu menarikanya ke dalam pelukan. Mereka saling bertatapan dengan dalam. Entah apa yang tengah Juan Pablo amati dari diri gadis di hadapannya. Satu hal yang pasti, apa yang pria itu lakukan telah membuat Gianna merasa semakin gelisah, terlebih ketika kulit mereka bersentuhan.
"Juan ...." Lagi-lagi Gianna tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena dia kembali mendapati sesuatu yang terasa aneh.
Juan Pablo memasangkan penutup mata pada Gianna. Pria tersebut segera membungkam si gadis pemilik mata biru, saat merasa bahwa Gianna hendak melakukan protes terhadapnya. Tanpa melepaskan ciuman dari gadis yang hanya mengenakan pakaian dalam itu, Juan Pablo menuntunnya ke tempat tidur.
Gianna masih belum memahami apa yang akan Juan Pablo lakukan terhadap dirinya. Pria itu juga tak membiarkan dia melepas penutup mata tadi. Namun, perasaan gadis itu sudah bercampur aduk, ketika dia menyadari bahwa dirinya telah berada di atas kasur yang begitu empuk dengan seprai yang sangat halus. Gianna juga kembali menerima sentuhan bibir pria tiga puluh lima tahun itu. Sesuatu yang terasa amat membakar birahinya.
"Juan ...." Suara lirih Gianna kembali terhenti, ketika, gadis itu mendapati sesuatu menerobos masuk ke dalam mulut dan memenuhinya.
Sejenak Gianna berpikir, tak tahu harus bagaimana. Dia memang sering melihat adegan seperti itu dalam film dewasa yang kerap ditontonnya, tapi tidak untuk merasakan hal tersebut secara langsung. Ini adalah pengalaman pertama bagi gadis berusia dua puluh empat tahun itu.
__ADS_1
Namun, tak lama kemudian dia tersenyum sebelum melanjutkan apa yang telah membuat Juan Pablo berkali-kali mengempaskan napas berat. "Gadis pintar," sanjung pria itu.