
Gianna mempersilakan Juan Pablo untuk masuk ke ruang apartemen yang dia tempati. Tanpa banyak bicara, pria itu segera merangkul tubuh ramping si pemilik mata biru yang indah tersebut. Juan Pablo melancarkan ciuman yang tiba-tiba, sehingga membuat Gianna merasa terkejut. Akan tetapi, gadis itu tentu saja sangat menyukainya. Dia membalas perlakuan Juan Pablo dengan melingkarkan tangan di leher pria asal Amerika Latin tadi.
Tawa manja gadis dua puluh empat tahun itu mulai terdengar, ketika mereka berhenti berciuman untuk beberapa saat. Gianna lalu menuntun Juan Pablo menuju kamarnya. Di sana, mereka kembali melanjutkan adegan pembuka yang sempat terjeda.
Tanpa melepas ciuman panasnya, Juan Pablo mendorong mundur tubuh Gianna dengan perlahan, hingga gadis itu bersandar pada dinding kamar. Lihai, tangan pria berkulit eksotis tersebut melepas pengait celana jeans yang dikenakan si gadis. Untuk sejenak, Juan Pablo menghentikan pertautannya dan sempat menciumi leher Gianna, sebelum akhirnya dia menurunkan tubuh untuk melepas skinny jeans tadi. Dia melemparnya dengan begitu saja ke samping.
Juan Pablo lalu mendongak, ketika Gianna menunduk dan tersenyum manis seraya mengelus lembut rambutnya yang tersisir rapi ke belakang. Gadis itu mengangguk pelan, seakan tahu apa yang akan dilakukan oleh pria yang kini tengah berlutut di hadapannya. Setelah mendapat persetujuan dari Gianna, Juan Pablo pun segera menurunkan pakaian dalam gadis tersebut, sehingga menampakkan sesuatu yang selama ini selalu tersembunyi. Juan Pablo kemudian mengecupnya beberapa kali, membuat Gianna seketika bereaksi.
Perlahan, pria tiga puluh lima tahun tersebut merenggangkan kaki gadis itu, lalu menahannya agar tetap terbuka lebar. Tanpa banyak bicara, dia lalu menikmati bunga merah muda dengan aromanya yang begitu khas. Tak dipedulikannya de•sahan pelan Gianna. Juan Pablo juga membiarkan gadis itu mere•mas rambutnya karena gemas, saat menahan perasaan luar biasa yang tengah mendera. Dalam dada Gianna seakan ada gemuruh hebat yang ingin segera dia tumpah-ruahkan seluruhnya. "Rasanya aku ingin berteriak," ucap Gianna di sela de•sahannya. Sementara Juan Pablo terlalu fokus pada sesuatu yang membuatnya seketika merasa mabuk.
Beberapa saat lamanya Juan Pablo memainkan lidah di sana, membuat Gianna sesekali tersenyum dengan raut tak percaya saat merasakan kenakalan pria itu. Setelah puas, barulah dia kembali berdiri. Segera disambutnya bibir manis Gianna, yang sejak tadi tak henti mengeluarkan suara-suara manja. Sesuatu yang membuat Juan Pablo tak sabar untuk segera merasakan hal lain yang jauh lebih menantang, dari sekadar sebuah sentuhan dengan menggunakan ujung lidah.
Pria itu kemudian menaikkan t-shirt press body yang dikenakan Gianna. Sambil kembali melu•mat bibir si gadis, dia melepas pengait yang berada di punggung dan menyingkirkan kain penutup berhiaskan renda cantik berwarna hitam. Kini, tubuh Gianna sudah benar-benar polos. Semua yang ada pada dirinya terekspos dengan nyata, dan tentu saja tak lepas dari sasaran pria yang mulai dikuasai oleh gairahnya.
Sementara itu, Gianna pun membantu melepaskan t-shirt panjang yang dikenakan oleh Juan Pablo. Sambil tersenyum nakal, gadis bermata biru tersebut juga melepas celana jeans dan hanya menyisakan pakaian dalam saja. Namun, tak berselang lama tubuh Juan Pablo telah sama polos seperti dirinya.
"Inikah yang membuatmu penasaran?" bisik Juan Pablo sambil mengarahkan dirinya kepada Gianna. Susah payah dia berusaha menerobos dinding pertahanan adik tiri Adriano tersebut, karena Gianna terus bergerak sambil meringis serta mengerang. Akan tetapi, gadis itu tak bisa ke mana-mana. Juan Pablo menahan tubuh dan kaki jenjangnya yang terangkat. "Diamlah," suruhnya pelan.
"Sakit sekali," ringis Gianna. Dia mencengkeram punggung Juan Pablo dengan kencang, ketika pria itu memaksa untuk terus menerobos masuk. "Ah, sakit ... Juan," raut wajah Gianna kian pucat karena menahan rasa perih yang membuatnya merasa tak nyaman. Akan tetapi, Juan Pablo tak memedulikan rintihan gadis itu sama sekali. Dia terus memaksa untuk menerobos masuk dan merobek selaput dara si gadis hingga akhirnya membuat Gianna terpekik. Darah pun mengucur, membasahi paha dan terus menetes hingga ke betis.
Juan Pablo menatap Gianna untuk beberapa saat, sambil mengatur napasnya yang agak terengah-engah. Dia lalu mengecup kening gadis itu dan mulai melakukan tugasnya. Kali ini, pria asal Meksiko tersebut bergerak dengan lebih perlahan. Namun, makin lama ritmenya menjadi semakin cepat, sehingga membuat Gianna berkali-kali mengerang sambil terus mencengkeram punggung yang dihiasi tato bergambar sebuah tulisan. Tato itu berada tepat di bawah leher bagian belakang.
Beberapa saat berlalu. Juan Pablo mengangkat tubuh Gianna dan merebahkannya di atas kasur. Dia kembali mencium bibir berwarna peach gadis itu sebelum melanjutkan penyatuan mereka, hingga adegan percintaan panas tersebut berakhir dengan tercurahnya hasil kerja keras Juan Pablo selama hampir satu jam. Tubuh tegapnya pun kini terkulai di atas badan polos Gianna, dengan deru napas berat yang terengah-engah. Tuntas sudah tugas pria tersebut untuk memenuhi rasa penasaran dalam diri gadis itu.
Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Gianna, ketika gadis itu bergelayut manja dalam dekapan Juan Pablo. Tak hanya satu kali, pria berparas rupawan tersebut bahkan melakukannya hingga beberapa kali. "Apa masih sakit?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya. Sedikit ngilu," jawab Gianna. Dia bermaksud untuk mengelus dada bidang Juan Pablo, tapi dengan segera pria itu menggenggam tangannya. Gianna pun segera mendongak dan menatap aneh si pria. Namun, perasaan tak nyaman tadi sedikit terobati, ketika Juan Pablo mencium tangan yang sedang dia genggam. "Kau aneh sekali, Juan," ucap Gianna pelan. Dia kembali menyandarkan kepalanya di dada Juan Pablo.
"Apanya yang aneh?" tanya pria asal Meksiko itu.
"Entahlah," jawab Gianna ragu, "apa kau selalu menjaga jarak dari semua orang?"
"Tidak juga. Aku hanya harus selalu waspada," jelas Juan Pablo dengan tatapan menerawang pada dinding kamar.
"Apa kau pikir gadis sepertiku bisa mencelakaimu?" protes Gianna seraya menegakkan posisi duduknya. Dia memegangi selimut yang menutupi hingga ke dada. "Aku bahkan tidak tahu cara memegang senjata," ujar Gianna lagi meyakinkan pria yang kini mengalihkan pandangan kepadanya.
"Kau berhasil menghabisiku dengan cara yang lain," sahut Juan Pablo yang seketika membuat Gianna tersipu. Gadis itu menunduk malu. Keheningan sempat hadir di antara mereka berdua. Juan Pablo larut dalam pikirannya sendiri, begitu juga dengan Gianna yang tak tahu harus berkata apa.
"Aku juga masih punya satu pertanyaan untukmu. Kenapa kau tidak pernah bercinta dengan wanita manapun? Lalu, apakah setelah ini kau akan mengajakku bercinta lagi?" pertanyaan yang terdengar sangat polos dari bibir Gianna, setelah dia terdiam untuk beberapa saat.
"Baiklah. Kau bisa menjawabnya satu per satu," ujar Gianna yang kemudian memainkan bola matanya.
"Haruskah kujawab?" goda Juan Pablo membuat Gianna seketika menjadi cemberut. Sementara Juan Pablo hanya tersenyum samar. Pria itu kemudian mengempaskan napas pelan. "Aku pernah bertanya padamu, 'apa kau tahu makna dari bercinta?' Namun, kau tidak menjawabku," ujarnya.
"Lalu?" tanya Gianna lagi.
"Aku tidak ingin bercinta dengan sembarang wanita. Suatu saat nanti, pasti akan ada satu titik di mana diriku terpeleset lalu terjatuh. Aku bisa saja terjebak dengan wanita yang tak seharusnya ada di dalam hidupku," tutur Juan Pablo.
"Kau takut untuk terikat dalam sebuah tanggung jawab?" cecar Gianna lagi. Dia terus mengorek dan berusaha agar dapat lebih mengenal pria yang selalu memperlihatkan raut dingin dan datar itu.
"Itu bukan masalah tanggung jawab, Bice," sanggah Juan Pablo. "Semuanya akan menjadi bencana mengerikan, ketika aku meninggalkan sebuah noda pada diri seorang wanita. Noda yang lama-kelamaan menjadi beban hidup bagi wanita itu," jelas pria bermata cokelat madu tersebut. Sebuah penjelasan yang tidak terlalu Gianna pahami.
__ADS_1
"Aku hanya akan bercinta dengan wanita yang menurutku ...."
"Kau baru saja bercinta denganku," sela Gianna dengan segera.
"Aku tahu," Juan Pablo menatap lekat gadis berambut pirang di dekatnya, "aku melakukannya dengan sadar."
"Apakah itu menandakan sesuatu?" tanya Gianna sedikit berharap. Akan tetapi, Juan Pablo tidak segera menjawab. Dia mengalihkan pandangan pada selimut yang menutupi tubuh tegapnya hingga sebatas perut. Gianna pun seakan dapat memahami arti dari sikap diam Juan Pablo. "Sudahlah. Jangan dipikirkan," ucapnya kemudian. "Kau juga tidak perlu menjawab pertanyaan yang kedua," Gianna pun tertunduk. Keheningan kembali menggelayuti kebersamaan mereka.
"Kau menyukainya?" tanya Juan Pablo dengan tiba-tiba. Akan tetapi, Gianna tidak menjawab. Gadis itu hanya tertawa pelan. "Aku menyukainya, tapi aku harus pergi,'" ucap pria itu kemudian.
"Pergi ke mana?" tanya Gianna terlihat resah.
"Amerika," jawab Juan Pablo singkat. Tatap matanya kembali menerawang.
"Apa kau akan lama di sana?" tanya gadis itu lagi.
"Entahlah. Aku bahkan tidak tahu apakah akan kembali atau tidak," ujar pria berkulit eksotis itu. Sorot matanya tampak tajam menembus dinding ruangan. Angan Juan Pablo sudah berada di Amerika dengan sebuah senjata di tangannya.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan di sana? Bukankah rumahmu ada di Monaco? Amerika terlalu jauh dari Italia," Gianna seakan ingin melakukan protes secara tidak langsung terhadap keputusan pria itu. "Kau akan pergi setelah berhasil meniduriku?" tukas gadis berambut pirang tersebut kembali terlihat kecewa. Dia juga menatap lekat seraut wajah tampan dengan ekspresi datar tapi penuh pesona.
"Kau pikir aku pria seperti itu?" Juan Pablo membalas tatapan Gianna terhadap dirinya.
"Entahlah. Aku ... aku belum terlalu mengenalmu," sahut Gianna sambil memalingkan wajah ke samping. Dia tak ingin beradu tatapan, dengan pria yang kini terdiam tanpa mengalihkan pandangan darinya.
"Kau bersedia untuk menungguku, Bice?" tanya Juan Pablo. "Jika kau memang bersedia untuk melakukannya, maka saat nanti aku kembali ... kau akan menjadi orang pertama yang kutemui," ucap pria itu lagi, yang langsung menumbuhkan sebuah keyakinan dalam hati Gianna. Gadis itu pun tersenyum.
__ADS_1