
Francesca menghapus air mata yang menetes di pipinya. Gadis itu lalu mengambil bantal dan selimut kemudian segera dia tata di atas sebuah sofa, yang sengaja diletakkan di dalam kamar Coco untuk tempat dirinya tidur. Sebelum memejamkan mata, Francesca sempat memperhatikan wajah sang kekasih untuk beberapa saat, hingga akhirnya gadis itu tertidur pulas. Francesca terlihat cukup kelelahan. Selama tinggal di Casa de Luca untuk merawat Coco, dia sudah melupakan semua alat-alat make up miliknya.
Tak berselang lama setelah Francesca tertidur, Coco membuka mata. Dipandanginya paras cantik gadis yang selalu menjadi pujaan hatinya selama ini. Wajah itu terlihat begitu alami, sama seperti saat pertama kali dia melihatnya. Kisah cinta dengan Francesca, memang terasa begitu berbeda bagi seorang Giovanni Francesco Ricci. Dia belum pernah berkorban untuk gadis manapun, selain bagi si pemilik mata hazel tersebut. Coco bahkan rela menunggu ketika Francesca menjalin hubungan dengan Fillipo.
Lalu, apa yang terjadi pada hubungannya kali ini? Rasa lelah dan kecewa ternyata tak bisa lagi dia hindarkan dari hati, ketika memikirkan penolakan bertubi-tubi yang dilayangkan oleh Francesca terhadap dirinya. "Maafkan aku, Francy. Tolong biarkan aku untuk mengembalikan harga diri yang sempat terabaikan karena terus memohon padamu. Bagaimanapun juga aku adalah seorang pria," setelah berkata demikian, Coco mengalihkan perhatian pada langit-langit kamar. Angan pria tiga puluh dua tahun itu terus melayang tak tentu arah.
Coco tak dapat memejamkan mata, hingga tanpa terasa malam pun kian larut. Kembali ditatapnya wajah cantik Francesca untuk beberapa saat. Dia pun tersenyum kecil. Ketika jarum jam sudah menunjuk ke angka tiga, barulah Coco bisa tertidur.
......................
Seperti biasanya, kesibukan selalu terlihat di Casa de Luca, meskipun hari masih terbilang pagi. Begitu juga dengan Miabella yang sudah berlarian ke sana-kemari mencari Adriano, yang ternyata berada di halaman belakang bangunan megah itu. Saat itu, Adriano baru selesai berolah raga.
"Daddy Zio, aku mencarimu ke mana-mana," seru gadis kecil tersebut. Senyum lebarnya terlihat jelas, ketika dia berhasil menemukan pria yang dianggap sebagai pengisi dari ketiadaannya sosok Matteo selama ini.
"Ada apa, Principessa?" Adriano menurunkan tubuh, kemudian merentangkan tangan untuk menyambut putri kecil yang sangat dia sayangi. Pria itu menganggap seolah-olah Miabella adalah darah dagingnya sendiri.
"Aku ingin makan es krim, tapi ibu melarang dengan keras. Katanya ini masih terlalu pagi. Aku minta diganti dengan gelato, tapi ibu tetap tidak mengizinkan," lapor Miabella yang berdiri sambil melingkarkan tangannya pada leher Adriano. Miabella juga memasang wajah yang tiba-tiba cemberut dan tampak sangat menggemaskan, membuat Adriano harus menahan tawanya.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanya Adriano seraya menggerakkan matanya ke kanan dan ke kiri.
"Bantu aku untuk membujuk ibu. Dia pasti akan menurut padamu, Daddy Zio," rengek gadis kecil bermata abu-abu itu. Dia melepaskan rangkulannya, kemudian menarik tangan Adriano agar segera berdiri. Baru saja pria itu menegakkan tubuh, Miabella segera membawanya berlari menuju bagian dalam bangunan Casa de Luca.
"Hey, hati-hati, Sayang," ucap Adriano. Dia menuruti saja apa maunya gadis kecil itu tanpa banyak protes. Mereka baru berhenti ketika sudah berada di hadapan Mia yang tengah berdiri sambil melipat kedua tangan di dada.
"Selamat pagi, Cantik," sapa Adriano hangat. Dia melirik Miabella untuk sejenak, setelah melihat raut wajah Mia yang tampak tidak bersahabat. "Apa kau ada masalah, Sayangku?" tanyanya kemudian sambil melayangkan senyuman menawan terhadap istri tercintanya.
"Akan menjadi masalah jika kau bersedia untuk bekerja sama dengannya," sahut Mia seraya menggerakkan bola mata ke arah Miabella, yang segera bersembunyi di balik tubuh tegap sang ayah. Mia yakin bahwa putri kecilnya sudah mengadu kepada Adriano.
"Ada apa dengan kedua gadis cantik kesayanganku ini?" Adriano berpura-pura tidak tahu apa-apa. Dia menggerakkan tangannya ke belakang, meraih tubuh mungil Miabella lalu memeganginya. Setidaknya, itu bisa membuat sang anak merasa terlindungi.
__ADS_1
"Ini waktunya kau mandi, Bella. Ayo, cepat!" ajak Mia dengan nada bicara yang sangat tegas. Tampak jelas bahwa dirinya tengah merasa kesal terhadap anak itu.
"Aku tidak mau!" balas Miabella tak kalah tegas. Dia berani menentang Mia, karena berada dalam perlindungan Adriano.
"Kau mulai berani membantah kata-kataku, Bella? Ayo, kita mandi! Jangan tunggu sampai kesabaranku hilang," ucap Mia lagi menakuti-nakuti putrinya agar menurut.
"Aku tidak takut. Ada daddy zio yang akan membantuku melawan Ibu," sahut Miabella dengan percaya diri.
Dengan segera, Adriano menoleh pada gadis kecilnya. "Mana berani aku melawan ibumu, Sayang," ujarnya, membuat Mia seketika mengulum bibir karena menahan tawa yang hampir saja lolos begitu saja. Adriano kemudian membalikkan badan dan menyejajarkan dirinya dengan tinggi Miabella. Dia lalu mengelus lembut rambut panjang gadis kecil bermata abu-abu itu. "Dengarkan aku, Sayang. Sebaiknya kau turuti perkataan ibumu. Jika kau ingin makan es krim atau gelato atau apapun itu, maka aku akan mengajakmu keluar hari ini. Kita akan pergi berjalan-jalan, dan kau bisa makan apa saja sepuasmu. Namun, tentunya setelah kau mandi," Adriano mengendus tubuh mungil itu. Dia lalu berdecak sambil menggeleng pelan. "Apa kau masih ingat dengan iguana milik paman Russell?" tanyanya.
Miabella tidak menjawab. Gadis kecil itu hanya menatap lekat Adriano seraya mengangguk pelan.
"Nah, seperti itulah bau badanmu saat ini. Aku tidak ingin membawamu keluar jika kau bau, karena aku pasti akan malu," bujuk pria bermata biru itu. Terlihat sudah bagaimana cara Adriano memperlakukan putri sambungnya. " Ayo sana, ikuti ibumu sebelum dia mengeluarkan taring yang panjang dari mulutnya."
"Seperti gajah?" tanya Miabella dengan polos.
"Oh, tidak. Itu bukan taring, yang seperti itu disebut gading," jelas Adriano. Dia mengakhiri bujuk rayunya dengan sebuah kecupan hangat di kening Miabella. "Aku juga akan mandi. Kita lihat, siapa yang berhak menjadi juara pertama," tantangnya, membuat sepasang mata Miabella seketika terbelalak.
"Aku mencintaimu," ucap Mia dengan senyuman lebar, sambil berlalu mengikuti Miabella.
"Sudah seharusnya," balas Adriano seraya mengempaskan napas lega. Setidaknya, dia punya alasan untuk pergi tanpa harus berdebat terlebih dahulu dengan Mia.
Beberapa saat kemudian, Miabella sudah tampil cantik dengan dress yang membuatnya tampak sangat lucu dan menggemaskan. Begitu juga Adriano. Dia telah tampil rapi mengenakan kemeja putih dengan dua kancing atas yang dibiarkan terbuka.
"Ibu yakin tidak ingin ikut dengan kami?" tanya Miabella setelah duduk di kursinya dengan nyaman.
"Tidak, Principessa. Ini adalah hari kita berdua. Aku tidak ingin perhatianku harus terbagi dengan nyonya cantik itu. Kau tahu kenapa? Karena hari ini kau jauh lebih cantik darinya. Aku suka bajumu, Sayang," Adriano menoleh ke belakang, di mana gadis kecilnya berada.
Miabella tertawa lebar sambil bertepuk tangan. Sedangkan Mia tampak mendelik kepada Adriano. "Baiklah, Tampan. Sepertinya sofa akan menjadi tempat yang nyaman untuk nanti malam," ujar Mia dengan bernada ancaman.
__ADS_1
"Ow ...." Adriano kembali menghadap ke depan. Dia tak ingin banyak bicara lagi. Segera saja dinyalakannya mesin mobil Ferrari yang telah diambil dari Milan beberapa hari yang lalu. Kendaraanmewah itu pun melaju dengan diiringi lambaian tangan Mia.
Sepeninggal putri dan suaminya, Mia bergegas kembali ke dalam. Saat itu, dia melihat Francesca yang baru keluar dari dapur. Mia melihat raut wajah sang adik yang tampak begitu muram. Dia pun segera menyapanya. "Hai, Francy. Apa kau sedang sibuk?" tanyanya berbasa-basi.
Terkejut, Francesca segera menoleh. Namun, gadis itu masih tampak kelabakan. Rupanya, sejak tadi dia melakukan segala aktivitas sambil melamun. "Hai, Mia. Sejak kapan kau ada di situ?" Francesca balik bertanya.
"Adriano mengajak Miabella keluar. Aku baru mengantar mereka dari halaman," jelas Mia. Dia lalu menghampiri sang adik. Ditatapnya gadis cantik bermata hazel tersebut untuk beberapa saat. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Mia. Kedekatannya dengan Francesca, membuat ikatan batin antara mereka berdua terjalin dengan sangat kuat. "Jika kau butuh teman bicara, maka kau bisa mengandalkanku" ucap Mia lagi.
Tanpa banyak bicara, Francesca segera memeluk Mia sambil menangis. Perasaan tak nyaman yang tengah menderanya saat ini, ternyata tak mampu dia sembunyikan.
"Katakan saja, Francy. Aku adalah kakakmu," hibur Mia seraya menepuk-nepuk punggung sang adik
"Aku tidak baik-baik saja, Mia," isak Francesca dengan suaranya yang terdengar bergetar.
"Apa ini tentang Ricci?" tanya Mia lagi. Perlahan, Francesca melepaskan pelukannya. Gadis itu kemudian mengangguk pelan.
"Ada apa lagi? Bukankah kau sudah meninggalkan kariermu demi merawat dia?" tanya Mia lagi dengan heran.
"Ya, Mia. Namun, kenyataannya itu tak berarti apa-apa bagi Ricci. Dia menyuruhku untuk pergi dan berhenti merawatnya," jelas Francesca seraya menghapus air mata yang menetes di sudut bibir.
Mia tidak segera menanggapi penuturan dari sang adik. Dia lalu meraih tangan gadis itu, kemudian membawanya ke ruang kerja Matteo. Di sana, mereka dapat berbicara dengan lebih leluasa. "Katakan apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Mia. Dia menjadi ikut resah karena masalah yang tengah dihadapi oleh sang adik.
"Menurutmu aku harus bagaimana? Tentu saja aku tak akan mengikuti kemauannya. Aku sudah berjanji untuk tetap merawat Ricci hingga dia sembuh total," jawab gadis bermata hazel itu dengan yakin. "Namun, ternyata aku tidak bisa sekuat yang kuharapkan, Mia. Aku terlalu lemah," ucapnya lagi penuh sesal.
"Apa yang membuatmu merasa demikian, Francy?" tanya Mia lagi. Dia menangkup paras cantik adiknya. Tatapan Mia pun begitu lembut dia layangkan kepada gadis dua puluh enam tahun tersebut.
"Perasaan cinta yang terlalu besar membuatku merasa begitu lemah, Mia," jawab Francesca dengan kedua matanya yang tampak sayu. Dia sudah terlalu banyak menangis.
Mia menggeleng dengan segera, karena tak setuju dengan ucapan sang adik. "Tidak, Francy! Kau salah besar," bantah ibunda dari Miabella tersebut dengan tegas. "Perasaan cinta hadir untuk menguatkan seseorang, bukan untuk memberikannya kelemahan. Kau keliru jika memiliki pikiran seperti itu," sanggahnya lagi.
__ADS_1
Ditatapnya paras cantik Francesca yang kini terlihat sangat kacau. Tak ada lagi rona ceria dalam hari-harinya, dari semenjak kepulangan dia ke Italia. "Kuatkan dirimu, Sayang. Jika kau mencintai Ricci dengan sepenuh hati, maka aku yakin bahwa Ricci pun merasakan hal yang sama untukmu. Beri dia waktu," saran Mia lembut.